
Alvin merasa tidak terima jika Kasih sudah diperlakukan Arga seenaknya. Dia langsung mendekati Arga dan meraih tubuh Kasih.
Alvin merebut Kasih dari gendongan Arga lalu membopong tubuh sang adik menuju brankar.
"Katakan Kasih, apa dia sudah kurang ajar denganmu?" tanya Alvin sembari menyelimuti tubuh Kasih.
"Alvin aku tidak-" Arga mencoba untuk menjelaskan namun langsung dipotong oleh Alvin.
"Diam lo, gue tanya Kasih bukan lo" ujar Alvin sarkas.
"Kak, Mas Arga tidak-"
"Jujur saja Kasih, katakan jangan takut. Kakak akan melindungi kamu. Salah kakak mengenalkan mu pada pria mesum itu." ucap Alvin memotong ucapan Kasih.
"HEI... lo itu yang mesum. Cewek satu kantor udah lo tidurin semua." Arga tidak terima dikatai mesum oleh Alvin.
"Mulai sekarang jangan takut lagi Kasih, jika dia bertindak semena-mena padamu lawan saja. Jika dia masih memaksa tendang saja burungnya." imbuh Alvin.
"Kurang ajar lo Alvin.." geram Arga.
Kemudian Alvin berbalik dan menatap Arga dengan nyalang.
"Apa lo, terus saja manfaatin Kasih buat kepentingan lo, buat nafsu lo. Mesum itu ada tempat dan waktunya. Nggak lihat lo kalau dia masih sakit." Alvin yang sudah diliputi emosi sampai lupa siapa Arga.
"Brengsek lo Vin. Siapa yang manfaatin Kasih. Gue nggak ngelonin dia di toilet gilak.." Arga yang juga emosi tak bisa diredam lagi.
BBUKK..!!
Arga melayangkan tinjunya kepada wajah Alvin. Alvin sempat terhuyung karena pukulan Arga. Namun dia juga tak mau menyerah. Alvin langsung membalasnya.
BBUUKK..!!
Tinjuan Alvin juga tak kalah keras memukul wajah Arga. Hingga wajah keduanya pun kini impas, sama-sama memar.
"Sudah.. Sudah.." Kasih berusaha melerai keduanya. Namun Kasih yang masih lemas tak mampu berteriak keras sehingga dia berinisiatif untuk menghampirinya.
Saat hendak turun dari brankar tiba-tiba Kasih merasa pusing dan terhuyung.
BBRUUKKK...
"Aakhh.." Kasih memekik saat dirinya terjatuh dari brankar. Kepalanya terbentur lantai dan selang infus yang menancap di tangannya terlepas sehingga darah langsung mengucur.
"KASIH..." Arga langsung menghampiri Kasih yang terjatuh. Begitu juga dengan Alvin.
"Minggir lo" Alvin langsung menepis tangan Arga dan membantu Kasih.
Setelah itu dokter dan perawat dipanggil untuk menangani Kasih. Mereka sedikit heran karena kondisi ruangan tampak berantakan juga Arga dan Alvin yang keduanya tampak lebam.
Sementara Kasih masih terisak. Arga dan alvin saling menatap dengan sinis. Hingga membuat perawat yang menangani Kasih merasa takut.
"Kasih kamu tidak apa-apa?" Arga bertanya kepada Kasih karena khawatir.
"KALIAN YANG APA-APAAN. BERANTEM SEPERTI ANAK KECIL." Sambil terisak Kasih yang kesal sekuat tenaga langsung berteriak dihadapan mereka.
Dokter dan perawat segera pergi karena tidak ingin terlibat dengan kekacauan mereka.
"Harusnya bicara baik-baik dulu. Kenapa mesti main kekerasan." damprat Kasih.
"Maaf, kakak hanya tidak terima dia memanfaatkan mu" ujar Alvin.
"Siapa yang memanfaatkanku? Mas Arga tidak melakukan apapun. Justru dia membantuku membersihkan tubuh dan mengganti baju. Kemejanya basah jadi dia lepas. Belum sempat aku menjelaskan tapi kakak sudah memotong ucapanku terus." Kasih mencoba untuk menjelaskan.
__ADS_1
Alvin pun langsung terhenyak dengan pengakuan Kasih. Sementara Arga tampak menyeringai sinis.
"Mas Arga juga, jelasin itu pakai kata-kata bukan kekerasan. Bonyok semua kan akhirnya." Kasih pun tak urung mengomeli Arga juga.
Keduanya kini hanya bisa tertunduk diam. Mereka benar-benar seperti anak kecil yang diomeli Ibunya.
"Kasih maafkan aku.." gumam Arga.
"Kakak juga minta maaf.." ujar Alvin.
"Kalian berdua keluar dari ruangan ini. Aku ingin sendiri. Jangan kesini kalau belum berdamai" ucap Kasih dengan Kesal.
Akhirnya mau tak mau kedua pria itu berjalan keluar dari ruangan Kasih.
****************
Felicia kalang kabut saat mendapati dirinya benar-benar hamil. Dia tidak menyangka ditengah permasalahan yang masih membelitnya justru kini ada lagi masalah yang membuatnya semakin ingin mengamuk saja.
Berkali-kali dia mencoba memberi tahu Samuel namun pria itu sama sekali tidak bisa di hubungi.
"Sial..." Felicia seakan tertimpa masalah bertubi-tubi. Otaknya pun terasa beku. Dia tak bisa berfikir dengan jernih.
Jika saja orang tuanya tahu tentang hal ini mungkin mereka akan menghabisinya.
Terpaksa Felicia pergi ke apartemen Samuel. Dia harus segera meminta pertanggungjawaban pria itu.
Sampai didepan pintu Felicia langsung memasukkan kode pintunya. Namun berkali-kali gagal.
"Sial, dia mengganti kodenya" geram Felicia.
Lantas dia langsung menggedor-gedor pintu apartemen Samuel.
Namun hingga beberapa saat Felicia berteriak tetap saja tak ada respon.
"Mbak.. Tolong jangan buat keributan disini dong. Kami terganggu dengan suara berisik mbak. Belum lagi anak saya jadi bangun." ucap seorang wanita keluar dari pintu depan unit Samuel.
"Gue mau cari orang. Kalo gak gini gak akan dibuka." ucap Felicia ketus.
"Digedor model gimanapun juga nggak akan keluar. Itu apartemen kosong. Orangnya aja udah pindah" dengus wanita itu.
"Apa? pindah? Sialan..."
...****************...
Arga berjalan menuju area merokok di taman depan gedung rumah sakit tersebut.
Dia duduk dan mengeluarkan sebungkus rokok beserta pemantiknya. Arga mengambil satu batang lalu membakarnya.
Disedotnya kuat-kuat sambil menghela nafas panjang. Pelipisnya masih terasa nyut-nyutan akibat bogem mentah dari Alvin. Seumur-umur dia belum pernah melihat Alvin memperlakukannya begitu. Apalagi berkata kasar dan mengumpatnya.
"Arghh sial.." Arga menekan pelipisnya yang terasa sakit.
Tiba-tiba seseorang menjulurkan sebuah kantong es batu kepadanya. Arga menatap orang itu adalah Alvin yang juga sedang mengompres pipinya.
Arga meraih kantong es tersebut lalu mengompres ke pelipisnya.
"Pak Arga, maafkan saya" ucap Alvin tak berani menatap Arga.
"hmm.." Alvin hanya bergumam.
"Saya reflek melakukannya karena saya sangat menyayangi Kasih. Hanya dia keluarga yang saya punya." suara Alvin terdengar serak. Karena berusaha menahan sedihnya.
__ADS_1
Arga menatap Alvin yang menunduk dengan kuyu. Kemudian dia mengusap bahu pria itu.
"Aku tahu, apa yang kamu lakukan itu tidak salah tapi juga tidak sepenuhnya benar. Sudah sepatutnya sebagai seorang kakak melindungi adiknya." ucapan Arga seketika membuat Alvin langsung menatapnya.
"Pak.. terimakasih." ucap Alvin sambil tersenyum meski matanya terlihat memerah.
"Satu lagi, kalau ada orang mau menjelaskan jangan dipotong dulu. Jadinya malah salah paham begini. Kalau kamu bukan calon iparku mungkin aku akan memecatmu." gumam Arga.
"Jadi Pak Arga memaafkanku?" tanya Alvin lagi.
"Iya, karena aku tidak tahan ingin segera bertemu Kasih." Arga bangkit dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Alvin begitu saja untuk menemui Kasih di ruangannya.
Arga memasuki ruangan itu dan melihat Kasih yang tengah tidur meringkuk membelakangi pintu. Pria itu mendekati Kasih dan mengusap kepalanya. Kasih langsung menoleh untuk menatap Arga. Pria itu mengulas senyumannya.
"Sudah baikan?" tanya Kasih.
"Sudah sayang.." ucap Arga.
...****************...
"Pak Arga tidur disini saja. Saya tidur di sofa saja" Alvin menunjuk sebuah ranjang yang agak jauh dari brankar Kasih.
"Tidak, aku tidur di sini saja. Nanti kalau Kasih butuh apa-apa biar gampang." tolak Arga yang sedang duduk di sofa dekat brankar Kasih.
"Kak Alvin tidur di ranjang aja. Biar Mas Arga tidur sama aku." Kasih bergeser dan menepuk sebelahnya.
"Tapi itu sempit Kasih nanti kamu tidak bisa bebas." ujar Arga.
"Mas..." suara Kasih jadi manja. Kalau begini Arga tak bisa menolak lagi.
Akhirnya Arga pun naik ke atas brankar bersama Kasih. Tampak gadis itu tersenyum menang.
Sementara Alvin hanya bisa melongo melihat tingkah adiknya yang jadi genit begitu. Tak mau pusing akhirnya Alvin pergi tidur ke ranjangnya.
Kasih langsung meringkuk di pelukan Arga. Rupanya ini yang diinginkannya, merindukan Arga setengah mati. Arga pun dengan senang hati juga berhati-hati memeluk Kasih agar tetap nyaman.
Kedua insan itu kini saling menatap. Saling melepas rindu keduanya. Kemudian Kasih menoleh ke belakang untuk memastikan Alvin yang sepertinya sudah terlelap.
Cupp...
Dengan cepat Kasih mengecup bibir Arga. Hingga membuat Arga terkejut.
"Loh, kok nyuri start sih." bisik Arga sambil membalas kecupan Kasih.
Kasih hanya terkikik. Dia berusaha tidak bersuara namun justru sebenarnya telinga Alvin sangat peka saat ini.
"Dasar manusia tidak punya Akhlak. Tidak ingat apa aku jomblo disini" gumam Alvin dalam hati.
Sepuluh menit kemudian...
"Ah Kasih. Jangan dipegang dong. Jangan sekarang, kamu lagi sakit." suara Arga membuyarkan rasa kantuk yang hampir saja melanda Alvin.
"Aku nggak megang mas. Cuma gak sengaja kesentuh aja. Lagian udah tegak gitu mana ranjangnya sempit lagi. Kan ganjel." omel Kasih yang tak terima.
"Udah ah, aku tidur di sofa aja." Arga turun dari brankar lalu berbaring di sofa.
"Yudah.. Huft.." Kasih yang jengkel kembali tidur memunggungi Arga.
Alvin semakin dibuat sebal sendiri melihat kelakuan dua manusia itu. Dia mengambil bantalnya dan menelangkupkan ke atas kepalanya.
"****..!!"
__ADS_1