
Seperti biasa Kasih pagi-pagi sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Setelah selesai sarapan bersama kakaknya mereka pun pergi meninggalkan apartemen itu.
Liburan beberapa hari yang lalu dengan kejutan luar biasa dari Arga membuat Kasih semakin bersemangat menjalani hari-harinya.
Meski begitu Alvin masih tidak memperbolehkan Kasih untuk kembali tinggal bersama Arga. Dia masih ingin menikmati momen-momen bersama Kasih sebelum nanti mereka menikah nanti.
Dua puluh lima tahun berpisah sungguh membuat Alvin sangat merindukan adiknya tersebut. Masa-masa yang telah berlalu memang tak bisa diulang kembali namun Alvin ingin menggunakan sisa waktu dalam hidupnya hanya untuk sang adik tercinta.
Keduanya berangkat menuju kantor yang sama karena kebetulan Alvin akan mengikuti rapat di kantor pusat.
Saat turun dari mobil dan memasuki gedung keduanya selalu menjadi pusat perhatian. Kakak beradik rupawan itu jalan beriringan bak seorang malaikat yang turun dari langit.
Kasih yang begitu cantik mempesona juga Alvin yang gagah dan tampan serta tatapan matanya begitu menggoda selalu sukses membuat para wanita bertekuk lutut.
Saat berada di depan lift keduanya bertemu dengan Ratna.
"Selamat pagi mbak Ratna." sapa Kasih.
"Selamat pagi Kasih." balas Ratna.
Sementara Alvin dan Ratna hanya saling menyapa dengan anggukan singkat. Benar-benar formal dan tampak natural.
Kasih bahkan sempat tertegun dengan kedua orang itu. Begitu hebat bermain ekspresi. Orang lain pasti tak akan mengira bahwa mereka begitu mesra saat di luar.
Saat berada di villa tempo hari Kasih memang sangat penasaran dengan hubungan Ratna dan Alvin. Namun saat ditanya keduanya sama-sama mengelak dan hanya mengaku sebagai teman.
Ketiganya masuk ke dalam lift. Baik Ratna maupun Alvin masih tampak dingin.
"Benar-benar ya kalian. Pandai sekali berkamuflase." Kasih terkikik sendiri.
Sementara Alvin dan Ratna hanya tersenyum.
"Hust.. jangan sampai tahu orang-orang ya Kasih. Aku akan jaga hubungan kamu sama Pak Arga." bisik Ratna.
"Hmm.. Okey, kita impas ya" jawab Kasih.
"Kalian ini benar-benar." Alvin mencubit pipi Kasih kemudian melempar kedipan mata kepada Ratna.
"Kenapa kalian harus sembunyi-sembunyi sih?" tanya Kasih lagi.
"Tau tuh tanya aja sama Ratna" jawab Alvin.
"Gue nggak mau ya repot-repot sama cewek-cewek GPA" ujar Ratna.
"GPA? Apa itu mbak?" Kasih penasaran karena tak pernah mendengar istilah itu.
__ADS_1
"Grup Pemuja Alvin" Ucap Ratna sambil kedua tangannya seolah mempersembahkan Alvin di hadapannya.
Kasih langsung terkekeh sementara Alvin pun hanya geleng-geleng kepala mendengar hal itu.
Namun tak berselang lama obrolan mereka langsung terhenti ketika salah satu karyawan bergabung dalam lift itu.
Alvin dan Ratna kembali dingin dan seolah tak terlalu akrab.
.
Kasih yang baru saja sampai di depan ruangannya melihat Arga yang sedang berjalan. Pria itu memakai setelan jas berwarna navy dengan gaya rambut khasnya yang super rapi.
Tatapannya yang tampak serius dan mengintimidasi membuatnya semakin luar biasa mempesona.
"Wah, Pak Arga makin keren banget ya setelah menduda. Udah ganteng kaya raya lagi. Suami idaman gue banget. Siapa coba yang nggak mau sama dia." tiba-tiba suara salah satu karyawan wanita itu mengusik telinga Kasih. Seketika Kasih merasa kesal sendiri. Bagaimana tidak, pria yang kini menjadi tunangannya itu dipuja-puja oleh wanita lain.
Arga tampak menatap Kasih dan mengangguk pelan. Sorot matanya seolah memberi instruksi untuknya. Begitu saja Kasih sudah mengerti dan langsung menghampiri Arga dan mengikuti ke ruangannya.
Beberapa staf yang memperhatikan mereka pun dibuat terkejut. Betapa keduanya sudah tampak sangat klop namun Kasih dan Arga masih terlihat saling memberi batasan sebagai Atasan dan sekretarisnya.
Sampai di dalam ruangan Arga langsung meraih pinggang Kasih dan memeluknya.
Menciumi pipi dan bibir wanita itu hingga berakhir bermain-main di ceruk lehernya. Menghirup aroma wangi khas Kasih yang sudah menjadi candu untuk Arga.
"good morning my fiance" bisik Arga sambil melanjutkan bermain-main di leher Kasih.
"Kenapa pagi-pagi sudah ditekuk begini mukanya?" Arga meraih kedua pipi Kasih dan memperhatikan wajahnya.
"Sebel.." ucap Kasih.
"Masak para karyawan muji-muji Mas Arga di depanku. Bilang katanya suami idaman mereka lagi" cicit Kasih dengan wajah kesalnya.
Arga pun terkekeh mendengar hal itu. Betapa imutnya saat melihat Kasih yang kesal begini.
"Jadi gimana? Mau di umumin sekarang nih hubungan kita?"tanya Arga.
"Eh, jangan dulu mas. Ntar malah muncul masalah lagi. Yang kemarin aja baru mereda."
Kasih merasa hubungan keduanya ini terlalu cepat jika harus dipublikasi sekarang. Belum lagi skandal Arga yang sebelumnya dengan Felicia terkadang masih menjadi perbincangan beberapa orang.
Kasih tidak ingin citra Arga semakin buruk. Biar saja untuk sementara ini mereka menjalani hubungan sembunyi-sembunyi. Juga Arga yang tengah berusaha memperjuangkan restu kepada papanya.
...****************...
"Pak, ada seseorang yang ingin sekali bertemu dengan anda juga nona Kasih. Padahal saya sudah memberitahu jika harus membuat janji temu dulu." ucap Resepsionis yang menelepon ke ruangan Arga.
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya Arga.
Resepsionis itu akhirnya memberitahu siapa yang ingin bertemu dengannya.
"Baiklah. Suruh dia ke ruangan Saya." ucap Arga.
Tak berselang lama akhirnya orang tersebut mendatangi ruangan Arga. Arga yang masih fokus mengurus beberapa berkas di ruangannya pun mempersilahkan untuk duduk.
"Arga.. Maaf aku sudah mengganggu pekerjaanmu" ucap pria itu.
"It's okey, santai saja. Kalau boleh tahu ada apa tumben mencariku?" tanya Arga.
.
Kasih yang sedang mengerjakan beberapa berkas di ruangannya mendapat panggilan dari Arga untuk datang ke ruangannya.
Kebetulan beberapa berkas sudah selesai di kerjakan dan siap dibawa kepada Arga.
Kasih memasuki ruangan Arga dengan membawa beberapa map berisi berkas perusahaan.
Namun dia langsung terkejut saat melihat seseorang yang berada di ruangan Arga hingga tak sengaja menjatuhkan map yang sejak tadi dia bawa.
"A-ada apa ini? K-kenapa ada Dia?" Saking terkejut sekaligus takut Kasih sampai tak bisa berbicara dengan benar.
Arga langsung mendekati Kasih dan meraih tangannya. Dia tahu Kasih masih ketakutan.
"It's okay. Nggak papa ayo." ucap Arga sembari menuntun Kasih untuk duduk di sofa.
"Kasih, sebelumnya sungguh aku minta maaf kepadamu. Aku benar-benar bersalah dan gegabah saat itu. Aku mohon maafkan aku."
Kasih terdiam dan tak ingin menjawab. Hanya tangannya yang semakin meremas tangan Arga.
"M-mau apa Mas Felix kesini?" Kasih memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku hanya ingin mengundang kalian di pernikahanku. Tak ada maksud lain, aku hanya ingin menebus semua kesalahanku. Aku berharap kamu dan Arga bisa datang. Setelah ini aku janji tidak akan mengganggu kalian lagi." Felix menyodorkan sebuah undangan sambil menahan gejolak di dalam dadanya.
Apalagi saat ini terlihat didepan matanya Kasih yang sedang dirangkul oleh Arga.
.
Autor mau spill visual Alvin dan Ratna nih. Semoga suka ya...
visual Alvin. Sorot matanya jadi andalan untuk memikat wanita.
__ADS_1
Visual Ratna. Biar judes tapi aslinya cantik dan baik.