
Nasib Felicia kini terkatung-katung tak tahu arah. Sejak munculnya skandal itu Agensi model tempatnya bernaung langsung memecatnya.
Sementara kedua orang tua Felicia enggan menemui dirinya. Sejak dicabutnya investasi Arga mereka lebih sering mengurung diri karena malu. Dan lebih buruknya lagi tentang berita kehamilan Felicia semakin membuatnya terpuruk.
Kini harapan terakhirnya adalah Samuel. Bagaimanapun pria itu adalah ayah sang bayi yang dikandung oleh Felicia. Dia harus segera menemuinya untuk dimintai pertanggung jawaban.
Dia tak peduli saat nomor ponselnya diblokir oleh Samuel. Hal itu sudah jelas dilakukan karena Samuel tidak ingin terseret dalam kasus Felicia.
Akhirnya Felicia pun nekat mencari Samuel di kediaman orang tuanya. Dia harus segera menemui pria itu, setidaknya dengan alasan mengandung anaknya Felicia berharap bisa menumpang hidup kepada Samuel.
Sebuah bangunan rumah mewah berwarna cream dengan gerbang tinggi serta pengamanan cukup ketat. Hal itu dikarenakan orang tua Samuel adalah seorang politikus.
Namun persetan bagi Felicia. Dia hanya butuh bertemu Samuel. Apapun akan dilakukan asalkan pria itu mau bertanggung jawab.
Saat sekuriti membukakan pintu gerbangnya, mata Felicia langsung menangkap sosok yang selama ini dia cari-cari.
Kebetulan saat itu Samuel sedang berada di teras rumahnya. Dengan cepat Felicia berjalan menghampirinya.
"Samuel..." panggil Felicia.
Sementara Samuel sangat terkejut melihat kedatangan Felicia.
"K-kau.. Bagaimana bisa disini?" Samuel tampak bingung dan was-was.
"Kau harus tanggung jawab Sam, aku hamil anakmu." Felicia langsung mengutarakan maksud kedatangannya.
Samuel langsung menarik lengan Felicia dan berjalan menuju sisi bangunan rumah.
"Kenapa bisa kau disini? Sudah ku bilang jangan pernah muncul di rumah orang tuaku. Bagaimana kalau mereka tahu?" omel Samuel.
"Aku tidak peduli, aku butuh kamu Sam. Aku hamil dan ini anak kita" ujar Felicia.
"Gugurkan saja. Aku tidak yakin juga kalau itu sungguh anakku" sanggah Samuel.
Jawaban itu bagaikan sebuah petir yang menyambar kepala Felicia. Jantungnya seolah berhenti berdetak untuk beberapa saat.
"Apa? Gugurkan? Nggak semudah itu Sam. Kau pikir menggugurkan kandungan itu tidak beresiko apa?" sambil terisak Felicia Menolak permintaan Samuel.
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa bertanggung jawab Fel, aku tidak bisa menikahimu" ujar Samuel.
"Tapi kau bilang mengagumi ku. Kau bilang menyukaiku. Kenapa tidak bisa menikah?"
Sejenak Samuel terdiam. Dia bahkan membuang mukanya saat Felicia berusaha menatapnya.
"Aku hanya menyukai tubuhmu, aku menyukai permainan kita di ranjang bukan berarti menyukaimu. Lagi pula aku sudah bertunangan." ujar Samuel.
"Apa? Tunangan? Kau tega Samuel.. Kau jahat.. Kenapa semua orang jahat padaku.." Felicia memukul-mukul dada Samuel. Pria itu hanya diam tak bergeming.
"Baiklah.. Kalau kamu ingin bayi ini lenyap. Sekalian saja aku juga melenyapkan diriku. Aku sudah lelah hidup seperti ini. Semua orang tak akan peduli juga" dengan putus asa Felicia berjalan mundur dan hendak pergi.
Namun tiba-tiba Samuel meraih tangannya.
"Apa yang kau lakukan. Jangan Feli, jangan nekat kamu"
"Kenapa? Aku muak Sam. Aku lelah, tak ada lagi yang diharapkan dalam hidup ini." ucap Felicia frustasi.
"Emmm.. Baiklah, aku akan bertanggung jawab. Sampai bayi itu lahir, jika dia benar-benar anakku. Tapi jika bukan aku akan lepas tanggung jawab." ucap Samuel pasrah.
"Sungguh?" Felicia seolah mendapatkan titik terang.
"Terimakasih Sam, aku tahu kamu pria yang baik" Felicia langsung memeluk Samuel.
Akhirnya tak sia-dia dia mendatangi Samuel begini. Felicia tahu betul bahwa diam-diam Samuel menaruh hati padanya.
...****************...
Sudah dua hari Wijaya dirawat di Rumah sakit. Kondisinya yang semula sempat kritis kini perlahan mulai membaik.
Kesadaran Wijaya juga sudah mulai pulih. Hanya saja keadaannya masih sangat lemah sehingga harus menjalani perawatan secara intensif.
Kasih dengan setia selalu menemani Arga. Bahkan disela kesibukannya dia tetap meluangkan waktu untuk menemui Arga di rumah sakit.
Sementara Arga kini masih fokus terhadap pemulihan sang papa. Dia merasa bersalah atas apa yang telah terjadi.
Tak ada sama sekali pembahasan tentang masalah ya dengan Felicia. Arga memilih untuk diam sementara Wijaya juga tampaknya masih sangat syok. Sehingga berbicara kepada Arga saja rasanya enggan.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya ayah dan anak ini saling diam. meski dalam hati dan pikirannya menumpuk banyak pertanyaan namun Wijaya memilih untuk menyimpannya rapat-rapat. Hal inilah yang membuatnya menjadi drop.
"Ayah, apa ayah membutuhkan sesuatu?" Arga mencoba untuk mencairkan suasana.
Sementara Wijaya tetap diam tanpa menghiraukan keberadaan Arga. Dia lebih memilih untuk memanggil perawat dan meminta semua kebutuhannya diurus oleh perawat.
Seperti halnya mengambil minum di nakas saja dia menolak jika Arga yang membantunya. Hal itu membuat Arga semakin sedih dan bersalah. Tapi dia bisa apa?
Sebenarnya Wijaya bukannya marah atas keputusan Arga. Namun dia marah kepada dirinya sendiri karena merasa gagal menjadi seorang ayah.
Dia takut dirinya semakin menyakiti Arga. Selama ini Arga sudah terlalu banyak berkorban. Bahkan rela menjalani hubungan yang toxic demi menjaga perasaannya.
Kasih yang mengetahui perubahan sikap ayah dan anak itu hanya bisa diam dan sebisa mungkin tak menambah masalah.
Dia akan menemui Arga diluar ruang rawat Wijaya dan menemaninya diam-diam.
Seperti saat ini Arga sedang duduk termenung diluar ruangan Wijaya. Kasih datang membawakan makanan untuknya.
"Mas, aku bawakan makan malam. Tadi aku masak nasi goreng kesukaan kamu." Kasih membuka kotak makan berisi nasi goreng. Aromanya yang menguar tentu saja sangat menggugah selera.
Namun kondisi Arga yang tak bersemangat agaknya membuat nafsu makannya memburuk.
Kasih harus membujuk Arga seperti anak kecil agar kekasihnya itu mau makan. Dia tak ingin Arga jatuh sakit.
Karena jika Arga sakit maka Kasih akan lebih repot dua kali lipat.
Arga yang terkenal tegas dan mengintimidasi ternyata sangat kekanakan saat sakit. Hanya flu dan batuk saja sudah seperti orang yang mengalami sakit parah dengan vonis mematikan.
"Dua minggu lagi sidang perceraianku dengan Felicia akan kembali digelar. Semoga saja semua ini segera selesai." gumam Arga.
Kasih terdiam. Dia berhenti menyendok nasi goreng yang hendak disuapkan kepada Arga.
"Aku takut wanita ular itu kembali berulah. Aku lelah menghadapi kelicikannya." imbuhnya.
Kasih menghela nafas panjang. Entah kenapa saat mendengar keluhan Arga tentang masalah pernikahannya menjadi hal sensitif untuknya. Dia takut keterlibatan Kasih akan semakin menyulitkan Arga.
"Aku harap semua yang Mas Arga inginkan segera terkabul. Maaf aku tidak bisa membantu apapun dalam hal ini." Ucap Kasih lirih.
__ADS_1
"Kau tidak perlu berbuat apapun. Tunggu saja, setelah aku resmi bercerai barulah kita membuat rencana berdua. Rencana masa depan kita.."