
"Saya memutuskan untuk menunda perceraian dengan Felicia" kata-kata itu keluar dari mulut Arga.
Baik Alvin dan Kasih keduanya seolah tak percaya dengan keputusan yang telah diambil Arga.
"Tapi Pak Arga, anda yakin?" kini Alvin yang tengah gusar.
Sementara Kasih hanya diam mematung. Dia bingung harus bersikap bagaimana.
"Iya, aku yakin. Kasih sendiri yang menyarankan untuk memutuskannya dari hati. Dan hatiku mengatakan demikian. Benarkan Kasih?" tiba-tiba Kasih tersentak dengan ucapan Arga.
"I-iya.. " Kasih masih bingung ingin menjawab apa.
Dia hanya tidak menyangka bahwa Arga rupanya masih menyimpan perasaan cintanya untuk Felicia.
Entah apa yang saat ini dirasakan Kasih. Dalam hati dirinya merasa sangat kecewa namun dia juga harus sadar diri, Arga dan Felicia itu pasangan suami istri yang sah. Wajar-wajar saja mereka berbaikan. Toh itu yang diinginkan semua orang.
Sementara Kasih, posisinya hanya wanita simpanan Arga. Dia tak ubahnya seorang benalu di kehidupan rumah tangga Arga.
Bahkan bisa dibilang dirinya hanyalah seorang ****** murahan yang hidupnya menumpang pada suami orang lain. Benar-benar hina. Itulah yang sedang dipikirkan dalam batin Kasih.
Kasih hanya mengaduk makanannya dari tadi. Tatapannya tampak kosong. Bahkan dia sama sekali tak mengatakan sesuatu apapun.
"Kasih, kenapa hanya di aduk? Ayo dimakan" suara Arga langsung menyadarkan Kasih.
"Emm.. Iya mas" jawab Kasih terkesiap.
Sementara Alvin hanya bisa memandangi Kasih. Seolah mengerti apa yang sedang dirasakan gadis itu.
"Nanti saya nggak pulang ke apartemen jadi kamu nggak perlu masak makan malam" ujar Arga sekali lagi.
Kasih hanya mengangguk tak bersuara, semakin sulit menelan makanannya.
Hingga acara makan siang itu selesai Arga langsung kembali ke kantor. Kasih memilih pulang sendiri menggunakan taksi.
Alvin sebenarnya tidak tega melihat Kasih. Ingin sekali dia mengantarnya namun Arga buru-buru mengajak Alvin kembali ke kantor.
Alhasil dia harus mencari ide untuk menghibur Kasih.
Sementara Kasih kini sedang berada di dalam taksi. Dia menerawang ke luar jendela. Mencoba untuk menormalkan perasaannya yang sejak tadi terasa seperti kapal yang terombang ambing oleh badai dilema dan cemburu.
Sesaat Kasih pun mulai berpikir bahwa hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan apapun itu pasti pada akhirnya melibatkan perasaan.
__ADS_1
Sekeras apapun dia mencoba menghalau perasaan itu nyatanya tetap saja. Kasih masih memikirkan Arga.
Sementara dengan Arga sendiri, dia juga mulai menggunakan perasaannya terhadap Kasih. Selama ini dia haus akan perhatian dan kasih sayang seorang wanita.
Melalui Kasih, akhirnya Arga mendapatkannya. Namun bukan manusia jika tak memiliki sifat serakah. Perhatian Kasih tidaklah cukup, kini dia mulai mengharapkan cinta dari gadis itu.
Namun hal itu rupanya tidaklah mudah. Dinding pemisah diantara mereka masih menjulang tinggi. Antara perasaan yang belum usai dan status sosial mereka.
Serta ego keduanya yang sama-sama tinggi membuatnya enggan mengakui perasaan masing-masing. Kini yang ada hanyalah saling berprasangka negatif.
Tanpa sadar hal itu membuat keduanya semakin berjauhan.
.
Semenjak pertemuan makan siang itu Arga menjadi semakin jauh dengan Kasih. Dia tak lagi menemui Kasih di apartemennya. Bahkan dia juga tak pernah membalas pesan-pesan dari Kasih.
Kasih pun mencoba untuk mengeraskan hatinya. Sudah hampir seminggu Arga tak ada kabar.
Sebenarnya dia sangat merindukan pria itu namun Kasih tak mungkin berani menemuinya ke kantor ataupun ke rumah. Dia tidak mau sampai Arga mendapatkan masalah.
Hanya kepada Alvin terkadang Kasih menanyakan kabar tentang Arga. Alvin juga yang sering menemui Kasih. Jika membutuhkan sesuatu dia selalu siap.
"Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian? Kalian bertengkar?" Alvin sedang menyeruput kopinya di cafe bersama Kasih.
"Arga juga tak pernah mau membicarakan tentangmu" ungkap Alvin.
Kasih menghela nafas kasar.
"Apa dia ingin mengakhiri kontrak ini ya kak? Dia sudah bosan padaku" ujar Kasih.
Alvin pun juga bingung untuk menjawabnya. Meski cukup dekat dengan Arga namun dia tak terlalu mengerti masalah perasaannya. Arga sangat pandai menutupi.
"Kamu sabar ya Kasih, oh ya soal lamaran pekerjaan kamu apa sudah ada yang dipanggil interview?" tanya Alvin.
"Ada kak, besok lusa aku mau interview di PT. X. Doakan lancar ya" ujar Kasih.
"Tentu saja. Kamu semangat ya" Alvin semakin merasa nyaman menganggap Kasih sebagai adiknya. Bahkan rasa rindunya sedikit terobati terhadap saudaranya yang selama ini dia cari-cari.
Kalaupun akhirnya Tuhan tidak mempertemukan Alvin dengan saudaranya maka dengan senang hati dia menganggap Kasih adalah saudaranya.
Sementara Felicia yang mendengar kabar bahwa Arga menunda perceraiannya pun sangat bahagia.
__ADS_1
"Tuh kan Ma, apa kubilang. Mas Arga tuh nggak mungkin ceraikan aku. Dia cinta banget sama aku." ujar Felicia penuh percaya diri.
"Tapi tetap saja Fel, kamu juga harus minta maaf dan berusaha memperbaiki sikap kamu. Biar Arga nggak marah lagi" ujar Mama Felicia.
"Iya-iya ma, nanti Feli pasti minta maaf kok" Felicia Sedikit sewot.
"Fel, Arga itu laki-laki baik. Jangan sampai kamu menyia-nyiakannya. Kalau sampai dia jadi milik orang lain baru nyesel kamu" Mama Felicia kembali mengingatkan.
Akhirnya Felicia pun bergegas mencari Arga. Dia mengunjungi kediaman Arga berharap pria itu ada di sana.
Dan benar saja, Felicia melihat mobil Arga yang tengah terparkir di depan rumah. Itu artinya dia ada.
Sebelumnya Felicia sudah berlatih merangkai kata-kata untuk meminta maaf bahkan dia sudah memasang wajah sedih.
Felicia memencet bel pintu tersebut. Dan tak lama kemudian Arga membuka pintunya.
Rumah itu memang selalu sepi. ART dan tukang kebun hanya akan datang dua hari sekali itupun langsung pulang jika pekerjaannya sudah selesai.
"Feli?" ucap Arga singkat.
"Mas Arga. Aku minta maaf. Boleh aku masuk?" ujar Felicia.
Arga tak menjawab. Dia masuk ke dalam rumah tanpa menutup pintunya Itu artinya Felicia diijinkan memasuki rumah itu.
Arga duduk di sofa sementara Felicia langsung bersimpuh di kaki Arga. Dia langsung menangis dengan tersedu-sedu.
"Mas.. Maafin aku. Tolong jangan ceraikan aku mas.. Aku salah aku minta maaf" suara Felicia diiringi isak tangisnya.
Arga hanya diam. Dia tahu betul mana ekspresi seseorang yang sungguh bersedih dan hanya pura-pura.
Kemudian kejahilan mulai muncul di otak Arga.
"Kenapa tidak mau cerai? Kemarin-kemarin minta cerai terus tuh" ujar Arga ketus.
"A-aku sekarang sadar. Bahwa kamu adalah pria yang baik. Aku yang salah telah menilaimu buruk" ucap Felicia masih bersimpuh.
"Ck, tiga tahun baru sadar?" Arga berdecak sebal.
"Aku sadar tenyata perasaanku sejak awal itu kepadamu. Aku baru tahu saat SMA dulu Mas Arga yang menyelamatkanku dari preman-preman itu. Bukannya Arka. Harusnya sejak awal aku mencintaimu. Biarkan aku membalasnya sekarang" ujar Felicia panjang lebar.
Arga terkejut dengan ucapan Felicia barusan. Bagaimana dia mengetahui kebenaran itu. Arga pun terdiam dan hanyut dalam kisah masa lalunya itu.
__ADS_1
Sementara Felicia yang masih berlutut kini merasakan kakinya mulai pegal dan kesemutan.