
Kasih yang masih duduk di sofa ruangan Arga meremas undangan yang di berikan Felix. Entah kenapa setelah bertemu Felix dirinya merasa begitu kesal.
Jujur saja Kasih masih sangat terluka dengan perlakuan Felix di masa lalu. Menceraikan dan mengusir dirinya di saat hamil. Bahkan hampir meregang nyawa jika saat itu Arga tak menolongnya.
Setelah itu Felix masih mencoba untuk menculik dirinya. Lagi-lagi Arga lah yang menjadi penyelamat untuknya.
Felix bagaikan racun dalam diri Kasih dan Arga adalah penawar untuk itu.
Kasih mengusap perutnya sendiri. Membayangkan jika dirinya tak keguguran saat itu pasti sudah memiliki seorang anak yang lucu. Perasaan bersalah karena tak bisa mempertahankan jabang bayinya itu terus menghantuinya.
Tanpa sadar Kasih menitikkan air matanya. Perasaan nelangsa itu tiba-tiba saja muncul dan tak bisa dibendung.
Arga yang sejak tadi diam memperhatikan Kasih mulai merasa gusar sendiri dengan perasaannya. Mungkinkah Kasih masih belum move on dan menyimpan cinta untuk Felix.
Sementara Kasih mulai menangis terisak. Semakin keras sampai sesenggukan. Dia tak sadar jika hal itu menimbulkan prasangka bagi Arga.
Meski dalam hati Arga merasa cemburu namun tak tega juga melihat Kasih yang bersedih. Dia meraih tubuh Kasih dan membiarkan wanita itu menangis dalam pelukannya. Mengusap lembut bahunya dengan harapan sedikit meredakan kesedihannya.
Kurang lebih hampir setengah jam Kasih menangis akhirnya mulai sadar. Dia perlahan menghentikan tangisannya dan menatap Arga yang memeluknya dengan diam.
Kasih beranjak dari pelukannya dan menatap Arga. Meski tak mengatakan sesuatu namun Kasih mulai sadar dengan ekspresi pria itu.
"Maaf.." gumam Kasih lirih.
Arga hanya tersenyum kemudian mengecup kening Kasih dengan lembut.
Melihat kesabaran pria itu membuat Kasih kembali memeluk Arga.
"Aku mencintaimu Mas Arga, sungguh.. Aku sangat mencintaimu." Bibir Kasih sedikit bergetar saat mengatakannya. Tapi sungguh, ucapannya itu benar-benar keluar dari hati Kasih yang terdalam.
Ada perasaan lega untuk Arga. Dia sangat menghargai ketulusan Kasih. Masa lalu Kasih yang penuh penderitaan membuat Arga bertekad untuk membahagiakannya. Itulah janji Arga.
Dan kini, Arga berniat untuk meminta restu kepada Wijaya, Papanya. Tak peduli bagaimana hasilnya yang pasti Arga ingin hubungannya dengan Kasih segera dipermudah.
...***************...
Ratna sedang fokus menatap layar monitornya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia segera melihat siapa yang mengirimi pesan. Rupanya Alvin.
"Ratna, lunch with me ya?" tulis Alvin.
Hati Ratna seketika membuncah saat membaca pesan itu.
"oke, dimana?" Balas Ratna.
"nanti tunggu di mobil aja" balas Alvin.
Ratna tampak senyum-senyum sendiri membaca pesan itu. Entah kenapa akhir-akhir ini dia kembali memikirkan Alvin. Cinta yang lama terpendam itu seolah tumbuh kembali.
__ADS_1
"Eh, liatin tuh. Mbak Ratna senyum-senyum sendiri. Ternyata orang judes kayak gitu bisa senyum juga ya?" bisik beberapa karyawan yang melihat Ratna.
"kalau senyum gitu cantik juga ya" gumam para karyawan laki-laki.
Sementara Ratna memilih untuk masa bodoh dan seolah tak mendengar ucapan para karyawan itu. Dia tengah bersiap-siap menuju basemen dimana mobil Alvin terparkir karena sebentar lagi sudah waktunya jam istirahat.
Sebelum itu Ratna pergi ke toilet untuk membetulkan make upnya dulu.
Setelah selesai Ratna langsung bergegas menuju parkiran mobil. Rupanya Alvin sudah berada di dalam mobil tersebut. Sempat mengintip ke beberapa tempat Ratna pun akhirnya memasuki mobil Alvin.
"Sorry, nunggu lama ya?" tanya Ratna.
"Nggak kok. Rapatnya juga baru selesai" jawab Alvin.
"Udah ya, berangkat nih." ucap Alvin sambil melajukan mobilnya.
Di sepanjang perjalanan seperti biasa Alvin selalu bercerita. Dia begitu nyaman mengobrol dengan Ratna.
Sementara Ratna yang menimpali obrolan Alvin sambil sesekali mencuri pandang ke arah pria itu.
Entah kenapa setiap kali berdekatan dengan Alvin jantungnya selalu berdebar kencang. Apalagi saat menatap bibir pria itu, bayangan Ratna selalu mengarah pada hal-hal panas yang pernah mereka lakukan.
Sampai juga mereka di restoran yang di tuju. Namun sebelum mereka turun tiba-tiba Alvin menarik tangan Ratna hingga tubuhnya berdekatan dengannya.
"Kenapa kau memperhatikanku seperti itu sejak tadi?" bisik Alvin di telinga Ratna.
"Emm.. A-aku-"
Belum sempat Ratna meneruskan ucapannya tiba-tiba Alvin langsung mencium bibirnya.
Ciuman itu terasa begitu lembut dan menggairahkan. Ratna yang menantikan hal itu sejak tadi pun tak menyia-nyiakan lagi. Dia membalas ciuman itu hingga menjadi semakin menggelora.
Alvin yang tak sabaran langsung mengangkat tubuh Ratna hingga berada di pangkuannya dan melanjutkan ciuman panas itu.
Beruntung tempat mereka memarkirkan mobilnya berada di tempat paling ujung. Sepertinya Alvin memang sengaja meletakkan mobilnya di sana.
Alvin meremas pinggang Ratna sementara Ratna membelai tengkuk Alvin. Menjelajahi kepala belakang pria itu dengan jemari lentiknya membuat Alvin merasakan sensasi yang terasa nikmat.
Ciuman mereka baru terputus saat nafas keduanya mulai tersengal. Sambil terengah-engah Ratna dan Alvin saling memandang kemudian terkekeh bersama.
"Dasar," Ratna memukul dada Alvin.
Alvin hanya mengerang pelan sambil memegangi dadanya kemudian membelai dagu Ratna dan mengecup bibirnya singkat. Perlakuan Alvin yang seperti itu selalu membuat Ratna salah tingkah sendiri.
"Sepertinya kita nggak jadi makan deh, ke hotel aja yuk" gumam Alvin.
"Enak aja. Ogah.. Gue banyak kerjaan." protes Ratna sambil beranjak dari pangkuan Alvin. Namun dengan segera pria itu menahan pinggang Ratna.
__ADS_1
"Belum jawab tadi, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Alvin lagi.
Ratna langsung tersentak. Bisa-bisanya Alvin kembali menanyakan hal itu.
"E-eh.. nggak usah Ge-Er lo, siapa juga yang natap." elak Ratna secepatnya menghindari Alvin.
Dia keluar dari mobil dan langsung berjalan tanpa menghiraukan Alvin.
Sementara Alvin yang melihat ekspresi wanita itu hanya bisa tersenyum gemas.
Alvin dan Ratna menempati salah satu meja di restoran tersebut. Keduanya tampak biasa saja bahkan tak canggung sama sekali.
Setelah beberapa saat makanan akhirnya datang. Ratna dan Alvin tampak menikmati makan siang itu.
Namun tiba-tiba dua orang wanita mendatangi Alvin dan Ratna ke mejanya.
"Alvin? Lo bener Alvin kan?" tanya salah satu wanita itu.
"Eh Mona, Sheila." sapa Alvin datar.
Tak disangka kedua wanita tau-tau saja langsung duduk di antara Alvin. Ratna yang sejak tadi duduk di depan Alvin langsung mengernyitkan dahinya.
Apalagi saat kedua wanita itu berbicara sambil membelai lengan Alvin. Ratna merasa kesal sendiri.
"Vin, kebetulan mumpung kita ketemu disini. Malam ini gue ngadain party kecil-kecilan di hotel X. Ikut ya.. Biar seru." rengek wanita bernama Mona.
Sementara Ratna yang sejak tadi keberadaan tak dianggap langsung berdiri.
"Gue mau ke toilet dulu" ucap Ratna ketus.
"Mau di antar?" tanya Alvin tiba-tiba.
Seketika Ratna melotot. Begitu juga dengan dua wanita tadi.
"No, gue bisa sendiri" tolak Ratna seketika.
Ratna berjalan menghindari Alvin. Dalam hati dirinya begitu kesal. Makan siang yang seharusnya menyenangkan harus terganggu oleh dua cecunguk tadi.
Sementara Alvin hanya bisa mendengus kasar sambil menatap punggung Ratna. Jelas saja wanita itu tampak marah padanya.
"Eh, itu tadi siapa sih? Gebetan lo? Ketus banget deh" protes Sheila kepada Alvin.
"Iya, dia pacar gue. Kenapa? Pergi kalian ganggu gue aja." gertak Alvin sebal.
...****************...
"Nggak bisa Arga, Papa nggak akan setuju dengan hubungan kalian." suara Wijaya yang meninggi langsung menggema di setiap sudut ruangan itu.
__ADS_1
"Terserah Papa mau merestuiku atau tidak. Aku akan tetap menikahi Kasih." untuk pertama kali dalam hidupnya Arga bersitegang dengan papanya.