
"Maafkan aku Ratna, sebenarnya enggan sekali aku jauh darimu. Apalagi pernikahan kita tinggal satu bulan lagi. Tapi pekerjaan ini sangat penting, ini demi masa depan kita juga." Jody tak berhenti meremas jemari Ratna seolah tak ingin berpisah dari calon istrinya itu.
"Tidak apa-apa Jody, dua minggu itu waktu yang singkat. Selesaikan saja pekerjaanmu itu." Ratna mencoba untuk memberi semangat Jody.
"Huft.. Baiklah. Tunggu aku pulang ya, mungkin aku akan sedikit sulit menghubungimu karena proyek ini berada di pedalaman. Akan sangat sulit sinyal disana nanti" Jody menghela nafas kasar.
Berkali-kali dia memeluk dan menciumi Ratna. Sehari tanpa kabar dari Ratna saja membuat Jody bak kesetanan apalagi harus berpisah selama dua minggu.
Jody kini memeluk Ratna, tak henti-hentinya menciumi pipi dan bibir calon istrinya tak peduli meski berada di tempat umum.
"Aahh Jody ini tempat umum, please. Ayo cepat, itu pesawatnya mau berangkat." tegur Ratna.
"Iya-iya.. Aku berangkat sayang, jaga diri ya. Kalau butuh apa-apa hubungi mama dan papa saja." terakhir, Jody mengecup kening dan bibir Ratna.
"okey, take care ya, Jody" Ratna melepas kepergian Jody.
Pria itu berjalan menjauhinya dan sesekali menoleh untuk melihat Ratna. Sementara Ratna terus melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan.
Hingga akhirnya Jody benar-benar tak terlihat di bandara itu. Ratna kembali bergegas untuk pulang.
'Sayang' entah kenapa saat Jody mengatakan itu Ratna menjadi semakin canggung. Apakah benar kini hubungannya dengan Jody benar-benar terjalin.
Hubungan yang bahkan tak pernah dibayangkan di benak Ratna. Menikah tanpa cinta, tapi begitulah adanya. Ratna yang malang tak bisa mengharapkan Alvin yang bahkan perasaannya belum diketahui pasti.
Ratna menghela nafas panjang sambil menyibakkan rambut indahnya sebagai gaya andalan saat berusaha merilekskan diri. Berjalan menuju parkiran mobil.
...****************...
Ketakutan dan kegelisahan jelas dirasakan Alvin saat ini. Padahal bertemu dengan Kasih terbilang sangat baru, hanya hitungan bulan.
Tapi melawan Aryo tampaknya sangatlah tidak mungkin. Alvin jelas kalah segalanya.
Apalagi janjinya kepada Aryo bahwa akan menemukan putrinya itu sudah lama dia katakan.
Memang Aryo tak pernah mengakui dirinya sebagai siapapun namun rasa terimakasih dan balas budinya di masa lalu saat menolong dan merawat ibunya dan dirinya saat ayahnya dipenjara cukup besar.
Bahkan cara menjelaskan kepada Kasih nantinya juga Alvin masih bingung. Akankah Alvin mengaku bahwa dirinya hanyalah anak dari seorang pembunuh. Hal itu terasa begitu hina. Bahkan mengakui keturunannya saja sangat enggan namun tetap saja darah pecundang itu mengalir di dalam tubuh Alvin.
Pikirannya terasa begitu buntu. Bersamaan dengan itu tiba-tiba mobil yang dikendarai Alvin pun mogok.
"Arghh.. Sial.." Alvin semakin meradang dan mengumpat sendiri.
__ADS_1
Dia tak begitu paham dengan mesin mobil sehingga mau tidak mau Alvin harus menghubungi bengkel.
Sambil menunggu montir tiba Alvin merasa sesak dan akhirnya memilih untuk duduk di trotoar sambil menghisap rokoknya. Berharap rasa frustasi itu sedikit mereda.
Sementara di jalan Ratna yang sedang menyetir tak sengaja menangkap sosok yang dia kenal.
Ratna yang ingin memastikan pun langsung putar balik dan ternyata benar. Tampak Alvin sedang duduk di trotoar sendirian sambil menghisap rokok.eski awalnya ragu namun dorongan di hatinya terus membuat Ratna ingin menghampiri pria itu.
"Alvin.." teriak Ratna sambil berlari kecil menghampiri pria itu.
"Ratna?"
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Wanita yang selalu ditunggu Alvin itu tiba-tiba menghampirinya.
"Lo ngapain disini?" tanya Ratna.
"Tuh, mogok. Nunggu montir. Bentar lagi nyampek kayaknya." ujar Alvin dengan raut wajah kecutnya.
Tiba-tiba saja Ratna duduk di sebelah Alvin. Dia meraih rokok yang dipegang Alvin dan menghisapnya. Kemudian mengembalikan lagi kepadanya.
Alvin hanya bisa terpaku saat melihat Ratna menghembuskan asap dari mulutnya.
"Nggak berubah ya," ucap Alvin sambil menggelengkan kepala.
Alvin yang gemas pun langsung mengacak-acak rambut Ratna.
Sementara itu montir pun tiba. Rupanya kerusakan mobil Alvin cukup serius sehingga harus dibawa ke bengkel. Ratna pun langsung menawarkan diri untuk mengantar pulang Alvin. Tentu saja pria itu langsung menyetujuinya.
"Vin, ada masalah ya? Keliatan banget di muka lo kucel bener" Ratna memberanikan diri untuk bertanya.
Alvin diam sejenak. Kemudian menatap Ratna yang sedang fokus menyetir.
"Boleh curhat nggak?" tanya Alvin.
"Tentu saja, nanti sampai rumah ya" Ratna mengulas senyum kepada Alvin.
.
Sampai di apartemen Alvin langsung mempersilahkan Ratna untuk masuk. Apartemen itu tampak sepi. Sepertinya Kasih masih belum pulang. Alvin langsung menuju dapur untuk membuatkan coklat panas untuk Ratna. Namun Ratna buru-buru mencegahnya. Dia malah mengambil sebotol wine dan dua buah gelas.
"Sepertinya ini lebih cocok untuk kita" ujar Ratna sembari membawa wine tersebut ke balkon.
__ADS_1
Alvin mengalasi lantai balkon menggunakan karpet kecil. Mereka duduk dibawah sambil menyenderkan tubuh ke dinding. Menatap langit malam yang sedang cerah.
"Aku bingung, ayah kandung Kasih meminta untuk dipertemukan dengannya. Tapi aku tidak siap jika harus berpisah dengannya untuk saat ini." ucap Alvin sendu.
"Loh, jadi Kasih bukan saudara kandungmu?" Ratna sedikit terkejut.
"Sekandung tapi beda ayah." Akhirnya Alvin menceritakan semua tentang dirinya juga Kasih. Ratna langsung memahami situasi yang dialami Alvin.
"Jadi, hubungan ibu lo sama bapaknya Kasih berlangsung selama ayah kandung lo dipenjara?"
Alvin pun mengangguk. "Itu sebabnya ayah murka setelah bebas dari penjara dan tahu bahwa mama memiliki seorang anak."
"Ratna, masa lalu dan tubuhku ini mengalir darah pecundang. Sampai kapanpun image anak seorang pembunuh melekat di dalam diri gue. Makanya gue enggan memulai sebuah hubungan serius dengan seseorang. Karna jika tahu siapa aku pasti mereka akan takut dan jijik." ucap Alvin frustasi.
"Jika Kasih tahu kebenarannya mungkin dia tidak akan mau menerimaku sebagai kakaknya. Aku belum siap untuk itu. Aku takut kehilangan adikku." suara Alvin berubah semakin parau.
Ratna pun langsung meletakkan gelasnya dan meraih tubuh Alvin untuk dipeluk.
"Vin, nggak seharusnya lo menyalahkan diri kamu seperti ini. Ini salah ayah lo. Kasih pasti ngerti kok, dia anak yang baik. Dan lo juga kakak yang baik." usapan lembut di tengkuk Alvin seolah menjadi obat yang selama ini Alvin cari.
"Dan lo jangan pernah merasa rendah diri. Alvin yang gue kenal orangnya pantang menyerah. Jadi hadapi saja semua ini dengan penuh keberanian, okey?"
Alvin mengulas pelukan Ratna kemudian dia menatap Ratna dengan begitu lekat. Diraihnya dagu Ratna kemudian Alvin mengecup bibirnya singkat.
"Thanks Ratna, lo selalu bikin due tenang." Alvin menempelkan keningnya pada kening Ratna.
Perasaan itu, tak bisa dihalau lagi. Jantung Ratna terus berdebar disaat berdekatan dengan Alvin begini.
Niatannya untuk memberitahu Alvin bahwa dia sudah bertunangan dengan Jody pun urung. Dia tak ingin menambah lagi beban untuk Alvin saat ini.
Dan lama kelamaan Ratna kembali terbuai akan sosok Alvin. Perlahan tapi pasti Ratna mulai mendekatkan bibirnya pada Alvin.
Dengan gejolak hati yang luar biasa Ratna memberanikan diri untuk mencium Alvin. Dia begitu merindukan sentuhan ini.
Mengesampingkan akal sehatnya entah karena pengaruh alkohol pada wine tersebut atau memang dari perasaan Ratna itu sendiri.
Sementara di balik dinding kokoh yang menyekat balkon dan ruang dalam itu tampak Kasih menahan suara tangisannya.
Air matanya mengalir deras dan tak mampu terbendung lagi. Ya, Kasih yang baru pulang tak sengaja mendengar percakapan Alvin dan Ratna.
Fakta baru yang mengejutkan dirinya itu benar-benar seperti bom waktu yang ingin meledak saat itu juga.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa kakak menanggung beban itu sendirian?" gumam Kasih dalam hati