
Kasih tak berhenti menangis di sepanjang perjalanan pulang. Hatinya begitu sakit.
Terlampau sakit ketika mengingat apa yang sedang dia alami. Kenapa hidup ini begitu mempermainkan nasibnya.
Sampai di apartemen Alvin, Kasih langsung berlari masuk ke dalam kamarnya. Dia tengkurap dan menangis sejadi-jadinya.
Alvin yang sedang bersantai melihat sejenak kedatangan Kasih. Namun adiknya itu langsung berlari ke kamar membuat Alvin penasaran.
Perlahan Alvin coba mendekati kamar Kasih. Samar-samar dia mendengar suara isak tangis dari dalam.
Pikiran Alvin langsung bermacam-macam. Apa yang terjadi hingga membuat adiknya tersebut menangis. Akhirnya dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Kasih.
"Kasih, kamu baik-baik saja? Boleh kakak masuk?" Alvin mencoba untuk memastikan keadaan Kasih namun dia tak menjawab sama sekali.
Saat memegang handle pintu Alvin tahu tidak dikunci. Sehingga dia memberanikan diri untuk masuk. Tidak apa-apa dia kan kakaknya, pikir Alvin.
Tampak Kasih sedang menangis sambil tengkurap. perlahan Alvin mendekati Kasih. Dia mengusap lembut puncak kepalanya.
"Kak Alvin..." Kasih langsung berbalik dan memeluk Alvin sambil terisak.
Untuk pertama kalinya Alvin merasakan rengekan sang adik yang berada di pelukannya. Meski sudah sama-sama dewasa namun Alvin seolah merasakan bahwa Kasih masih adik kecilnya yang manja di pelukannya.
Begini ternyata rasanya memeluk adik, namun mendengar suara isakan Kasih mendadak hati Alvin terasa begitu perih.
"Ada apa Kasih, apa yang terjadi?" tanya Kasih lirih.
Kasih tak menjawab, dia hanya terus terisak. Hal itu membuat Alvin semakin sedih. Meski hatinya meradang namun entah kenapa dia masih bersabar. Membiarkan sang adik menangis hingga tenang baru dia menanyainya.
Setelah Kasih lebih tenang pelan-pelan Alvin mulai bertanya. Tentunya dengan sangat hati-hati agar tidak melukai perasaannya.
__ADS_1
Sebenarnya Alvin adalah orang yang tidak sabaran. Terbukti dalam menangani beberapa hal emosinya sering menggebu.
Namun saat dihadapkan dengan Kasih, pria itu seolah menemukan sisi lain dirinya. Kasih bagaikan dunia baru untuknya. Sebuah prioritas dan harapan dalam kehidupannya.
Kasih menatap Alvin yang tampak begitu cemas. Kemudian dia berusaha menceritakan semua yang baru saja dia alami. Tentunya dengan air mata yang sesekali mengalir membasahi pipinya.
Dengan telaten Alvin mengusap air mata Kasih. Dia mengecup pelan kening adiknya dan berusaha membuatnya tenang.
Dan apa yang ditakutkan Alvin ternyata harus dialami Kasih. Kasih harus terkena imbas dari kerumitan hubungan Arga. Dan ini berpengaruh pada Kasih. Lagi-lagi dia harus mengalami kekecewaan dalam hubungan cintanya.
"Kasih, mungkin kakak tidak bisa banyak membantumu, tapi apapun keputusanmu kakak akan selalu mendukungnya. Kamu adalah kunci kehidupan kakak." Alvin kembali memeluk Kasih.
"Terimakasih Kak, kehadiran kakak dalam hidupku sudah cukup untukku. Sekarang aku tidak takut lagi untuk melangkah, ada kakak sebagai tempatku bersandar dan berpegangan. Kakak tempatku untuk pulang." mendengar perkataan dari Kasih membuat Alvin merasa menjadi seorang kakak paling beruntung di dunia.
"Kakak juga terimakasih, sampai kapanpun Kakak tidak akan biarkan orang lain menyakitimu." janji itu bukan sekedar keluar dari mulut Alvin. Namun juga tertanam didalam hatinya.
Dengan setia Alvin menemani Kasih hingga dia mulai tenang dan tertidur. Melihat wajah sendu itu sekilas mengingatkan dirinya pada mendiang sang mama. Ingatan yang semula terlupakan kini perlahan mulai muncul kembali.
"Mas kamu kok nggak bilang sih kalau janjian dinner sama papa, bukannya ajak aku malah ngajak sekretaris kamu." baru saja mereka duduk dalam satu mobil Felicia sudah mengomel.
Arga yang enggan menjawab hanya diam saja. Dia terus fokus menyetir.
"Kamu kenapa sih mas, masih marah sama aku? Kan aku udah minta maaf. Apa salahnya sih tinggal maafin doang."
Sekali lagi, Arga mencoba sabar dengan menghela nafas.
"Masalah yang kemarin nggak usah terlalu diambil hati lah mas, lagian aku sama Samuel cuma main-main doang kok. Kamu kan juga pernah, waktu di hotel aku lihat mas Arga nyewa cewek juga kan. Oh atau jangan-jangan itu sekretaris kamu, ingat ya mas kamu main-main aja terserah tapi jangan sampai keta cerai." dengan santainya Felicia masih mengoceh.
Kali ini kesabaran Arga mulai habis.Dia langsung memberhentikan mobilnya.
__ADS_1
"Keluar kamu," ucap Arga singkat.
"Mas, apaan deh. Aku cuma ngomong biasa kok." Felicia mulai mengelak.
"Saya bilang kamu keluar dari mobil saya" kali ini ucapan Arga penuh dengan penekanan. Apalagi dengan sorot matanya yang seolah seperti pedang yang siap menghunus.
"Mas.. Aku ini perempuan. Mana mungkin malam-malam keluar di jalanan sendiri. Tadi aja sekretarismu kamu larang buat pergi sendiri, sekarang aku malah disuruh keluar. Aku ini istri kamu mas" tolak Felicia.
"Oh, atau jangan-jangan kamu ada main sama Sekretaris kamu itu, ternyata dia *** *** yang udah nemenin kamu?"
Felicia mencoba untuk mencari kesalahan Arga.
"Jaga bicaramu Feli, jangan kamu mengatai sekretaris saya ***.*** sedangkan kamu adalah ***.*** yang sebenarnya. Selama ini saya cukup sabar hadapi kamu tapi kalau kamu sampai melewati batas maka akan tahu sendiri akibatnya." Arga kini sudah tidak sabar lagi. Namun dia masih mencoba untuk menahan diri.
"Mas malah belain sekretaris kamu sih, oh jadi mas mau aku nyebarin berita kalau kamu selingkuh sama dia hah?" Felicia mencoba untuk mengancam Arga.
"TUTUP MULUT LO FELI! LO PIKIR DENGAN MENGANCAM GUE INI AKAN TAKUT? JUSTRU LO YANG AKAN HANCUR. SEMUA BUKTI UDAH DI TANGAN GUE DAN LO MAU GUE SEBARIN VIDEO MAIN LO SAMA SAMUEL ATAU PRIA LAIN? GUE BAKAL BIKIN HIDUP DAN KARIER LO HANCUR SEHANCUR-HANCURNYA." dengan tatapan nyalang Arga berbicara dengan penuh emosi. Tidak ada kelembutan sama sekali justru yang ada hanyalah kemarahan.
"M-mas, jangan mas.. J-jangan lakukan itu. Oke fine aku minta maaf tapi tolong jangan lakukan itu ya. Aku akan turuti semua keinginan kamu, kamu mau aku? Aku siap mas. Pakai aja tubuhku semau kamu" dengan terbata Felicia kini ketakutan terhadap Arga.
"Lo mau tau apa yang gue mau sekarang?" suara Arga merendah namun tatapannya masih tak berubah.
"i-iya mas.. Kamu mau apa?" tanya Felicia hati-hati.
"Saya mau cerai sama kamu" jawab Arga.
"Apa? Enggak mas. Aku nggak mau cerai. Udah aku bilang aku sekarang mau nerima kamu. Aku nggak peduli lagi tentang Arka. Aku mau kamu mas. Dan kalaupun kita cerai bakal berimbas pada nama baik kamu, kesehatan papa juga kan?" ujar Felicia.
Mendengar tentang papanya mendadak hati Arga menjadi bergemuruh. Dia begitu menyayangi papanya dan hal itu justru digunakan Felicia sebagai senjata agar dia tidak diceraikan Arga.
__ADS_1
"Felicia Karina Putri. Saya talak kamu, Mulai hari ini, detik ini kamu bukan lagi istri saya. Jadi antara kita sudah bebas tidak ada hubungan apapun lagi. Tunggu saja surat perceraian kita. Saya akan segera mengurusnya." dengan penuh tekad akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Arga.
"MAS..!!"