
"Ayah, Mama apa yang kalian lakukan?" Arga sangat terkejut dengan apa yang dilakukan kedua mertuanya itu.
"Ayah mohon maafkan Felicia, jangan ceraikan dia. Beri dia waktu untuk memperbaiki kesalahannya. Kami mohon nak Arga" seolah melupakan kedudukan dan harga dirinya Ayah Felicia terus memohon di kaki Arga.
Tentu saja Arga sangat terkejut sekaligus kikuk dengan keadaan ini.
Melihat wajah kedua mertuanya yang menangis dan memelas membuatnya jadi goyah. Ya, inilah kelemahan Arga paling tak bisa melihat orang lain menangis.
"Baiklah tapi tolong Ayah dan Mama jangan seperti ini" Arga mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tapi Ayah tahu perbuatan Felicia sangat menyakitkan untukku" keluh Arga.
"Iya nak, Ayah tahu. Untuk itu beri dia waktu satu bulan untuk menebus kesalahannya. Setelah itu terserah kamu nak, keputusan ada di tanganmu" mohon Ayah Felicia kembali.
Arga menghela nafas kasar. Otaknya menjadi buntu seketika. Apa yang harus dilakukan jika begini?
"Baiklah.. Aku akan mempertimbangkannya" ujar Arga terpaksa.
...****************...
PPLLAAKKK...!!!
PPLLAAKKK...!!!
Tamparan bertubi-tubi mendarat ke wajah Felicia. Tak hanya panas namun kini pipinya juga terasa kebas.
"Dasar anak tak tahu diri, menyusahkan.. Bikin malu.." segala umpatan keluar dari mulut Ayah Felicia.
Sementara Felicia hanya bisa menunduk sambil menangis. Hal ini sudah dia duga.
Arga telah menunjukkan video itu kepada orang tuanya dan tentu mereka kebakaran jenggot dibuatnya.
Namun Felicia juga tak mengerti kenapa ayah dan mamanya semarah itu.
"Ini ma, anak yang selalu kau manjakan jadinya ngelunjak begini."
" Ayah kenapa sih sampai semarah ini? Apa salahnya kalau aku tidak mencintai Arga?" protes Felicia.
"Salah.. Itu salah besar. Kalau sampai Arga menceraikan kamu maka kita harus siap-siap bangkrut. Mau kamu jadi gelandangan? Memangnya bisa kamu menghidupi satu keluarga dengan pekerjaan model gak jelas kamu itu?" Mama Felicia kini giliran berucap.
"Maksudnya apa Ma?" Felicia mulai bingung.
Ayah Felicia tampak menghela nafas kasar. Menghempaskan tubuhnya di sofa dengan frustasi.
__ADS_1
"Ayah bangkrut, punya banyak hutang dan keluarga Wijaya yang telah membantu perusahaan kita. Sementara Arga telah menanamkan saham dengan nilai fantastis untuk menyokong perusahaan. Untuk itu ayah menikahkanmu agar dia tidak mencabut investasinya. Ayahlah yang memintanya." ujar Ayah Felicia.
"Sebenarnya Arga tidak mau, tapi ayah yang memohon. Serta permintaan mendiang Arka untuk menjagamu. Karena dia tahu Arga sangat mencintaimu. Tapi justru begini balasanmu Feli" imbuhnya.
Felicia terkejut dengan ucapan ayahnya. Jadi selama ini Arga tidak pernah memaksa keluarganya untuk menikahi dirinya.
Tiba-tiba Mama Felicia datang membawa sebuah buku. Dia memberikan kepada Felicia.
"Ini adalah buku catatan milik Arka, sebenarnya Mama diam-diam pergi ke kamar Arka saat melayat di kediaman Pak Wijaya. Mama sengaja mengambilnya untuk berjaga-jaga"
Felicia gemetar menerima buku itu, kenangan tentang Arka kembali hadir dan itu membuatnya terasa sesak.
"Ayah sudah memohon kepada Arga untuk mempertimbangkan keputusannya. Ayah minta waktu satu bulan untuk kamu memperbaiki kesalahanmu. Jadi gunakan waktu itu sebaik mungkin" ujar Ayah Felicia.
Lidah Felicia semakin kelu mendapat tekanan seperti dari orang tuanya. Dia sendiri bingung dengan perasaannya.
Bagaimana mungkin satu bulan dia menaklukkan hati Arga setelah apa yang telah dia perbuat sangatlah fatal.
Felicia pergi ke kamarnya. Dengan gemetar dia membuka buku catatan harian milik Arka.
Dia meraba tulisan tangan khas milik Arka yang begitu rapi, tak terasa air mata menetes dari sudut netra Felicia.
Lembar demi lembar catatan itu dia baca dengan seksama. Sepertinya catatan itu dia tulis saat pertama kali masuk kuliah.
..."Hari ini aku sangat bahagia akhirnya bisa berkenalan dengan gadis itu, ternyata Felicia namanya. Ya, Felicia yang telah mencuri hatiku berhari-hari ini. Begitu cantik seperti bidadari.."...
Felicia tersenyum membaca tulisan itu. Dia ingat betul saat pertama kali berkenalan dengan Arka. Kemudian dia lanjutkan membaca lagi.
..."Aku tidak menyangka ternyata Felicia adalah gadis yang sering diceritakan oleh Kak Arga. Bagaimana ini? Haruskah aku mengalah demi dirinya?"...
Felicia kembali mengernyitkan keningnya membaca itu.
..."entah bagaimana caraku berterimakasih kepada Tuhan telah memberiku saudara sebaik Kak Arga. Entah bagaimana aku membalas kebaikannya. Dia sudah merelakan perasaannya demi diriku. Dia bahkan membiarkan aku mengaku bahwa yang telah menyelamatkan Felicia dari preman-preman itu. Karena kita kembar? Entah ini sebuah keberuntungan atau apa. Yang jelas dengan begini Felicia semakin percaya padaku. Maaf Feli, aku terpaksa berbohong padamu"...
Saat membacanya Felicia sangat terkejut. "A_apa, jadi yang menyelamatkanku waktu itu bukan Arka? Tapi Arga?"
Felicia kembali teringat kejadian di masa lalu. Dimana dia dicegat preman-preman saat pulang kuliah karena kemalaman.
Saat itu seseorang menyelamatkannya dengan menghajar preman-preman itu. Felicia hanya melihat pria itu sekilas karena suasana jalanan yang gelap.
Saat keesokan harinya dia langsung mengira bahwa pria itu Arka. Padahal dari kejadian itu Felicia telah jatuh cinta dengan pria penyelamatnya.
Air mata tak mampu dia bendung. Segala penyesalan menumpuk di benaknya. Felicia meremas buku harian itu dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
...****************...
Arga berjalan memasuki Apartemen dengan langkah gontai. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa dengan kepala mendongak ke atas.
Mengurut pangkal hidungnya yang bahkan terasa begitu pengar padahal tak sedang mabuk.
Kasih menyadari kedatangan Arga dan langsung menghampirinya.
"Mas, aku buatkan cokelat hangat. Diminum ya" ujar Kasih sembari meletakkan secangkir cokelat hangat ke atas meja.
Arga menoleh melihat Kasih. "Kasih.." panggilnya pelan.
"Iya mas?"
Arga langsung meraih tubuh Kasih dan memeluknya dan menyenderkan kepalanya di pundak gadis itu. Terasa hempasan nafas kasar dari Arga. Dari situ saja Kasih menyadari bahwa Arga sedang tak baik-baik saja.
"Boleh pinjam bahumu sebentar kan?" ucapnya lirih.
"Tentu saja mas," balas Kasih singkat.
Entah kenapa tiba-tiba tangannya tergerak untuk mengusap kepala Arga. Membiarkan pria itu bersandar di bahunya.
Arga merasakan sesuatu yang sangat nyaman. Pelukan itu rasanya seperti pelukan ibunya yang begitu dia rindukan.
Entah karena dia sudah lama tak pernah merasakan hal ini atau memang hangat tubuh Kasih yang seolah bagai candu untuknya.
Arga semakin memperdalam pelukannya dengan mengeratkan tangannya dan menyembunyikan wajahnya di dada wanita itu bak anak kecil.
Jika seperti ini Kasih tak mampu lagi menyembunyikan debaran di jantungnya.
"Kasih, aku bingung" ucap Arga yang masih bermanja di pelukan Kasih.
"Bingung kenapa Mas?"
"Tadi orang tua Felicia mendatangiku. Dia meminta waktu untuk memikirkan perceraian ini. Aku harus bagaimana?" Arga bangkit dari pelukan Kasih.
Kasih menatap wajah pria yang ada di hadapannya itu. Wajah lesunya menampakkan betapa lelahnya dia.
"Mas, tanyakan itu kepada hatimu sendiri. Apapun keputusan Mas Arga pikirkan matang-matang jangan pakai emosi dulu. Karena itu menyangkut masa depan Mas. Dan satu hal yang pasti, pikirkan kebahagiaanmu dulu." ujar Kasih.
Kata-kata itu seolah menjadi penyejuk untuk Arga.
"Thanks, Kasih." Arga menatap wajah cantik Kasih kemudian dengan lembut mengecup bibir ranum itu.
__ADS_1