
Asap terus mengepul dari dalam panci yang kini telah kosong dan menghitam sebab airnya sudah habis. Aroma gosong itu sampai menyeruak hingga keluar dapur.
Arga baru saja selesai mandi dan langsung berlari ke dapur.
"Astaga Kasih, itu pancinya gosong" cepat-cepat Arga mematikan kompor dan menarik Kasih keluar dapur. Takut jika terjadi sesuatu kepada tunangannya.
Sementara Kasih yang sejak tadi melamun langsung tersadar oleh tindakan Arga.
"Oh, ya Ampun. Maaf mas tadi-tadi aku merebus air mau buatin kopi." Kasih panik seketika.
Arga langsung meraih tubuh Kasih dan memeluknya. Mengusap lembut kepala Kasih agar dia menjadi lebih tenang.
"kamu nggak papa sayang?" tanya Arga dengan suara lembut.
Kasih menggeleng pelan. Dia masih menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Arga. Memproses segala pikirannya yang tengah kacau.
"Maaf.. Aku hampir membakar apartemen mas" ucap Kasih lirih.
Arga menatap wajah sendu Kasih dan mengecup keningnya. Sama sekali pria itu tak marah.
"Sini"
Arga menarik tangan Kasih dan memintanya duduk di atas pangkuannya. Kasih pun menurutinya.
"Ceritakan, ada masalah apa sayang?" ucap Arga dengan nada lembut.
Kasih masih terdiam dan menunduk. Tapi usapan lembut di punggungnya memberikan sedikit keberanian untuknya.
"Mas Arga pernah.. Berantem sama saudara?" ucap Kasih lirih.
"Pernah, kenapa?" tanya Arga lagi.
Kasih menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa ingin bicara saja lidahnya jadi terasa kelu.
"Kamu berantem sama Alvin?" pertanyaan itu langsung muncul dari mulut Arga.
Kasih langsung menatap wajah Arga yang tampak begitu teduh. Kemudian dia mengangguk pelan.
Belum apa-apa air mata Kasih sudah menggenang dan siap mengalir. Arga sadar akan kekalutan yang dirasakan Kasih sehingga dia kembali memeluknya dan membiarkan kepala Kasih bersandar di bahunya.
"Bertengkar dengan saudara itu wajar. Namanya juga manusia, beda pendapat dan adu argumen itu pasti pernah dialami karena isi kepala setiap manusia tidaklah sama." ujar Arga.
"Tapi alangkah lebih baik kalau segera diselesaikan sayang, nggak baik diem-dieman lama. Apalagi dengan kakak sendiri. Harus ada yang mengalah dan menurunkan egonya." imbuhnya.
Kasih mendengarkan betul-betul ucapan Arga. Ada benarnya juga, saling diam terlalu lama itu tidak baik. Begini saja Kasih sudah khawatir dengan keadaan kakaknya.
"iya mas, aku juga sadar mungkin ucapanku yang berlebihan jadi membuat kakak tersinggung." kini Kasih sudah menegakkan kepalanya kembali. Dia mengusap sisa air matanya.
"Gitu dong, ini baru kesayangan mas" Arga mencubit pelan dagu Kasih.
"Tapi aku nggak mau pulang dulu. Boleh kan mas aku nginep disini?" ucap Kasih.
__ADS_1
"Tentu saja sayang, mas malah seneng banget ditemani kamu." Arga tak henti-hentinya mengecupi pipi Kasih dengan gemas.
...****************...
Ratna menggeliat pelan saat merasakan silau sebab sinar matahari yang semakin terik menembus tirai putih transparan yang terpasang di jendela kamarnya.
Kepalanya masih terasa begitu pusing. Namun yang lebih terasa berat lagi adalah tubuhnya yang seolah ditindih sesuatu.
Ratna merasakan hembusan nafas teratur menerpa lehernya. Pelan-pelan dia membuka mata dan mencoba untuk menggerakkan badannya.
Namun saat dia mengedarkan pandangannya yang terlihat adalah seorang pria tengah tidur sambil mendekap tubuhnya.
Ratna mengernyitkan keningnya. Jelas sekali bahwa pria itu bukanlah Alvin. Lalu dengan pelan dia mencoba untuk sedikit mengangkat wajah pria itu. Dan Ratna langsung terkejut saat melihatnya.
"Jody?" pekik Ratna.
Sementara Jody yang merasakan pergerakan juga suara Ratna memanggilnya perlahan mulai membuka mata.
Dia mendongak dan menatap wajah Ratna yang sedang memicing. Betapa cantik wajah wanita yang baru bangun tidur itu.
Namun kesadarannya langsung kembali saat itu juga. Jody segera mengalihkan pandangan dari Ratna namun belum beranjak dari sisinya.
"S-sorry Ratna, aku ketiduran disini. Semalam mau pulang tapi-" Jody memutuskan ucapannya.
"Kenapa?" tanya Ratna penasaran dengan jawaban Jody.
"Kamu tidak ingat sama sekali?" Jody balik bertanya. Ratna pun menggelengkan kepalanya.
Tapi tampaknya Ratna masih bingung. Kemudian dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Lalu melihat sendiri pakaiannya yang masih lengkap. Bahkan stoking yang dia kenakan masih melekat rapi di kaki jenjangnya.
Sementara Jody juga masih memakai baju yang dipakai semalam. Hanya saja kini dia melepas hoodienya dan menyisakan kaos putih polosnya.
"Apa.. Kita melakukan 'itu'?" tanya Ratna tiba-tiba.
"Melakukan apa? Kita hanya tidur semalaman. Tubuhmu saja sangat lemah hingga harus menggendong mu dari basemen. Lagi pula kamu sedang tidak sadar, mana mungkin aku melakukan sesuatu padamu Ratna." Jody terkekeh pelan.
Ratna langsung lega saat Jody menjelaskannya. Pria itu tampak berbeda.
Pembawaannya yang begitu tenang dan tak mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti kebanyakan pria lainnya membuat Ratna sedikit tertegun.
"Terimakasih Jody" ucap Ratna lirih.
"Buat apa?" tanya Jody.
"Sudah membantuku selama ini" ujar Ratna.
"it's okay Ratna. Selama aku bisa pasti akan membantumu." Jody bangkit dari tidurnya lalu diikuti dengan Ratna.
Saat begini barulah dia sadar jika di luar sepertinya sudah siang. Dia melirik jam di nakas yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
"Hah? Sudah jam sebelas siang?" pekik Ratna.
__ADS_1
Untung saja saat ini hari Minggu jadi Ratna tak perlu repot-repot pergi ke kantor.
Saat Ratna hendak beranjak dari ranjang tiba-tiba Jody mencegahnya. Dia sedikit bingung dengan sikap Jody.
"I love you, Ratna" ucap Jody tiba-tiba.
"H-hah?" Ratna sangat terkejut dengan ucapan Jody hingga dia seperti linglung sendiri.
"A-apa maksudnya?" tanya Ratna.
"Ratna, mungkin ini sedikit konyol aku mengatakannya sekarang tapi perasaanku tak bisa ditahan lagi. Aku menyukaimu Ratna. Sungguh aku jatuh cinta kepadamu apalagi saat kamu menciumku di club semalam." Jody akhirnya mengungkapkan perasaannya.
"T-tapi Jody.." Ratna masih tercekat saat ingin mengatakannya.
"Kamu nggak perlu menjawabnya sekarang Ratna. Aku tahu ini sangat mendadak dan kamu mungkin masih sangat terkejut. Tak masalah sekarang kamu belum memiliki perasaan apapun kepadaku tapi... Tapi ijinkan aku menunjukkan bahwa aku layak untukmu." ucap Jody penuh keseriusan. Bisa terlihat dari sorot matanya yang tak goyah sedikitpun.
Ratna hanya bisa terdiam. Dia masih sangat sulit mencerna semua ini. Bagaimana bisa disaat perasaannya sedang campur aduk memikirkan Alvin justru kini malah datang cinta dari Jody.
Ratna merasa ini semua masih terlalu abu-abu. Bahkan memikirkan untuk menjalin sebuah hubungan saja tampaknya belum tercatat di benaknya.
Ah, kenapa urusan cinta jadi serumit ini?
...****************...
"Aww.. ****..." Alvin terus mengumpat saat tangannya terciprat minyak panas. Dia mencoba untuk menggoreng telur ceplok tapi sejak tadi minyaknya terus meletup-letup keluar.
Sebenarnya bisa saja dia memesan makanan seperti saat dulu belum tinggal dengan Kasih.
Namun karena saat ini hari Minggu dan tidak ada kegiatan akhirnya Alvin mencoba untuk mencari kegiatan baru dengan memasak sendiri.
Rupanya memasak tidak semudah yang dia lihat. Dia baru sadar jika keberadaan Kasih terasa begitu penting.
Bagaimana gadis itu begitu cekatan memasak setiap hari belum lagi disibukkan dengan pekerjaannya.
Alvin merenungkan segala kesalahannya kemarin yang telah kasar terhadap Kasih. Pasti adiknya itu sangatlah sedih dan kecewa.
Meski begitu Alvin mencoba untuk menghalau perasaannya dan meneruskan kegiatan memasaknya. Namun saat mengiris sayuran fokusnya terbagi sehingga tak sengaja pisaunya mengenai jari tangannya.
"Aww.. Sial.." umpat Alvin. sebenarnya bukan karena rasa sakit akibat goresan pisau tersebut namun karena kegalauannya memikirkan Kasih.
Tak terasa mata Alvin berkaca-kaca sendiri. Dia teramat merindukan adiknya itu.
"Kakak pelan-pelan dong, tuh berdarah kan jadinya." suara perempuan itu bahkan terasa begitu nyata saking Alvin merindukannya.
Namun saat Kasih menyentuh tangan Alvin dan mengobatinya barulah Alvin benar-benar sadar bahwa kini adiknya telah kembali.
"Kasih?" ucap Alvin tak percaya.
Kasih yang selesai memplester jari tangan Alvin langsung memeluknya. Alvin pun balas memeluknya pula.
"Kakak maafkan aku... Aku sayang kakak. " ucap Kasih sambil mendekap erat tubuh Alvin.
__ADS_1
"Kakak juga minta maaf" ujar Alvin dengan penuh haru.