Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 99 Rahasiakan dulu


__ADS_3

Tangan Kasih gemetar saat memegangi alat tes kehamilan tersebut. Tubuhnya langsung merosot ke lantai.


Satu masalah belum kelar kini timbul masalah baru lagi. Kasih masih sulit mencerna semua ini.


Tapi sejujurnya hati kecilnya pun bahagia ketika tahu ada kehidupan baru di dalam perutnya. Hanya saja dia masih takut apakah Arga mau menerima semua ini atau justru pria itu malah tak mau menerimanya seperti Felix dulu.


Setengah jam sudah dirinya merenung di dalam kamar mandi sembari menatap benda yang menunjukkan dua garis merah itu.


Akhirnya Kasih memutuskan untuk merahasiakan hal ini dulu dari semua orang. Dia ingin fokus terhadap pekerjaannya serta memperbaiki diri dengan Aryo, papanya.


Dengan mengumpulkan seluruh tenaga dan pikirannya dia mencoba untuk fokus dan berangkat ke kantor. Karena hari ini ada cukup banyak pekerjaan menantinya.


Seperti biasa Alvin pun mengantarkan Kasih ke kantornya. Namun kali ini dia ingin menemui Arga dahulu karena ada sesuatu hal yang harus di bicarakan.


Alvin dan Kasih berpisah saat berada di ruangan Kasih. Seperti biasa kakak beradik itu selalu tampak rukun dan saling menyayangi. Tak jarang mengundang decak kagum bagi para staf.


Ketika hendak ke ruangan Arga tak sengaja Alvin menabrak seorang wanita.


BRRAKKK..


Beberapa berkas yang di bawa wanita itu jatuh berserakan di lantai. Alvin dengan segera langsung membantu wanita tersebut.


"Maafkan aku nona.." ucap Alvin.


"Gimana sih.. Jalan tuh pakai mat-" belum sempat Laura meneruskan ucapannya dia langsung terdiam saat melihat sorot mata Alvin.


Laura seketika terpesona dengan ketampanan Alvin. Pria itu memang memiliki pesona yang tak jauh beda dengan Arga.


"Nona apa ada yang sakit?" Alvin mencoba untuk membantu Laura berdiri.


Sementara Laura hanya bisa bangkit dengan tatapan linglung. Terus menatap Alvin tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.


"Saya Alvin, maaf sudah menabrak anda." ujar Alvin sembari mengulurkan tangannya.


"L-Laura.." jantung Laura berdebar begitu keras. Tak pernah dia merasa seperti ini saat bertemu seorang pria.


Karena melihat Laura yang tampak baik-baik saja Alvin pun permisi meninggalkan Laura.


"Ya Tuhan, makhluk tampan dari mana itu? Jelas-jelas dia sangat mempesona." gumam Laura dengan hatinya yang membuncah.


Alvin langsung menemui Arga di ruangannya. Sejak kemarin dia memang sudah bilang ingin membicarakan sesuatu hal penting dengannya.


"Selamat Pagi, Pak" sapa Alvin. Dia tetap profesional meski status Arga sebentar lagi adalah adik iparnya.


"Halo Alvin, silahkan. Aku sudah menunggumu sejak tadi." ujar Arga.


Mereka berdua pun duduk di sofa dengan dua cangkir kopi yang sengaja di siapkan Arga untuknya.

__ADS_1


"Ada apa, tumben sepertinya serius." tanya Arga sembari menyeruput kopinya.


"Begini, aku mau resign dari perusahaan ini." ujar Alvin sedikit ragu.


Arga sempat tersentak. Untung saja kopi yang dia minum tak sampai membuatnya tersedak.


"Loh, kenapa? Ada apa? Gajinya tidak cocok atau lingkungan kerjanya yang tidak nyaman. Katakan ada keluhan apa Alvin, biar ku perbaiki." tampak Arga merasa bingung.


"No, everything is totally okay. Aku tidak masalah dengan perusahaan ini. Semua baik saja namun aku ingin fokus mengurus usaha keluarga saja." sanggah Alvin.


Arga pun sempat terdiam beberapa saat. Bagaimanapun Alvin adalah staf terbaiknya, dia bahkan menganggap Alvin seperti saudaranya sendiri.


"Oh, begitu. Baiklah kalau itu keputusanmu aku bisa apa. Tapi apakah itu sudah dipikirkan matang-matang?" tanya Arga kembali.


Alvin pun mengangguk.


"Ya, tapi jika kamu butuh sesuatu aku akan dengan senang hati membantumu." ujar Alvin dengan mengulas senyumnya.


"Tentu, karena sebentar lagi kamu akan jadi kakak iparku. Jadi jangan rewel jika adikmu ini meminta banyak hal" Arga pun terkekeh.


Meski merasa berat Arga tetap harus menghormati keputusan Alvin. Baginya Alvin adalah sosok penting bagi perusahaan ini. Dia telah membantu Aega sejak perusahaannya yang masih start up hingga sebesar ini.


Keduanya pun saling berpelukan. Menyemangati serta menahan haru dalam hati.


"Oke, aku akan tetap menyelesaikan pekerjaanku hingga Gala nanti. Sambil mempersiapkan penggantiku." ujar Alvin.


"Hei Kau menangis?" tanya Alvin saat melihat air mata di sudut netra Arga.


"Tidak, ini hanya kena radiasi HP. Kau sendiri menangis juga? Matamu merah" elak Arga.


"Bukan, ini bawaan lahir." dengan gengsinya Alvin mengelak.


...****************...


Kasih sedang fokus mengerjakan beberapa persiapan Gala. Dia sudah selesai dengan vendor serta catering yang dipesan khusus sesuai kesukaan Arga.


Kini tinggal beberapa persiapan lain. Beruntung dengan kondisinya saat ini dia masih bisa bekerja dengan baik. Meski beberapa saat dia harus bolak balik toilet karena mual.


Jika seperti ini dia mulai merindukan Ratna, sahabat yang bisa dibilang rekan paling dekat di kantornya. Dia harus merelakan Ratna yang lebih dahulu resign dua minggu yang lalu.


Meski begitu Kasih belum tahu rencana Alvin tentang pernikahan itu. Yang Kasih tahu Ratna akan menikah dengan Jody.


Barus saja dari toilet Kasih melihat Laura yang tampak beda. Gadis itu tampak senyum-senyum sendiri sambil melamun.


Kasih sengaja membiarkannya. Mengajak bicara wanita itu malah nantinya membuat Kasih sewot sendiri. Dia harus menjaga dirinya dan moodnya.


Laura yang tersadar dari lamunannya pun kini kembali menjalankan aksinya mengganggu Kasih.

__ADS_1


"Kasih, cewek-cewek jaman sekarang banyak jadi sugar baby ya. Menurut lo itu etis nggak sih. Kan kebanyakan mereka selalu nyasar om-om beristri. Eh kadang juga masih mas-mas." sindir Laura.


Kasih pun sedikit tersentak. Namun sebisa mungkin dirinya harus tampak tenang.


"Bukannya gangguin suami orang itu namanya pelakor ya?" sindir Laura lagi.


Kasih menghela nafas dan hendak menjawab Laura. Namun tiba-tiba Arga memasuki ruangan Kasih dan langsung memeluk wanita itu dari belakang.


"Sayang, makan siang di resto kesukaan aku ya." Arga memeluk dan mencium puncak kepala Kasih seolah tak peduli dengan keberadaan Laura.


"Ehmmm.. Aku nggak diajak sekalian nih? Ikut dong" rengek Laura.


Arga pun menoleh Kasih, dia minta persetujuannya dulu. Kasih pun akhirnya memperbolehkan.


Akhirnya tiba waktu makan siang. Ketiganya berangkat ke restoran kesukaan Arga. Sambil Menunggu masakan datang Arga dan Kasih pun mengobrol.


Laura sejak tadi berusaha menandingi setiap ucapan Kasih hingga membuat Arga geli sendiri. Saat itu pula Arga semakin menunjukkan kemesraannya kepada Kasih.


Bahkan Arga tanpa sungkan-sungkan menyuapi Kasih dan menciuminya. Hingga membuat Laura jengkel sendiri.


"Sayang, nanti aku mau nonton. Ada film yang udah aku tunggu banget. Tapi berdua aja ya" ujar Kasih tiba-tiba.


"As you wish sayang, nanti aku jemput ta." ujar Arga.


"Eh nonton dimana sih?" tanya Laura tiba-tiba.


"Di bioskop X" balas Kasih.


Laura pun diam-diam langsung menyusun rencana untuk mengganggu kencan keduanya.


"lihat aja, bakal gue ganggu kalian." Laura tersenyum licik dalam hati.


.


Sore tiba, Arga pun bersiap-siap menjemput Kasih untuk menonton ke bioskop. Dia langsung berangkat ke apartemen Alvin.


Sampai di sana Arga justru heran melihat Kasih yang justru memakai pakaian santai rumahan.


"Loh, sayang katanya mau nonton?" tanya Arga heran.


Kasih pun hanya tersenyum dan menarik lengan aega menuju ruang tengah dimana sudah ada televisi yang menyala serta beberapa minuman dan snack.


"Netflix and Chill... Kita nonton disini aja biar gak ada yang ganggu oke" Kasih mengulas senyum lebarnya.


Arga langsung tahu maksud Kasih. Dimana dia hanya ingin mengecoh Laura. Dan benar saja gadis itu kini sedang berada di depan bioskop mencari keberadaan Kasih dan Arga.


"Dasar nakal kamu ini, sayang" ujar Arga sambil tertawa.

__ADS_1


__ADS_2