Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 117 penjelasan


__ADS_3

Langit sudah berubah warna menjadi jingga. Itu artinya sebentar lagi petang menggantikan siang.


Arga dan Kasih masih saja berada di luar rumah Aryo. Keduanya bahkan tak gentar melakukan pemberontakan ini demi mendapat restu dari Aryo.


Ratna yang sejak tadi memantau mereka pun kini harus turun tangan karena merasa tidak tega kepada Kasih.


Dia mendatangi Kasih dan Arga dengan membawa sebuah selimut hangat.


"Apa kalian berniat bermalam di sini juga?" ucap Ratna sembari menyelimuti tubuh Kasih.


"Aku sudah menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah. Tapi dia terus menolaknya." ujar Arga dengan suara pasrahnya.


"Mas.." Kasih hanya mengerang. Dia sama sekali tak berniat meninggalkan Arga sedikitpun.


"Baiklah, Alvin sedang bicara dengan Papa semoga dia bisa membujuk Papa. Kasih kamu baik-baik saja kan?" tanya Ratna khawatir.


Kasih hanya mengangguk kemudian senyum manis terulas di bibirnya.


" mbak Ratna nggak perlu khawatir. Sudah ada dokter yang siap mengobatiku kapan saja." Kasih meraih tangan Arga dan menggenggamnya erat.


Arga hanya tersenyum sembari mengusap lembut kepala Kasih. Terlihat sekali bagaimana pria itu begitu mencintai Kasih.


"Aku yakin kalian pasti akan bersatu. Aku percaya itu." ucap Ratna dengan penuh haru.


Sementara di dalam kamar Aryo kini Alvin sedang berdiri menatap ayahnya yang duduk termenung sembari memegangi foto mendiang ibunya.


"Pa, sampai kapan Papa terus seperti ini? Apa Papa mau kehilangan Kasih untuk kedua kalinya?" ucapan Alvin terus dia lontarkan agar Aryo sadar.


"Aku kenal betul siapa Arga Pa, Dia adalah pria yang sangat baik. Dia bahkan menganggapku seperti saudaranya sendiri. Aku yakin jika Kasih bersama Arga maka hidupnya akan selalu bahagia. Dan asal Papa tahu, Arga lah yang menyelamatkan Kasih saat dirinya hampir meninggal terlantar di jalanan. " Panjang lebar Alvin berusaha meyakinkan papanya.


Aryo Mendengarkan. Dia juga memperhatikan setiap ucapan Alvin namun pria itu sama sekali tak mengucapkan sepatah katapun. Hal itu pula yang membuat Alvin semakin geram. Untuk pertama kalinya dia merasa kecewa terhadap sosok Aryo.


"Baiklah, kalau Papa tetap bersikukuh terhadap pemikiran Papa yang kolot itu maka aku yang akan turun tangan sendiri. Aku juga wali dari Kasih aku bisa menikahkan mereka. Terserah papa mau ambil semua aset yang telah kau berikan padaku aku tak peduli. Yang ku inginkan adalah melihat kebahagiaan adikku. " Alvin yang kesal pun hendak melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu.


"Tunggu.." Akhirnya Aryo membuka mulutnya. Alvin pun langsung menghentikan langkahnya.


"Suruh Arga menemuiku di ruang kerja." ujar Aryo dengan dingin.


Alvin pun segera menemui Arga. Sejak tadi sebenarnya Aryo diam-diam mengamati Arga dan Kasih di luar. Hatinya terasa teriris melihat tekad putrinya yang mempertahankan Arga.

__ADS_1


Sementara di luar Alvin langsung menghampiri Arga.


"Ga, papa ingin bicara. Ayo temui dia di ruang kerja." ucap Alvin. Tampak senyum tersungging di bibirnya.


Arga dan Kasih pun langsung terkejut. Akhirnya Aryo mau menemui Arga juga.


"aku ikut kak." Kasih langsung merangkul lengan Arga.


Mereka berjalan menuju ruang kerja. Sebenarnya Arga luar biasa grogi. Bahkan bisa dibilang saat ini adalah hari paling mendebarkan yang pernah dia alami.


Tapi Arga harus berani menghadapi semuanya. Ini demi pujaan hatinya juga masa depannya. Dengan langkah gemetar Arga berjalan menuju ruangan tersebut.


Tampak Aryo duduk termenung di sofa ruangan tersebut. Arga pernah beberapa kali memasuki ruangan ini untuk meeting beberapa waktu lalu.


Namun entah kenapa suasana ruangan yang biasanya terasa hangat ini berubah menjadi begitu dingin. Bahkan ruangan bergaya eropa klasik tersebut memancarkan aura yang mencekam.


Seumur hidupnya kali ini merupakan perasaan cemas luar biasa yang dia hadapi.


Kasih masih merangkul tangan Arga dengan erat. Sementara Alvin berada tak jauh dari mereka.


"Pa, ini Arga sudah disini." ucap Alvin.


"Pa aku ingin menemani Mas Arga." rengek Kasih.


"Kasih, tolong." tatapan Aryo yang tajam begitu menakutkan.


Akhirnya Alvin pun memaksa Kasih untuk ikut keluar bersamanya. Dia tak ingin membuat Aryo semakin marah.


Alhasil Kasih menunggu mereka di ruang keluarga yang letaknya kebetulan tepat di depan ruang kerja Aryo.


"Arga, nyalimu besar juga ya. Padahal aku sudah memutus kerja sama denganmu." ujar Aryo sinis.


Namun tidak dengan Arga. Dia hanya membalasnya dengan tersenyum setenang mungkin.


"Kenapa harus Kasih? Apa yang membuatmu jatuh cinta kepada putriku." Aryo pun akhirnya menanyakan hal ini.


Ada jeda untuk Arga mengutarakan iai hatinya. Dia berusaha berucap sebaik mungkin agar tidak menimbulkan masalah lagi.


"Karena Kasih sangat cantik," Arga pun tersenyum sendiri mengatakan hal itu. Seolah membayangkan betapa cantiknya wanita yang kini telah mengisi penuh posisi di hatinya.

__ADS_1


"Awalnya saya memang tak berniat serius. Bahkan Kasih hanya pelarian dari rumah tangga saya yang kacau. Ya, saya memang pria yang se brengsek itu. Tapi lambat laun ternyata perasaan saya mulai tumbuh, apalagi melihat gadis malang itu yang tak memiliki arah tujuan. Perasaan cinta itu lambat laun mulai tumbuh. Mengisi hari-hari saya yang membuat ketergantungan. Saya ingin selalu bersama Kasih, saya merasa terhibur, saya merasa bahagia bersamanya. Dan lama kelamaan rasa itu tertanam di hati terdalam. Saya bertekad ingin membahagiakan Kasih, saya ingin memperjuangkannya dan saya ingin menghabiskan hidupku bersamanya." meski jantungnya berdebar tidak karuan namun itulah ungkapan hati Arga.


Aryo pun bisa melihat ucapan tulus itu dari sorot mata Arga.


"Lalu, jika kau ingin membahagiakannya bagaimana bisa keluargamu ingin mencelakai Kasih?" tanya Aryo lagi.


"Itu, itu benar-benar di luar dugaan Pak, sungguh saya tidak menyangka nya tapi saya benar-benar belajar dari peristiwa itu. Saya harus lebih waspada dalam menjaga Kasih." tampak Air muka Arga begitu tegang dalam menjawab hal ini.


"Arga, saya tahu kamu orang baik. Saya mengenalmu sejak lama. Tapi Kasih adalah harta paling berharga untukku. Apa kau siap untuk selalu menjaga dan melindunginya seumur hidupmu?" pertanyaan Aryo kali ini terkesan lebih menghangat daripada sebelumnya.


"Saya siap Pak Aryo, saya siap untuk segala hal tentang Kasih. Bahkan saya akan memprioritaskan dia daripada diri saya sendiri." ucap Arga dengan penuh keteguhan.


"Baiklah, kamu berhasil meyakinkan saya. Jika memang kalian benar-benar ingin bersama maka segeralah nikahi putriku. Jangan hanya menghamilinya saja." ujar Aryo.


Arga pun langsung terbelalak tak percaya. Bahkan dia sampai mengulangi pertanyaannya. Dan jawabannya adalah Ya, Aryo merestui hubungan mereka.


"Terimakasih, terimakasih Pak, saya sungguh sangat bahagia." ucap Arga penuh semangat.


Sementara Kasih yang menunggu di luar terus merasa cemas. Ratna pun berusaha menenangkannya dengan mengusap-usap punggung Kasih.


Pintu ruangan itu terbuka. Tampak Arga keluar, Kasih yang mengetahui langsung berlari mendekati Arga.


"Mas, kamu nggak apa-apa?" tanya Kasih khawatir.


Arga pun tersenyum kemudian langsung memeluk Kasih.


"Sayang, Papa kamu sudah merestui hubungan kita." ujar Arga yang tak mampu menutupi rasa bahagianya.


Tak lama kemudian Aryo pun ikut keluar dari ruangan itu.


"Arga, kalau bisa nikahan di hotel Alvin saja. Biar dia yang urus semua." ucapan Aryo sontak saja membuat semua orang terkejut.


Tanpa menunggu lama Kasih langsung menghampiri Papanya dan memeluknya erat.


"Papa, terimakasih banyak ya. Aku sayang banget sama Papa." ujar Kasih.


Sementara Aryo begitu bahagia akhirnya Kasih kembali berbaikan padanya. Dia sangat beruntung.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2