Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 109 Janji suci pernikahan


__ADS_3

"Saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus." dengan lantang dan lancar Alvin mengucapkan janji pernikahan sehidup semati untuk Ratna.


Semua berjalan begitu hikmat. Haru dan bahagia bercampur jadi satu. Dan inilah akhirnya mereka sah sebagai suami istri di hadapan Tuhan.


Dengan disaksikan semua keluarga dan kerabat dekat.


Alvin pun mencium kening Ratna dengan bibir yang sedikit gemetar. Mati-matian dia menahan air matanya agar tidak tumpah.


Sementara Ratna begitu lega. Bahagia yang tak terkira. Tak disangka pria yang disukainya sejak kuliah kini telah sah menjadi suaminya.


"Terimakasih sayang, terimakasih sudah mau jadi istriku. Menerima segala kekuranganku dan memaafkan kesalahanku. Kamu adalah Tempatku untuk pulang." ucap Alvin dengan penuh ketulusan.


Ratna mengangguk. Kedua netranya sudah berkaca-kaca.


"Ya, aku adalah tempatmu untuk pulang. Hanya pulang kepadaku." jawab Ratna.


Seketika semua orang bersorak bahagia. Kasih yang sejak tadi ikut deg-deg an saat Alvin mengucapkan janji pernikahan pun akhirnya kini bisa bernafas lega.


Dia tak kuasa menahan air matanya. Air mata bahagia melihat kakaknya yang akhirnya menemukan tambatan hatinya.


"Loh, anak ibu kok nangis, nanti cantiknya berkurang loh." ibu Dewi, ibu angkat Alvin langsung mengusap lembut air mata di pipi Kasih. Kemudian memeluknya dengan penuh kehangatan.


"Kasih cuma terharu Bu, kan ibu sendiri yang dari dulu ingin sekali Kak Alvin menikah." ujar Kasih sembari mengulas senyum kepada Bu Dewi.


",Iya sayang, semoga kamu segera menyusul ya." ujar Bu Dewi.


Kasih pun langsung mengangguk. Dia menganggap ucapan Bu Dewi adalah doa untuknya.


Semoga, semoga saja hubungan Kasih dan Arga segera diberikan titik terang. Semoga mereka segera bersatu dalam pernikahan seperti Alvin dan Ratna.


Selesai pemberkatan mereka menghampiri keluarga secara bergantian. Kedua orang tua Ratna begitu bahagia akhirnya bisa melihat putri semata wayangnya menikah.


Begitu pula Aryo yang telah mempersiapkan semua acara pernikahan ini. Dia merasa lega meski Alvin bukan putra kandungnya namun Aryo merasa bertanggung jawab.


"Hana, putramu sudah menikah, kamu pasti sangat bahagia sekarang." gumam Aryo dalam hati.


"Papa, terima kasih banyak ya." Alvin langsung memeluk Aryo.


"Papa yang terimakasih sama kalian. Semoga pernikahan kalian selalu bahagia dan langgeng selamanya." ujar Aryo.

__ADS_1


Kasih tampak tersenyum melihat Alvin dan Ratna begitu bahagia. Tiba-tiba saja Alvin menarik Kasih untuk ikut serta dalam pelukan Aryo.


"Papa hanya ingin kalian bahagia." ujar Aryo dengan penuh pengharapan.


Sejenak Kasih melirik papanya. Andaikan dia direstui hubungannya dengan Arga maka Kasih akan semakin bahagia.


Ingin sekali Kasih berbicara pada papanya namun di momen seperti ini di juga tak ingin menambah masalah. Kasih harus kembali bersabar menunggu saat yang tepat.


Ratna mengusap lembut lengan Kasih. Dia tahu apa yang dirasakannya saat ini. Sebuah senyuman penuh arti menjadi semangat tersendiri untuk Kasih.


Setelah pemberkatan selanjutnya adalah acara ngunduh mantu. Kini Ratna dan Alvin sudah berganti pakaian menggunakan kebaya beludru warna hitam dengan kombinasi payet emas. Begitu cantik dan pas di tubuh Ratna. Ditambah riasan khas Jawa dengan sanggul dan melati menjuntai.


Alvin bahkan tak berhenti mencuri-curi pandang kepada Ratna, istrinya sendiri.


Sementara Kasih yang memakai kebaya brokat berwarna merah maroon tampak kontras dengan kulitnya yang seputih susu. Justru kecantikannya semakin tampak memukau apalagi masih dengan rasan flawless dan rambutnya yang di sanggul.


Lipstick merah merona menjadi daya tarik tersendiri bagi yang memandangnya. Tak ayal berpuluh pasang mata selalu memperhatikan setiap gerak gerik Kasih.


"Mbak Kasih bisa gawat ini kalau ada pacarnya bisa-bisa mata mereka di congkel semua." bisik Nova sambil terkikik.


Kasih pun langsung menoleh menatap Nova. Kemudian dia melihat orang-orang di sekitar yang memang sedang memperhatikannya.


"Benar juga, untung dia nggak disini." ujar Kasih.


Ada baiknya memang Arga tidak ada di sini. Mungkin akan repot sekali jika pria itu berada di sampingnya. Bisa-bisa ucapan Nova jadi kenyataan.


"Pasti pacar mbak Kasih sayang banget ya. Kelihatan perhatian gitu." ujar Nova.


Kasih pun hanya bisa tersenyum sendu.


"Ya dia sayang banget, tapi hubungan kami sedang ada masalah. Papa nggak restuin kami padahal dia sudah melamarku."


Nova bisa melihat kesedihan di wajah Kasih. Namun sesaat kemudian Kasih merasakan mual. Kepalanya terasa pusing sebab perutnya terasa seperti diaduk.


"Mbak Kasih kenapa? Sakit?" tanya Nova panik.


"Nova bantu aku ke kamar ya?" ujar Kasih sambil memegangi lengan Nova.


Aryo yang melihat Kasih tampak kesakitan langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Kasih kamu kenapa nak?" tanya Aryo berusaha menolong Kasih.


Namun Kasih tampak cuek dan menolak Aryo. Kasih berlalu meninggalkan Aryo tanpa menghiraukan papanya.


Ada kekecewaan di hati Aryo melihat sikap putrinya yang kini berubah. Begitupun dengan Kasih, dia sebenarnya tidak tega melihat papanya yang tampak sedih seperti itu.


Tapi Kasih juga harus memikirkan hubungannya apalagi bayi yang dikandungnya butuh sosok ayah.


Sampai di kamar Kasih langsung berlari menuju toilet. Dia memuntahkan semua isi perutnya. Nova yang khawatir terus membantu Kasih.


"Mbak Kasih mau dipanggilkan dokter?bak sakit begini mana pucet. makanya tadi mbak Ratna pesen buat jagain mbak Kasih." Nova panik sendiri melihat Kasih yang tampak lemas.


"nggak apa-apa Nova. Cuma bawaan hamil ya gini. Bisa ambilkan obat di laci nggak? Maaf ya ngerepotin terus." ucap Kasih tanpa pikir panjang.


Nova terpaku untuk beberapa saat. Entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdebar.


"m-mbak Kasih hamil?" tanya Nova dengan sedikit ragu.


Kasih menyadari ucapannya tadi. Dia baru tahu bahwa dia keceplosan.


"iya.. Maaf ya." ujar Kasih sendu.


Nova hanya tersenyum kemudian memeluk Kasih.


"Yaudah mbak Kasih istirahat ya. Aku buatin air jahe mau?" tanya Nova.


Kasih hanya mengangguk kemudian membaringkan badannya di ranjang.


Nova berjalan menuju dapur. Namun mendengar pengakuan Kasih membuatnya gelisah sendiri.


Nova memegang perutnya. Membayangkan jika dirinya hamil. Lalu bagaimana dengan nasibnya di masa depan.


Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Dia melihat sebuah pesan masuk. Dengan gemetar Nova membaca pesan itu.


"Nova, apa hari ini kita bisa bertemu? Sebentar saja. Ada yang perlu saya bahas dengan kamu."


Nova semakin gemetar membaca pesan itu. Tapi bagaimanapun dia harus bertemu dengannya. Pria itu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2