
"Mas, jangan lak.." belum sempat Kasih meneruskan ucapannya justru Arga langsung membungkam mulutnya dengan ciuman.
Ciuman itu begitu dalam dan menuntut. Menyapu seluruh bibir Kasih dan menggigitnya pelan sehingga mulut itu mulai sedikit terbuka. Arga langsung menyusupkan lidahnya dan mengorek semua rongga mulutnya.
Sampai akhirnya Kasih mulai tersengal karena kehabisan nafas. Dia berusaha menjauhkan dirinya namun Arga masih saja mel umatnya dengan lekat.
Kasih yang sudah tidak kuat lagi karena oksigen yang sudah semakin menipis di dalam mobil tersebut. Dia meronta dengan sekuat tenaga sembari memukul dada Arga.
Barulah Arga melepaskan ciumannya. Kasih langsung kembang kempis mengatur nafasnya.
"Mas Arga kenapa sih?" protes Kasih.
Pria itu masih menatap Kasih dengan tatapan yang penuh misteri. Akhirnya dia kembali menyerang Kasih dengan ciuman bertubi-tubi di lehernya. Kasih Tahu Arga sedang banyak pikiran sekarang jadi melampiaskannya kepada Kasih.
"HENTIKAN MAS..!!" teriakan Kasih dengan nada tinggi seketika membuat Arga langsung berhenti.
Dia menatap Kasih dengan nanar seolah sadar akan perbuatannya.
"Maaf.. Maafkan aku Kasih" Arga langsung beranjak dari tubuh Kasih.
Kembali duduk di kursi kemudi lalu membuka pintu mobilnya. Arga meraih sesuatu dari dasbor mobil ya yang ternyata sebungkus rokok dan pemantik.
Dia berjalan keluar dari mobil dan menuju kap mobilnya. Arga tampak duduk termenung disana.
Sementara Kasih yang berada di dalam mobil melihat sosok Arga yang tengah duduk melamun. Terlihat dari bahu pria itu yang tampak lesu.
Kasih pun perlahan menghampiri Arga dan duduk di sebelahnya. Pria itu tampak menyesap rokoknya dengan helaan nafas kasar. Baru kali ini Kasih melihat Arga tengah merokok.
Wajahnya tampak kacau. Kasih memegang lembut bahu Arga. Pria itu seketika menoleh dan tersadar dari lamunannya.
"Mas Arga kenapa? Cerita aja" ucap Kasih pelan.
Arga kini menatap Kasih. Gadis itu tersenyum tipis.
"Maaf Kasih, aku kelepasan lagi. Aku tidak bisa mengontrol emosiku." ucap Arga menunduk.
__ADS_1
"Suasana hatiku sedang buruk hari ini. Semenjak Felicia datang ke kantor aku merasa begitu muak. Aku takut kamu marah Kasih. Aku takut kamu pergi meninggalkanku" Arga akhirnya mengatakan kerisauannya.
"Mas, aku nggak papa kok, nggak marah. Dan jangan khawatir aku tidak akan pergi. Kan kontrak kita masih dua bulan lagi" ujar Kasih menahan perasaannya.
Kasih kembali membicarakan kontrak lagi. Tentu hal itu membuat Arga semakin gelisah.
"Jadi kamu baru pergi setelah selesai kontrak itu?" tanya Arga.
"Entahlah, tidak akan ada yang tahu kan nanti akhirnya bagaimana." jawab Kasih.
"Kasih, bagaimana kalau kita menikah saja. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Sungguh aku ingin selalu bersamamu" mohon Arga.
Kasih terdiam sejenak. Dia tak menyangka bahwa Arga akan mengajaknya menikah begini. Entah harus senang atau tidak namun status Arga yang masih suami orang juga menjadi pertimbangan untuknya.
Menikah dengan Felix yang sebelumnya tak memiliki hubungan dengan orang lain saja akhirnya sesakit ini. Apalagi dengan Arga yang masih berstatus menikah dengan orang lain. Sementara dia juga bukan orang sembarangan. Sedikit gosip saja bisa jadi kabar heboh semua orang. Rasanya Kasih masih trauma menjalani pernikahan dalam waktu dekat.
"Tapi Mas, kan Mas Arga belum bercerai. Aku takut mas"
Arga menghela nafas Kasar.
"Baiklah aku akan segera menceraikan Felicia.Setelah itu kita menikah, oke?" Arga tanpa keraguan langsung memutuskan keinginannya.
"Mas, jangan buru-buru ya. Kita harus saling mengenal satu sama lain." Kasih berusaha memberi pengertian Arga. Dia tidak mungkin menolaknya secara langsung.
"Tapi aku sudah mengenalmu sayang, aku sangat ingin bersamamu" Arga semakin menggebu-gebu.
Kasih meraih tangan Arga. Dia menggenggam jemarinya dengan erat.Kasih menatap Arga dengan lekat. Terlihat ada kegoyahan di mata Arga.
"Mas, bukannya aku tidak mau menjalin hubungan denganmu. Tapi alangkah lebih baik jika kita selesaikan dulu hubungan lama Mas. Jika memang Mas Arga masih bisa bersama Mbak Feli aku rela. Tapi keputusan ada ditangan kamu Mas. Jika memang mau pisah selesaikan dulu. Baru kita pikirkan langkah selanjutnya"
Arga akhirnya terdiam. Dia menundukkan kepalanya. Kasih berkali-kali mendengar helaan nafasnya yang kasar.
Cukup lama pria itu diam. Sementara Kasih masih setia menemani di sampingnya.
Jalanan ini dari tadi sangat sepi bahkan hanya satu, dua kendaraan yang lewat. Sisanya suara binatang malam serta hembusan angin malam yang sejenak bisa menyejukkan diri.
__ADS_1
"Kami benar Kasih, saya terlalu buru-buru. Karena obsesi saya ingin sekali memiliki kamu. Tidak rela sampai kamu jatuh ke pelukan orang lain" Arga mengusap kepala Kasih dengan lembut.
Sementara Kasih mendapat perlakuan semanis itu merasa ingin meleleh. Kasih menempelkan kepalanya di bahu Arga.
"Mas, kalaupun jalan kita harus seperti ini aku siap bersabar. Kita hadapi semua bersama" ujar Kasih.
"Aku mencintaimu Kasih" ucap Arga penuh perasaan.
...****************...
Seperti biasa setiap pagi Kasih selalu meminta untuk turun di halte.Sebenarnya Arga tak tega membiarkan wanitanya berjalan agak jauh ke kantornya namun Kasih langsung meminta Arga pergi lebih dahulu.
Namun setelah kepergian Arga tak berselang lama sebuah mobil berhenti tepat didepan Kasih dengan mendadak. Bahkan Kasih dibuat terkejut dengan suara rem mobilnya yang berdecit cukup keras.
Tiba-tiba seorang pria keluar dari mobil yang tak lain adalah Felix. Kasih sangat terkejut bagaimana bisa pria itu menemukan dirinya.
"Kasih, ayo ikut aku. Kita perlu bicara." ucap Felix.
"Mas Felix mau apa lagi? Nggak cukup ya mas gangguin hidup aku lagi?" protes Kasih.
"Udahlah Kasih, nggak ada waktu. Cepat masuk mobil" ujar Felix sedikit memaksa.
"Nggak mau.." Kasih meronta mencoba untuk melepaskan cengkraman Felix. Namun tenaga pria itu sangat kuat sehingga Kasih tak bisa berbuat banyak.
Sampai akhirnya Felix mengeluarkan sebuah saput tangan dan langsung membekap Kasih dengan saput tangan tersebut.
Tercium aroma kuat yang menguar di hidung Kasih karena dia tak sengaja menghirupnya.
Namun lama kelamaan kepala Kasih terasa begitu berat. Pandangannya mulai berkunang-kunang dan akhirnya penglihatan Kasih menjadi gelap.
Saat itulah Felix dengan cepat memasukkan Kasih kedalam mobilnya dan segera melaju.
"Maafkan aku Kasih, aku terpaksa melakukan ini." Felix menatap Kasih yang tak sadarkan diri terduduk lemas di sampingnya.
Sementara Arga yang sejak tadi menunggu kedatangan Kasih pun mulai resah. Hampir setengah jam dia mencari sosok wanita yang begitu dia cintai namun tak juga datang.
__ADS_1
Arga mencoba menghubunginya namun sama sekali tidak ada jawaban. Hal itu membuat Arga semakin khawatir.
"Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Kasih" gumam Arga penuh curiga.