
"Apa kamu lelah, Baby?" berkali-kali Arga terus menanyai Kasih.
"Tidak, tapi aku masih penasaran siapa wanita hamil yang mengamuk di depan?" sejak tadi Kasih terus dibuat penasaran dengan hal itu.
"Bukan siapa-siapa sayang. Dia hanya orang iseng saja." Arga mengelus lembut pinggang Kasih.
Tak tega sebenarnya membiarkan istrinya berdiri lama dengan gaun besarnya yang berat. Apalagi saat ini dalam keadaan hamil pasti Kasih sedang menahan diri.
"kalau nggak kuat kamu istirahat saja ya. Biar aku yang temui tamu-tamu." ujar Arga.
"I'm okay, sayang. Satu jam lagi kan acaranya selesai." Kasih masih terlihat baik-baik saja.
"Yaudah, nanti kalau capek langsung bilang ya. Mas nggak mau kamu kenapa-napa sayang." dengan penuh perhatian Arga selalu berusaha menjaga Kasih.
Hal itu berbanding terbalik dengan sikap dinginnya sebagai bos. Bahkan bisa dibilang Arga adalah manusia kulkas bagi seluruh karyawannya. Tak pernah banyak bicara jika tak penting. bahkan sekedar senyuman saja dangat jarang dia tampilkan di kantor.
Namun apa yang di lihatnya hari ini membuat semua karyawan langsung terkejut. Rupanya Arga bisa bersikap sangat hangat dan perhatian kepada Kasih. Atau memang sikap itu hanya ditujukan kepada Kasih saja.
Sementara di luar gedung seorang wanita yang sempat membuat onar tadi sudah diamankan. Alvin yang mengambil bagian ini. Bagaimanapun dia tak ingin membuat acara pernikahan adik kesayangannya jadi kacau.
"Tolong jangan ganggu acara pernikahan adikku. Lihatlah keadaanmu, jika sampai Arga menemuimu secara langsung maka kau akan mendapatkan akibat terburuk." gertak Alvin.
"Gue cuma pengen lihat bagaimana suami gue menikmati acara pernikahan mewahnya. Apalagi nikahnya dengan pelakor kesayangannya. Hahahaha" dengan keadaan mabuk Felicia terus meracau.
Tubuh Felicia tampak sangat kurus dengan perut yang sudah hamil besar. Dengan pakaian yang sangat jauh dari kata layak. Apalagi kini dia sangat suka mabuk-mabukan untuk menghilangkan rasa frustasinya. Kesepian dan terabaikan itulah yang saat ini dia alami.
Samuel tak pernah sekalipun menjenguknya. Meski memberi fasilitas namun pria itu tak pernah memperhatikannya.
Dalam keadaan seperti itu Alvin tentu juga tak tega melihatnya. Akhirnya fia menyuruh stafnya untuk mengamankan Felicia di salah satu kamar hotelnya.
"Beri dia makan, apapun yang dia mau tapi jangan yang berbahaya untuk tubuh dan janinnya." ujar Alvin kepada karyawannya.
"iya pak," karyawan itu berlalu untuk melayani Felicia.
Kembali ke pesta, kini acara sudah hampir sepesai. Beberapa tamu sudah pulang tinggal para sahabat dekat serta keluarga saja yang masih tampak menikmati suasana tersebut.
Arga dan Kasih pun akhirnya berpamitan lebih dulu sebab tak ingin membuat wanita kesayangannya merasa lelah.
Sampai di kamar Arga dan Kasih merasa begitu lega.
Mereka sempat terkejut saat melihat kamarnya yang ternyata sudah berubah dekorasi. Hamparan bunga mawar berwarna merah menghiasi ruangan tersebut.
__ADS_1
Sungguh sangat indah khas pengantin baru. Kasih tak berhenti takjub melihat ruangan itu seolah seperti taman bunga mawar yang sangat indah.
"Bagaimana sayang? Kamu suka?" tanya Arga sembari memeluk Kasih dari belakang. Namun seketika Kasih langsung memutar dirinya menghadap Arga.
"Suka banget mas, benar-benar indah.Makasih banyak ya Sayang." gumam Kasih dengan senyum indah terukir di wajah cantik itu.
"Mas juga terima kasih banyak. Sudah mau bertahan dan menemani Mas selama ini. Aku mencintaimu sayang." ucap Arga dengan penuh ketulusan.
"Aku juga cinta sama Mas, Mas Arga adalah alasanku mampu bertahan hidup selama ini. Mas Arga adalah semestaku." Binar mata itu perlahan menimbulkan rasa hangat yang tentu saja semakin lama akhirnya air mata menetes dari sudutnya. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata bahagia.
Kedua netra itu bersambut. Menyelami perasaan mereka yang telah begitu dalam. Kini tak ada lagi halangan untuk mempersatukan cinta dua insan ini.
Dengan pertemuan yang tak terduga. Keduanya berhasil melewati lika-liku kehidupan. Berbagi rasa sakit, bersama-sama pula saling menyembuhkan. Dan kini tak ada lagi alasan untuk saling mencintai.
Sentuhan kedua bibir itu terasa sangat manis dan indah. Keduanya begitu menikmati getaran cinta yang telah membuncah. Kasih membalas ciuman Arga dengan penuh kebahagiaan. Malam ini akan menjadi malam terindah untuk keduanya.
...****************...
Kasih masih bergemul didalam selimutnya. tidurnya begitu lelap dan tenang membuat Arga tak berani mengganggunya.
Pelan-pelan Arga mengecup kening sang istri yang tampaknya masih sangat pulas karena semalaman mereka hampir-hampir tidak tidur, tahu sendiri kan apa yang dilakukan mereka.
Arga berjalan keluar kamar. Beberapa keluarga masih tinggal di hotel tersebut, terutama yang rumahnya berada di luar kota. Arga menyapa beberapa dari mereka.
Alvin pun langsung mengajak Arga menuju salah satu kamar hotel tersebut.
Pelan-pelan Alvin membukanya. Arga tampak tercengang melihat seseorang yang sedang duduk menatap jendela dengan tatapan kosong.
Wanita yang pernah ada dalam hidup Arga, dulu tampak sangat cantik dan modis. Bahkan penampilannya tak pernah ada cela sedikitpun.
Namun apa yang dilihat Arga saat ini benar-benar berbanding terbalik. Felicia tampak sangat kurus. Bahkan lengannya saja seperti hanya tulang terbalut kulit. Wajahnya terlihat kempot dan tua tanpa polesan make up sedikitpun.
Kantung mata hitam serta kulit kusam. Benar-benar jauh dari kata normal. Perutnya sudah membuncit besar yang sepertinya kehamilannya ini sudah memasuki trimester akhir.
Pakaian kumal dan tak layak itu membuat Arga semakin miris melihatnya.
Felicia menoleh dan menatap Arga. Ada senyum tercetak di kedua sudut bibirnya. Mata sembabnya kini seperti ada binar harapan.
Dengan langkahnya yang tertatih Felicia langsung menghampiri Arga dan memeluknya.
Arga hanya bisa diam mematung melihat mantan istrinya yang sedang memeluk dirinya. Bahkan kedua tangannya reflek mengangkat untuk menghindari sentuhan dengan tubuh Felicia.
__ADS_1
Arga masih sakit hati, perbuatan Felicia di masa lalu telah menorehkan rasa sakit dan kecewa yang mendalam. Tapi setelah melihat keadaan Felicia seperti ini sebenarnya dia juga merasa tidak tega.
"Mas Arga, maafkan aku. Maaf..." suara parau Felicia tengah terisak.
"Kenapa kau kemari? Sudah ku bilang di antara kita tidak ada apapun lagi yang tersisa. Apa kau mau mengacaukan hidupku lagi?" suara Arga tampak datar.
Alvin hendak pergi meninggalkan mereka berdua. Namun secepatnya Arga mencegah. Dia harus tetap berada di tempat itu untuk menyaksikan Felicia. Arga tidak ingin menimbulkan masalah baru. Apalagi kini statusnya sudah menjadi seorang suami.
"Aku hanya ingin melihatmu menikah mas, aku ingin minta maaf kepadamu dan juga Kasih. Aku menyesal, hidupku sudah hancur." ucap Felicia lirih.
Perlahan Arga mulai melepaskan pelukan Felicia dari tubuhnya. Dia mundur dua langkah untuk menciptakan jarak.
Terlihat dari sorot mata Arga adanya kemarahan yang tersimpan didalam hatinya. Kemudian Alvin memegang bahu Arga, dia mengisyaratkan sesuatu.
Akhirnya tanpa mengatakan apapun Arga berjalan keluar dari ruangan itu. Dengan wajah datar tanpa ekspresi. Namun Alvin paham betul bagaimana perasaan Arga saat ini.
"Tetap disini dan jangan kemana-mana sebelum Arga yang memutuskan sendiri kau harus pergi." ucap Alvin sebelum meninggalkan Felicia sendirian.
Alvin dan Arga kini sedang duduk berdua dengan secangkir kopi di masing-masing tangan mereka. Ada hal yang perlu di bahas tentang Felicia.
"Kedua orang tuanya mengusir dirinya. Samuel mencampakkannya. Dia memang diberi tempat tinggal namun uang yang diberikan setiap bulan sangat sedikit sehingga dia jarang makan. Dan kebiasaan buruknya mabuk-mabukan kembali. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya." ucap Alvin.
Arga berdecak, kemudian tersenyum namun ekspresi itu justru tampak sangat mengerikan.
"Biarkan saja, toh itu juga hasil dari ulahnya sendiri. Aku sudah tak peduli sama sekali dengannya." ujar Arga datar.
Alvin tak kaget dengan ucapan Arga. Memang ada benarnya seperti itu. Semua itu karena ulah Felicia sendiri.
"Ngomongin siapa sih pagi-pagi?" Tiba-tiba saja Kasih sudah berjalan menghampiri mereka. Dia langsung duduk manja di pangkuan Arga.
"Kesayangan sudah bangun?" tanya Arga.
Kasih pun mengangguk. kemudian mengecup bibir Aega dengan mesra tanpa mempedulikan keberadaan Alvin di sampingnya.
"Aku nyariin Mas Arga nggak ketemu. Emangnya dari mana aja sih?" tanya Kasih dengan manjanya.
"Nggak dari mana-mana sayang. Mas cuma nggak bisa tidur jadi ketemu kakakmu di sini dan ngobrol deh.
Arga sengaja tidak memberitahu Kasih tentang hal ini lebih dulu. Dia tak ingin menambah beban pikiran untuk istrinya.
"Bohong, pasti habis ketemu Felicia kan?" terang-terangan Kasih mengucapkan hal itu.
__ADS_1
Seketika Arga dan Alvin langsung gelagapan.
...****************...