
Ratna sangat terkejut saat dia mendapati seorang wanita yang tiba-tiba menggelayut manja di lengan Alvin.
Wanita blasteran dengan pakaian super minim serta beberapa tatto menghias tubuhnya.
"Vin, i miss you." ucap Wanita itu dengan manja.
Sementara Alvin hanya bisa diam terpaku sama dengan Mario. Meeka benar-benar tak menyangka salah satu wanita yang sering menggoda Alvin akan senekat ini. Padahal sebelumnya Mario sudah memberitahu semuanya.
Secepatnya Alvin menepis wanita itu. "Sayang, aku bisa jelaskan." ucap Alvin dengan wajah pucat pasi.
Sementara Mario sudah bertindak dengan menyeret gadis itu agar menjauh dari Alvin dan Ratna.
Sementara Ratna yang masih berada di atas pangkuan Alvin hanya memandang suaminya dengan tatapan datar. Justru hal begini yang membuat Alvin semakin takut.
"Sayang jangan marah. Dia cuma kenalan lama aku. Tapi sumpah aku nggak pernah ada hubungan sama sekali dengan dia." ucap Alvin gugup.
Tanpa menjawab Ratna malah kembali meraih bibir Alvin dan menciumnya. Kali ini Ratna menggerakkan bibirnya dengan begitu lembut dan santai.
Alvin yang awalnya gugup sekaligus terkejut perlahan mulai menikmatinya. Dan dari situ sepertinya Ratna sudah tak marah padanya.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka selesai berciuman. Ratna mengulas senyum sembari mengusap pipi Alvin dengan lembut. Sungguh sama sekali berbeda dengan Ratna sebelumnya.
"Ka-kamu nggak marah sayang?" tanya Alvin hati-hati.
"Enggak, kan aku udah janji bakal berubah. Lagian dia cuma orang lain. Dan aku yakin kamu juga bisa menjaga hati untukku." penuturan Ratna tentu saja membuat Alvin tak menyangka. Istrinya bisa berubah sebaik ini. Tentu saja hal itu membuat Alvin juga termotivasi untuk menjadi manusia yang lebih baik.
"Pasti sayang, aku hanya milikmu. Selamanya hanya akan ada kita berdua, dan juga anak cucu kita nanti" ucap Alvin dengan mata yang berbinar.
...****************...
Tak terasa hari-hari cepat berlalu. Kandungan Kasih yang sudah membesar diprediksi akan melahirkan dalam waktu dekat ini.
Sejauh ini tak ada masalah serius diantara hubungan rumah tangganya dengan Arga. Bahkan bisa dibilang keluarganya selalu harmonis dan adem ayem.
Baik Papa Wijaya maupun Papa Aryo keduanya sangat antusias dengan kehamilan Kasih. Meeka silih berganti untuk menjenguk ke rumahnya.
Menjadi ibu rumah tangga yang begitu normal. Menyiapkan segala kebutuhan Arga dan melayani sang suami sudah menjadi kegiatan paling dia sukai. Tak ada kata lelah ataupun marah sebab setiap hari bertemu Arga yang pulang kerja langsung memberinya perhatian sudah membuatnya sangat bersyukur. Bisa dibilang hidup Kasih saat ini berada pada level paling bahagia.
"Jadi kalian sepakat nggak pengen lihat jenis kelamin anak kalian sebelum lahir?" tanya Ratna yang kebetulan sedang menjenguk Kasih di rumahnya.
__ADS_1
"Iya, yang penting tahu bayinya sehat dan tak ada masalah di kandungan aku itu sudah cukup. Biar jadi kejutan kata Mas Arga." jawab Kasih.
"Hmmm.. Iya ya. Seru juga sih kalau jadi kejutan. Tapi nggak kembar kan?" tanya Ratna lagi.
"Enggak mbak. Bayinya cuma satu." ujar Kasih.
Akhir pekan seperti ini Alvin dan Ratna memang sering mengunjungi Kasih. Biasanya Papa Aryo juga akan ikut. Namun saat ini dia sedang ada janji temu dengan koleganya.
Tanpa adanya sosok ibu dari kedua belah pihak membuat Kasih sangat terbantu dengan adanya Ratna.
Sedikit banyak Ratna pun juga belajar beberapa hal tentang ibu hamil. Selain untuk membantu kasih juga untuk dirinya kelak nanti.
"Alvin sama Arga udah perjalanan pulang nih. Wah aku seneng banget kalau Bu Dewi di sini. Masakannya enak-enak." ujar Ratna.
Alvin dan Arga memang sedang ke bandara untuk menjemput kedua orang tua angkatnya dari Surabaya. Mereka akan tinggal beberapa waktu untuk menemani dan merawat Kasih saat lahiran nanti.
Tak berselang lama terdengar suara mobil Arga memasuki halaman rumah mereka.
Dengan antusias Ratna dan Kasih berjalan ke depan untuk menyambut kedatangan mereka.
"Bapak.. Ibu.." Kasih langsung berhambur ke pelukan kedua orang tua angkat Alvin itu.
"Anakku, cah ayu. Apa kabarnya nduk? Tanya Bu Dewi.
"Kasih kabarnya baik Bu, Bapak sama ibu baik? Yuk masuk dulu yuk." ujar Kasih sembari mempersilahkan kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah.
Tak lupa Ratna menyambut kedua orang tua angkat Alvin. Tentu saja mereka sangat senang dengan sosok Ratna. Menantu yang selama ini diidam-idamkan oleh mereka.
Semuanya kini sedang asyik mengobrol dan melepas rindu. Bahkan Alvin pun terus bergelayut manja kepada sang ibu. Seolah ingin mengenang masa kecilnya.
"Bu.. Besok masakin lontong balap ya, di sini nggak ada yang seenak masakan ibu tau." rengek alvin bak anak kecil.
"Alvin, kan ibu capek baru perjalanan kok malah disuruh-suruh. Nggak baik tau." omel Ratna.
"Sudah.. Nggak apa-apa. Kan besok ibu sudah nggak capek lagi. Apapun yang kalian mau pasti ibu akan usahakan." jawab Bu Dewi dengan sabarnya.
"Aduh.. Awhh.." tiba-tiba saja Kasih merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Sayang kamu kenapa?" Arga langsung menghampiri Kasih.
__ADS_1
"Mas, perutku sakit banget. Mules." jawab Kasih sambil meringis kesakitan.
"Jangan-jangan mau lahiran." ucap Ratna.
"Cepat bawa ke rumah sakit." ujar Bu Dewi.
Akhirnya mereka semua pun segera membawa Kasih ke rumah sakit.
Di perjalanan Kasih terus mengaduh kesakitan sementara Arga dengan siaga menemaninya.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi sampai. Tahan dulu ya." ujar Arga sembari mengusap keringat di kening Kasih.
"Mas.. Kok aku pipis nggak kerasa. Ini.. Basah." Kasih menunjuk bajunya bagian bawah yang basah.
"Itu mungkin air ketubannya udah pecah." ujar Ratna yang kebetulan duduk di bangku belakang bersama Bu Dewi.
Tak berselang lama akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit. Arga langsung membopong tubuh Kasih ke dalam. Dan dokter segera memeriksanya.
"Pasien sudah pembukaan jalan lahir. Segera siapkan ruangan." ujar salah satu dokter yang menanganinya.
Arga begitu panik dan cemas. Tapi dia harus tetap tenang karena Kasih akan selalu membutuhkannya.
"Suami bisa menemani pasien saat proses melahirkan." ucap Dokter.
Arga pun langsung membersihkan diri serta memakai pakaian pelindung yang steril. Dia menghampiri Kasih di ruangan khusus bersalin.
Kebetulan Kasih memilih persalinan secara normal. Sehingga tidak perlu melakukan proses operasi.
"Anda sudah siap? Hitungan ketiga kita mengejan sama-sama ya. Atur nafasnya jangan panik." ujar Dokter yang menuntun proses persalinan tersebut.
"Kamu pasti bisa sayang. Kamu adalah ibu yang hebat." Bisik Arga menyemangati Kasih.
Kedua tangan Arga dia cengkram kuat saat kontraksi tersebut berlangsung. Tak butuh waktu lama akhirnya bayi yang ada dalam kandungan Kasih pun keluar.
Suara tangis bayi langsung menggema memenuhi ruangan tersebut. Kasih dan Aega merasa lega luar biasa. Akhirnya mereka berhasil melewati proses yang sangat mereka nantikan ini.
"Selamat Pak Arga, Nona Kasih. Bayi kalian lahir selamat dan sehat. Jenis kelaminnya perempuan." ujar Dokter.
Arga dan Kasih saling berpandangan. Tak menyangka bahwa bayi yang dikandungnya seorang putri. Tepat sekali dengan keinginan keduanya.
__ADS_1
...****************...