Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 104 Tersadar


__ADS_3

Kasih mencium bau desinfektan yang cukup menyengat. Tubuhnya terasa begitu kaku dan kepalanya masih pusing.


Perlahan dia mulai mengerjapkan matanya. Pandangannya masih terasa kabur. Entah sudah berapa lama dia tertidur.


Dia sedikit mengucek matanya. Tampak selang infus menancap di tangan kirinya. Kemudian dia mulai mengedarkan pandangannya.


"Aku di rumah sakit?" Kasih masih mencoba mengingat sesuatu. Kenapa bisa dirinya berada di rumah sakit.


Perlahan Kasih mulai mengingat bahwa di malam itu dia menunggu Arga. Saat seseorang memberinya minuman dan Kasih meminumnya. Setelah itu dia tak ingat apapun.


Tiba-tiba saja dia juga teringat akan sesuatu hal yang paling berharga untuknya.


Dia langsung meraba perutnya. Dia terus memegangi dan merasakan perutnya yang masih rata.


"Anakku.. Anakku, bagaimana ini?" Kasih mulai terisak. Dia begitu takut jika terjadi sesuatu dengan kehamilannya.


Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka. Menampilkan sosok yang begitu dekat dengan Kasih.


"Kasih, sudah bangun sayang?"


"Kak.. Anakku bagaiman dia kak?" Kasih menangis histeris dan langsung dipeluk oleh Alvin.


"Dia baik-baik saja Kasih, kandunganmu selamat." ujar Alvin sembari mengusap lembut kepala Kasih.


Kasih merasa begitu lega. Dia benar-benar tak sanggup jika harus kehilangan bayi didalam kandungannya lagi. Apalagi bayi ini adalah buah cintanya dengan Arga.


Ngomong-ngomong Arga, dia sama sekali belum melihat keberadaan Arga. Entah kenapa Kasih begitu merindukan pria itu.


"Kak, sekarang hari apa?" tanya Kasih.


"Sekarang hari selasa Kasih," ujar Alvin.


Kasih sangat terkejut. Padahal setau fia acara gala perusahaan Arga diadakan hari sabtu malam.


"Loh, kakak nggak salah? Terus aku udah lama dong tidurnya di sini?" tanya Kasih.


"Kamu nggak sadar selama tiga hari Kasih. Kakak begitu khawatir kepadamu. Tapi sekarang kakak senang sekali kamu sudah bangun. Maafin kakak ya nggak bisa jaga kamu dengan baik." Alvin tak kuasa menahan air matanya saat mengatakan hal itu.


Kasih memeluk erat Alvin. Memang kakaknya ini adalah sosok yang terbaik untuknya.


"Kakak ada di sini memelukku itu sudah membuatku sangat bahagia kak." ujar Kasih merapatkan pelukannya kepada Alvin.


Tak berselang lama Kasih mendengar suara pintu terbuka. Dia langsung menoleh berharap Arga yang datang. Tapi ternyata yang datang adalah dokter dan Aryo di belakangnya. Aryo tampak tersenyum melihat Kasih yang sudah siuman.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Aryo sembari mengusap lembut surai putrinya.


"Baik Pa, Kasih kangen Papa."

__ADS_1


Aryo tampak begitu emosional saat Kasih mengatakan hal itu. Dia sangat menyayangi Kasih dan kata-kata Kasih berhasil membuncahkan hatinya. Ternyata seperti ini rasanya dirindukan putrinya.


"Papa juga kangen banget sama kamu sayang, Papa bahagia kamu siuman lagi." Ucap Aryo tampak berkaca-kaca.


Setelah itu dokter memeriksa keadaan Kasih.


"Syukurlah, nona Kasih sudah mulai pulih. Semua tanda vitalnya normal." ucap Dokter.


"Dokter, hmm.. Bayi di dalam kandungan saya bagaimana?" tanya Kasih sedikit Ragu.


"Keadaannya baik. Untung saja racun belum sampai menyebar ke janin sehingga semuanya aman." jawab Dokter.


Kasih melirik ke arah Aryo. Dia merasa bersalah sekaligus malu. Menyembunyikan hal sebesar ini dari semua orang.


"A-apa aku boleh pulang? Aku tidak suka disini." Kasih merasa sesak hatinya.


"Baiklah kita pulang sayang, tapi di rumah Papa ya?" ujar Aryo.


Kasih pun hanya bisa menurut. Tak ada pilihan lagi. Mungkin ini caranya dia akan menebus kesalahan.


"Pa, Mas Arga dimana? Apa dia tidak kesini?" Kasih mencoba untuk mencari tahu keberadaan Arga.


Namun Aryo sama sekali tak menjawabnya. Dia hanya diam tak bergeming.


Tampak raut sedih dari wajah Kasih. Tampaknya Arga telah mengetahui kehamilannya dan dia tak mau menerima hal ini. Apa yang ditakutkan Kasih tampaknya telah terjadi.


Diam-diam Kasih menangis. Meratapi nasibnya yang kembali dicampakkan seorang pria yang dia sayangi. Kesedihannya begitu terasa saat Arga sama sekali tak menghubunginya. Berkali-kali dia melihat ponselnya. Berharap Arga memberinya sedikit kabar. Namun tampaknya pria itu benar-benar menghindarinya.


Alvin tak ingin hubungan mereka berakhir seperti dirinya. Sungguh ini sangat menyakitkan tapi Alvin tak bisa berbuat banyak hal.


Bahkan Alvin dengan rasa pengecutnya sama sekali tak menghubungi Ratna. Dia terlalu malu untuk mengabari Ratna. Tak ada kata-kata apapun yang tepat untuk meminta maaf kepadanya.


Kasih pun kini bersiap meninggalkan rumah sakit. Dia berjalan menuju mobil dan Aryo tampak membantunya.


Tanpa sepengetahuan Kasih sebenarnya Aryo melarang keras Arga untuk bertemu Kasih. Dia bahkan mengirim beberapa anak buahnya untuk melakukan penjagaan ketat di rumah sakit untuk mencegah kedatangan Arga.


Bahkan Arga tidak bisa menghubungi Kasih sebab Aryo memblokir nomor Arga yang berada di ponsel Kasih.


Dunia Arga seolah runtuh saat dipisahkan dengan pujaan hatinya. Apalagi dia mengetahui bahwa Kasih sedang mengandung anaknya.


Rasa bersalah yang bertubi-tubi membuat Arga semakin terpuruk.


Sampai kapan dia akan seperti ini.engingat Aryo bukanlah orang sembarangan. Dia bahkan tega melakukan apapun kepada orang lain jika di usik.


Tapi bukan Arga namanya jika tak pantang menyerah. Dia terus berusaha menemui Aryo. Tidak peduli seberapa keras penolakannya.


Baru saja sampai di kediaman Aryo, Kasih langsung dipersilahkan untuk beristirahat. Ada kamar yang dipersiapkan khusus untuk Kasih.

__ADS_1


Ruangan itu tampak begitu luas. Bahkan luasnya hampir empat kali luas kamarnya di apartemen Alvin.


Interior serba putih tulang dengan penataan yang luar biasa cantik. Bak kamar seorang putri.


Beberapa kali Kasih mengerjapkan matanya. Merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Semua ini terasa seperti mimpi. Kadang Kasih merasa takut jika dia kembali menghadapi kenyataan pahit seperti dulu.


"Bagaimana sayang? Suka dengan kamarnya?" tanya Aryo.


"Suka Pa, suka banget." ujar Kasih sembari mengulas senyumnya.


Meski masih merasa canggung Kasih berusaha untuk tidak membuat Ayahnya sedih. Padahal dalam hatinya sangat ingin bertemu Arga.


Kesedihan juga dilanda Alvin. Pria itu terus merenung sepanjang hari. Bayangan wajah Ratna tak pernah hilang dari benaknya.


Rupanya semenyakitkan ini rasanya gagak menikah dengan perempuan yang dicintainya.


Namun tak lama kemudian terdengar suara gaduh dari luar rumah. Alvin dan Aryo bergegas ke luar.


"ALVIN.. ALVIN.. KELUAR LO BRENGSEK.." teriakan itu berhasil menggaduhkan seisi rumah.


Alvin sangat terkejut dengan seseorang yang datang menemuinya.


"J-Jody."


BBUUKK...!!


Jody langsung melayangkan bogem mentahnya ke wajah Alvin hingga tersungkur. Tampak sekali wajahnya sudah dikuasai amarah.


"Brengsek lo Alvin. Tega banget lo ninggalin Ratna. Gue pikir lo laki-laki jantan. Ternyata cuma banci. Sialan." Jody masih menghajar Alvin sambil mengumpatinya.


Sementara anak buah Aryo hendak menolong Alvin namun pria itu melarangnya. Dia ingin Alvin bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.


"K-kenapa kau disini? Bukannya seharusnya kalian menikah?" Alvin dengan sisa kekuatannya mencoba untuk bangkit dan bertanya kepada Jody.


"Gimana bisa aku menikahi Ratna. Sedangkan hatinya hanya untukmu. Dia sangat mencintaimu Alvin."


...****************...


Halo teman-teman perkenalkan karya baru aku. Judulnya "DOSENKU ISTRIKU" jangan lupa mampir ya.



Asyifa Nadira harus menerima kenyataan pahit disaat dirinya hamil besar justru ditinggalkan sang suami mengejar wanita lain.


Dengan bekal pendidikannya dia terus berusaha membesarkan sang anak seorang diri dengan menjadi dosen di salah satu kampus terkenal.

__ADS_1


Tanpa disangka dirinya terlibat kesalah pahaman dengan seorang mahasiswa yang mengharuskan mereka untuk menikah.


bagaimana perjalanan kisah cinta dua insan beda usia tersebut? ikuti terus ceritaku ya


__ADS_2