Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 35 Takut kehilangan


__ADS_3

"Selamat pagi Pak Arga" sapa beberapa karyawan sambil menundukkan badannya.


"hmm"


Arga berjalan dengan cepat menuju ruangannya. Aura iblisnya bahkan masih melekat dalam dirinya.


Hal itu bisa dirasakan oleh beberapa karyawan yang berpapasan dengannya. Jika seperti ini artinya suasana kantor dalam keadaan gawat.


Suasana hati Arga yang sedang buruk akan berdampak pada kinerja para karyawan. Salah sedikit saja mereka akan mendapatkan semprotan dari Arga.


Alvin sudah berada di depan ruangan Arga bersiap menyambut kedatangan bosnya.


Dia sudah bisa menebak dari raut muka Arga yang tampak sangat tidak baik-baik saja.


"Selamat pagi Pak" ujar Alvin sementara Arga langsung membuka pintu ruangannya.


Arga berjalan memasuki ruangan itu diikuti oleh Alvin dibelakangnya.


Arga langsung duduk di kursi kebesarannya. Dengan segala kharisma dan kuasanya hanya Arga satu-satunya orang yang cocok duduk di tempat itu.


"Vin, mana berkas yang saya minta kemarin?" Arga menengadahkan tangannya kepada Alvin. Kemudian Alvin memberikan sebuah map berwarna biru serta sebuah ipad yang berisi materi meeting.


"Ini pak berkasnya, dan materi meeting sudah saya siapkan di dalamnya, anda bisa cek sendiri" ujar Alvin.


Arga meneliti berkas serta materi yang diberikan Alvin.


"Vin, kamu yakin materi cuma begini saja? Tambahin lebih kreatif dong biar investor makin tertarik." protes Arga.


Alvin sudah menduga, jika suasana hati bosnya sedang buruk maka apapun pasti ada minusnya. Namun hal itu sudah biasa baginya.


Bekerja selama enam tahun mendampingi Arga rasanya sudah sangat paham mengenai karakter bosnya tersebut.


"Baik Pak, saya akan tambahi lagi" ujar Alvin meninggalkan ruangan.


Setelah Alvin kini ada saja yang kena omel Arga. Bahkan perkara bunga yang diletakkan di loby saja keliru.


"Huft.. Sabar-sabarin aja deh. Maklum Pak Arga yang punya perusahaan ini." gumam salah satu karyawan.


"Untung ganteng, kalo nggak udah dendam kesumat gue" ujar karyawan yang lainnya.


Meski jarang, namun hal itu rupanya sudah biasa bagi para staf dan karyawan. Mau bagaimana lagi? Arga adlah pemilik perusahaan itu dan pastinya tidak ada yang mampu menyangkalnya.


Jam makan siang tiba, Alvin bergegas menuju ruangan Arga yang sepertinya dia masih sibuk di dalam.

__ADS_1


"Pak Arga tidak makan siang?" tanya Alvin ketika melihat Arga yang sibuk dengan laptopnya.


"Nggak deh, saya lagi males makan Vin" ujar Arga tak mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Tapi Pak Arga bisa sakit. Saya pesankan makanan saja ya, kita makan disini" ujar Alvin.


"Terserah deh." ujar Arga pasrah.


Tak berselang lama pesanan makanan Alvin datang. Dua kotak sushi dengan berbagai macam jenis. Alvin tahu makanan itu adalah kesukaan Arga.


Arga nampak sibuk menyantap Sushi sedangkan Alvin sedang menelepon seseorang.


"Kok nggak bisa nyambung sih" gerutu Alvin.


"Kenapa Vin?" tanya Arga.


"Nggak, ini pak lagi mau nelpon Kasih kok nggak aktif nomornya" ujar Alvin.


"Ada perlu apa memangnya?" tanya Arga penasaran.


"Cuma mau tanya gimana interview dia hari ini" ujar Alvin santai.


Arga langsung menghentikan makannya dan meletakkan sumpit di meja.


Alvin hanya mengangguk.


"Arrgghh.. Kenapa semua orang selalu memberitahu belakangan. Dia nggak jadi interview. Saya melarangnya" ujar Arga sarkas.


"Maaf Pak, bukannya saya ikut campur tapi bukankah Kasih menginginkan hal ini? Dia berhak mengejar cita-citanya juga kan?" Protes Alvin.


"Tapi saya tidak ingin dia pergi" ujar Arga.


"Dia hanya bekerja, mengisi waktu luang agar tidak bosan. Saya tahu Kasih tidak akan pergi meninggalkan Pak Arga." imbuhnya.


Arga sejenak terdiam. Benar juga apa yang dikatakan Alvin. Gadis itu pasti sangatlah bosan sehari-hari hanya tinggal di apartemen sendirian tanpa kegiatan yang berarti.


Obsesinya yang tinggi terhadap Kasih serta rasa takut kehilangan yang berlebih perlahan membuat Arga semakin egois. Dia tidak berpikir sampai di situ.


Dan parahnya lagi perbuatan yang Arga lakukan tadi pagi pasti membuat Kasih ketakutan. Dia kan punya trauma di masa lalunya.


"Saya takut jika Kasih bekerja di tempat lain membuatnya tidak aman. Tahu sendiri kan mantan mertuanya sangat kejam" ujar Arga.


"Kalau begitu biar dia kerja di perusahaan ini Pak. Kan kita bisa mengawasinya juga" ungkap Alvin.

__ADS_1


"Benar juga katamu Vin. Baiklah aku akan mengaturnya" ujar Arga sedikit merasa lega.


Sementara di Apartemen tampak Kasih yang melamun seharian sambil menatap jendela kamarnya.


Hatinya masih terasa begitu sakit. Namun air matanya seolah kering dan lelah untuk menangis.


Lagi-lagi dia harus menelan kekecewaan akan perbuatan Arga. Bodoh sekali jika kemarin-kemarin dia sempat berharap memiliki Arga. Rupanya pria itu sama saja seperti yang lain. Hanya menginginkan tubuhnya.


Bahkan kini Kasih tak lagi memiliki hak untuk menentukan keputusannya. Hidupnya tak ubahnya tikus yang tinggal di gorong-gorong. Hanya bisa memandangi dunia lewat celah kecil tanpa mampu merasakan kebebasan itu.


Rasanya tak adil jika selalu seperti ini. Tak ada satupun orang yang benar-benar peduli padanya. Hanya satu orang yaitu mendiang ayah angkatnya. Dia yang selalu menyayangi Kasih namun kini dia telah pergi.


Sejenak terlintas dalam pikirannya bagaimana jika dia ikut menyusul sang ayah? Namun kembali dia mempertimbangkannya.


Pesan terakhir sang ayah adalah untuk tetap hidup meski sesusah apapun. Dunia memang terkadang kejam, namun mengakhiri hidup belum tentu menyelesaikan masalah. Bisa saja setelah itu semakin sengsara. Manusia tidak ada yang tahu.


...****************...


Sore harinya Arga baru selesai dengan semua pekerjaannya. Dia bergegas pulang menuju apartemen.


Saat ini hujan sangat deras disertai petir yang terus menggelegar di langit membuat perjalanannya sedikit terhambat karena jarak pandang yang terbatas. Arga harus menyetir dengan hati-hati.


Sampai di apartemen dia mendapati ruangan tersebut yang gelap gulita. Tak ada satupun lampu yang dinyalakan.


Arga menatap heran ruangan yang sepi tersebut. Tiba-tiba pikirannya menjadi kacau. Jangan-jangan Kasih pergi.


Dengan cepat Arga Menyalakan semua lampu.


Tampak pintu balkon dibiarkan terbuka dengan tirai yang berkibar-kibar karena angin serta lantai basah karen air hujan yang masuk.


Arga lekas pergi ke kamar mencari keberadaan Kasih, kamar itu juga tampak gelap dan jendela pun terbuka dengan hembusan angin bercampur percikan air hujan.


Namun yang membuat Arga sangat lega adalah sosok wanita yang dia cari sedang terlelap di atas ranjang. Tubuhnya meringkuk dibalik selimut. Arga tersenyum melihat gadisnya tertidur.


Arga segera melepas jasnya kemudian berbaring di sebelah Kasih, menyusupkan tangannya untuk memeluk wanita itu.


Terdengar deru nafas Kasih yang berimbang. Menandakan bahwa dia tidur dengan begitu nyenyak.


Arga perlahan mencium tengkuknya dengan lembut. Menghirup aroma vanila tubuh Kasih yang sangat disukainya.


Sementara Kasih merasakan kehangatan yang begitu nyaman. Namun perlahan dia mencium aroma parfum maskulin yang sangat familiar untuknya.


Seketika Kasih tersadar dari tidurnya. Dia merasakan dekapan tangan di tubuhnya.

__ADS_1


"Mas Arga?" seketika Kasih melepaskan dekapan itu dan beringsut menjauh.


__ADS_2