
"Aarghh.."
Di sudut Bar, berkali-kali Alvin mengerang sendiri memikirkan Ratna yang semakin jauh darinya.
Tak salah memang jika Ratna dekat dengan pria lain, selama ini dia dan Ratna tak memiliki ikatan hubungan yang jelas.
"Berikan aku minuman lagi" Alvin memanggil barista. Ini adalah gelas ke empat yang dia tenggak.
Tak pernah Alvin sefrustasi ini apalagi urusan wanita. Tapi kenapa saat dengan Ratna dirinya merasa begitu galau.
Apa mungkin karena Ratna adalah satu-satunya wanita yang rela memberikan kesucian untuk dirinya. Dan Alvin merasa Ratna adalah miliknya.
Terlalu banyak kadar alkohol dalam tubuhnya membuat Alvin perlahan jadi sempoyongan. Bahkan kesadarannya pun mulai menipis.
Albin hanya bisa tertunduk lemas didepan meja bar. Namun sejak tadi ada seorang wanita yang memperhatikannya. Tal lama kemudian wanita itu mendatangi Alvin.
"Lo mabuk Vin? Tumben banget deh" ucap wanita itu menghampiri Alvin.
Alvin hanya melihat sekilas sosok wanita itu. Entah kenal atau tidak, pandangannya sudah kabur. Dan Alvin hanya pasrah saat wanita itu memapahnya keluar bar.
...****************...
"Nggak mau Mas.. Aku nggak bisa terima semua ini" tolak Kasih.
"nggak apa-apa sayang, jangan lihat nilainya. Kamu tinggal pakai aja." bujuk Arga.
"Tapi mas, gaun dan sepatu ini saja udah mahal banget. Apalagi sama perhiasannya. Udah senilai properti mas. Ini sih bisa buat beli tanah dan bangunannya"
Kasih menatap semua barang yang diberikan Arga. Mulai dari gaun dan sepatu rancangan desainer terkenal dunia yang jadi langganan artis-artis internasional. Serta satu set perhiasan yang nilainya sampai milyaran.
Belum lagi sebuah pouch bertatahkan berlian yang Kasih tak habis pikir harganya.
Arga benar-benar gila kali ini.
Dia rela menggelontorkan uang sebanyak ini hanya untuk menghadiri undangan pernikahan Felix.
Bukan tanpa sebab, ini adalah bagian dari rencananya. Dia tak ingin sampai Kasih dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang ada di sana.
Kasih haruslah menjadi sosok yang paling bersinar dan menonjol diantara mereka. Kalau bisa Kasih harus lebih menonjol dibanding pengantinnya.
Namun Kasih adalah wanita sederhana. Dia tak pernah memiliki keinginan memakai barang-barang mewah apalagi sampai dipamerkan ke orang lain.
"Sayang, ayolah.. Ini adalah bagian dari rencana kita. Kamu mau kan membalas perbuatan Bramantyo?" bujuk Arga.
Kasih berpikir sejenak. Namun apa yang dikatakan Aega ada benarnya juga. Dia sudah berjanji untuk mengikuti rencana itu.
__ADS_1
"Yaudah aku pakai. Tapi nanti kalau selesai acara kita jual lagi ya. Kan sayang mas masih bagus paling nilainya menyusut dikit." ujar Kasih dengan polosnya.
Arga pun langsung terkekeh. Kepolosan Kasih ini benar-benar membuatnya gemas.
"Sayang ini semua untukmu. Anggap saja hadiah dariku. Kamu ini, oh.. Kalau perempuan lain mungkin akan meminta hal seperti ini sedangkan kamu? Malah takut diberi hadiah" Arga mengecup singkat bibir Kasih.
"Ya soalnya kemahalan mas. Aku nggak pernah minta apapun darimu. Bisa memiliki cintamu itu saja sudah cukup untukku" Ucapan sederhana Kasih itu benar-benar membuat hati Arga terenyuh.
Arga langsung meraih tubuh Kawih dan memeluknya erat.
"Entah harus bagaimana mengungkapkannya. Tapi yang jelas aku merasa sangat beruntung memilikimu Kasih. Kamu adalah wanita luar biasa Kasih. Aku sangat mencintaimu."
Mungkin ini yang dinamakan hikmah setelah penderitaan. Arga dan Kasih yang sebelumnya mendapat kekecewaan dalam kisah cintanya kini menemukan sosok tambatan hati yang saling menguatkan dan melengkapi.
Tak ada yang lebih indah dari Kasih, Bagi Arga hanya Kasih wanita terbaik untuknya.
Setelah berpelukan keduanya pun saling menatap lalu tertawa sendiri. Tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa hubungan mereka sampai sejauh ini.
"Kak Alvin kok belum pulang ya Mas?" Kasih melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Coba telfon dulu. Lagi ada urusan mungkin" ujar Arga.
Kasih pun mencoba untuk menghubunginya namun tak ada balasan sama sekali dari Alvin. Hal itu membuat Kasih jadi cemas.
Kasih pun mengangguk. Sebenarnya Kasih merindukan Arga juga. Akhir-akhir ini mereka begitu sibuk hingga tak sempat meluangkan waktu.
"Aaa.. Mas.." Kasih memekik saat Arga tiba-tiba mengangkat tubuhnya ala bridal.
...****************...
Ratna sedang menatap layar laptopnya namun sejak tadi tak bisa konsentrasi sama sekali.
Hatinya terasa begitu mengganjal. Dan pikirannya selalu tertuju kepada Alvin. Beberapa hari ini Ratna mencoba menghalau perasaannya terhadap Alvin. Namun semakin dia menjauhinya semakin Ratna merasa galau. Sepertinya dia benar-benar jatuh cinta kepada Alvin. Dan hal ini tak bisa dia tahan lagi.
"Aku harus mengungkapkannya. Tak peduli dia akan menolak ku tapi aku tak bisa terus tersiksa oleh perasaan ini" Gumam Ratna sambil mengutak atik ponselnnya.
Dia hendak menghubungi Alvin dan ingin menyatakan perasaannya. Tak peduli sekarang sudah malam. Ratna tak sabar jika harus menunggu hari esok.
Akhirnya Ratna menelepon Alvin namun cukup lama dia belum mengangkat teleponnya.
Lalu sedetik kemudian Alvin mengangkat teleponnya.
"Halo Alvin.." ucap Ratna dengan hatinya yang telah membuncah.
"Halohh.. Hhh..
__ADS_1
*Aahhh... Ahhh pelan dong alvin.. Mmhhh"
DEGG!
Ratna membeku seketika. Suara berat Alvin yang awalnya seperti orang sedang ngos-ngosan dan diikuti suara des ahan wanita di belakangnya benar-benar membuat Ratna syok.
Hati yang sejak tadi membuncah kini rasanya jadi hancur berkeping-keping. Lidahnya menjadi kelu dan air mata langsung menetes membasahi pipinya.
Buru-buru Ratna menutup teleponnya dan melempar benda itu ke kasur. Hati Ratna yang sudah sangat sakit membuatnya semakin menangis.
Dia duduk memeluk lututnya sambil menyembunyikan wajahnya. Menangis sejadi-jadinya di dalam kamar itu sendirian.
Bodoh, bodoh sekali dirinya yang terus mengharapkan cinta pria yang bahkan tak pernah menganggapnya serius. Dia tak berhenti mengumpati dirinya dalam hati.
...****************...
Entah berapa lama dirinya menangis semalam. Tubuhnya yang sudah terlalu lelah bahkan juga otak dan hatinya. Tiba-tiba saja tanpa sadar Ratna sampai ketiduran.
Paginya dia bangun dengan keadaan yang cukup kacau. Kedua matanya yang sembab dan bengkak rasanya sangat sulit untuk dibuka. Kepalanya terasa begitu pusing namun Ratna tak bisa bolos kerja begitu saja dengan alasan menangis semalaman.
Akhirnya dengan langkah berat dia bergegas untuk mandi dan bersiap ke kantor. Sejenak Ratna menatap wajahnya di depan cermin. Benar-benar buruk. Ratna tak bisa menunjukkan wajah kacaunya itu. Akhirnya Ratna mengambil kacamata hitam untuk menutupi bengkak di kedua matanya.
Ratna menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Berharap semoga hari ini ada hal baik yang dapat melupakan kekacauan hatinya.
Dengan sisa-sisa semangatnya yang pagi ini susah payah dia kumpulkan Ratna membuka pintu apartemennya dan melangkahkan kaki keluar dari tempat itu.
Namun pada saat yang bersamaan Dia bertemu sosok pria yang telah mengusik hatinya keluar dari pintu unit di depannya.
"A-Alvin?" Ratna terkejut setengah mati setelah melihat Alvin yang berada di hadapannya.
Alvin juga terkejut melihat Ratna. Apalagi saat ini penampilan Alvin terlihat cukup kacau. Kemejanya yang tampak kusut dengan dua kancing atasnya yang sengaja terbuka serta rambutnya yang tampak berantakan.
"Ratna?" ucap Alvin pelan.
Tak berselang lama Ratna mendengar suara teriakan seorang wanita dari dalam unit itu.
"Vin tunggu, ini jaket lo ketinggalan." ucap Wanita itu.
Ratna menatap sosok wanita itu yang hanya memakai handuk yang dililitkan ke tubuhnya. Tampak beberapa bercak merah yang tersebar di bagian dada juga leher wanita itu. Sudah jelas itu bekas apa.
Ratna hanya bisa menatap nanar pemandangan di depannya. Benar-benar awal yang sangat luar biasa buruk untuk hari ini.
tetap semangat buat Ratna
__ADS_1