
Arga hanya bisa menunduk. Tak berani menatap Kasih yang berada di pangkuannya. Bingung juga mau menjelaskannya.
Sementara Alvin pun sama. Dia pura-pura biasa saja padahal dalam hatinya sudah was-was jika kena omel sang adik. Bagaimanapun dia telah bersekongkol dengan Arga.
"Mas Arga kenapa nggak bilang-bilang kalau nemuin Felicia. Tau gitu aku ikut." dengan santainya Kasih mengatakan hal itu.
Arga seketika langsung ternganga melihat ekspresi istrinya.
"K-kamu nggak marah, sayang?" tanya Arga hati-hati.
Kasih pun menggeleng. Sama dengan ekspresi wajahnya yang tampak datar. Justru ada lengkungan di sudut bibir Kasih yang menghasilkan senyum begitu indah.
"Kenapa harus marah? Justru aku kasian dengan dia. Sebagai sesama wanita aku tahu perasaannya. Bagaimana dicampakkan dan ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya." Kasih pun menuturkan apa yang dirasanya benar.
Arga tertegun melihat sikap Kasih yang begitu dewasa dan peduli. Rasanya Arga menjadi semakin jatuh cinta dengan wanita yang kini telah sah menjadi istrinya. Tanpa basa basi Arga langsung memeluk Kasih.
"Sayang, hatimu benar-benar baik. dan aku semakin mencintaimu." Arga mulai mengusap lembut pipi Kasih dan mengecup bibirnya. Kasih pun membalas kecupan itu hingga berubah menjadi lum atan dan semakin mesra.
"Eehhmm.. Eehhmmm.. Nggak malu apa ada kakak disini." protes Alvin.
Keduanya pun hanya melirik sekilas lalu melanjutkan kegiatannya lagi. Alvin hanya bisa geleng-geleng kepala. Memang kalau sudah cinta bisa membutakan siapa saja.
"Bagus.. Anggap saja aku ini makhluk tak kasat mata." gumam Alvin kesal.
"Setan maksudnya?" celetuk Arga.
"Eh ngeledek ya, ingat Arga, statusmu sekarang adalah adik iparku. Dan kau bukan lagi atasanku jadi setidaknya hormati kakakmu ini." ujar Alvin dengan seringainya. Kapan lagi bisa memperlakukan Arga seperti ini.
"Eh, kakak apaan sih. Mentang-mentang sekarang ya. Nggak boleh sombong, aku aduin mbak Ratna kapok" protes Kasih membela Arga.
Jika sudah begini Alvin hanya bisa garuk-garuk kepala. Membicarakan Ratna kembali membuat Alvin gelisah.
"Lo kenapa sih Vin, dari kemarin itu muka kelihatan ditekuk terus." tanya Arga.
"Bingung gue, Ratna minta liburan ke Bali. Pengen ke beach club lagi. Pusing nih nyari alasan apa buat dia. Ditawari ke luar negeri nggak mau." Alvin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kasih dan arga pun terkekeh seketika. membayangkan bagaimana reaksi Ratna jika tahu belangnya Alvin saat di Bali.
"sekalian aja kak ajakin mbak Ratna kemana itu? Boat party ya mas? Pasti seru." goda Kasih.
"hah, jangan ngawur Kasih. Tahu sendiri gimana Ratna. Bisa habis gue ditendang ke laut lepas." gerutu Alvin.
"Apa? Kemana? Party-party apaan sih?" tiba-tiba saja tanpa diduga Ratna muncul dari belakang.
__ADS_1
Alvin langsung terperangah seketika. Sementara Arga hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi Alvin.
"Loh, sayang sudah selesai jalan-jalan sama Mama?" tanya Alvin dengan wajah gugupnya.
Ratna yang melihat Kasih dan Arga berpangku begitu mesra membuatnya ikut duduk di pangkuan Alvin.
"Udah, mama capek jalan jauh-jauh. Kalian lagi ngomongin apa sih? mau party ya? kita Party ke Bali yuk. Aku pengen banget." ujar Ratna antusias.
Arga dan Kasih hanya bisa tersenyum kikuk. Bingung juga ingin menjawab sebab melihat ekspresi Alvin benar-benar mengenaskan. Seolah dia sedang menunggu giliran eksekusi mati.
"Sayang, jangan ganggu mereka. Mereka itu pengantin baru dan pastinya sudah punya rencana sendiri. Benar kan Kasih?" ucap Alvin dengan nada sehalus mungkin.
Kasih hanya bisa mengangguk. Sementara Arga sedang menahan tawa sebab Alvin yang dulunya seorang casanova yang pantang memohon kepada wanita kini berubah terbalik.
...****************...
Dengan satu tarikan tangan kini pintu kamar tempat Felicia berada pun terbuka. Kasih melihat wanita itu dengan keadaan yang sama dengan terakhir kali dia lihat.
Beberapa waktu lalu Kasih tak sengaja melihat Felicia saat melintasi jalan. Wanita itu tampak duduk melamun di taman dengan wajah sembabnya. Sejak saat itu Kasih terus memikirkannya.
Felicia yang menyadari kedatangan seseorang langsung menoleh. Tapi ekspresinya berubah seketika melihat Kasih.
"K-Kasih.." Felicia tampak menahan tangis.
Kasih tersenyum kemudian mendekatinya. Direntangkannya kedua tangan Kasih dan Felicia langsung berhambur ke pelukan Kasih.
"Maafkan aku Kasih. Aku minta maaf.." suara Felicia terdengar begitu parau.
Kasih pun mengusap lembut bahu Felicia. Membiarkan wanita itu luruh dalam pelukannya.
"Aku sudah memaafkanmu. Aku juga minta maaf atas semua kesalahanku." ujar Kasih.
Arga sempat tertegun. Melihat bagaimana tenangnya Kasih menghadapi Felicia. Padahal dia sendiri masih sulit memaafkan mantan suaminya itu.
Setelah sedikit reda barulah Felicia bangkit dan mengusap air matanya. Dia tampak tersenyum melihat Arga dan Kasih.
"Semoga kalian menjadi pasangan yang bahagia. Saling menyayangi selamanya." ujar Felicia.
"jika boleh, aku ingin pergi sekarang. Aku tidak ingin merepotkan kalian lagi." imbuhnya.
"pergi kemana?" tanya Kasih.
"Biar sopir yang mengantarmu." akhirnya Arga berucap.
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku akan pergi sendiri. Aku bisa." Felicia terus menolak akhirnya mau tak mau Kasih dan Arga hanya menurutinya.
...****************...
Kasih menatap lurus pemandangan kota dari balik dinding kaca kamar hotel yang dia tempati.
Namun meski begitu sebenarnya pikiran Kasih berada di tempat lain. Entah kenapa setelah pertemuannya dengan Felicia dirinya terus memikirkan wanita itu. Ada rasa tidak terima saja sebagai sesama wanita.
"Kok istriku melamun sih." ujar Arga yang tiba-tiba saja datang dan memeluknya dari belakang.
"Eh, Mas Arga. Ngagetin deh. Udah dari tadi ya disini." tanya Kasih.
"Hmm.. Melihatmu melamun sejak tadi. Ada apa soh sayang?" tanya Arga dengan suara lembutnya.
"Tidak apa-apa" kini Kasih memutar tubuhnya menghadap Arga.
"Hanya saja, aku terus kepikiran Felicia. Kasian ya Mas dia, terus Samuel kemana kok di seperti tidak terurus begitu?" Kasih kembali membahas Felicia.
"Samuel sudah menikah dengan wanita lain. Sekarang dia tinggal di luar negeri." ujar Arga datar.
"Hah? Tega sekali dia?" Kasih nampak syok.
"Sudah lah sayang, biarin aja. Itu urusan mereka. Apa yang ditanam ya itu yang dituai. Kita bukan siapa-siapa mereka jadi tak perlu repot-repot mengurusinya. Bahas yang lain aja ya." Arga nampak kesal. Sebenarnya Arga begitu enggan berurusan dengan Felicia. Mengingat perbuatannya dulu benar-benar menyakitinya kini puka yang terlanjur membekas di hatinya benar-benar sulit dilupakan.
Kasih sendiri mulai sadar apa yang sedang dipikirkan Arga. Dia pun lantas segera mengganti topik pembicaraan.
"Iya sayang, maaf ya. Eh, aku masih kepikiran kakak loh. Dia mungkin nggak ya bawa mbak Ratna ke Bali?" ucap Kasih.
"Nggak tahu tuh. Cari mati Alvin kalau sampai Ratna tahu belangnya dia." Arga pun menampakkan gurat senyum. Geli sendiri membayangkan nasib Alvin.
Kasih pun merasa lega setelah melihat suaminya sudah tampak kembali ceria.
Tiba-tiba saja ponsel Arga berdering. Arga yang sedikit malas mengangkat teleponnya pun sengaja membiarkannya. Namun setelah beberapa saat dia kembali mendengar benda itu berbunyi.
"Diangkat Mas, siapa tahu penting." ujar Kasih.
"Hmm.. " Arga pun mengangkat teleponnya dari salah satu asistennya tanpa beranjak dari pelukan Kasih.
"Halo, ada Apa Amir?" ucap Arga yang tampak memulai pembicaraan.
Sementara Kasih yang jahil pun kini sedang menciumi pipi Arga dengan gemas.
"Apa? Bunuh diri?"
__ADS_1
Sontak ucapan Arga itu membuat Kasih langsung terkejut.
...****************...