Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 91 Restu dari Papa


__ADS_3

Ratna sempat blank sejenak sebab tak percaya bahwa kata-kata itu akhirnya muncul dari mulut Alvin.


Seketika hatinya terasa membuncah dan tak kuasa menahan air mata bahagianya. Hal yang paling dia tunggu selama ini adalah ungkapan cinta dari Alvin.


"Ratna? Bagaimana? Apa kamu mau menerima lamaranku ini? Aku tidak bisa jika hanya sekedar kencan atau pacaran saja. Aku mau menikahimu. Aku mau memilikimu selamanya Ratna." Alvin langsung mengungkapkan semua isi hatinya.


PLLAKK..!!!


Alvin sangat terkejut saat tiba-tiba Ratna menamparnya. Seketika hati Alvin menciut.


"K-kenapa kamu menamparku Ratna?" ucap Alvin tercekat.


"Maaf.. Maaf Alvin aku hanya ingin memastikan bahwa semua ini sungguh nyata. Ini bukan mimpi ataupun halusinasiku saja kan?" ujar Ratna.


Alvin hanya bisa mendengus geli sambil mengusap pipinya yang panas akibat tamparan Ratna.


"Harusnya bukan menamparnya Ratna, tapi begini"


Sedetik kemudian Alvin kembali mencium Ratna dengan begitu lembut. Sungguh wanita itu kini benar-benar terbuai dengan Alvin.


"Percaya kan?" ucap Alvin pelan.


Ratna pun mengangguk. Kemudian kembali mencium Alvin. Dia sambil memeluk tubuh Alvin dengan erat seolah tak ingin pria itu jauh darinya.


"Aku mau... Aku mau Alvin jadi istrimu." ucap Ratna dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Alvin pun tak kuasa membendung kebahagiaannya. Dia langsung mengangkat tubuh Ratna ala Bridal dan memutarkan badannya.


"i love you Ratna.." teriak Alvin di dalam ruangan itu.


"I love you too Alvin.." balas Ratna sama berteriaknya.


Alvin kemudian mendudukkan Ratna di sofa dan mengeluarkan kembali kotak cincin itu. Saat meraih jemari Ratna dan ingin memasang cincinnya Alvin sedikit terkejut melihat sebuah cincin sudah tersemat di jari manisnya.


"Oh, tunggu sebentar." Ratna langsung melepas cincin itu dan meletakkannya sembarangan di meja. Tak peduli lagi dengan cincin tunangan yang diberikan Jody.


Alvin akhirnya memasang cincin itu di jari manis Ratna. Kemudian dia mencium tangan Ratna dengan penuh cinta.


"Kau sekarang jadi milikku sayang" ucap Alvin dengan tatapan menggodanya.


Sumpah Ratna sudah tidak tahan ingin berada didalam dekapan Alvin.

__ADS_1


...****************...


Kasih tengah gelisah sendiri. Meski sudah beberapa kali bertemu Wijaya namun tetap saja rasa gugup selalu melanda dirinya.


Berkali-kali dia ijin pergi ke toilet sementara Arga hanya bisa menatapnya iba.


"Sayang, apa kamu sangat tidak nyaman? Tidak apa-apa kita batalkan saja makan malamnya." ucap Arga.


"Tidak.. Jangan mas, Om Wijaya kan sudah di perjalanan. Tidak baik membatalkan sepihak." tolak Kasih.


"Tapi aku lihat kamu dari tadi gelisah terus." Arga memegang tangan Kasih dan benar saja tangan itu berkeringat dan terasa dingin.


"Aku hanya sedikit gugup mas, apalagi setelah kejadian itu. Aku takut Om Wijaya alan semakin benci padaku." ucap Kasih dengan nada sendu.


"Sudah, kita kan tidak tahu respon papa bagaimana. Yang penting hadapi saja, Mas selalu ada bersamamu" jika sudah begini Kasih pun sedikit tenang.


Beberapa saat kemudian Wijaya pun datang, namun tatapan pria itu tak seperti biasanya. Meski tetap serius namun pembawaannya tampak lebih santai.


"Selamat malam, Pa" Arga langsung menyambut Wijaya dengan pelukan.


"Selamat malam, Om" ucap Kasih sedikit sungkan.


"Selamat malam, Arga, Kasih. Maaf ya Papa sedikit telat tadi ada urusan sebentar." ucap Wijaya.


"Bagaimana kabarmu Kasih? Kita lama ya tidak bertemu" ucapan Wijaya sontak membuat Kasih terkesiap.


"B-baik om, Om Wijaya sendiri a-apa kabar?" tanya Kasih dengan sedikit gugup.


"Baik nak, maafkan saya kemarin-kemarin sempat meragukan kamu. Tapi setelah menyadari semuanya ternyata Arga benar. Kamu adalah wanita yang sangat baik. Maafkan Papa ya nak" ucap Wijaya dengan suara lebih lembut.


'papa?' panggilan itu tampaknya benar-benar nyata di telinga Kasih. Seketika hatinya bergemuruh mendengar suara pria itu yang, sungguh sangat menyejukkan hatinya. Jauh dengan apa yang dia pikirkan selama ini.


Sementara Arga tak berhenti mengulas senyum. Dia begitu bahagia dengan respon baik yang ditunjukkan Papanya.


"O-om.. Justru saya sangat berterima kasih. Om sudah memberi kesempatan untuk saya-"


"Jangan panggil Om, Kasih. Panggil Papa, kan sebentar lagi jadi mantu Papa" potong Wijaya.


Baik Arga maupun Kasih tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.


"Pa.. Terimakasih Papa." Arga langsung tersenyum lebar mendengar hal itu.

__ADS_1


Wijaya meraih tangan Arga dan Kasih kemudian menyatukannya dalam genggamannya.


"Papa hanya ingin yang terbaik untukmu Arga. Jika kalian bahagia Papa pun ikut bahagia. Tapi jangan kecewakan Papa." ucap Wijaya dengan penuh permohonan.


"Baik Pa. Arga akan selalu berusaha menjadi putra terbaik Papa." balas Arga.


Tak ada malam paling membahagiakan sekaligus melegakan seperti malam ini. Akhirnya Wijaya mau merestui hubungan Arga dengan Kasih. Hal itu tak lepas dari usaha Arga yang meyakinkan Wijaya beberapa saat lalu. Dia terus memohon kepada Papanya agar merestui hubungan mereka. Dan Arga menceritakan semua yang Kasih alami selama ini. Dan akhirnya Wijaya tergugah hatinya.


"Oh ya Arga, nenekmu mungkin besok akan sampai ke Indonesia. Papa lupa mengatakannya." ujar Wijaya.


Arga yang sedari tadi menikmati makanannya langsung terhenti. Kasih pun dibuat heran dengan hal itu.


"Arga, sudah ya. Jangan dipikirkan terus. Mungkin saja nenekmu sudah berubah." ujar Wijaya berusaha menenangkan Arga.


"Tapi aku masih belum bisa lupa dengan apa yang selalu nenek perbuat terhadap Mama. Dia selalu mencari gara-gara." Arga mendengus kesal.


"Nanti Papa akan bicara baik-baik kepada nenekmu." ujar Wijaya lagi.


"Awas saja sampai merecoki hubunganku dengan Kasih." timpal Arga kesal.


Kasih hanya bisa diam mendengar obrolan ayah dan anak tersebut. Tapi dari ekspresi Arga sepertinya sosok nenek yang dibicarakan tampaknya tampak kurang akrab dengan Arga.


Semoga saja kali ini tidak ada masalah lagi. Kasih hanya bisa berharap dirinya dan Arga tetap lancar dalam hubungannya sampai ke jenjang pernikahan.


Mendapatkan restu dari Wijaya saja sudah membuat Kasih bahagia tak terkira. Dan semoga semua anggota keluarga Arga dapat menerimanya dengan baik terlepas dari masa lalunya yang kelam.


...****************...


Dua hari berlalu, seperti biasa Arga dan Kasih disibukkan dengan pekerjaan mereka di kantor.


Meski sibuk namun jika semua dikerjakan bersama orang tercinta rasanya menjadi ringan.


Kadang Arga merasa kasihan dan tak tega melihat Kasih harus bekerja keras seperti itu. Namun Kasih selalu menolak jika dia hanya berdiam diri di rumah.


Saat ini Kasih sedang menikmati makan siang bersama di dalam ruangan Arga. Arga sengaja memesan makanan untuk dikirim di kantornya saja. Karena pekerjaan yang banyak juga ingin lebih santai.


Namun tiba-tiba mereka mendengar suara pintu yang diketuk.


"Hmm.. Siapa sih ganggu makan siang begini?" decak Arga kesal.


Arga pun mengisyaratkan untuk masuk. Dan saat pintu terbuka Arga dibuat terkejut dengan sosok yang datang.

__ADS_1


"Arga... " wanita itu langsung berhambur memeluk Arga tanpa peduli dengan sekitarnya.


__ADS_2