Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 36 Pacar?


__ADS_3

"Mas Arga?" Kasih terkesiap saat mendapati Arga yang tidur memeluknya dari belakang.


Meski ruangan itu gelap gulita namun Kasih bisa memastikan itu adalah Arga.


Dia masih merasa begitu takut berada didekat pria itu. Perbuatannya yang telah dilakukan kepada Kasih masih membekas di otaknya.


Bahkan pergelangan tangannya masih terdapat bekas merah akibat ikatan Arga. Pria itu berbahaya, pikir Kasih.


"Kasih," panggil Arga lirih. Kemudian pria itu menyalakan lampu di ruangan itu.


Kasih yang masih setengah limbung karena baru saja bangun dari tidurnya berdiri dengan gemetar.


Dia menatap Arga yang berdiri tak jauh darinya. Entah mengapa saat melihat pria itu ada ketakutan tersendiri untuk Kasih.


"Ja-jangan dekat-dekat" Kasih memundurkan tubuhnya agar menjauh dari Arga.


"Kasih awas jatuh" ujar Arga yang melihat Kasih memundurkan kakinya tanpa melihat bahwa lantai sedang basah.


Tak lama kemudian Kasih hampir terjatuh dan dengan sigap Arga langsung menangkapnya.


"Aakkhh" Kasih yang terkejut langsung memejamkan matanya.


Dia pikir akan jatuh ke lantai tapi malah jatuh ke pelukan Arga.


Saat membuka mata dia langsung bertemu dengan wajah Arga. Begitu dekat dan degup jantung Kasih semakin tak beraturan.


Dia sadar dan langsung melepaskan diri dari pelukan Arga. Sedikit kikuk atas apa yang baru saja terjadi.


"Lantainya.. Basah.." Kasih baru menyadari bahwa dirinya telah tertidur tanpa menutup jendela.


"Kau baik-baik saja Kasih?" tanya Aega memastikan.


Kasih hanya mengangguk. Keduanya pun diam, lalu tanpa mengatakan apapun Kasih pergi keluar kamar.


Sikap Kasih yang dingin terhadap Arga menandakan bahwa gadis itu marah kepadanya. Arga juga sudah menduganya.


Kasih berjalan keluar dan mendapati lantai yang basah di depan balkon. Sepertinya dia benar-benar ceroboh hari ini.


Dia mengambil alat pel dan membersihkan lantai itu. Kemudian berjalan ke dapur untuk memasak sesuatu.


Meski marah namun Kasih tetap tahu akan tugasnya. Dia tetap memasak makan malam untuk Arga.


Sementara Arga kini selesai mandi dan langsung menghampiri Kasih.


Dia melihat gadisnya yang sibuk memasak di dapur.

__ADS_1


"Mau di bantu?" Arga menawarkan diri.


Kasih diam dan tak bereaksi sama sekali.


Seolah tak memperhatikan keberadaan Arga padahal dalam hati Kasih sedang berkecamuk.


Kasih merasa jengkel dengan apa yang sudah Arga lakukan padanya namun dia juga merasa begitu nyaman saat Arga didekatnya.


Dan sialnya kini Kasih menjadi tak fokus dan tanpa sadar tangannya tergores pisau.


"Aaww.." Kasih terpekik merasakan tangannya yang perih terkena pisau. Darah segar langsung mengalir di jari telunjuknya sebelah kiri.


Dengan cepat Arga meraih tangan Kasih. Dia langsung menye.dot tangan Kasih untuk menghentikan pendarahannya.


Setelah itu Arga membasuh tangan Kasih dengan air. Kasih merasa semakin canggung dan hendak melanjutkan kegiatan memasaknya.


"Sudah jangan dilanjutkan, tanganmu sakit" ujar Arga.


"T_tapi.." Kasih hendak mengambil pisau kembali. Namun dengan cepat Arga menjauhkan pisau tersebut.


Arga langsung memeluk tubuh Kasih. Sementara gadis itu hanya diam mematung.


"Maafkan aku Kasih, maaf.. Aku sudah keterlaluan padamu. Aku sudah menyakitimu" Arga terus berusaha meminta maaf kepada Kasih.


Akhirnya pertahanan Kasih runtuh juga. Dia kembali menangis terisak. Seharian ini dia berusaha menguatkan diri namun tetap saja, dia begitu lemah. Apalagi jika menyangkut masalah hati.


Ingin saja rasanya Kasih menjadi sosok yang kuat namun keadaan selalu berbanding terbalik.


Nyatanya Kasih membutuhkan sosok yang bisa menguatkannya. Seseorang yang bisa meredam kegundahannya dengan pelukan.


Arga terus memeluk, mengusap kepala Kasih dan sesekali mengecupnya. Kasih seolah tenggelam didalam tubuh kekar pria itu yang entah kenapa menjadi tempat ternyaman untuknya.


Kasih meremas tangannya sendiri dengan kuat. Ingin sekali membalas pelukan Arga namun egonya masih enggan untuk mengalah.


.


Arga dan Kasih sedang duduk di sofa ruang tengah. Keduanya baru saja selesai makan malam dengan makanan yang mereka pesan secara online.


Duduk bersebelahan namun tak saling berinteraksi. Dalam hati Kasih sedang berperang antara memulai pembicaraan atau menunggu Arga yang bicara.


"Kamu yakin ingin bekerja?" suara Arga membuat Kasih sedikit menjingkat.


Kasih menoleh ke arah Arga, kemudian mengangguk pelan.


"kenapa?" Arga ingin jawaban lebih spesifik.

__ADS_1


Kasih menghirup nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkan pelan. Berusaha memberanikan diri untuk mengungkap semua unek-unek di hatinya.


"Aku ingin hidup normal seperti orang lain pada umumnya. Bekerja, mengharap gaji setiap bulan, menghabiskannya bersama teman-teman." ujar Kasih.


"Aku ingin punya relasi, aku lelah terus terkurung didalam ruangan ini hanya bisa menatap keluar jendela setiap hari. Aku ingin terlihat oleh orang lain. Bukannya seperti tikus yang tinggal di gorong-gorong. Yang taunya keluar mengendap-endap." panjang lebar Kasih mengungkapkan semua yang mengganjal di hatinya.


Arga terdiam sejenak mendengarkan penjelasan Kasih. Kemudian dia meraih tangan Kasih dan mengusap jemarinya.


"Baiklah, kamu boleh bekerja. Tapi di tempatku saja jangan di tempat lain" ujar Arga.


"B-benarkah?" Kasih tampak tak percaya.


"Hmm.. Aku sudah membicarakannya dengan Alvin. Dan aku pikir kamu cocok jadi sekretarisku" ujar Arga.


"Tapi mas, kan sekretarisnya Kak Alvin? Lalu gimana kerjanya dia? Jangan dipecat mas" protes Kasih.


Arga pun terkekeh melihat ekspresi Kasih yang tampak bingung.


"Tidak Kasih, aku akan menaikkan jabatannya. Sudah saatnya dia bekerja lebih keras. Lagian akan seru sepertinya kalau sekretarisku pacar sendiri" ujar Arga sambil mengulum senyum.


"P-pacar?" Kasih terkejut.


"Hmm.. Ku anggap kamu pacarku" ujar Arga dengan entengnya.


"Tapi.. Mas.." Kasih masih belum mengerti dengan maksud Arga.


Arga meraih tubuh Kasih kemudian mengangkatnya ke atas pangkuannya.


"Kita jalani saja dulu. Anggap kita sedang pacaran, sisanya kita pikirkan perlahan-lahan"


Tubuh Kasih serasa membeku mendengar ucapan Arga.


...****************...


Felicia memang menyadari jika peran Arga sebagai suaminya sangat berpengaruh besar terhadap karier modelnya.


Sebenarnya tak ada hal lebih menarik selain postur tubuh serta wajah cantiknya. Jika saja tak jadi berkiprah di dunia modelling dia juga bingung harus banting stir sebagai apa. Tak ada bakat yang bisa ditonjolkan.


Dan kata-kata orang tuanya kini pun jadi semangatnya untuk mempertahankan rumah tangganya bersama Arga. Meski sebenarnya hal ini sudah cukup sulit karena Arga yang sudah tak menginginkannya lagi.


Felicia harus putar otak untuk mendapatkan simpati dari Arga kembali. Jika tidak, dalam waktu satu bulan ini statusnya sebagai nyonya Arga Wijaya akan hilang.


Akhirnya ide pun muncul. Dia teringat akan mertuanya yang tampak begitu menyayanginya.


Felicia mengatur rencana untuk mendekati Pak Wijaya agar mau membujuk Arga.

__ADS_1


Harapannya sekarang semoga Arga belum menceritakan kelakuan dirinya bersama Samuel kepada ayahnya.


__ADS_2