Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 81 pertengkaran


__ADS_3

"Apa kakak tidak ingin menikah, punya keluarga kecil dan bahagia bersama mereka? Ya setidaknya ada tujuan saat pulang kerja." ucap Kasih sembari menyodorkan secangkir kopi kepada Alvin.


"Ya kan ada kamu. Tujuan kakak ya kamu Kasih" jawab Alvin sekenanya.


"Kalau aku nanti menikah dan ikut suamiku. Kak Alvin sendirian lagi"


"Sampai kapan kakak terus seperti ini? Aku hanya ingin melihatmu bahagia kak." Kasih mencoba untuk meyakinkan Alvin.


"Kasih, kakak sudah bahagia seperti ini. Apa lagi?" ujar Alvin.


Berdebat dangan Alvin memang begini. Tak akan ada ujungnya apalagi saat membahas tentang pernikahan. Kakaknya itu terlihat sangat anti sekali terhadap pernikahan.


"Kalau mbak Ratna nanti dinikahi orang lain gimana?" celetuk Kasih tiba-tiba.


"uhukk.. Uhukk.." Alvin yang sedang menyeruput kopinya langsung tersedak ketika mendengar nama Ratna.


"Kok jadi bahas Ratna sih." protes Alvin.


"lihat saja nanti. Awas sampai kakak nangis-nangis ditinggalin mbak Ratna." ejek Kasih.


"Apa sih dek, kakak nggak punya hubungan apa-apa kok sama Ratna." elak Alvin.


"Mbak Ratna itu sayang sama kakak. Tapi kakak nggak pernah kasih kejelasan buat dia. Aku jadi ragu, sebenarnya kakak ini beneran nggak mau nikah karena trauma apa emang kakak aja yang suka mainin perasaan perempuan?" Kasih tak mau basa-basi lagi.


Ucapan Kasih agaknya sedikit menusuk dan Alvin langsung tersinggung.


"Apa maksud kamu Kasih? kenapa bicara seperti itu? Ini hidup kakak dan keputusan terserah aku. Kenapa kamu mengaturku?" Alvin tiba-tiba saja meninggikan suaranya. Tak terima jika Kasih mengatainya seperti itu.


"Aku bukannya mengatur Kakak. Aku hanya ingin kakak tahu bahwa apa yang kakak lakukan ini bisa menyakiti perasaan orang. Kalau tak ingin serius setidaknya jangan memberi harapan kepada orang lain kak." Kasih tampaknya juga mulai terpancing.


"Kamu tidak mengerti yang aku rasakan. Bagaimana aku hidup terpisah dengan keluarga. Kamu jangan mengaturku Kasih. Tahu apa kamu bocah kemarin sore." bentak Alvin.


Untuk pertama kalinya karena emosi Alvin berbicara kasar kepada Kasih. Terlebih saat Alvin membanting cangkir kopi yang dipegangnya hingga pecah berserakan di lantai.


Kasih pun langsung membeku saat Alvin meneriakinya. Tak menyangka bahwa kakaknya bereaksi semarah ini.


Bulir-bulir air mata perlahan mulai menggenang dan jatuh membasahi pipinya. Kasih tak kuasa menahan kesedihannya. Akhirnya dia berlari menuju kamar dan mengunci diri disana.


Ada setumpuk rasa kecewa dan kegelisahan. Dia kecewa dengan sikap Alvin yang membentaknya tapi juga merasa bersalah atas ucapannya yang telah membuat kakaknya tersinggung.


Sementara Alvin yang masih emosi memilih untuk pergi meninggalkan apartemen. Dia membawa mobilnya dan terus menyetir tanpa arah tujuan.


Alvin dan Kasih meskipun saudara sekandung namun tak berarti mereka sempurna dan saling memahami. Menyatukan dua karakter memanglah bukan hal mudah terlebih keduanya tak tumbuh besar bersama. Mereka baru bertemu setelah sama-sama dewasa.


Apalagi karakter manusia yang cenderung mementingkan ego masing-masing sering kali menjadi kendala.


Baik Alvin maupun Kasih masih memiliki ego yang tinggi. Perbedaan pandangan itu masih wajar. Perlu jeda sejenak untuk mereka saling menyelami pikirannya. Mencerna segala permasalahan hingga waktu yang akhirnya menyembuhkan.

__ADS_1


Sesedih apapun Kasih menyadari bahwa Alvin adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki.


Dia keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Alvin. Khawatir akan keadaan kakaknya. Namun tampaknya pria itu sudah tak ada di rumah.


Kasih melihat pecahan cangkir yang bercecer di lantai. Dia mulai memungutinya dengan perasaan campur aduk.


...****************...


Pagi menyambut dan kini Kasih telah bersiap bangun untuk memasak sarapan serta siap-siap untuk pergi bekerja.


Kasih sudah siap dengan setelan formalnya. Dia sedang menyantap sarapan yang sudah dimasaknya. Tak lupa dia juga menyiapkan sarapan untuk Alvin.


Sementara Alvin tampak rapi dengan pakaian khas kantorannya menghampiri Kasih yang berada di meja makan. Entah pulang jam berapa semalam. Dia menyantap sarapan yang dibuatkan Kasih. Keduanya tampak dingin dan sama sekali tak bertegur sapa.


Sampai berangkat ke kantor pun keduanya juga bersama namun sama sekali tak saling bicara. Seolah masing-masing dari mereka sedang sendirian.


Sampai di depan kantor Kasih langsung turun dari mobil tanpa menoleh ke arah Alvin sama sekali.


"Ck, sialan." Alvin berdecak sendiri.


Saat dirinya hendak Melanjutkan perjalanan ke kantornya tak sengaja dia melihat Ratna yang diantar oleh seorang pria. Pria yang sama pada saat kejadian di restoran beberapa waktu lalu.


Tampak pria itu membukakan pintu untuk Ratna. Sementara Ratna dengan santainya mengulas senyum. Hati Alvin serasa mengganjal melihat pemandangan di depannya.


Tak ingin terbawa perasaan Alvin pun memilih untuk pergi dengan mobilnya. Namun ponselnya terus berbunyi. Rupanya itu pesan dari salah satu teman kantornya yang mengundang Alvin untuk menghadiri acara ulang tahunnya di salah satu club malam.


Sementara di kantor tampak heboh dengan acara pesta ulang tahun tersebut. Kebetulan dia adalah Shaira teman satu divisi Ratna.


"Memangnya acaranya dimana?" tanya Ratna.


"Di club NN mbak, boleh ngajak pasangan kok. Cowok mbak Ratna diajak sekalian aja, itu tuh yang sering jemput." ucap Shaira.


"hmm.. Lihat ntar deh kalo nggak sibuk" ucap Ratna.


Sebenarnya Ratna malas untuk ikut-ikut ke acara seperti itu. Namun saat salah satu karyawan menyebut nama Alvin yang diajak akhirnya dia pun langsung berniat ikut pula.


...****************...


Ratna saat ini sudah siap pergi ke club. Penampilannya kali ini terlihat sangat berbeda. Dia memakai rok jeans se paha dengan stoking hitam transparan serta crop top hitam tanpa lengan sedikit memperlihatkan pinggangnya yang mulus. Tak lupa dia melapisinya dengan blazer hitam.


Sementara Jody kini tampak santai memakai hoodie hitam dipadukan dengan ripped jeans.


"Wow" ucap Jody saat pertama kali melihat penampilan Ratna.


"Ada apa Jody? Apa aku tidak cocok? Jelek ya?" ujar Ratna.


"No, kamu malahan terlihat cantik sekali Ratna." jawab Jody.

__ADS_1


Keduanya pun memasuki ruangan club tersebut. Semakin ke dalam suara dentuman musik DJ serta sorak sorai bising semakin terasa.


Meski awalnya Ratna merasa ini terlalu bising untuknya tapi dia mencoba untuk menyesuaikan diri.


Dia mencari keberadaan teman-temannya yang rupanya sudah berkumpul di salah satu sudut club tersebut.


Ratna melihat sekeliling dan menangkap sosok yang sejak tadi memperhatikannya dengan Jody. Yaitu Alvin yang sedang duduk dan mengobrol dengan beberapa teman di kursi bar.


Ratna tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia mengambil segelas minuman beralkohol dan langsung menenggaknya.


Kemudian menarik Jody ke lantai dansa. Berbaur dengan kerumunan orang-orang lain.


Efek alkohol dan rasa frustasi yang dirasakan Ratna membuat dirinya ingin bertingkah diluar kebiasaannya.


Dia mengajak Jody menari layaknya pasangan muda-mudi lainnya. Meliuk-liukkan tubuhnya sesuai irama musik.


Sementara Jody yang awalnya sedikit canggung hanya menjagai Ratna dari tatapan liar pria-pria di sekitarnya.


Salah satu teman Ratna menyodorkan minuman beralkohol lagi kepada dirinya dan Jody, mau tidak mau Mereka kembali meminumnya.


Ratna yang bukan peminum handal tentunya langsung merasakan efek alkohol tersebut.


Tubuhnya terasa panas hingga dia melepas blazernya menyisakan crop top yang membuatnya terlihat begitu sexy.


"Jody, katakan padaku. Apa aku terlihat seksi jika begini?" Ratna merangkul leher Jody dan bicara sedikit berbisik kepadanya.


Jody yang masih bisa mengontrol dirinya pun mencoba untuk tetap menjaga Ratna.


"Katakan Jody, apa aku cantik di matamu?" ucap Ratna lagi.


"Ya Ratna, kau sangat cantik.. Dan sexy" jawab Jody.


Ratna semakin mempererat tubuhnya kepada Jody. Dia mengusap lembut tengkuk pria itu dan sedetik kemudian Ratna mencium bibir Jody.


Awalnya Jody sangat terkejut namun perasaannya tak bisa dibohongi. Dia menerima ciuman itu dan membalasnya. Tak peduli saat ini mereka di tempat umum.


Sementara Alvin yang melihat hal itu langsung merasakan kobaran api dalam hatinya. Begitu panas dan sakit.


Benar ternyata ucapan Kasih. Dia begitu sedih dan sakit saat melihat Ratna mesra dengan pria lain.


Tak kuat berlama-lama di tempat itu Alvin pun memilih untuk pergi. Tak peduli dengan orang-orang yang mencegahnya.


Dia sadar dan merasa begitu bersalah kepada Kasih. Tak seharusnya kemarin dia membentak dan bersikap kasar kepada adiknya.


Kini yang ingin Alvin lakukan adalah meminta maaf dan memeluk sang adik.


Namun saat sampai di apartemennya dia tak menemukan keberadaan Kasih. Rupanya adiknya itu juga tak pulang ke rumah.

__ADS_1


Alvin menghempaskan tubuhnya di sofa. Merasakan pening di kepalanya. Melihat Ratna yang sudah memiliki orang lain dan kini adiknya pun pergi meninggalkannya.


"poor Alvin" gumamnya mengatai dirinya sendiri.


__ADS_2