Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 40 Mau apa lagi?


__ADS_3

Hari-hari Kasih kini telah disibukkan dengan pekerjaannya sebagai sekretaris Arga.


Dua minggu berlalu sepertinya Alvin sudah mulai melepaskan Kasih untuk mengerjakan tugas-tugasnya sendiri. Hanya beberapa hal yang mungkin menjadi kendala untuknya barulah minta bantuan Alvin.


Sementara Alvin kini juga disibukkan dengan jabatan barunya yaitu mengurus anak cabang perusahaan milik Arga. Arga memang sudah sejak lama ingin menjadikan Alvin sebagai direktur di cabang perusahaannya karena dia percaya bahwa pria itu memiliki tanggung jawab dan etos kerja yang tinggi.


Pagi ini suasana cukup cerah, Kasih bersiap untuk berangkat ke kantor dengan memakai setelan rok hitam di atas lutut serta tanktop putih tipis dilapisi blazer hitam senada.


Kali ini rambutnya sengaja digerai sehingga terlihat semakin anggun. Arga terpaku berdiri di depan pintu kamar Kasih. Selalu terpesona akan kecantikan wanita itu.


"Mas Arga.." sapa Kasih sembari meraih tas selempangnya.


"Kau tidak adil Kasih" protes Arga menghampiri gadis itu.


"Kenapa Mas?" Kasih merasa heran dengan Arga.


"Kau selalu mempesona setiap hari. Bagaimana aku tidak jatuh hati kepadamu?" Arga membelai lembut pipi Kasih kemudian mengecupnya.


"Mas Arga mulai deh. Udah ah berangkat yuk" Kasih mencoba untuk melepaskan diri dari Arga.


Namun pria itu justru semakin memeluknya dan menciumi ceruk leher Kasih.


"Ah.. Mas udah" Cepat-cepat Kasih melepaskan diri dari Arga. Bahaya jika mereka terus bersama.


"Mas kita ada meeting jam setengah sembilan. Kita harus cepat bersiap" bujuk Kasih.


"hhmmm.. Nggak bisa diundur ya baby?" rengek Arga bak anak kecil.


"Nggak bisa mas, mending kita berangkat deh sebelum kena macet" mau tidak mau akhirnya Arga terpaksa menuruti ucapan Kasih. Mereka segera berangkat menuju kantor.


Disepanjang perjalanan Arga terus mencuri-curi pandang terhadap Kasih. Pasalnya untuk pertama kalinya dia memakai setelan formal yang lebih elegan ketimbang kemeja putih.


Sampai akhirnya di kantor Kasih segera melakukan tugas-tugasnya. Hari ini cukup sibuk karena ada beberapa meeting.


Arga juga sedang sibuk di ruangannya tiba-tiba seorang mengetuk pintu. Dia pikir itu adalah Kasih sehingga Arga dengan semangat menjawabnya.


"Masuk.." sembari berkata Arga sedikit membetulkan tatanan rambutnya. Dia ingin terlihat rapi didepan Kasih.


Entah sejak kapan kebiasaan itu berlangsung. Yang pasti hatinya kini telah dipenuhi rasa cinta terhadap Kasih.


Tingkah lakunya bahkan bak anak muda sedang dimabuk asmara meski sampai saat ini Kasih tak pernah mengatakan pasti membalas perasaannya.

__ADS_1


Arga tak masalah akan hal itu. Setidaknya Kasih masih berada disampingnya saja sudah sangat senang.


Saat pintu terbuka Arga langsung mengernyitkan dahinya. Rupanya bukan Kasih yang datang, melainkan sosok yang sangat tidak ingin dia lihat.


"Felicia?" gumam Arga.


"Mas Arga, akhirnya aku bisa bertemu kamu" ujar Felicia sembari menghampiri Arga.


"Ngapain kamu kesini?" ucapnya sinis.


Felicia tampak menatap Arga dengan wajah sendu.


"Mas, aku ingin bicara denganmu. Boleh minta waktunya sebentar ya" ujar Felicia sambil memegang lengan Arga.


"Apa lagi?" Arga mencoba untuk menepis tangan Felicia namun wanita itu semakin merapatkan tubuhnya.


"Mas, aku mohon. Aku minta maaf, kita mulai hubungan kita lagi dengan baik ya. Jangan ceraikan aku" ujar Felicia terus memohon kepada Arga.


Arga menghela nafas kasar. Jika saja perasaannya masih ada untuk Felicia mungkin dengan senang hati dia akan menerimanya kembali. Tapi kali ini dia tak ingin kembali dibuat bodoh oleh egonya.


"Kenapa aku harus mempertahankan mu? Jika kau saja tak menginginkan keberadaan ku" Arga bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati sofa.


Arga tersentak ketika mendapati Felicia menyentuhnya.


"Mas aku mau kita bersama. Aku janji akan jadi istri yang baik" rengek Felicia sembari menempelkan kepalanya ke punggung Arga.


"Feli, apa yang kamu lakukan. Lepas" Arga mencoba untuk melepaskan diri dari dekapan Felicia namun gadis itu semakin merapatkan tubuhnya.


"Arrgghh..." Arga mengerang sebal terhadap Felicia.


Tok..Tok.. Tok..


Arga terkesiap mendengar suara ketukan pintu. Dia sudah mengira bahwa itu adalah Kasih.


"Fel, bisa lepasin nggak?" Arga mencoba terus melepaskan tangan Felicia namun wanita itu semakin mendekap Arga.


"Nggak mau mas" Felicia kekeuh.


Sementara Arga semakin gelisah sebab dia sudah memberitahu Kasih jika mengetuk pintu tak kunjung dibuka berarti dia boleh langsung masuk. Hal itu berlaku khusus untuknya.


Dan hal itu pun akhirnya terjadi. Dengan hati-hati Kasih membuka pintu ruangan Arga. Sebab dia harus mengantarkan berkas yang harus segera ditandatangani.

__ADS_1


Saat membuka pintu tersebut Kasih dibuat terkejut melihat Arga yang sedang dipeluk oleh seorang wanita yang tak lain adalah Felicia.


Kasih terpaku sejenak melihat pemandangan di depannya namun segera sadar dan hendak kembali keluar.


"M_maaf" Kasih hendak mundur namun dengan cepat Arga melarangnya.


"T_tungggu, Ja_jangan pergi..." lidah Arga terasa kelu. Dadanya kembang kempis melihat keberadaan Kasih.


Sementara Kasih yang diam melihat Arga hanya bisa menelan salifanya dengan susah payah. Entah kenapa hatinya terasa seperti diremas apalagi saat melihat Felicia secara langsung.


Wanita itu memang cantik, bahkan lebih cantik aslinya daripada di foto. Batin Kasih terus menciutkan nyalinya.


"Feli aku harus kerja. Lepaskan tanganmu" gertakan Arga dengan nada sedikit menaik membuat Felicia sedikit kaget apalagi saat ini ada karyawan di depannya.


Akhirnya mau tidak mau Felicia melepas pelukannya.


"Ada apa Kasih?" Arga mencoba untuk menormalkan ekspresinya.


"I_ini pak, berkas yang anda minta dan mohon segera di periksa karena harus disetorkan ke bagian keuangan" ujar Kasih sembari mengatur nafasnya susah payah.


Arga menerima berkas tersebut dan berjalan menuju kursi kerjanya. Kasih yang hendak pergi segera dicegah oleh Arga.


"Tunggu dulu, jangan pergi sampai saya selesai meneliti berkas ini" ujar Arga.


Mau tak mau akhirnya Kasih duduk di depan Arga dengan perasaan canggung luar biasa.


Dalam hatinya sangat takut dan was-was jika saja Felicia menyadari hubungan Arga dengannya.


Sementara Felicia masih menunggu Arga dengan duduk di sofa. Bibirnya sedikit menggerutu karena kehadiran Kasih.


"Emm.. Kamu staf bagian apa?" Felicia mencoba untuk memecah keheningan dengan basa-basi kepada Arga.


"S_saya sekretaris Pan Arga" jawab Kasih sungkan.


Sementara Felicia sedikit terkejut. Rupanya Arga memiliki Sekretaris yang sangat cantik. Bahkan bisa dilihat dari perilakunya sangatlah santun dan sopan.


"Kok Mas Arga nggak bilang kalau ternyata punya sekretaris perempuan?Bukannya sekretaris mas itu Alvin ya namanya?" ucap Felicia sedikit memprotes Arga.


Sementara Arga yang sejak tadi merasa jengah dengan Felicia memilih untuk diam. Dia menatap Kasih di depannya yang sejak tadi menunduk.


Entah apa yang sedang ada dalam pikiran Kasih yang pasti saat ini Arga merasa begitu bersalah kepada Kasih.

__ADS_1


__ADS_2