
Alvin tersentak melihat tanda lahir yang ada di punggung sebelah kanan Kasih. Tanda itu benar-benar mirip dengan yang ada di foto bayi adiknya. Bahkan letaknya juga sama persis.
Tangan Alvin langsung gemetar kemudian dengan cepat menjauhi Kasih. Dia masih shock dengan apa yang dia lihat.
"Maaf Kasih, aku tidak bisa membantumu" Alvin langsung berjalan keluar kamar Kasih tanpa mempedulikan wanita itu.
Kasih sempat heran namun dia cepat menyadari. Alvin adalah pria normal dan pasti wajar jika dia merasa canggung. Mau tidak mau Kasih harus berusaha sendiri meski sedikit kesulitan.
Alvin langsung menuju toilet yang ada di apartemen Arga. Dia mengambil air di wastafel dan membasuh mukanya. Berharap air itu mampu menetralkan pikirannya.
Dia masih bertanya-tanya apakah benar bahwa Kasih adalah saudaranya yang selama ini dia cari atau hanya kebetulan saja dia memiliki tanda lahir yang mirip.
Lalu Alvin membuka dompetnya dan mengambil sebuah foto bayi yang memiliki tanda lahir itu. Keduanya sangat mirip.
Selama ini Alvin tak begitu memperhatikan Kasih. Bahkan saat di Bali Kasih memakai pakaian terbuka dia tak begitu jeli karena sibuk dengan pasangannya.
Antara percaya atau tidak, namun jika benar Kasih adalah adik kandungnya maka Alvin akan sangat senang namun juga sekaligus sedih.
Senang karena Kasih sejak awal sudah dianggapnya adik namun sedih karena tak bisa melindungi Kasih dari segala masalahnya.
Dia hanya bisa terduduk lemas di sofa menerka-nerka dengan pikirannya sendiri.
Sementara itu Arga baru saja datang. Dia berjalan menghampiri Alvin yang sedang duduk melamun di sofa.
Pria itu bahkan tidak menyadari kedatangan Arga.
Berkali-kali Arga memanggilnya sama sekali tak di respon. Sampai akhirnya Arga menyentil lengannya dan barulah Alvin tersadar.
"Astaga, Pak Arga? Su-sudah datang?" Alvin tergagap.
"Kamu kenapa Vin? Sakit?" Arga bertanya karena heran.
"T-tidak pak, Saya.. Saya hanya. Huft.." ucapan Alvin menjadi tidak benar. Entah kenapa otaknya saat ini menjadi blank tak bisa bekerja sama sekali.
"Alvin, sepertinya kau kelelahan. Lebih baik kau pulang saja istirahat" Arga menepuk bahu Alvin sebelum masuk ke dalam kamar Kasih.
Arga membuka pintu kamar Kasih. Dia melihat Kasih yang tampak kesulitan melepaskan tanktop nya karena tangan kanannya sedang di perban dan masih terasa sakit.
__ADS_1
"Mau dibantu?" Arga langsung menghampiri Kasih dan membantunya.
Kasih masih saja merasa malu padahal Arga juga sudah sering melihat tubuhnya. Namun berbeda dengan Arga, pria itu tampak datar.
"Mau mandi?" tanya Arga pelan. Kasih pun mengangguk.
Segera Arga menuju kamar mandi dan menyiapkan air hangat di bathub. Setelah itu dia menuntun Kasih dan membantu melepas pakaiannya.
Kasih tampak kikuk saat memasuki bathub sementara Arga menyingkap kemejanya hingga ke siku. Dengan telaten dia menyabuni tubuh Kasih sembari duduk di pinggiran bathub. Benar-benar seperti anak kecil yang sedang dimandikan oleh ayahnya.
"A-aku bisa sendiri Mas" ucap Kasih berusaha menahan tangan Arga.
"Diamlah." Arga menepis tangan Kasih dan tetap melanjutkan untuk menggosok tubuhnya.
Sebenarnya bukan hanya rasa canggung namun juga perasaan aneh dan meremang saat Arga menyentuh kulitnya. Ada gejolak hasrat dalam diri Kasih apalagi saat pria itu menyentuh area-area sensitif di tubuhnya.
Pun Arga juga sebenarnya sedang berusaha keras menahan hasratnya. Melihat tubuh Kasih yang polos begini tentu saja gejolak nafsu Arga langsung naik.
Tapi dia tahu akan keadaan Kasih. Jadi berusaha sekuat mungkin untuk fokus hanya merawatnya.
Selesai mandi Arga membalut tubuh Kasih dengan bathrobe kemudian menggendongnya ke kamar.
Namun Arga tak sekalipun menghiraukan ucapan Kasih. Terlihat jelas mimik mukanya yang menunjukkan rasa bersalahnya.
Mungkin dengan merawat dan memperhatikan Kasih sepenuh hati adalah bentuk penebusan kesalahannya.
Dengan cekatan Arga memakaikan piyama yang nyaman kepada Kasih. Pria itu sangat handal dalam hal merawat orang. Pengalamannya dulu merawat sang ibu yang terbaring sakit cukup lama membuatnya begitu cekatan.
Kasih merasa terharu melihat keseriusan Arga dalam merawat dan menjaganya. Kemudian dia meraih tangan Arga dan menggenggamnya.
"Mas, terimakasih sudah sangat baik kepadaku" ucap Kasih dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Arga pun kini duduk di sebelah Kasih dan mengusap kepalanya. Senyuman dari bibirnya begitu meneduhkan.
"Justru aku yang berterima kasih karena mau bertahan untukku" Arga menyatukan keningnya dengan kening Kasih. Berusaha menyalurkan perasaannya.
"Aku pikir mas Arga tidak akan datang, aku sudah sangat ketakutan tadi. Apa yang dilakukan Felix.." Arga segera menghentikan ucapan Kasih dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Kasih.
__ADS_1
"Aku akan selalu ada untukmu Kasih, jangan pernah berpikiran macam-macam. Dan sudah, tidak usah membahas masalah ini lagi. Yang terpenting sekarang kamu aman bersamaku."
Arga meraih tubuh Kasih dan memeluknya dengan erat. Begitupun dengan Kasih yang membalas pelukan itu. Benar-benar nyaman dan terasa aman didalam dekapan Arga.
Arga melepas pelukan itu kemudian mengusap lembut pipi Kasih. Keduanya saling beradu tatapan dan tanpa mengatakan apapun. Seolah mereka sudah sama-sama tahu apa yang diinginkan.
Entah siapa yang memulai tau-tau kedua wajah itu saling mendekat dan bibir mereka saling bertaut.
Kecupan-kecupan lembut Arga lakukan dengan melu.mat bibir ranum itu. Ciuman mereka yang semula biasa kini menjadi semakin dalam. Karena keduanya sudah saling menginginkan. Mencoba untuk menunjukkan ikatan emosi keduanya. Perasaan saling tertarik serta gejolak dalam hatinya yang benar-benar saling menginginkan.
Kasih biasanya masih ragu-ragu dan mencoba menahan, kali ini dia begitu menikmati ciuman itu. Bahkan dia sudah berani membalas dengan saling membelit lidah Arga.
Ciuman itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya berhenti saat keduanya total kehabisan nafas.
Baik Arga maupun Kasih masih tersengal. Dadanya terasa kembang kempis menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Barulah keduanya kembali saling menatap dan tertawa bersama. Seolah dunia hanya ditempati mereka berdua. Rasa bahagia itu berkali-kali lipat adanya.
Kasih membelai lembut pipi Arga. Jemarinya menyusuri rambut-rambut halus yang mulai tumbuh di dagu pria itu.
Namun entah kenapa Kasih semakin menyukai Arga saat sedikit berewok begini. Aura ketampanan serta keseksiannya semakin bertambah.
"Tampan.." gumam Kasih tanpa sadar.
Arga pun langsung tersipu mendengar ucapan gadis itu. Untuk pertama kalinya Kasih memujinya langsung didepan dirinya.
"Benarkah?" ucap Arga sembari menyunggingkan senyum.
"Eh, anu.. Maaf Apa?" Seketika Kasih terkejut dengan ucapan Arga.
"Katamu aku tampan. Jadi kamu mulai jatuh cinta padaku?" goda Arga.
Kasih langsung menoleh menghindari tatapan pria di depannya itu. Dia benar-benar malu karena tanpa sadar sudah keceplosan memuji Arga langsung.
Arga begitu gemas melihat ekspresi Kasih yang dirasa begitu imut. Akhirnya dengan cepat Arga mencuri satu kecupan di pipi Kasih.
Sontak saja Kasih langsung merona.
__ADS_1
"Aku memang sudah jatuh cinta kepada Mas Arga. Saat kita di Bali. Tapi aku terlalu takut untuk mengakuinya"