
"Alvin, bisa bicara sebentar?"
Alvin yang hendak meninggalkan ruangan Aryo pun jadi terhenti.
"Baik om, silahkan."
"Kemari nak, duduklah di sini" Aryo menepuk tempat kosong di sofa yang dia duduki. Alvin pun menurutinya.
"Sampai kapan kamu terus memanggilku om, dan sampai kapan kamu terus menolak untuk tinggal di sini?" Aryo memulai pembicaraan.
Alvin tak langsung merespon. Dia hanya menunduk tak berani menatap seseorang di sebelahnya itu.
"Aku merasa tidak pantas om, aku takut kehadiranku hanya menyisakan duka untuk om" ucap Alvin.
"Vin, ingatlah pesan ibumu. Dia ingin kamu dan adikmu bersamaku. Aku sudah menganggap mu seperti putraku sendiri. Dan janjimu bahwa kau sudah menemukan adikmu maka akan ikut tinggal di sini" ujar Aryo.
"Om, aku takut tak bisa membalas kebaikan om. Aku takut mengecewakan lagi." rasa trauma yang dialami Alvin agaknya terus membuatnya merasa rendah diri. Apalagi di hadapan Aryo.
"Sudah Alvin. Jangan ingat-ingat masa lalu. Itu bukan salahmu. Dan tak perlu membalas apapun karena aku hanya ingin kamu menganggapku sebagai papamu." Lagi-lagi Aryo terus meminta Alvin untuk bersama dirinya.
Alvin yang selalu cuek mulai merasa emosional. Entah ingin senang atau sedih. Sebenarnya sosok Aryo ini sangat berarti dalam hidupnya.
Masa kecilnya yang kelam sering mendapatkan siksaan dari ayah kandungnya. Setelah Aryo masuk di hidupnya seolah merubah kesedihan itu.
Apalagi saat ayahnya yang dipenjara membuat Aryo bebas bersama Alvin dan ibunya. Dia begitu menyayangi dirinya juga ibunya.
Alvin menemukan kasih sayang sosok ayah dari Aryo. Saat ibunya hamil rupanya Aryo harus pergi ke Amerika untuk mengurus pekerjaan.
Dan saat ibunya melahirkan pun Aryo tak bisa bersamanya. Hingga Kasih yang masih berumur tiga bulan ayahnya pun dibebaskan dari penjara.
Ayah Alvin sangat terkejut dan marah mendapati istrinya telah hamil dengan pria lain. Meski awalnya dirinya lah yang menjual istrinya sendiri kepada Aryo.
Kemarahan itu memicu tragedi paling tragis dalam hidup Alvin.
Hingga saat ini Alvin tak pernah bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Dia juga terus merasa bersalah kepada aryo karena tak bisa menjaga ibunya dengan baik.
"Papa, aku ingin sekali memanggil papa seperti dulu. Tapi aku takut Papa marah, karena orang yang paling papa cintai telah pergi." Akhirnya Alvin memanggil Aryo.
Betapa senang hati Aryo mendengar panggilan itu. Bahkan dia langsung memeluk Alvin sama seperti yang fia lakukan saat kecil dulu.
"Terimakasih Alvin.. Terimakasih anakku." Aryo tak kuasa menahan air mata bahagianya.
Rupanya Alvin pun demikian. Rasa rindunya yang bertumpuk kini terbayar sudah. Bahkan dia sampai menangis terisak di pelukan Aryo.
__ADS_1
"Jangan panggil om lagi ya, ini yang diinginkan papa sejak dulu." pinta Aryo.
"Iya Pa.. Iya.."
...****************...
Laura sedang mondar mandir di kamar neneknya sambil terus menggerutu menunggui neneknya yang masih berada di toilet.
Tak berselang lama neneknya pun keluar.
"Kamu kenapa Laura?"
"Nek, bagaimana ini? Sepertinya Arga tidak main-main hubungannya dengan Kasih. Dia terus dekat, bagaimana ini kalau sampai kita gagal?" rengek Laura.
"Kita harus segera bertindak. Kita pisahkan mereka, aku tidak rela jika wanita itu menguasai kekayaan Arga."
"Ya, tapi bagaimana caranya nek?" Laura mulai tak sabar.
"kita cari tahu tentang gadis itu, masa lalunya, latar belakang keluarganya. Kita cari titik kelemahannya dan sebisa mungkin buat dia malu." ujar nenek dengan senyum liciknya.
"Ya nek, kalau bisa disaat Gala Perusahaan Arga nanti kita permalukan dia. Kan acara itu tinggal sebentar lagi. Tapi darimana kita tahu tentang Kasih? Sedangkan di sini kita tak kenal siapa-siapa" ujar Laura.
Keduanya sempat terdiam dan merenungkan sesuatu. Tiba-tiba Laura teringat sesuatu.
"Nek, bagaimana kalau kita cari informasi dari Felicia? Dia pastinya tahu siapa Kasih" ujar Laura.
"Baiklah nek, aku akan segera menemukannya."
Laura pun segera mencari informasi keberadaan Felicia. Tak butuh waktu lama karena dia memiliki kenalan teman dekat Felicia.
Laura dan neneknya pun bergegas mencari Felicia di apartemen yang ditempati wanita itu.
Dan benar saja saat Laura memencet bel tak lama muncullah seorang wanita yang tengah hamil besar. Tak lain adalah Felicia.
"Kalian? ngapain kesini?" Felicia tampak terkejut dengan kedatangan Laura dan neneknya.
Laura sebenarnya tak kalah terkejutnya. Berarti benar gosip yang menyebar bahwa Felicia tengah hamil bersama selingkuhannya.
Felicia begitu enggan berurusan dengan Arga dan keluarganya. Dia hendak menutup pintunya namun buru-buru dicegah Laura.
"Tunggu, aku ingin berbicara denganmu Fel, please" pinta Laura.
Akhirnya dengan berat hati Felicia pun mengijinkan keduanya masuk ke apartemennya.
__ADS_1
Saat Laura dan neneknya duduk di ruang tamu Felicia pun langsung kembali menanyainya.
"Ada apa? Ada urusan apa lagi denganku?" ucapnya sinis.
Sebenarnya Felicia begitu jengah melihat nenek Arga. Wanita itu selalu menyebalkan untuk orang lain. Bahkan perlakuan dan ucapannya dulu juga sangat menyakiti hati Felicia.
"Kami kesini ingin tahu tentang Kasih" ujar Laura.
Sejak tadi Laura yang terus mencoba berbicara dengan Felicia. Bahkan neneknya pun masih memasang wajah congkaknya saat menatap Felicia.
"Untuk apa? Aku sudah tidak peduli dengan mereka" ujar Felicia sinis.
"Ayolah Fel, bantu aku sedikit saja." ujar Laura.
"Rupanya kau masih belum menyerah ya? Segitu cinta kah kau dengan Arga atau hanya ingin mengincar hartanya?" ucapan pedas Felicia itu sengaja dilontarkan untuk menyindir nenek Arga.
"Apapun yang kau pikirkan terserah. yang penting aku dapat informasi mengenai wanita itu" ujar Laura.
"Hahaha.. Tak semudah itu Lau, ada harga yang harus di bayar. Kau tak lihat bagaimana keadaanku sekarang? Hidupku serba kekurangan dan tak bisa bekerja karena hamil bayi sialan ini" geram Felicia.
Tak dipungkiri bahwa Samuel kini benar-benar mencampakkan Felicia. Dia sama sekali tak pernah menjenguk Felicia. Hanya apartemen serta uang bulanan yang begitu minim diterimanya.
"Apa? Kau mau uang?" tanya nenek Arga sinis.
"Tepat sekali nyonya. Kau pandai menebak rupanya?" goda Felicia.
Mau tak mau pun Laura dan neneknya harus menuruti permintaan Felicia demi informasi tentang Kasih.
Felicia pun menceritakan semua tentang Kasih. Mulai dari latar belakang keluarganya hingga asal mula dirinya kenal Arga dan menjalin hubungan dengannya.
Laura dan neneknya oun langsung menangkap informasi itu dengan senyuman smirk. Mereka langsung mendapatkan ide untuk mempermalukan Kasih.
"Kena Kau Kasih, sebentar lagi semua irang pasti membencimu dan Arga akan sangat malu lalu meninggalkanmu" gumam Laura dengan penuh kebencian.
...****************...
Kasih merasakan tubuhnya semakin lemah saja. Padahal pekerjaan di kantornya sedang menumpuk mempersiapkan acara gala di perusahaan Arga sekaligus launching hotel baru.
Gejala yang dialaminya hampir sama seperti saat dirinya hamil dulu. Sehingga membuat Kasih mulai gelisah. Apalagi akhir-akhir ini Arga sering 'bermain tanpa pengaman.
Dengan memberanikan diri Kasih pun mengambil alat tes kehamilan yang sengaja dia simpan untuk berjaga-jaga. Dia pergi ke toilet untuk melakukan tes tersebut.
Setelah beberapa saat dirinya pun mulai membaca garis yang ditunjukkan pada alata itu.
__ADS_1
"A-apa?"
...----------------...