
Berkali-kali Kasih menghela nafas kasar. Memandang dirinya sendiri di depan cermin. Dia sudah bersiap untuk berangkat kerja. Namun perasaannya saat ini sedang campur aduk memikirkan bagaimana nanti bertemu Arga.
"Kasih sudah siap? Ayo berangkat" Alvin sudah siap untuk berangkat ke kantor menghampiri kasih di kamarnya. Namun melihat raut wajah adiknya membuat Alvin sedikit cemas.
"Kak, apa aku tidak usah bekerja ya? Aku bingung harus bagaimana nanti bertemu Mas Arga" ucap Kasih memelas.
"Jangan gitu dong, kamu harus profesional Kasih. Jangan campur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan meskipun itu sedikit sulit. Kamu pasti bisa" ujar Alvin.
"Tapi kalau nanti Mas Arga bahas-bahas masalah pribadi gimana?" tanya Kasih.
"Ya bilang saja kalau disaat jam kerja tidak boleh membahas masalah pribadi." penuturan Alvin agaknya cukup bermanfaat untuk Kasih. Akhirnya dia menguatkan dirinya untuk tetap berangkat kerja.
Sampai di kantor Kasih berusaha setenang mungkin seolah tidak ada masalah apapun. Dia menyapa para staf lain yang berpapasan dengannya.
Sepertinya Arga belum sampai di kantor sehingga Kasih langsung menuju ruangannya. Namun ada yang membuatnya sedikit terkejut.
Sebuah buket bunga mawar berwarna pink begitu cantik bertengger di atas mejanya. Terdapat secarik kertas kecil terselip di antara bunga-bunga itu dengan tulisan "i'm sorry baby"
Sudah bisa ditebak bahwa itu adalah bunga dari Arga. Begini saja perasaan Kasih menjadi campur aduk. Hampir saja dia luluh namun sekali lagi hati ya harus kuat, Kasih tak mau lagi terperdaya dengan cinta semu seorang lelaki.
Tak berselang lama telepon di mejanya berdering, rupanya Arga yang menelepon dan meminta untuk segera ke ruangannya.
Kasih mengumpulkan segenap energi untuk bersiap menghadapi Arga. Langkahnya yang seakan begitu berat untuk menuju ruangan yang tinggal beberapa meter jaraknya dari tempatnya berpijak sekarang.
Dia menggigit bibir bawahnya saat membuka pintu itu. Bersiap mengantisipasi karena biasanya Arga sudah berada di dekat pintu dan berusaha memeluk Kasih.
Hatinya terasa begitu lega ternyata Arga saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya dengan raut muka yang serius.
"Selamat Pagi Pak," sapa Kasih.
Arga sedikit tersentak saat Kasih menyapanya. Rupanya pria itu sejak tadi sedang melamun.
"Eh, selamat pagi, K-kasih" tenggorokannya terasa tercekat. Hampir saja dia memanggil Kasih dengan baby.
"Pak ini semua berkas dan materi yang anda butuhkan untuk rapat. Mohon diperiksa kembali" Kasih meletakkan beberapa Map berisi berkas serta ipad yang biasa digunakan Arga untuk menyimpan materi rapat.
Kasih sama sekali tak memandang Arga sejak tadi. Pandangannya terus menunduk atau beralih ke tempat lain.
__ADS_1
Arga menyadari perubahan Kasih, sepertinya wanita itu masih marah padanya sehingga Arga membiarkannya sejenak dan lebih memfokuskan diri untuk mengecek beberapa pekerjaannya dulu.
Sampai akhirnya Arga selesai dan dia sudah tidak tahan melihat Kasih yang terus mendiamkannya.
"Kasih, aku minta maaf atas kejadian kemarin" Arga berbicara dengan lembut serta meraih tangan Kasih.
Namun cepat-cepat Kasih menjauhkan tangannya.
"Maaf Pak, saat ini saya tidak bisa membicarakan hal pribadi. Mohon kita bahas masalah pekerjaan saja. Jika tidak ada kepentingan lagi saya ijin kembali ke ruangan." Kasih beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan Arga tanpa menoleh ke belakang sama sekali.
Arga hanya bisa terhenyak mendapati sikap Kasih yang berubah. Sedih dan kecewa tentunya. Apakah sekecewa itu Kasih kepada Arga. Atau justru memang secepat itu perasaan Kasih berubah untuknya.
Yang jelas semua perkiraan negatif itu adalah imbas dari semua masalahnya dengan Felicia kemarin.
...****************...
"AARRGHH... SIAALLL... SSIIAAALLL... SSSIIIAAAALLL...." Felicia yang sudah dikuasai emosi kini terus mengamuk dan merusak barang-barang yang ada di rumah Arga.
Felicia tidak menyangka bahwa Arga benar-benar menceraikannya. Memang ini yang dia inginkan dulu saat masih naif.
Dan ketika Arga Mengatakan bahwa dirinya ingin cerai hal itu sontak membuat Felicia kebakaran jenggot.
Sebagai manusia yang penuh gengsi tentu saja dia tidak ingin jatuh miskin dan bisnis orang tuanya bangkrut. Jelas pamornya akan anjlok.
Saat ini otaknya serasa kosong dan hampa. Tidak mampu lagi untuk berpikir jernih karena jika dia gegabah maka tidak menutup kemungkinan Arga langsung menghancurkannya.
"Aku harus mencari tahu bahwa Mas Arga juga selingkuh. Hanya itu satu-satunya cara untuk menjatuhkan namanya." gumam Felicia penuh kedengkian.
...****************...
Kasih dan Arga bersiap untuk bertemu dengan koleganya. Sudah satu bulan ini mereka disibukkan dengan proyek baru hasil kerja sama dengan salah satu perusahaan yang memenangkan tender mereka.
Leo, nama pimpinan perusahaan tersebut juga masih muda. Berusia sepantaran dengan Arga dan masih single.
Sejak awal bertemu, Leo memang menunjukkan ketertarikan kepada Kasih, terlebih saat Kasih juga ikut terjun langsung dalam proyek tersebut sehingga membuat keduanya sering bertemu.
Hari ini pertemuan mereka berlangsung di salah satu restoran di Hotel X sekalian makan siang bersama.
__ADS_1
Sejak awal Arga mulai menyadari bahwa Leo sepertinya tertarik dengan Kasih. Hal itu terbukti dari cara pria itu memandang Kasih.
Sementara Kasih tidak begitu menganggap Leo, baginya hubungan mereka tidak lebih dari profesionalitas pekerjaan.
Mereka bertiga menikmati makan siang yang sebenarnya sudah menjelang sore ini sambil membahas perkembangan proyeknya. Tampak Kasih dengan luwesnya menjelaskan berbagai hal.
Pembawaan serta cara dia menjelaskan dengan detail dan kata-kata yang mudah dipahami tentu menjadi magnet khusus para pria ini. Lelaki mana yang tidak jatuh hati jika melihat gadis cantik juga cerdas berada di depan matanya.
"Baiklah Pak, sekian dulu pertemuan kita hari ini. Saya harap proyek kita berjalan dengan lancar tanpa halangan" ucap Kasih menutup pertemuan itu.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Itu artinya pertemuan ini sekaligus mengakhiri jam kerjanya hari ini.
"Nona Kasih, jika tidak keberatan bolehkan saya mengantar anda pulang?" Leo menawarkan diri.
Arga yang mendengarnya sontak langsung tidak terima.
"Tidak perlu, Kasih akan pulang bersama saya. Bukan begitu Kasih?" ucap Arga sembari menatap Kasih.
Sementara Kasih dibuat bingung dengan desakan kedua pria itu. Keduanya sama-sama ngotot untuk mengantar Kasih pulang.
"Maaf, tapi saya pulang dengan kakak Saya. Dia sudah menjemput di depan." Beruntung saat itu Alvin sudah menunggunya di depan hotel karena Kasih sudah menghubunginya sejak tadi.
Arga yang seharian ini terus dihindari oleh Kasih merasa tidak terima. Dia tidak peduli akan pandangan orang.
Arga terus mengejar Kasih yang beranjak menuju mobil Alvin.
"Kasih.. Tunggu.." berulang kali Arga memanggilnya namun Kasih sama sekali tak peduli. Dia terus mempercepat langkahnya.
Hingga akhirnya Arga berhasil meraih tangan Kasih tepat didepan mobil Alvin.
"Kasih, dengarkan aku. Dengarkan penjelasanku dulu" ucap Arga dengan penuh permohonan.
"Apalagi Mas, apa lagi yang harus aku dengarkan?" ucap Kasih sedikit meninggikan suaranya.
Alvin yang mengetahui percekcokan keduanya langsung turun dari mobil dan hendak menghampirinya untuk membela Kasih.
"Aku sudah menceraikan Felicia" kasih membeku seketika mendengar penuturan Arga. Begitu juga dengan Alvin yang terpaku dengan ucapan itu.
__ADS_1