
"Mas Arga sudah menangkapnya?" Kasih tiba-tiba bertanya saat Arga pikir wanita itu sudah tertidur.
"Ku kira sudah tidur?" Arga mengusap lembut kening Kasih.
"Aku terus kepikiran. Sejak dulu Aku penasaran dengan pria itu" gumam Kasih lirih.
"Kamu ingin menemuinya?" tanya Arga sekali lagi.
Kasih sejenak terdiam. Lalu dia mengangguk.
"Aku ingin menemuinya. Aku ingin tahu kenapa dia melakukan hal itu padaku." Kasih mencoba untuk tetap tegar meski dalam hatinya masih terasa sangat pedih.
"Besok aku akan membawamu menemuinya. Tapi kamu harus sabar jika mengetahui faktanya." Arga langsung memeluk Kasih seolah ada sebuah rahasia besar yang menantinya.
"Kak Alvin kemana Mas? Aku belum melihatnya sama sekali" tanya Kasih.
"Ada, dia di luar."
Alvin sedang termenung di balkon apartemennya sambil memegang sebotol wine.
Pikirannya sangat kacau saat ini. Dia berharap bisa mengurangi sedikit kekecewaannya dengan minuman beralkohol.
Rasa kecewanya terhadap masa lalu Kasih dan juga sikap Ratna yang akhir-akhir ini menjauhinya membuat Alvin terus dilanda kegundahan.
"Vin, Kasih mencarimu. Temui dia sebentar." Arga menghampiri Alvin yang tampak murung.
Alvin hanya menatap Arga tanpa arti. Sebenarnya dia enggan menemui Kasih bukan tanpa sebab. Dia merasa sangat bersalah hingga malu untuk menemuinya langsung.
Tapi Arga mencoba untuk meyakinkan Alvin. Biar bagaimanapun Alvin adalah keluarga satu-satunya. Dan Kasih sangat menyayangi Alvin.
Dengan langkahnya yang sedikit berat Alvin Mencoba untuk menemui Kasih.
"Kakak..." rupanya Kasih sudah lebih dulu menyapa Alvin.
Alvin duduk di sebelah Kasih dan langsung memeluknya.
"Maafkan Kakak, Kasih" gumam Alvin lirih.
"Kakak nggak salah, ini sudah terlanjur. Sekarang aku hanya ingin Kakak selalu bersamaku. Jangan tinggalin aku lagi" Kasih semakin mengeratkan pelukannya kepada Alvin.
...****************...
Kasih dan Arga berjalan di sebuah gedung dengan lorong yang cukup panjang. Suasana sunyi dan dingin menyelimuti tempat itu.
__ADS_1
Sampai pada ujung ruangan terdapat pintu yang dijaga oleh dua orang di depannya.
Kedua orang tersebut tampak berbadan dempal dengan tatapan yang cukup mengerikan. mereka langsung membukakan pintu untuk Arga.
Kasih merasa takut sendiri saat memasuki ruangan gelap itu. Dia semakin merapatkan tubuhnya didekat Arga.
"Tidak apa-apa sayang" Arga mengusap lembut bahu Kasih.
Sampai akhirnya mereka melihat seorang pria yang tengah tertunduk lesu. Dia diikat di sebuah kursi dengan tangan dan kaki terikat. Mulutnya juga diplester.
Ragu-ragu Kasih mendekati pria itu. Dia sungguh merasa takut dan gelisah. Tapi Kasih juga penasaran dengan siapa pria itu sebenarnya.
Pria itu tampak terkejut dan takut saat melihat Kasih. Tampak dari tangannya yang gemetaran serta keringat dingin keluar dari tubuhnya.
Tanpa aba-aba Arga langsung menarik plester yang menutup mulut pria itu hingga dia memekik kesakitan. Tampak darah membekas di ujung bibirnya serta beberapa lebam di wajahnya.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa melakukan itu padaku?" tanya Kasih dengan kesal.
"A-aku.. Maafkan aku nona." jawab pria itu ragu-ragu.
"Katakan cepat!" suara Arga yang tinggi menggertak pria itu sampai berjingkat.
"i-iya.. Aku disuruh Bramantyo. Dia membayarku agar melecehkanmu"
Untuk beberapa detik Kasih kehilangan nafas. Hatinya mencelos seketika mendengar pengakuan pria itu.
Bagaimana tidak? Sebuah hal hina yang telah menghancurkan hidupnya itu rupanya dilakukan oleh mantan mertuanya sendiri.
Meski benci dengan Kasih tetapi apa yang dilakukannya itu sangatlah kejam dan tidak manusiawi.
"D-dia juga yang meminta Felix untuk menceraikanmu. Bramantyo membakar outlet kalian dan berjanji akan lebih menghancurkan mu jika tidak berpisah dengan Felix." ujar pria itu lagi.
Kasih langsung lemas seketika. Kakinya bahkan tak mampu lagi menahan tubuhnya dan akhirnya pun merosot ke lantai. Namun dengan sigap Arga langsung meraihnya.
"Sayang, kita pergi ya. Keadaanmu sepertinya sedang kurang baik." ujar Arga.
"Sebentar." Kasih beranjak dari pelukan Arga dan berjalan mendekati pria itu.
Plakkk..
Plakkk..
Kasih menampar kedua sisi pipi pria itu. Sejak dulu inilah yang sangat ingin dilakukan oleh Kasih.
__ADS_1
"Sebenarnya aku belum puas. aku ingin menghajarmu dan menghancurkan mukamu" umpat Kasih kepada pria itu.
Arga sempat tertegun melihat Kasih yang ternyata bisa semarah itu. Selama ini wanita itu selalu terlihat tenang dan lembut. Tak pernah sekalipun tampak marah begini.
Mungkin karena dia sudah menahan amarah ini sejak lama ditambah kekecewaannya terhadap mantan mertuanya itu.
"Sekarang terserah apa maumu. Aku akan menurutinya Kasih." ujar Arga sambil meremas tangan Kasih.
"Aki ingin membalas Bramantyo. Tapi aku masih bingung dengan cara apa?" ujar Kasih.
"Aku memiliki rencana. Tapi jika kamu setuju" Arga menatap Kasih dengan penuh keteguhan.
Sepertinya ucapan Arga ini tak main-main. Apalagi setelah menjelaskan rencananya Kasih akhirnya menurutinya.
"Jadi aku harus datang ke pernikahan Felix?" tanya Arga lagi.
"Hm.. Kita akan menghancurkan Bramantyo pada saat itu juga." ujar Arga.
...****************...
"Kok di aduk terus makanannya. Nanti kalau pusing bagaimana?" teguran Jody tiba-tiba menyadarkan Ratna.
Sejak tadi Ratna sering melamun bahkan hampir sepuluh menit dia hanya mengaduk makanannya.
"Eh, maaf Jody. A-aku jadi melamun begini" ucap Ratna sedikit terbata.
"Sepertinya kamu sedang banyak pikiran. Kalau boleh, kamu bisa cerita padaku. Siapa tahu beban pikiran kamu sedikit terurai." Jody mengulas senyuman kepada Ratna.
"Sebenarnya aku masih memikirkan Kasih. Tak menyangka saja dia mengalami cobaan begitu banyak. Mungkin jika aku yang berada di posisinya sudah tidak sanggup kali" Ratna tersenyum getir.
Sementara Jody hanya bisa tersenyum geli mendengar ucapan Ratna yang blak-blakan.
"Kamu ini, jangan mudah menyerah lah. wonder women sepertimu tidak cocok jika mudah menyerah Hahaha.." tiba-tiba saja Jody menimpali ucapan Ratna dengan candaan.
Ratna pun langsung mengernyitkan dahinya. Namun belum sempat berbicara Jody langsung meneruskan ucapannya.
"Maaf bercanda. Habisnya kamu serius banget mikirin teman kamu. Tapi aku suka dengan sifat kamu yang sangat peduli. Namun kadang apa yang kita pikirkan seolah sangat berat dan tidak mampu dihadapi bisa saja orang lain mampu menghadapinya. Karena setiap orang memiliki kadar masalah yang tidak sama. Seperti Kasih teman kamu, dia diberi banyak cobaan dan masalah karena Tuhan yakin dia mampu mengatasinya." ujar Jody.
Ratna pun jadi terenyuh dengan penuturan Jody. Sejenak pria ini mampu mengalihkan kegalauannya dari Alvin.
Meski masih terlalu dini namun Ratna tampaknya menerima pertemanan dirinya dengan Jody.
Tapi soal hati, dia belum bisa memutuskan. Perasaannya yang masih mendalam untuk Alvin tak bisa begitu saja dia hapus dan digantikan dengan orang lain.
__ADS_1
Masih ada banyak waktu, masih ada kesempatan lagi. Semoga saja harapan Ratna bisa terwujud. Siapapun nanti fia hanya ingin kebahagiaan menghampiri hidupnya.