
Botol-botol minuman keras yang tergeletak dilantai maupun di ranjang berserakan begitu saja.
Felicia kini sedang bersandar di pinggiran ranjang sambil memeluk botol ke lima nya. Tak peduli akan kondisi kehamilannya saat ini. Wajahnya benar-benar kacau. Air mata tak berhenti menetes membasahi pipinya
Meratapi apa yang telah terjadi. Membayangkan seandainya dirinya bisa menerima Arga dan menjalani awal pernikahan dengan baik dengannya.
Seandainya dia tidak terpengaruh oleh ego serta pergaulan yang sehat. Seandainya dia cepat menyadari betapa besar cinta Arga untuknya saat itu.
Kini yang ada hanyalah sebuah penyesalan. Kecerobohan dan egonya yang tinggi telah menghancurkan masa depannya sendiri.
Terdengar ponselnya berdering. Dengan terhuyung Felicia mencoba untuk bangkit. Dia mencari ponselnya berharap ada kabar dari Samuel.
Namun pria itu sama sekali tak bisa dihubungi bahkan menghilang seolah ditelan bumi.
Sebuah nomor panggilan berasal dari agensi modelnya.
"Fel, gimana? Kamu bisa datang nggak? Ada pemotretan nanti siang. Kalau nggak bisa kita ganti model lain nih." ujar managernya.
"Bang, lagi nggak enak badan gue.." suara Felicia begitu lemas.
"Yaudah cepet sembuh. Tapi inget jangan buat berita macam-macam. Nama kamu sudah jadi sorotan sekarang." pria itu menutup teleponnya.
Sudah hampir satu bulan ini Felicia menolak banyak tawaran. Pikirannya seolah tak bisa diajak bekerja dengan benar.
Tidak ada tempat untuknya mengadu. Tak ada seseorang yang bisa dia buat untuk bersandar. Kini semuanya telah terenggut.
Namun sifat congkak Felicia masih saja membuatnya denial. Tak mau mengakui kesalahannya. Malahan kini dia justru ingin merusak nama baik Arga.
Dengan setengah mabuk Felicia menghubungi teman jurnalisnya dan meminta untuk membuat berita perselingkuhan Arga. Tak lupa Felicia mengirim foto Arga dan seorang wanita sedang berada satu mobil yang berhasil dia dapatkan beberapa waktu lalu.
"habis lo Arga.. lo pikir bakal gampang urusan sama gue"
...****************...
"Mas, aku bisa jalan sendiri" Arga sedang menggendong Kasih menuju kamarnya.
Kasih sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Sehingga Arga langsung bersemangat untuk membawanya pulang, namun tetap pulang di apartemen Alvin.
__ADS_1
"Kamu nggak boleh capek-capek dulu sayang" ucap Arga sambil berjalan.
Sementara Alvin membuntuti mereka untuk membawa barang-barang milik Kasih.
Sampai di kamar Arga membaringkan Kasih di atas ranjang serta membetulkan posisi bantalnya. Dia mengusap lembut pipi Kasih yang sudah menjadi kebiasaan Arga.
Kemudian Arga mengecup kening Kasih. Dia menatap dengan penuh cinta.
"Kalau sudah sembuh betul kamu mau minta apa sayang?" tanya Arga.
"Enggak minta apa-apa. Bisa sama kamu aja udah seneng mas," jawab Kasih apa adanya.
"Nggak ada yang kamu inginkan? Misal belanja, liburan, atau beli apa gitu?" tanya Arga kembali.
"hmm sebenarnya ada sih mas," jawab Kasih.
"Apa?"
"Pengen naik perahu terus lihat sunset di laut. Kayak pas boat party cuma nggak mau ada orang lain." jawab Kasih.
"yaudah nanti Mas ajakin kamu. Tapi harus sembuh dulu. Pulihin tenaganya biar nggak sakit lagi." ucap Arga penuh pengertian.
Mendapat perlakuan manis dari Kasih tentu saja langsung membuat Arga tersipu. Jarang sekali Kasih menunjukkan kemesraannya secara langsung.
"Yaudah istirahat dulu. Cepat sembuh sayangku" Arga menyelimuti tubuh Kasih.
"Mas mau pergi ya? Kenapa nggak nginep sini aja?" tanya Kasih memelas.
"Aku masih ada urusan sayang, nanti kalau sudah beres pasti kesini. Nih Papa telepon." Arga menunjukkan ponselnya yang sedang berdering. Kemudian pria itu mengecup singkat bibir Kasih sebelum beranjak pergi.
"Halo pa, ada apa?" ucap Arga mengangkat teleponnya.
"Arga, bisa temui papa sekarang? Jelaskan semua ini nak" ucap Wijaya.
"iya pa, Arga kesana sekarang." Arga mengurut pangkal hidungnya yang entah kenapa terasa pening.
Dia menjalankan mobilnya setelah menatap sebuah artikel di ponselnya.
__ADS_1
"Konglomerat muda Arga Wijaya diduga terbongkar aksi perselingkuhannya. Nekat menggugat cerai istri yang tengah hamil demi wanita simpanannya."
Arga tertawa membaca berita tersebut. Dia tahu betul itu adalah ulah Felicia. Benar-benar wanita itu menyulut bara api kemarahan Arga yang salama ini dia tahan.
Sampai di kediaman Wijaya, Arga langsung menemui Wijaya di ruang kerjanya.
"Selamat siang Pa," sapa Arga.
"Duduklah nak." Wijaya menyuruh Arga untuk duduk di sofa ruang kerjanya.
Kemudian Wijaya menunjukkan artikel yang sudah Arga baca sejak tadi.
"ini apa Arga? Apa kamu sungguh selingkuh? Nak, jangan permainkan hati perempuan. Ingatlah kau ini dilahirkan oleh seorang perempuan." ujar Wijaya dengan suara khasnya.
"Pa, ini hanya akal-akalan Felicia saja. Dia ingin mencari perkara kepadaku." ujar Arga.
"Sebetulnya Papa membenci perceraian. Ini yang papa takutkan. Mereka akan membuat masalah. Dan apa benar kamu sama sekali tak pernah menyentuh Felicia? Lalu kenapa bisa dia hamil?"
Arga menghela nafas kasar. Selama ini Arga Memang tak pernah menceritakan kelakuan Felicia kepada ayahnya. Sepertinya ini adalah saatnya dia membongkar semuanya. Arga sudah lelah terus bersembunyi.
"Pa, sebenarnya ada yang ingin Arga sampaikan kepada Papa. Tapi kumohon Papa jangan terlalu memikirkannya. Karena Arga takut kesehatan papa akan terganggu." ujar Arga.
"Baiklah, katakan nak" jawab Wijaya.
"Yang selingkuh itu adalah Felicia Pa, dia tak pernah mencintaiku tapi dia lebih suka berkeliaran bersama pria lain. Bahkan hal itu sudah lama dia lakukan." Arga membuka ponselnya kemudian menunjukkan semua bukti yang dia miliki. Mulai dari foto dan video perselingkuhannya serta bukti check-in di hotel bersama pria lain.
Wijaya terhenyak melihatnya. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa menantu yang disayanginya itu tega berbuat demikian.
"Kini papa sudah percaya kan? Selama ini Arga coba diam karena menghormati Papa, papa terikat oleh pesan Arka yang meminta untuk menjaga Felicia, namun aku bukan Arka pa, aku punya kehidupan sendiri dan aku berhak bahagia dengan caraku sendiri. Felicia dan keluarganya hanya menginginkan harta kita." ucap Arga.
Wijaya hanya bisa terdiam. Hatinya terasa bergemuruh saat Arga menjelaskan tentang dirinya. Memang benar selama ini Wijaya selalu hidup dalam bayang-bayang kenangan Arka dan istrinya. Tanpa sadar harus mengorbankan kebahagiaan Arga. Putra satu-satunya yang kini dia miliki.
"Maafkan Papa nak, papa benar-benar salah. Papa sudah mengorbankan dirimu untuk ini semua." Wijaya terduduk lemas menyadari apa yang telah dilakukannya kepada Arga.
"Papa percaya kepadaku kan pa?" tanya Arga sekali lagi.
"Iya nak, papa percaya. Mulai sekarang Papa tidak akan melarang mu lagi. Jalani kehidupanmu dengan baik anakku." Wijaya tak kuasa menahan air matanya saat memeluk Arga.
__ADS_1
Pria penuh karisma itu akhirnya menunjukkan sisi lain dirinya. Menegaskan sekali lagi bahwa bagaimanapun Wijaya hanyalah seorang manusia yang tak luput dari kesalahan dan kelemahan.