Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 113 Aku suaminya


__ADS_3

Pasangan pengantin baru Alvin dan ratna pun semakin menggemaskan setiap harinya. Meski keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang.


Alvin yang tengil serta Ratna yang galak seolah menjadikan hubungan mereka tantangan tersendiri.


Rencananya Alvin masih ingin menghabiskan waktu di rumah mertuanya selama satu mingguan. Setelah itu barulah mereka kembali ke Jakarta.


Begitu pula Kasih yang hendak kembali ke Jakarta bersama Aryo langsung dicegah oleh kedua orang tua Ratna.


Mereka begitu senang dan menyayangi Kasih. Sehingga mereka ingin Kasih juga tinggal lebih lama. Ratna dan Alvin pun ikut senang.


Dan kesempatan ini pun digunakan Kasih untuk berkomunikasi dengan Arga tanpa adanya gangguan dari Aryo.


Kasih sudah begitu akrab dengan Nova sehingga keduanya sering menghabiskan waktu bersama. Saling bertukar cerita bahkan beberapa kali Kasih menginap di rumah orang tua Nova.


Hari ini Kasih dan Nova sudah janjian akan berbelanja serta jalan-jalan menyusuri kota Semarang.


Sementara Ratna yang suntuk karena Alvin ada banyak pekerjaan yang tak bisa diganggu dari laptopnya. Akhirnya dia pun ingin pergi bersama Kasih dan Nova.


"Sayang, aku boleh pergi sama Kasih dan Nova nggak? Aku bosan di rumah. Kamunya juga sibuk kan." rengek Ratna.


"Boleh sayang, yang penting hati-hati ya. Jangan nakal jangan nyusahin mereka." ujar Alvin sembari mengecup bibir Ratna singkat.


Kemudian Ratna beranjak untuk pergi. Tinggallah kini Alvin seorang diri di dalam kamar. Setelah memastikan Ratna benar-benar pergi kini dia memulai aksinya.


Alvin menggeledah seisi kamar Ratna. Dia ingin mencari tahu sebenarnya sosok Ratna itu seperti apa. Terutama dia ingin mencari benda-benda aneh milik istrinya.


"Aku harus segera menemukan benda-benda laknat itu. Bisa gila aku lama-lama." gerutu Alvin.


Dia mencari di setiap sudut ruangan itu. Menggeledah semuanya namun tak menemukan apapun.


"Nyari Apa sayang?" Alvin terperanjat saat suara istrinya tiba-tiba muncul.


"Loh, kok belum berangkat? Bukannya tadi.." Alvin begitu terkejut.


"Nggak jadi, Kasih lagi nggak enak badan." Ratna tampak cemberut.


Alvin pun berjalan menghampiri istrinya kemudian memeluknya.


"Kamu mau jalan-jalan ya?" tanya Alvin dengan suara lembut.


Ratna pun mengangguk. Jika merajuk begini istrinya tampak begitu imut.


"Yaudah, tunggu aku ganti baju dulu. Setelah ini kita berangkat." ujar alvin.


Ratna langsung menatap Alvin dengan berbinar.


"Sungguh? Katanya tadi sibuk?" tanya Ratna memastikan.


"Buat kamu nggak ada namanya sibuk, istriku." Alvin berjalan menuju walk in closet untuk mengganti pakaian.

__ADS_1


Sementara Ratna untuk pertama kalinya tidak memprotes gombalan Alvin. Meski terlihat galak sebenarnya dalam hati Ratna begitu senang saat Alvin menggombalinya.


Alvin dan Ratna kini pergi mengunjungi kota lama. Kebetulan lokasinya tidak jauh dari kediaman Ratna.


Menikmati sore hari sambil berjalan-jalan menyusuri bangunan tua. Kedua insan itu bahkan tak pernah sekalipun melepaskan tangannya.


Beberapa kali Alvin sibuk memotret istrinya. Dia bahkan sudah seperti fotografer profesional yang sibuk mengarahkan gaya modelnya.


"Sayang udah dong. Sekarang kita foto berdua. Selfie aja." Alvin pun menurutinya.


Alvin pun mengulurkan tangannya dan memposisikan dirinya untuk berselfie. Ratna menempelkan wajahnya di dekat Alvin. Saat sibuk memotret dirinya tiba-tiba Ratna mencium pipi Alvin.


Seketika Alvin tersipu malu namun juga sangat bahagia. Ternyata seperti ini rasanya menikah. Menjalani hari-harinya dengan sosok tersayang.


"Ratna.." tiba-tiba seorang pria menghampiri Ratna.


"Nino" jawab Ratna.


"Aku tidak menyangka kita bertemu lagi Ratna, sungguh aku sangat merindukanmu." tanpa basa-basi pria itu langsung memeluk Ratna.


Alvin yang berada di samping mereka pun mulai mengepalkan tangannya. Berani-beraninya seorang pria memeluk istrinya itu.


"ehhemm.." Alvin berdehem memberi kode keduanya.


Akhirnya pria itu melepas pelukannya pada Ratna. Barulah dia menyapa Alvin yang sejak tadi menatapnya dengan tajam.


"Hai Mas, temannya Ratna ya. Sory-sory tadi kelepasan soalnya lama banget nggak ketemu. Tambah cantik pula kamu Ratna. Sedikit beda saat kita masih pacaran dulu." puji pria itu.


"Oh, loh Ratna kamu sudah menikah? Sejak kapan?" pria itu nampak terkejut.


"Kemarin lusa. Sayang kenalkan ini teman SMA ku namanya Nino." ujar Ratna kepada Alvin.


"Nino ini suamiku, Alvin." Ratna terus merangkul lengan Alvin. Dia berusaha mencairkan suasana.


Keduanya pun berjabat tangan. Alvin terus menatap Nini dengan pandangan yang begitu tajam hingga pria itu merasa kikuk sendiri.


"Oh, ya sudah kalian selamat menikmati jalan-jalannya. Aku pamit dulu." Nino pun akhirnya ngibrit sendiri meninggalkan mereka.


"Huft, akhirnya curut itu pergi juga." gumam Alvin.


"Sayang, kamu marah?" tanya Ratna sedikit gelisah.


"Tidak," jawab Alvin singkat. Wajahnya masih menunjukkan kekesalannya.


"Terus kenapa wajahnya ditekuk begitu." rengek Ratna.


Alvin tak menjawab. Dia hanya mengendikkan bahunya.


"pulang yuk, capek." ujar Alvin yang langsung berjalan menuju parkiran mobil. Jangankan menggandeng tangannya. Bahkan dia tak menatap Ratna sama sekali.

__ADS_1


Sampai di mobil pun Alvin tetap diam. Bahkan sepanjang perjalanan pulang keduanya tak saling bicara.


"Alvin, kok diam sih. Kamu marah kan?" Ratna terus berusaha mengajak Alvin bicara.


Namun lagi-lagi Alvin hanya menimpalinya singkat. Seperti menggeleng dan mengangguk.


"Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu sayang. Aku juga tidak menyangka akan bertemu Nino di sana. Dia memang mantanku saat SMA tapi hubungan kami hanya berjalan dua bulan. Dan setelah itu kami tidak pernah berhubungan sama sekali." Ratna tampak menundukkan kepalanya. Genangan air mata sudah menumpuk di ujung netranya.


Alvin pun menepikan mobilnya. Dia mengangkat dagu Ratna dan mendekatkan wajahnya.


Betapa terkejutnya Alvin saat melihat Ratna yang sudah menangis.


"Ratna, kenapa kamu menangis?"


"Alvin aku benar-benar minta maaf. Jangan marah begini padaku. Aku hanya mencintaimu." ucapan polos Ratna tentu saja membuat Alvin hampir tertawa.


Kenapa bisa ada gadis se menggemaskan begini?. Namun Alvin berusaha menahannya. Dia tak ingin membuat Ratna bertambah sedih.


Diusapnya air mata Ratna dengan begitu lembut kemudian dia mendekatkan wajahnya kepada istrinya.


"Aku tidak marah padamu sayang, aku hanya kesal dengan pria tadi. Bisa-bisanya dia menyentuh istriku." ujar Alvin.


Perlahan Ratna mengangkat wajahnya dan menatap Alvin. Pria itu sudah berubah seperti sedia kala.


"Aku juga sangat mencintaimu. Maafkan aku ya sudah membuatmu sedih begini." Alvin pun akhirnya memeluk Ratna. Ditatapnya wajah cantik istrinya itu. Perlahan namun pasti kedua bibir itu mulai menempel. Menikmati sentuhan dan kecupan masing-masing. Ciuman mereka perlahan menjadi semakin dalam.


Saat sedang menikmati ciuman itu tiba-tiba Alvin mendengar suara dering di ponselnya.


Alvin berdecak kesal saat mendengar suara panggilan telepon di ponselnya.


Sat hendak mengangkat dia terkejut ketika nomor Ratna yang menghubunginya.


"Sayang, kemana HP kamu? Kenapa kamu meneleponku?" tanya Alvin rampak curiga.


"Oh, itu. Dibawa Kasih Vin." ucap Ratna sedikit panik.


"Kasih? Kenapa bisa?" tanya Alvin lagi.


"Eh itu diangkat dulu. Siapa tahu penting." Ratna mencoba untuk mengalihkan pertanyaan Alvin.


Alvin pun akhirnya mengangkat panggilan itu.


"Halo, ada apa Kasih?" tanya Alvin.


"Oh, Halo kak Alvin maaf kepencet. Sebenarnya mau nelepon Mas Arga tad-" Ucapan Kasih terputus seketika.


"Kamu, menghubungi Arga dengan ponsel istriku, Kasih?"


DEGG!!

__ADS_1


...****************...


__ADS_2