
"Apa? Papa masuk rumah sakit? Baiklah aku akan segera kesana" Arga menjadi panik saat mendengar Wijaya dilarikan ke rumah sakit.
Dadanya terasa bergemuruh dan jantungnya berdebar keras. Dia benar-benar paling tidak bisa menerima kabar buruk yang menimpa papanya. Hanya Wijaya orang tua sekaligus keluarga yang dia miliki.
"Ada apa mas?" Kasih menghampiri Arga yang tampak beranjak dari ranjang.
"Sayang, maaf aku harus ke rumah sakit. Papa katanya kumat lagi" suara Arga terdengar parau. Sudah dipastikan pria itu pasti sangat khawatir.
"Mau ku temani?" tanya Kasih.
Arga diam sejenak menatap Kasih. Sebenarnya ingin sekali dia mengajak Kasih, namun saat ini sepertinya kurang tepat karena diluar banyak wartawan menyorot segala gerak gerik Arga.
Meski bukanlah seorang public figure namun keluarga Arga cukup berpengaruh. Sebagai salah satu keluarga konglomerat kaya di negeri ini serta kesuksesan Arga di masa muda tentulah sangat menarik perhatian masyarakat. Belum lagi skandal hubungan pernikahannya yang santer diberitakan akhir-akhir ini.
"Tidak usah sayang, sudah malam kamu disini saja ya. Aku tidak mau kamu terjadi sesuatu." Arga mengecup kening Kasih sebelum berpisah.
Kasih hanya bisa pasrah melihat kepergian Arga yang tampak tak baik-baik saja itu. Namun Kasih paham, dia tak bisa seenaknya melakukan banyak hal karena itu akan berpengaruh terhadap Arga. Dia tak ingin Arga mendapatkan masalah lagi.
...****************...
Arga tampak tertunduk lesu. Melihat sang papa yang tengah terbaring lemas dengan beberapa alat medis menempel di tubuhnya.
Wijaya memang memiliki riwayat penyakit jantung yang cukup serius, bahkan dirinya sudah dua kali melakukan pemasangan ring jantung.
Itulah kenapa Arga begitu menjaga papanya jangan sampai memikirkan banyak hal.
Masalahnya dengan Felicia ini jelas membuat Wijaya terus memikirkan banyak hal dan membuat kondisinya semakin memburuk.
Arga adalah putra satu-satunya dan apapun tentangnya pasti tak lepas dari pengawasan Wijaya. Skandal yang menjeratnya tentu sangat berpengaruh terhadapnya.
"Maafka Arga Pa.. Maaf, Arga belum bisa menjadi anak yang baik untuk Papa" sebuah penyesalan datang dari benak Arga.
Dia benar-benar takut jika harus kehilangan Papanya. Rasanya tak akan pernah siap sampai kapanpun.
__ADS_1
Sementara Kasih yang sedang berada di apartemen kini sedang gelisah. Dia terus memikirkan Arga, pria itu saat ini pasti sangatlah sedih.
Akhirnya dia memberanikan diri untuk meminta Alvin mengantarnya kepada Arga. Meski awalnya menolak karena larangan dari Arga sendiri namun Kasih tetap bersikeras untuk pergi.
Mau tidak mau Alvin pun menuruti permintaan Kasih. Dan juga jika bersama Alvin pasti wartawan akan mengira itu utusan Arga.
Dengan tergesa-gesa Kasih mencari keberadaan Arga. Dia sangat ingin menghampiri Arga dan menemaninya.
Akhirnya dia melihat Arga yang duduk lesu didepan ruang ICU dimana Wijaya tengah dirawat.
Dengan perlahan Kasih duduk di sebelahnya dan meraih tangan Arga. Arga yang sejak tadi duduk melamun sedikit terkejut mendapati Kasih sudah berada di sampingnya.
"Kasih? Kamu disini?" Arga yang terkejut merasa senang melihat kedatangan Kasih.
"Aku nggak tega biarin Mas Arga sendirian disini. Aku terus kepikiran Mas Arga, boleh ya aku disini saja" ucap Kasih sembari menggenggam tangan Arga.
"Kesini sama siapa?" tanya Arga.
Sementara Alvin yang berdiri tak jauh dari mereka hanya diam untuk memberi ruang bagi keduanya.
Arga bangkit dari duduknya dan menghampiri Alvin.
"Thanks ya Vin," Arga menatap Alvin dengan sendu. Alvin pun bisa melihat betapa kacaunya pikiran Arga saat ini.
"Iya Pak, Pak Arga yang kuat. Saya yakin Pak Wijaya akan segera membaik." ucap Alvin.
"jangan panggil formal begitu, ini bukan jam kerja. Diluar kita adalah teman. Jadi panggil Arga saja" ujar Arga mengulas senyum.
Alvin pun tersenyum. Mendampingi Arga bertahun-tahun jelas dia tahu perasaannya saat ini.
"Baiklah, Arga. Kembalilah bersama Kasih, sejak tadi dia ngotot ingin menemuimu." Alvin menepuk bahu Arga dan berpamitan untuk pergi.
Arga kemudian menatap Kasih yang masih duduk di tempat yang sama. Dia tampak mengulas senyum dan menepuk tempat duduk di sampingnya agar Arga mendekat.
__ADS_1
"Mau Mas Arga sedih, ataupun senang aku akan tetap mendampingi kamu Mas. I will always be with you" ucap Kasih dengan begitu lembut.
Arga menatap Kasih kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Kasih. Memang benar, kehadirannya telah membuat Arga semakin lebih baik.
"Maaf ya, liburan kita harus tertunda." ucap Arga.
"Ya nggak apa-apa lah mas, kan memang keadaan Pak Wijaya lagi sakit. Masak iya mau kita tinggal liburan. Yang penting Mas Arga harus kuat, biar nanti bisa jagain Pak Wijaya dengan baik."
Sikap penuh pengertian Kasih ini lah yang selalu membuat Arga semakin jatuh cinta padanya. Kasih tak pernah mengeluh apapun serta dia tak lelah untuk selalu berada di sisi Arga.
"Papa pasti terkejut dengan berita yang udah keluar. Awalnya aku diam saja tapi sikap Felicia semakin kurang ajar." Akhirnya Arga sendiri membahas hal ini. Sebenarnya Kasih ingin bertanya namun dia selalu mengurungkan niatnya. Kasih tahu sudah banyak beban yang Arga pikul akhir-akhir ini. Dia tak ingin semakin menambah beban untuknya.
"Mas sabar ya, semua masalah ini pasti ada hikmahnya. Yang penting Mas Arga tetap semangat dan jangan menyerah. Aku yakin satu persatu masalah ini akan segera selesai. Ada saatnya nanti Mas Arga menikmati apa yang telah Mas perjuangkan." Kasih menempelkan pipinya di kepala Arga yang masih menyender di bahunya. Seolah ada debaran energi yang benar-benar tersalurkan.
Mereka tak takut lagi berdekatan di tempat itu karena keluarga Arga selalu menyewa tempat khusus di rumah sakit itu dimana privasinya terjaga ketat. Bahkan perawat dan dokter pun tak bisa sembarangan masuk.
"Makasih ya sayang, kamu selalu memberikan energi positif untukku. Aku tidak sabar jika perceraianku sudah beres nanti aku ingin kita segera menikah"
'menikah?' begitu enteng kalimat itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Arga. Selama ini tak pernah Arga membahas hubungan mereka bahkan sampai ke jenjang pernikahan.
Kasih tahu bahwa Arga sangat mencintainya. Namun mengatakan hal itu di tempat dan momen seperti ini tentunya agak aneh.
Bukankah ucapan Arga itu seperti halnya melamar Kasih? Tiba-tiba saja jantung Kasih terasa berdebar hebat. Tubuhnya bahkan terasa seperti ada aliran listrik yang menjalarinya. Apalagi saat mendengar deru nafas Arga yang semakin menambah getaran hebat dalam dirinya.
Antara senang sekaligus takut. Wanita mana yang tidak senang mendengar kekasihnya menyatakan keseriusan hubungannya. Namun dia takut jika hubungan ini terjalin terlalu cepat akan menimbulkan masalah baru.
"Kasih?" panggil Arga pelan.
"Emmm... I-iya Mas," Kasih tergagap.
"Kamu dengar kan ucapan saya barusan?"
"i-iya.."
__ADS_1