Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 96 Akhirnya terungkap


__ADS_3

Arga begitu geram dan kecewa dengan kata-kata yang dilontarkan neneknya kepada Kasih.


Bahkan dia tak henti-hentinya meminta maaf dan memeluk Kasih di mobil. Arga benar-benar merasa bersalah telah mempertemukan pujaan hatinya dengan neneknya yang seperti nenek lampir itu.


"udah mas, nggak papa kok. Aku maklumi aja mungkin memang aku nggak sesuai dengan kriteria nenek." ujar Kasih berusaha terlihat biasa.


"nggak sayang, aku nggak bisa biarin nenek lukai perasaan kamu. Kamu adalah berlianku yang paling berharga. Bahkan aku nggak bisa biarin kamu tergores sedikit saja. Maaf banget ya" ujar Arga sembari mengecupi pipi Kasih.


"Iya sayang, makasih ya udah jadiin aku wanita paling spesial kamu." Kasih menatap Arga.


"Apapun, bahkan nyawa sekalipun aku berani pertaruhkan buat kamu sayang." Arga menautkan keningnya agar menempel dengan Kasih.


Perlahan, Kasih mulai mendekatkan bibirnya dan mencium Arga dengan begitu lembut. Membiarkan perasaannya mengalir. Meluruhkan emosi yang ditahan sejak tadi.


"i love you" bisik Kasih disela-sela ciumannya.


" i love you too, baby" balas Arga dengan ciumannya yang semakin membara. Kini Aega mengangkat tubuh Kasih hingga berada di pangkuannya. Mereka saling berciuman hingga hampir kehabisan nafas.


"pokoknya apapun yang terjadi aku hanya akan mencintaimu. Seberat apapun rintangannya kita akan melewatinya bersama, mau kan?" ujar Arga.


Kasih pun mengangguk. Dia mengusap lembut pipi Arga dan kemudian mengecupnya lagi.


"Udah yuk pulang. Nggak enak ini masih di halaman rumah papa" ujar Kasih yang dibalas tawa oleh Arga.


...****************...


Aryo terus memikirkan cara agar Kasih mengetahui tentang dirinya. Kali ini dia tak ingin menunggu Alvin lebih lama lagi. Aryo ingin segera bertemu Kasih sebagai seorang ayah dan putrinya.


Hari ini adalah jadwal pertemuan Aega dan Kasih dengan Aryo, namun Arg yang ada urusan mendadak akhirnya hanya diwakilkan oleh Kasih.


Kasih berangkat menuju kediaman Aryo yang memang sebelumnya mereka sudah melakukan meeting di sana. Dengan diantar oleh sopir Kasih oun sampai di kediaman itu.


Sambutan hangat para karyawan membuat Kasih merasa senang. Namun pertemuan kali ini mereka lakukan di ruang kerja Aryo.


"Nona, silahkan ditunggu di sini dulu. Pak Aryo akan segera datang." ucap salah satu asisten Aryo.

__ADS_1


Kasih pun mengangguk dan menurutinya. Dia duduk di sofa ruangan itu. Namu lima belas menit berlalu Aryo tak kunjung datang.


Akhirnya Kasih mencoba untuk melihat-lihat berbagai macam foto yang terbingkai di atas cabinet. Dia memperhatikan foto-foto itu yang sepertinya adalah masa muda Aryo.


Namun ada satu foto Aryo bersama seorang perempuan.


Kasih memperhatikan foto tersebut dengan seksama. Sepertinya dia tak asing dengan wanita yang ada di foto tersebut. Bahkan bisa dibilang wanita itu tampak sangat mirip dengan Kasih.


Di sebelah bingkai foto itu terdapat sebuah album foto yang bertuliskan inisial huruf H bergaya latin.


Kasih sebenarnya ragu namun dia penasaran dengan itu. Akhirnya dengan tangan sedikit gemetar Kasih memberanikan diri membuka album foto tersebut.


"Semoga Pak Aryo tidak marah karena kelancanganku." gumam Kasih dalam hati.


Kasih melihat potret seorang wanita tadi yang dirasa mirip dengannya. Ada tulisan tangan di bawahnya.


"Hana" Kasih membaca tulisan itu. Mungkin saja wanita itu bernama Hana.


Tapi nama itu seolah tidak asing untuk Kasih. Itu nama ibunya tapi mungkin kebetulan hanya mirip saja dengannya.


Kemudian Kasih kembali membalik lembar album berikutnya. Terdapat foto masa muda Aryo dan wanita itu yang sedang menggendong bocah laki-laki. Kasih tersenyum melihat potret keluarga itu.


Kasih kembali menyusuri setiap foto tersebut. Kini wajah bocah kecil tersebut tampak lebih jelas saat fotonya yang dipangku seorang wanita.


Namun saat diperhatikan sepertinya Kasih tak asing dengan bocah itu. Ada tulisan kecil dibawah foto itu.


"Hana and Alvin" Alvin? Lagi-lagi Kasih dibuat tercengang membaca nama itu.


Kasih teringat akan foto masa kecil Alvin yang diambilnya saat di Surabaya. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan mencari foto masa kecil kakaknya.


Kasih membandingkan kesamaan kedua foto itu dan tubuhnya gemetar seketika.


Belum sempat Kasih bereaksi tiba-tiba Aryo sudah masuk ke dalam ruangan utu.


Kasih yang terkejut bahkan tak sengaja menjatuhkan album foto yang dipegangnya.

__ADS_1


"Ma-maaf Pak Aryo saya..." tapi ucapannya terhenti seketika saat melihat Alvin yang berjalan di belakang Aryo.


"K-kakak?"


"Kasih?"


Kedua saudara itu hanya bisa saling terkejut. Tak menyangka bertemu di rumah orang yang bahkan masih sangat asing untuk Kasih.


"Kasih, kamu sudah melihatnya nak? Cantik sekali kan mamamu" ujar Aryo mengambil album foto yang terjatuh di lantai. Dia menatap foto wanita itu sambil mengulas senyum.


"A-apa maksudnya ini? Kak jelaskan." Kasih yang bingung hanya bisa menatap Alvin dan Aryo bergantian.


"Kasih, maafkan Kakak dek, kakak sudah menyembunyikan suatu hal besar padamu." Alvin rasanya tercekat ingin bicara.


"Pak Aryo ini adalah papa kandungmu Kasih." ucap Alvin lirih.


DEGG..


Waktu rasanya berhenti selama beberapa detik. Otak Kasih bahkan terasa kosong setelah mendengarkan ucapan Alvin. Blank dan tak ada yang ingin diperbuat.


Detak jantungnya bahkan berpacu lebih keras. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Kasih. Hanya air mata yang entah bagaimana bisa menetes dengan sendirinya.


Tiba-tiba rasa mual mulai terasa di tubuh Kasih. Tapi sekuat tenaga dia menahannya. Mungkin ini karen pikiran Kasih yang seolah sedang terpacu adrenalinnya.


"Kasih, maafkan Kakak." Akhirnya Alvin menceritakan semua yang terjadi diantara keluarga mereka. Awalnya Kasih sangat terkejut tapi itulah adanya. Ternyata Kasih masih memiliki seorang ayah. Dia tak benar-benar yatim piatu.


"Kakak takut kamu akan membenciku Kasih, karena ayahku adalah orang yang membunuh mama kita" Alvin menunduk. Tak kuasa menunjukkan wajahnya kepada Alvin.


Namun respon kasih justru sebaliknya. Dia langsung meraih tubuh jangkung kakaknya dan memeluknya dengan erat.


"Apapun yang terjadi itu sama sekali tak mengurangi rasa sayangku kepada Kakak. Kamu tetap Kakak terbaikku sampai kapanpun" Kasih semakin mengeratkan pelukannya kepada Alvin.


"Kakak juga sangat menyayangimu Kasih, kakak hanya tidak ingin berpisah denganmu lagi. Kakak tidak sanggup" Alvin kini menangis semakin terisak.


"Siapa bilang bakalan pisah, kita akan bersama selalu kak" Kasih meyakinkan.

__ADS_1


Sementara Aryo yang melihat Alvin dan Kasih ikut terharu. Dia bahkan ikut menitikkan air matanya. Tak disangka seorang anak dari wanita tercintanya kini sudah dewasa.


"Hana, kamu pasti senang sekarang melihat anak-anakmu tumbuh menjadi sosok yang sangat cantik dan tampan. Aku berjanji akan menjaga dan membuat mereka bahagia. Seperti janji yang kita buat dulu. Cintaku"


__ADS_2