Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 28 Sekedar afeksi


__ADS_3

Kasih tak berhenti menangis. Hatinya terasa begitu sakit setelah melihat Felix. Sudah satu jam lebih dia mengurung diri di dalam kamar mandi.


Sementara Arga yang panik terus memanggilnya dan mencoba untuk meyakinkan Kasih agar mau membuka pintu.


"Baby, ayolah jangan seperti ini. Kita bicarakan baik-baik ya. Kumohon keluarlah" pinta Arga.


Namun bukannya menjawab justru suara tangisan Kasih semakin meraung. Arga yang kebingungan langsung minta bantuan Alvin.


"Kasih, ini Kakak. Tolong buka pintunya. Kasih?" Alvin pun mencoba merayu Kasih. Biasanya dia sedikit luluh dengan Alvin namun sudah beberapa saat malah tak ada sahutan suara.


"Vin, perasaanku tidak enak. Kita dobrak saja pintunya" ujar Arga.


Alvin pun langsung menyetujui Arga. Dua pria berbadan kekar itu langsung membuat ancang-ancang untuk mendobrak pintu tersebut.


"Satu.. Dua.. Tiga..." Arga memberi aba-aba.


Saat hitungan ketiga mereka langsung berlari dan saat itu juga Kasih membuka pintu toiletnya.


Alhasil kedua pria itu jatuh tersungkur di lantai.


"Awwhh..." Baik Arga dan Alvin langsung meringis kesakitan.


Sementara Kasih hanya bisa memekik karena terkejut.


"Ka_kalian sedang apa?" beruntung Kasih tak tertabrak tubuh dua pria itu.


Arga dan Alvin bangkit dan menatap Kasih dengan tajam.


"Kenapa lama sekali buka pintunya." protes Arga dengan nada kesal.


"Kasih, kami ini khawatir padamu. Makanya kita mau membuka paksa pintu itu" Ujar Alvin sembari memegangi bahu ya karena terbentur ubin.


.


"Maaf.." Kasih menundukkan kepalanya dan tak berani menatap Arga yang tengah duduk di depannya.


Arga menghela nafas kasar. Lalu menatap Kasih.


"Kenapa lama sekali di dalam? Mana ditanya tak menjawab pula?" protes Arga.


"Maaf.." kata itu yang sejak tadi terucap dari mulut Kasih.


"Aku tidak menerima maafmu. Berhenti mengucapkan kata sialan itu." ujar Arga Sarkas dengan sedikit menaikkan tempo suaranya.


Kasih tak menjawab dan dia masih menundukkan kepalanya. Bahkan rambut panjangnya yang tergerai mulai menutupi sebagian wajahnya.

__ADS_1


"Look at me!" ujar Arga masih dengan nada intimidasinya.


Kasih tetap tak bergeming. Hanya isakan tangis tertahan yang berusaha dia sembunyikan.


Dengan cepat Arga meraih dagu Kasih. Menaikkan wajahnya hingga sejajar dengannya.


Tampak mata Kasih yang sembab dan basah oleh air mata. Hidungnya memerah karena hal itu.


Arga masih menatapnya dengan lekat. Kemudian menyibakkan rambut yang menutupi wajah cantik itu serta mengusap air matanya menggunakan ibu jari.


"Mas.." ucap Kasih lirih.


"Apa?"


"Hiks.. Hiks.. Hiks.." Kasih kembali terisak.


Kali ini Arga langsung menariknya ke dalam pelukan. Membiarkan wanita itu menangis dalam dekapannya.


"Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi? Kenapa hatiku masih terasa sakit?" gumam kasih yang masih terisak.


"Karena kamu masih menyimpan perasaan untuknya" ujar Arga mencoba untuk jujur.


Kasih terdiam sesaat. Mencerna ucapan Arga. Mungkin saja itu memang benar. Karena bagaimanapun juga Felix adalah cinta pertama Kasih.


Perasaannya terlalu dalam untuk Felix. Dan dengan kejadian sore tadi membuat hatinya berkali-kali lipat terasa sedih.


Sementara Felix, selama ini dia melihatnya adalah pria rumahan yang kesehariannya sibuk bekerja. Tapi tak disangka ternyata pria itu doyan party juga.


Kemudian Kasih menatap Arga. Pria yang satu bulan ini mengisi hari-harinya. Dia ingin selalu jujur kepada Arga.


"Felix adalah cinta pertamaku mas, perasaanku sudah begitu dalam kepadanya. Jadi untuk bangkit saja rasanya sangat sulit. Kenapa cinta begitu menyakitkan begini?" ungkap Kasih dengan frustasi.


Sementara Arga hanya bisa terdiam mendengar ungkapan Kasih. Jadi gadis itu masih sangat mencintai mantan suaminya.


Meski belum mengakui perasaannya namun hal itu membuat hati Arga terasa begitu sakit. Dia sempat salah paham beberapa kali mengartikan perhatian Kasih adalah tanda-tanda cinta untuknya.


Namun harapan itu langsung runtuh begitu saja. Ya, lagi-lagi perhatian itu hanya sekedar afeksi berdasarkan kontrak.


Mereka sendiri yang menyepakati hal itu. Saling memberi afeksi agar tidak canggung saat berhubungan intim.


"Ya, aku tahu itu. Tapi bukankah kamu juga harus bisa menerima kenyataan bahwa dia sudah menceraikan kamu Kasih? Dan hak dia pula jika ingin berhubungan dengan wanita lain" kata-kata itu, seolah menjadi tamparan keras untuk Kasih.


Benar juga. Felix telah menceraikannya bahkan juga mengusirnya. Jika sekarang dia ingin memulai hubungan dengan wanita lain sungguh Kasih tak berhak melarang. Diantara mereka tak ada hubungan apapun.


Kasih bangkit dari pelukan Arga kemudian mengusap air matanya sendiri.

__ADS_1


"Benar juga, aku memang sudah tidak berhak untuk itu" ucapnya tegar. Namun dalam hati dirinya sangat kesakitan mengucapkan kenyataan pahit itu.


...****************...


Felix tak bisa berhenti memikirkan Kasih. Hatinya terasa begitu sakit saat mengingat apa yang dia saksikan sore tadi.


Seorang Kasih wanita polos pendiam yang bahkan sama sekali tak mengerti dunia seperti itu. Bisa-bisanya muncul dihadapannya dengan bikini yang mempertontonkan tubuhnya yang hampir tel.anjang di khalayak ramai.


Dan hal paling tak diduganya adalah keberadaan Arga. Dia tahu Arga adalah pria dengan penuh kuasa.


Bahkan tak mudah menjangkau koneksi untuk bisa mengenal seorang Arga yang tak sembarangan orang bisa dekat dengannya.


Dan kini, Arga sendiri mengatakan dari mulutnya bahwa Kasih adalah calon istrinya. Sehingga Felix diam-diam mulai curiga sekaligus penasaran dengan mantan istrinya yang penuh teka-teki itu.


Tak sampai disitu. Felix mulai mencari tahu tentang Arga. Dia masih tidak rela jika Kasih dimiliki orang lain.


Meski harus bersaing dengan pria sekelas Arga. Felix mulai mencari cara bagaimana mencari titik lemah pria itu.


Felix mulai mencari berbagai informasi tentang Arga termasuk kehidupan pribadinya.


Dan satu hal yang dia temukan dan bisa jadi alasan untuk merebut Kasih kini sudah dia dapatkan.


"Jadi, Arga Yunanda Wijaya sudah menikah dengan seorang model bernama Felicia? Dan sampai sekarang tidak ada kabar perceraiannya" ujar Felix dengan penuh semangat.


"Hah, dasar buaya. Kau pikir bisa mempermainkan Kasihku? Sebanyak apapun uangmu tak akan bisa menghalangiku mendapatkan Kasih kembali" gumam Felix.


Sementara tak jauh dari tempat Felix, nampak Olivia yang diam-diam memperhatikan Felix.


Dia mulai menyadari perubahan Felix bahwa sejak pertemuan dengan seorang wanita di boat party tadi Felix terlihat tidak fokus.


Diam-diam Olivia terus mencari tahu dan akhirnya kini terjawab sudah.


Rupanya gadis itu tadi mantan istri Felix. Dan lebih kecewanya lagi bahwa Felix masih belum bisa melupakan wanita itu.


Otak licik Olivia mulai menemukan ide. Dia akan membuat Felix secepatnya menikahinya.


Jadi diam-diam Olivia memberikan Felix minuman yang sudah dia campuri dengan obat perangsang.


"Felix, aku lihat kamu begitu sibuk. Jangan lupa diminum ya coklat hangatnya" ujar Olivia.


"Terimakasih Oliv" ujar Felix singkat.


Perlahan Felix mulai meminum minuman itu. Dia pikir tak ada salahnya memperbaiki mood dengan secangkir coklat hangat.


Felix meminum minuman itu hingga habis tak bersisa. Tak lama kemudian dia mulai merasakan hal aneh di tubuhnya.

__ADS_1


"Kenapa rasanya gerah sekali Oliv?"


__ADS_2