
Arga mengetahui bahwa saat ini Felicia sedang menyuruh seseorang untuk mengintai dirinya.
Awalnya dia tak begitu mempedulikannya namun akhirnya dia harus mengambil tindakan. Dia tak mau sampai terjadi sesuatu dengan Kasih.
Beruntung Felicia belum sempat mengetahui tentang Kasih yang sedang memiliki hubungan dengan Arga. Sehingga Arga tak terlalu khawatir. Biar sisanya dia bereskan sendiri.
Dan saat Felicia datang ke apartemennya Arga sudah bersiap. Dia menyuruh orang untuk memindahkan semua berang milik Kasih ke apartemen Alvin sesaat setelah keduanya pergi ke Surabaya.
Sehingga saat Felicia menggeledahnya dia tak mendapatkan bukti apapun. Arga harus selangkah lebih cepat dari Felicia. Dia tak ingin lagi dibodohi oleh wanita itu.
Felicia pun kini terus emosi dan tak henti-hentinya memaki Arga dalam hatinya. Dia tak terima dengan perlakuan Arga yang sangat mencoreng harga dirinya.
Jika terus-terusan begini Arga akan benar-benar menceraikannya dan keluarganya akan berada di ambang kebangkrutan.
Felicia harus terus berpikir dan memutar otak untuk mendapatkan simpati Arga.
****************
Hari ini adalah waktunya Alvin mengantarkan Kasih menuju makam kedua orang tuanya. Dia sengaja mengajak Kasih pada hari kedua setelah kedatangannya di Surabaya.
Selain karena ingin membuat Kasih beristirahat dulu dia juga harus memastikan Kasih siap untuk itu.
Letak makamnya tak jauh dari kediaman orang tua Alvin. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk menuju lokasi.
Sebelum itu Alvin mampir ke sebuah toko bunga terlebih dahulu. Dia membeli sebuah buket bunga lili putih.
"Bunga ini adalah kesukaan Mama. Dahulu ayah sering memberikan saat Mama sebagai kejutan." Alvin memandangi buket bunga itu dengan mengenang masa lalu.
"Kak, ceritakan tentang mama dan ayah sebanyak-banyaknya ya. Aku ingin tahu tentang mereka." ucap Kasih.
"Tentu saja. Semua yang aku ingat. Karena saat itu usiaku baru lima tahun jadi banyak sesuatu yang mungkin aku lupa" percakapan di mobil itu tak terasa mengiringi mereka sampai pada tempat yang dituju.
Mereka mulai memasuki area pemakaman umum yang luas. Sedikit berjalan ke dalam karena letak pusara yang berada di tengah-tengah.
Kasih berusaha menguatkan hatinya meski saat ini perasaannya remuk redam.
Sampai juga akhirnya mereka di sebuah makam yang berdampingan. Batu nisan terbuat dari marmer itu tampak indah dengan tinta tulisan berwarna emas.
__ADS_1
"Ini makam orang tua kita" ucap Alvin sembari mengusap punggung Kasih.
Kasih menatap nanar pusara itu. Tak ada kata-kata yang mampu dia ucapkan. Hanya sesak didalam dadanya yang kian menumpuk.
Tubuhnya gemetaran dan kakinya menjadi lunglai. Dia merosot bersimpuh di samping makam tersebut. Air mata kesedihan tak mampu terbendung lagi.
Kasih sejak tadi menahan tangisannya kini tak sanggup lagi. Air matanya mengalir deras membasahi wajah cantiknya.
Alvin ikut menunduk mendekap tubuh Kasih untuk menopangnya agar tak terjatuh. Dia tidak tega melihat adiknya bersedih seperti ini.
Kasih menatap wajah Alvin yang ternyata juga tengah menangis. Alvin berusaha mengulas senyum memastikan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Kak.. Jangan pernah tinggalin aku lagi ya. Aku cuma punya kakak" sambil terisak Kasih memeluk Alvin.
"Kakak tidak akan meninggalkanmu. Kamu adalah alasan kakak untuk bertahan hidup selama ini Kasih"
Keduanya terisak didepan makam kedua orang tuanya. Seolah ini adalah pertemuan keluarga mereka setelah sekian lama.
Saat sudah lebih tenang Kasih meletakkan buket bunga di masing-masing nisan prang tuanya. Dia mengusap lembut batu nisan tersebut sembari tersenyum.
"Ayah, mama. Semoga kalian bahagia di surga." ucap Kasih.
Kasih baru tahu juga bahwa dirinya dahulu lahir dengan nama Bella. Siapapun namanya, bagi Alvin dia tetap adik kesayangannya.
Matahari semakin terik dan mereka berdua sudah berkeringat. Akhirnya mau tidak mau Kasih harus mengikuti Alvin untuk pulang.
"Kak, bagaimana ya wajah ayah dan mama? Apa Kakak masih ingat?" Kasih bertanya sembari berjalan menuju mobil.
"Mereka mirip kita" ujar Alvin sembari memasuki mobil.
"Benarkah. Lebih mirip aku atau kakak?" Kasih masih penasaran.
Alvin menatap wajah Kasih kemudian mentoel hidungnya.
"Kau sangat mirip dengan Mama. Makanya saat pertama kali bertemu aku sempat terkejut." Alvin tersenyum melihat ekspresi adiknya yang selalu penasaran itu.
"Kalau begitu ayah mirip Kakak? Tapi apakah dia juga playboy sepertimu? Tidak kan?" celetuk Kasih.
__ADS_1
Alvin langsung menghentikan mobilnya. Dia menatap Kasih dengan tajam.
"Kenapa kamu menyebutku playboy? Tahu apa kamu?"
Kasih langsung menciut saat mendapat tatapan tajam dari Alvin. Dia benar-benar keceplosan dan sekarang sepertinya Alvin marah.
"Emm.. A-anu.." Kasih terbata. Entah kenapa lidahnya menjadi kelu.
"Kenapa kamu menyebutku playboy Kasih?" pertanyaan itu muncul lagi dari bibir Alvin.
Kasih mulanya diam. Tapi dia harus memberanikan diri terhadap Alvin. Masak iya dia tega memarahi adiknya sendiri.
"Kan sewaktu kita di Bali, kak Alvin bahkan bercumbu dengan gadis-gadis bule itu. Bahkan dua sekaligus." Kali ini Kasih menggeser posisi duduknya hingga menghadap Alvin.
Kasih memasang wajah protesnya seolah tak terima dengan argumen ini.
Alvin pun tertawa gemas melihat ekspresi yang ditunjukkan Kasih.
Dia mengangkat salah satu alisnya kemudian berbicara lebih pelan.
"Ya begitulah dunia lelaki Kasih. Itu salah satu bentuk kami menikmati hidup"
Kasih langsung berubah ekspresi. Wajahnya berubah merah padam. Kini dia langsung membuang muka ke arah jendela dan diam tanpa kata.
Sebagai seorang perempuan tentu hatinya merasa sesak. Dia masih mengingat betul betapa harga dirinya dia pertaruhkan di tempat seperti itu demi memuaskan keinginan para lelaki.
Meski Arga sangat menyayanginya saat ini namun dahulu dia merasa sangat malu sekaligus sedih. Jalan yang ditempuh mengharuskan dirinya terjun ke dunia yang seperti itu.
Sama saja dirinya menjadi wanita simpanan untuk menghibur pria kesepian. Dunia memang sekejam itu. Beruntung jika kini Arga memperlakukannya dengan baik, namun di luaran sana masih banyak wanita yang masih bernasib malang.
Alvin menyadari perubahan sikap Kasih. Dia melihat ada guratan kesedihan yang dirasakan adiknya.
"Kasih, maaf.. Kakak salah bicara ya?" Alvin mengusap bahu Kasih. Tapi Kasih enggan merespon. Dia masih diam, Alvin menyadari bahwa Kasih mungkin tersinggung dengan ucapannya.
"Kak Alvin benar. Kalian menikmati hidup karena banyak uang, lalu nasib wanita sepertiku begini yang mengais uang dari orang-orang itu, kami sampai lupa akan harga diri." ucapan yang keluar dari mulut Kasih benar-benar menjadi tamparan keras untuk Alvin.
Secara tidak langsung dirinya sendiri yang menjerumuskan Arga saat itu serta menggunakan Kasih untuk alat pemuas bagi Arga.
__ADS_1
Meski akhirnya Arga benar-benar menyayangi Kasih namun tetap saja posisi adiknya saat ini masih jadi wanita simpanan pria itu. Beban itu terasa semakin menumpuk, menjadi dosa yang terus terngiang di pikirannya.