
Cinta dan alkohol, keduanya sama-sama berefek besar mempengaruhi pikiran. Buta dan ketidakwarasan yang dikendalikan oleh nafsu membuat Ratna melupakan statusnya saat ini.
Obsesinya yang besar untuk Alvin kini kembali membara. Tak peduli apapun keadaannya kini Ratna hanya menginginkan sentuhan Alvin.
Ciuman demi ciuman itu berubah menjadi semakin panas dan liar. Alvin mengangkat tubuh Ratna seperti koala dengan bibir mereka yang masih bertaut.
Meski sedikit terhuyung karena wine yang mereka minum tadi. Alvin beberapa kali menabrak tembok dan hampir terjatuh.
Setelah bersusah payah akhirnya mereka sampai di dalam kamar Alvin. Dia mendudukkan Ratna di pinggiran ranjang.
Alvin yang masih berdiri di depannya meraih dagu Ratna dan menaikkan wajahnya agar menatap dirinya.
"tell me, what do you want?" suara Alvin sudah mulai serak.
"i-i.. I want you.." nafas Ratna mulai memburu.
Alvin menyeringai tipis kemudian melepas kancing kemejanya satu per satu. Gerakan lambat jemarinya itu menjadi tontonan tersendiri untuk Ratna. Sungguh Alvin tampak sangat sexy.
Tak kuat menunggu Alvin tiba-tiba saja Ratna langsung melepas gesper Alvin serta membuka resleting celana bahan yang digunakan pria itu.
Ratna menelan ludahnya sendiri saat melihat tonjolan besar yang bahkan ujungnya sudah keluar dari panties Alvin.
Ratna menghela nafas kasar kemudian langsung membuka kain terakhir itu. Milik Alvin yang sudah sangat keras mengacung tepat di depan wajah Ratna.
'Panjang dan besar' itulah yang langsung ada di benak Ratna.
Langsung saja Ratna mengelus lembut milik Alvin yang sangat dia rindukan itu. Gerakan kedua tangan mungil Ratna terus menyusuri setiap jengkal permukaannya yang berotot.
Nafas Alvin sudah memburu mendapat perlakuan itu. Namun tak cukup sampai di situ. Ratna mulai menjulurkan lidahnya dan menjilati benda itu bak es krim.
Dia memasukkan perlahan mulai dari ujungnya ke dalam mulut serta lidahnya yang menggoda memutar lidahnya di ujungnya.
"Arghh.." Alvin yak kuasa menahan kenikmatannya.
Ratna melirik ke atas melihat ekspresi Alvin yang sudah dikuasai nafsu mengernyitkan keningnya sembari mulutnya ternganga. Tampak sekali tonjolan urat-urat di leher serta rahangnya yang mulai mengeras. Sungguh pemandangan yang luar biasa sexy dan menggairahkan.
Tak mau menunggu lama Alvin langsung mengangkat tubuh Ratna. Merebahkan di atas ranjang dan melewati malam panas mereka.
Sementara di tempat lain tampak seorang pria tengah menunggu balasan teleponnya.
"Ayo angkat dong Ratna, biasanya jam segini kamu belum tidur" gumam Jody gelisah.
Dia baru saja sampai di bandara dan kini memilih untuk beristirahat di hotel. Niat hati ingin menghubungi Ratna sebab beberapa jam saja berpisah dia sudah sangat merindukannya.
Namun tak ada respon dari Ratna membuat Jody harus pasrah. Mau tidak mau dia akhirnya menghabiskan waktunya di hotel saja.
Saat ingin mengambil air minum tak sengaja gelas itu terjatuh dari genggamannya.
__ADS_1
PPRRAANGG...!!!
Jody sempat terkejut namun segera dia memunguti pecahan gelas tersebut. Namun sialnya justru tangannya yang terkena kaca hingga mengeluarkan darah.
"Awhh.. " Jody mendengus kesal, sepertinya suasana hatinya sedang tidak baik saat ini. Semoga Ratna baik-baik saja.
.
Kasih terus memikirkan ucapan kakaknya itu hingga membuatnya sulit tidur. Padahal besok pagi dia harus ikut Arga mengecek proyek di lapangan.
Air matanya bahkan tak berhenti mengalir sebab hatinya sedang kacau.
Fakta baru apalagi ini? siapa sesungguhnya dirinya itu? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Tak ingin terus larut akhirnya Kasih membuka ponselnya dan mengutak-atik benda tersebut.
TING!..
"belum tidur?" satu pesan dikirim Arga.
Rupanya pria itu belum tidur. Dia melihat Kasih yang masih online sehingga langsung mengirimi pesan.
Kasih hendak membalas pesan tersebut namun sebuah panggilan video dari Arga langsung membuatnya terkejut.
Cepat-cepat Kasih menghapus air matanya dan berlari untuk sedikit memoles wajahnya dengan bedak. Setelah itu barulah dia mengangkat panggilannya.
"H-halo.." sapa Kasih sambil melambaikan telapak tangannya.
"Kok lama sih angkatnya" tanya Arga.
"emm baiklah. Kenapa belum tidur? Ini sudah malam loh" ujar Arga.
"Belum bisa tidur mas," jawab Kasih.
"Mau mas kesana temani kamu?"
Kasih melirik jam di ponselnya yang sudah lewat pukul dua belas malam.
"Tidak.. Tidak usah mas, ini sudah malem banget. Nanti yang ada malah begadang terus kalau Mas Arga disini." gumam Kasih.
Arga pun terkekeh. Benar juga, hampir setiap tidur dengan Kasih dirinya pasti tak bisa menahan diri. Alhasil mereka selalu bangun kesiangan.
Arga pun menemani Kasih mengobrol melalui panggilan video tersebut. Hingga tak terasa hampir pukul satu dini hari. Tampaknya Kasih juga sudah mulai mengantuk. Hingga tak sadar kini dirinya sudah terlelap.
Arga tak langsung mematikan ponselnya namun dia ingin memperhatikan dulu wanita kesayangannya itu tidur.
"Bidadari tidurnya secantik itu" gumam Arga sambil tersenyum.
...****************...
__ADS_1
Ratna merasakan deru nafas seseorang menghembus mengenai lehernya. Serta dekapan tangan yang melingkar di perutnya terasa hangat namun berat.
Dengan kepala yang masih terasa berdenyut Ratna mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya.
Dia mengerjapkan matanya kemudian melihat pemandangan sebuah atap berwarna abu-abu. Jelas itu bukanlah kamarnya.
Kemudian saat menoleh dia terkejut mendapati Alvin yang masih terlelap.
"Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan?" Ratna benar-benar syok saat melihat keduanya sama-sama polos tanpa sehelai pakaian.
Buru-buru dia menyingkirkan tangan Alvin dan beranjak dari ranjang itu. Meski sedikit terhuyung Ratna tetap berusaha memunguti pakaian miliknya dan langsung memakainya.
Dia mengambil tasnya yang tergeletak di lantai. Kemudian mengecek ponselnya.
"Delapan panggilan tak terjawab dan lima pesan belum terbaca."
"Ratna, aku sudah sampai di bandara."
"kenapa tidak angkat teleponku? Sibuk ya?"
"Kamu sudah tidur? Good night sayang, mimpi indah ya."
"Maaf besok baru mulai pekerjaannya jadi sepertinya aku akan jarang menghubungimu. Jaga diri baik-baik sweet love"
Rentetan pesan itu berasal dari Jody. Ratna mengeluh frustasi. Bagaimana bisa dia melakukan 'sesuatu' disaat dirinya hampir menikah?
...****************...
"Sayang, bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?" tanya Arga sambil menyetir menuju lokasi proyek yang akan dibangun hotel.
"Lumayan, setelah dengar suara Mas Arga jadi ngantuk" ujar Kasih sambil tersenyum.
"Jadi suaraku mengandung obat tidur?" protes Arga.
"Bukan, bukan obat tidur. Tapi suara Mas Arga itu bikin tenang. Aku nyaman dengernya jadi cepet ngantuk deh." ucap Kasih jujur.
"Kalau saja kita tidak sedang ada janji penting aku benar-benar ingin memakanmu sekarang juga Kasih." ujar Arga gemas.
"Sabar ya sayang, aku sedang berusaha meyakinkan Papa. Setelah ini pasti kita akan segera menikah. Tidak sabar ingin setiap hari menemanimu." Arga mengusap lembut kepala Kasih.
Ada harapan besar untuknya dalam hubungan ini. Arga hanya ingin memiliki Kasih sepenuhnya.
Setelah beberapa saat sampai juga mereka di sebuah gedung setengah jadi yang hendak dibangun sebuah hotel.
Kasih mengikuti Aega yang sedang berjalan memasuki lokasi proyek pembangunan itu.
"Sayang, ini adalah hasil kerjasamaku dengan kolega terpenting di bisnisku. Beliau adalah investor pertama di perusahaan ku dan juga support system yang menjadi inspirasiku." ujar Arga.
__ADS_1
"Benarkah? Pasti beliau sangat hebat ya. Siapa namanya?" tanya Kasih.
"Tentu saja, dia sangat hebat. Namanya Pak Aryo. Itu dia orangnya" Arga menunjuk seorang pria paruh baya yang baru saja turun dari mobil mewahnya.