
Pernikahan adalah mimpi bagi setiap pasangan yang ingin mengikat janji suci berbagi suka maupun duka.
Bahkan setiap orang selalu mendambakan pernikahan yang dirayakan dengan meriah dan tak terlupakan dalam hidupnya. Persiapan demi persiapan dilakukan untuk menunjang momen sakral tersebut.
Sebuah gaun pengantin menjadi tanda penting dalam perayaan tersebut. Kain putih menjuntai indah melekat di tubuh dengan berbagai macam sulaman kristal. Menambah kesan mewah untuk yang mengenakannya.
Dengan tatanan rambut serta riasan yang tak kalah menawan membuat sang pengantin tampak begitu cantik bak bidadari.
"Aku yakin, Arga pasti tak akan rela mengedipkan matanya. Kau sangat cantik luar biasa Kasih." puji Ratna yang berkali-kali menatapi Kasih dari setiap sudutnya.
Adik iparnya itu bak sebuah manekin hidup. Tubuhnya begitu pas dengan gaun indah yang sudah dirancang jauh-jauh hari oleh Kasih dan Arga.
Akhirnya, hari ini tiba saatnya mereka mengikat janji suci sehidup semati setelah berbagai drama menunda pernikahannya.
Arga tak ingin lagi ada penundaan. Dia sudah tak sabar ingin segera melepas masa lajangnya.
Begitu juga dengan Kasih. Dia sudah sangat siap untuk memulai hidup baru dengan Arga. Pria yang selama ini selalu ada untuknya. Pria yang selalu mencintainya tanpa cela. Menerima setiap kekurangannya.
Hingga akhirnya waktunya tiba, Aryo berjalan mendatangi Kasih, putri semata wayangnya. Pria itu menatapi Kasih yang tampak begitu cantik dengan gaun pengantinnya.
Sekilas dia melihat bayangan Hanna dalam diri Kasih. Aryo pun tak kuasa menahan rasa harunya.
"Papa.. Kok nangis sih?" tanya Kasih sembari mengusap air mata Aryo.
"Tidak sayang, papa hanya terharu. Tak menyangka putriku setelah ini jadi milik orang lain." ujar Aryo.
"Papa aku tetap putrimu sampai kapanpun. Jangan pernah bilang begitu, aku akan mengunjungi papa sesering mungkin." Kasih pun tampak berkaca-kaca.
"Kau sangat mirip dengan mamamu nak, cantik dan sifatmu begitu sama. Seolah papa bisa melihat sosok mamamu dalam dirimu." ujar Aryo sembari mengusap lembut pipi Kasih.
"Mama pasti sangat bahagia sekarang melihat kita." ujar Kasih dengan senyum penuh harapan.
__ADS_1
"Iya sayang, sudah lama mamamu tidak datang di mimpiku. Semoga malam ini dia datang, papa sangat merindukannya."
Kasih langsung memeluk Aryo. Dia hanya ingin Papanya merasa bahagia.
"Apa Papa sangat mencintai Mama?" tanya Kasih lagi.
"Hmm.. Tidak ada wanita lain yang bisa Papa cintai selain dia." ujar Aryo singkat.
Sementara di tempat lain tampak Arga sudah siap mengenakan setelan tuksedo hitam dengan hiasan bunga di dadanya. Berulang kali Wijaya merapikan penampilan Arga. Dia benar-benar bahagia akhirnya sanga putra menikah dengan wanita yang dicintainya.
"Pa, udah kok udah rapi." ujar Arga.
"Anak Papa harus jadi paling menawan hari ini. Dia akan mendapatkan ratunya." ujar Wijaya semangat.
"Terimakasih ya Pa, sudah membesarkan dan membuatku sampai seperti ini." ujar Arga dengan penuh haru.
Wijaya langsung memeluk Arga. Dia benar-benar bahagia memiliki putra sebaik Arga.
.
Akhirnya waktu pemberkatan pun tiba. Tampak Arga berdiri di altar menunggu Kasih. Pria itu tampak gugup sekali meski ini bukan yang pertama kali untuknya namun rasa itu tetap luar biasa.
Tampak sekali keringat mengucur di dahinya. Alvin yang sedang menemaninya berdiri di altar pun memberikan saput tangan untuk Arga. Dia tahu betapa groginya dia saat ini.
Tak berselang lama pengantin wanita pun mulai memasuki Altar.
Dari kejauhan saja sudah terlihat sosok Kasih begitu anggun dan cantik dengan gaun putihnya yang menjuntai. Wajahnya tertutup oleh tudung putih transparan yang menghalangi jarak pandang Arga.
Sementara di sampingnya adalah Aryo yang mengantar langsung sang putri menuju altar. Pria tua itu tampak menahan air matanya sejak tadi.
Sampai akhirnya mereka sampai di altar. Sebelum menyerahkan Kasih kepada Arga, Aryo terlebih dahulu menyampaikan sesuatu hal kepada Arga.
__ADS_1
"Arga, Papa tahu kamu sangat mencintai Kasih. Papa juga percaya kamu bisa membahagiakannya. Tapi jika suatu hari nanti kamu sudah bosan, sudah tak lagi mencintainya tolong jangan sakiti dia. Kembalikan saja padaku, antarkan Kasih pulang ke rumahku, ya?" ucapan Aryo benar-benar membuat semua orang merasakan haru. Cinta luar biasa sang ayah yang harus rela melepas sang buah hati untuk bersama pria lain.
Aryo harus berlapang dada jika dia hanya bisa merawat Kasih sebentar karena pertemuan mereka yang baru saja berlangsung. Tapi setidaknya dia masih diberi kesempatan bertemu putrinya. Merakan hangat pelukan sang anak.
"Pa, aku sangat mencintai Kasih. Seumur hidupku hanya akan mencintainya. Jadi Papa jangan khawatir, aku tidak akan melukai hati putrimu." ucap Arga dengan segenap hati.
Aryo pun memeluk Arga setelah itu mempersilahkan putrinya untuk naik ke altar. Dia kemudian berjalan menuju kursi paling depan untuk menyaksikan sang putri melakukan janji suci pernikahan.
Tiba-tiba saja Aryo merasa sesuatu menggenggam tangannya. Dia menoleh ke kanan, tampak Hana tersenyum kepadanya. Hatinya membuncah kala melihat wanita yang dicintainya itu begitu cantik. Senyum yang tak pernah pudar meski termakan waktu.
Aryo tak pernah melupakan sekalipun wajah Hana, setiap momen indahnya, setiap canda tawa dan kesedihannya. Aryo selalu menyimpan semua memori itu dalam otaknya. Biar perasaan ini terus tumbuh dan tersimpan sampai dibawa mati.
"Mas Aryo, terimakasih sudah mendampingi putri kita menuju pernikahan. Aku titipkan dia kepadamu. Tolong jaga dia." ucap Hana lirih.
Aryo tak mampu lagi membendung air matanya. Dia mengangguk dia mengatakan bahwa dia akan selalu menjaga Kasih seumur hidupnya. Itulah kata yang terucap di dalam hatinya.
Bayangan singkat tentang Hana itu sejenak mampu membuat hati Aryo terasa lega.
Dia menatap kedua mempelai yang tengah bersiap mengucapkan janji suci pernikahan di hadapan Tuhan.
Dengan gereja yang telah di dekorasi sangat indah serta para kerabat yang menyaksikannya.
Pendeta mulai membacakan ayat-ayat alkitab. Disahuti oleh para tamu undangan serta membacakan ayat-ayat untuk kedua mempelai.
"Baiklah, saudara Arga dan Kasih, apakah kalian siap mengucapkan janji pernikahan ini?" tanya pendeta.
"Saya siap." ucap Arga dan juga Kasih.
Pendeta pun mulai mengucapkan ikrar pernikahan yang akan diikuti oleh Arga terlebih dahulu kemudian bergantian Kasih.
"Kasih Adelia, di hadapan Tuhan dan para jemaatNya saya mengaku dan menyatakan menerima dan mengambilmu sebagai Istriku. Sebagai Suami yang beriman, saya berjanji akan memelihara hidup terpisah dari segala bentuk dosa dan mempersembahkan hidup hanya bagi Tuhan. Akan tetap mengasihimu pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada watu sehat maupun sakit, dan tetap memeliharamu dengan setia, sampai kematian memisahkan kita." ucap Arga dengan tegas dan lantang.
__ADS_1
"Arga Yunanda Wijaya, di hadapan Tuhan dan para jemaatNya saya mengaku dan menyatakan menerima dan mengambilmu sebagai Suamiku. Sebagai Istri yang beriman, saya berjanji akan memelihara hidup terpisah dari segala bentuk dosa dan mempersembahkan hidup hanya bagi Tuhan. Akan tetap mengasihimu pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, dan tetap memeliharamu dengan setia, hingga kematian. memisahkan kita."