Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 59 Dari hati yang terdalam


__ADS_3

Arga dan Leo sangat terkejut saat melihat Kasih yang tergeletak tak sadarkan diri.


Arga langsung berjongkok dan meraih tubuh Kasih. Leo yang hendak menolongnya kalah cepat dari Arga.


"Kasih... Kasih.. Bangun Kasih..." Arga menepuk-nepuk pipi Kasih. Dia merasakan tubuh gadis itu sangat dingin.


"Pak Arga sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja" ucap Leo.


Arga pun langsung menyetujuinya. Dia membawa Kasih menuju mobil Leo karena dia tidak membawa sopir.


Biar asistennya yang lain nanti mengambil mobilnya.


Didalam mobil Arga langsung memangku Kasih di kursi belakang. Dia memeluk dan mengusap wajah Kasih dengan begitu khawatir.


Leo yang berada di depan hanya bisa memandangi keduanya. Tak dipungkiri Leo yang diam-diam menaruh hati kepada Kasih tentu merasa sedikit cemburu.


Tapi Leo bersikap profesional. Dia paham bahwa Arga adalah bosnya Kasih sehingga wajar jika dia memang sedekat itu.


Sampai di rumah sakit Arga langsung membawanya ke IGD dan langsung ditangani oleh dokter.


Arga yang sedang gelisah tak lupa menghubungi Alvin. Dia memberitahukan kondisi Kasih.


"Maaf Pak Leo, saya jadi merepotkan anda" ujar Arga saat Leo masih ikut menunggu Kasih.


"Tidak apa-apa pak Arga. Memang sudah semestinya kita saling membantu." Ucap Leo dengan mengulas senyuman.


Sebenarnya Arga ini sangat jengah ketika Leo masih saja ikut menunggui Kasih. Dia tidak suka caranya menatap Kasih. Namun tidak mungkin juga dia mengusirnya. Leo sudah berjasa membantunya menolong Kasih.


Tak lama kemudian Alvin datang menemui mereka. Dia tampak ngos-ngosan karena berlari.


"Dimana Kasih?" Terlihat dari raut wajahnya begitu panik.


"Didalam, masih diperiksa dokter." ucap Arga. Sebenarnya Arga merasa tidak enak hati kepada Alvin. Gara-gara mengajaknya meninjau lokasi Kasih jadi pingsan.


"Maaf, anda siapanya Kasih?" tanya Leo.


"Saya Alvin, kakaknya Kasih." ucap Alvin.


"Oh kakaknya" Leo tampak tersenyum. Setidaknya dia lega ternyata Alvin bukan pacar Kasih.


Tak berselang lama dokter yang memeriksa Kasih pun keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Maaf, siapa wali dari pasien?" tanya Dokter.


"Ya, saya walinya. Ada apa dengan adik saya dok?" tanya Alvin segera.


"Begini, nona Kasih mengalami dehidrasi dan kekurangan nutrisi. Sepertinya itu disebabkan oleh kurangnya istirahat serta pola makan yang berantakan. Untuk sementara ini sebaiknya pasien menjalani rawat inap dulu untuk memulihkan kondisinya" ujar dokter tersebut menjelaskan.


Alvin masih termangu dengan ucapan dokter tersebut. Namun tak berselang lama Arga langsung memukul bahu Alvin.


"Dasar memalukan. Kurang ajar kamu Alvin..." tiba-tiba Arga mendamprat Alvin.


"Awhh... Pak, sakit. awhh.." Alvin mencoba untuk menghalau pukulan Arga namun tetap saja kena.


"Disuruh jagain Kasih aja gak becus. Gimana bisa Kasih kekurangan nutrisi begitu. Nggak sanggup kamu ngasih makan dia? Kakak kurang ajar kamu" damprat Arga lagi.


Arga begitu kesal dengan Alvin. Keduanya sudah seperti seorang bapak yang memarahi anak laki-lakinya.


Tak ada perlakuan khusus jika Alvin adalah kakaknya Kasih. Arga masih menganggap Alvin adalah asistennya.


Hingga akhirnya Leo dan dokter tersebut melerai mereka.


"Sudah-sudah pak mohon jangan buat keributan. Sebaiknya anda melihat keadaan pasien dulu." ucap dokter tersebut.


Alvin langsung dipersilahkan untuk melihat keadaan Kasih. Rupanya dia masih belum siuman. Sementara Arga dan Leo menunggu di luar. Mereka mengobrol seperlunya.


Gadis cantiknya itu tengah terbaring di atas brankar dengan wajahnya yang masih pucat. Tangan kirinya tertancap selang infus.


Arga duduk di kursi sebelah brankar dan meraih tangan kanan Kasih. Terasa begitu dingin dan lemas membuat Arga tak tega. Dia teringat saat pertama kali membawa Kasih ke rumah sakit waktu itu.


"Kalau sakit itu bilang, jangan ditahan. Tubuhmu itu ringkih. Aku tidak tega melihatmu sakit begini." Arga mencium punggung tangan Kasih kemudian meletakkan keningnya disana.


Entah kenapa Arga menjadi emosional begini. Tanpa disadari matanya terasa begitu panas hingga dia menjatuhkan bulir-bulir air matanya.


Kasih yang sebenarnya pura-pura tertidur pun merasakan cairan hangat yang merembes di tangannya.


"Aku begitu mencintaimu. Tidak ada wanita sehebat dirimu yang mampu menaklukkan hatiku." suara itu muncul lirih diiringi suara sesenggukan. Itu bukan hanya suara yang diucapkan begitu saja oleh mulut Arga. Namun itu adalah ungkapan dari hati yang terdalam.


Seorang Arga yang terkenal dingin dan cuek kini sedang menangisi seorang wanita yaitu Kasih. Tak pernah sekalipun pria itu menitikkan air matanya. Terakhir kali adalah saat kematian sang mama.


Begitu besar cintanya kepada Kasih hingga dia bisa berubah drastis seperti ini.


Setelah mereda Arga mencoba untuk tenang dan mencium kening Kasih perlahan lalu kembali keluar. Meski tak dipungkiri wajahnya kini terlihat sembab dan matanya yang memerah.

__ADS_1


Arga berjalan keluar meninggalkan Kasih. Sementara Kasih yang perlahan membuka matanya hanya bisa melihat punggung pria itu yang kini berjalan menjauhinya.


Ingin sekali Kasih meraih punggung Arga dan memeluknya. Namun hal itu sungguh mustahil mengingat kondisi dirinya yang saat ini masih sangat lemah.


Kesedihan pun juga menyelimuti dirinya. Kasih sejak tadi menahan air matanya agar tidak keluar saat Arga mengungkapkan perasaannya.


Pria itu sungguh sangat menyayanginya. Lalu perlakuan Kasih selama ini juga telah menyakiti Arga.


Dilema besar pun mulai menyelimutinya. Akankah dia tetap bersikukuh mengakhiri hubungannya dengan Arga ataukah seharusnya dia kembali memperbaikinya.


Diluar Arga kembali menemui Alvin dan Leo.


Sementara Leo mengurungkan niatnya untuk menengok Kasih karena agaknya Arga sedikit emosional. Akhirnya dia mengantar Leo menuju parkiran sebagai ucapan terimakasih.


Alvin kembali masuk kedalam ruangan Kasih. Dia melihat adiknya itu tengah menangis.


"Kasih, kenapa kamu menangis?" Alvin menghampiri Kasih dan mengusap air matanya.


"Kak.. ternyata Mas Arga begitu mencintaiku. Tapi aku justru mencampakkannya dan menyakiti hatinya" sambil terisak Kasih mencoba untuk menceritakan apa yang terjadi diantara mereka.


.


"Apa? Pak Arga menangisi kamu?" Alvin sangat terkejut mendengar cerita Kasih. Selama ini dia tak pernah sekalipun melihat Arga menangis.


"Pantas saja tadi matanya memerah" ucap Alvin kembali.


Itu Artinya Arga benar-benar sudah mencintai Kasih, dan Alvin sangat senang menyadari hal itu. Setidaknya adik semata wayangnya tidak dipermainkan lagi perasaannya.


.


Setelah kembali dari parkiran Arga kembali ke ruangan Kasih. Saat melintasi beberapa koridor dia tak sengaja menabrak seseorang wanita yang baru saja keluar dari ruangan poli kandungan.


"Awh.." teriak wanita itu. Sebuah map yang dibawanya langsung tercecer.


Suaranya sangat familiar di telinga Arga. Dia langsung menatap wanita yang dia tabrak. Dan yang Arga langsung terkejut saat melihatnya.


"Felicia.." ucap Arga.


"M-mas Arga.." Felicia tak kalah terkejutnya. Bagaimana bisa bertemu Arga disaat seperti ini.


Buru-buru Felicia mengambil mapnya yang jatuh. Namun sialnya ada benda kecil yang terjatuh saat Felicia mengangkat mapnya.

__ADS_1


Arga yang penasaran langsung memungut benda itu.


"Kamu hamil?" Arga menatap benda kecil berwarna putih itu adalah alat tes kehamilan bergaris dua.


__ADS_2