
Arga terus berlari mengejar pria itu hingga keluar restoran. Sementara Alvin menyusulnya di belakang.
Untung saja tenaga Arga cukup kuat hingga mampu menangkap dan melumpuhkan pria itu.
"Arghh ampun.. Ampun.." pria itu memekik ketika Arga langsung melayangkan bogem mentah di wajahnya.
"Pak Arga.. Dia.. harus kita apakan?" Alvin yang baru menyusul tampak ngos-ngosan mengatur nafasnya.
"Hubungi orang-orang dan bawa ke markas." ujar Arga.
Pria itu tampak ketakutan apalagi saat Arga dan Alvin menatapnya nyalang.
Sementara Kasih yang masih berada di dalam restoran pun hanya bisa terisak ketakutan sendirian. Ingatan tragis masa lalunya itu kembali terngiang di kepalanya. Betapa trauma itu telah menguasai pikirannya.
Ratna yang awalnya enggan ikut campur menjadi tidak tega saat melihat Kasih. Akhirnya dia meminta ijin kepada Jody dan langsung menghampiri Kasih.
"Kasih, ada apa? Kamu baik-baik saja?" Ratna langsung memeluk Kasih. Sementara Kasih hanya terisak.
Tak tega melihat keadaan Kasih akhirnya Ratna berinisiatif untuk mengantarnya pulang. Sebelum itu dia menelepon Alvin dan memberitahu bahwa Kasih diantar ke apartemennya.
Alvin dan Arga masih sibuk mengurus pria tadi sehingga Ratna langsung diijinkan untuk mengantar Kasih.
Jody turut mengantar Ratna dan Kasih. Dia yang menyetir sedangkan Ratna menemani Kasih di kursi belakang.
Kasih masih tampak terguncang. Bahkan berkali-kali Ratna bertanya tak dijawab olehnya. Akhirnya Ratna pun diam dan hanya berusaha menenangkannya.
Saat tangisan itu sedikit mereda Kasih akhirnya mau bicara.
"S-sebenarnya tadi Mas Arga dan Kak Alvin Mengejar pria itu." ucapan Kasihasih terputus-putus.
"Memangnya ada apa dengan pria itu Kasih?" tanya Ratna.
"Dia.. Pria itu..." bibir Kasih terasa berat saat mengatakannya.
"Dia kenapa Kasih?" Ratna yang tidak sabaran pun terus mendesak Kasih.
"Pria itu yang memperkosaku dulu" tangis Kasih kembali pecah saat mengatakannya.
CCCIIIIITTTT...
Tiba-tiba saja Jody mengerem mobilnya hingga membuat Kasih dan Ratna hampir tersungkur ke depan.
"Ada apa Jody?" pekik Ratna.
"Oh, maaf Ratna. Aku hanya terkejut mendengar teman kamu. Maaf.." Jody pun kembali melanjutkan menyetirnya.
Pengakuan Kasih memang tak hanya mengejutkan Jody, namun Ratna pun ikut terkejut sekaligus kasihan. Tak Menyangka bahwa Kasih rupanya pernah mengalami masa lalu yang kelam.
Kini yang bisa dilakukan Ratna adalah memeluk dan menenangkannya. Padahal sebelumnya Ratna tak pernah sepeduli ini dengan orang lain.
__ADS_1
Namun sejak pertama kali bertemu Kasih dia merasa bahwa gadis itu selalu menggugah hatinya.
"Sudah jangan menangis terus, sebentar lagi kita sampai rumah. Kamu segera istirahat ya" ucap Ratna lembut.
Sementara Jody yang diam-diam memperhatikan Ratna pun dibuat semakin kagum. Dia yakin bahwa Ratna adalah wanita yang mempunyai hati yang mulia.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di apartemen Alvin. Ratna dan Jody Mengantar Kasih sampai ke dalam.
"Jody, maaf kamu tunggu di sini dulu ya. Aku mengantar Kasih ke kamarnya dulu supaya istirahat." ujar Ratna mempersilahkan Jody untuk menunggu di ruang tamu. Dia memperhatikan Ratna yang tampak sudah terbiasa dengan tempat itu. Seperti saat Ratna mengantar Kasih kemudian pergi ke dapur membuatkan minuman untuk Kasih dan dirinya.
Kasih sedang ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian sehingga Ratna menemui Jody terlebih dahulu karena merasa tidak enak sudah merepotkannya.
"Jody, terimakasih ya sudah repot-repot mau mengantar temanku." ucap Ratna.
"Iya tidak apa-apa Ratna. Sepertinya temanmu juga sedang butuh bantuan. Oh iya, kalian sepertinya sudah sangat akrab ya. Aku lihat kamu tampak sudah biasa dengan tempat ini." ucap Jody.
"Eh.. Iya.. Maksudku, aku beberapa kali kesini." ucap Ratna sedikit tergagap.
Jody pun mengangguk-angguk kemudian memperhatikan setiap sudut ruang tamu apartemen itu. Dia menemukan sebuah foto Kasih dan seorang pria yang merangkulnya.
"Apa ini pacarnya?" tanya Jody sambil menatap Foto itu.
"Oh, itu kakaknya. Dia tinggal dengan kakaknya di apartemen ini." jawab Ratna.
Entah kenapa Ratna jadi kelimpungan sendiri dengan pertanyaan Jody yang berkaitan dengan Alvin. Akhirnya dia meminta ijin untuk melihat Kasih di dalam. Jody pun mengijinkannya.
Tampak Kasih yang sedang duduk termenung di pinggiran ranjang sambil menatap nanar jendela kamarnya. Sepertinya dia masih syok dan bersedih atas kejadian yang baru menimpanya.
Kasih menerima cangkir tersebut namun tak langsung meminumnya.
"Apa kakak dan Mas Arga belum kesini?" tanya Kasih lirih.
"Belum, mungkin mereka masih mengurus sesuatu. Aku akan disini sampai mereka kembali" ucap Ratna.
Kasih hanya diam dan menunduk. Tampak tubuhnya yang ringkih serta bahunya yang tampak kuyu menunjukkan betapa lemahnya gadis itu. Namun dia sudah mendapatkan banyak cobaan dalam hidupnya. Tiba-tiba saja air mata keluar membasahi pipi Kasih. Dia teringat akan masa lalunya dan membuat hatinya kembali bersedih.
Ratna mengusap bahu Kasih, mencoba untuk memberinya ketenangan.
"Kasih, sudah ya jangan sedih lagi. Pak Arga dan Alvin pasti akan selalu menjagamu." ujar Ratna pelan.
"Aku teringat dengan masa laluku mbak, hidupku sebelumnya sangat kelam. Aku sangat takut bertemu orang-orang yang sudah menyakitiku."
Ratna hendak menjawab ucapan Kasih namun tiba-tiba saja dia mendengar suara derap langkah yang menuju tempatnya.
"Kasih.. Kasih.." suara itu terdengar panik dan Ratna sangat tahu siapa yang datang sehingga dia langsung beranjak dari tempat Kasih.
Arga yang baru saja datang langsung memeluk Kasih dengan erat. Tampak sekali ekspresi kekhawatiran di wajahnya.
Di saat yang sama tampak Alvin yang datang dengan ekspresi yang sangat-sangat frustasi. Dia memasuki apartemennya dengan langkah gontai.
__ADS_1
Dia sempat melihat keberadaan Jody sebentar lalu mengabaikannya.
"Arga kenapa lo nggak bilang kalau Kasih pernah di perkosa?" suara itu kemudian menggelegar di ruangan itu hingga membuat semua orang terkejut.
Ratna yang hendak menghampiri Jody sempat terpaku melihat Alvin.
Arga yang mendengar suara Alvin langsung datang menghampirinya.
"Alvin, tenangkan pikiran mu dulu" ujar Arga.
"Mana bisa gue tenang sedangkan Adikku sudah dilecehkan orang dan aku tidak tahu. Bagaimana aku bisa tenang ketika aku gagal menjadi seorang kakak untuknya" ujar Alvin frustasi.
Karena keadaan apartemen itu tampak tidak kondusif akhirnya Ratna meminta Jody untuk pulang lebih dulu.
"Jody maaf sekali, aku tidak bisa ikut denganmu. Kita tunda dulu acara malam ini ya?" ucap Ratna.
"Iya Ratna, aku tidak apa-apa. Sepertinya mereka sedang membutuhkanmu. Aku permisi ya" Jody pun akhirnya pergi meninggalkan apartemen itu.
Sementara Arga dan Alvin masih bersitegang. Akhirnya Ratna pun menghampiri mereka.
"Pak Arga, Alvin sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk berdebat. Lihatlah Kasih, dia masih sangat terguncang. Tolong tenangkan dia dahulu" ujar Ratna melerai keduanya.
Arga pun akhirnya mengangguk dan segera menuju kamar Kasih. Alvin yang frustasi langsung pergi menuju balkon. Dia duduk di lantai sambil menekuk lututnya. Merenungi semua masalah yang telah terjadi.
"Vin, lo tenangin diri dulu ya" Ratna mengusap lembut lengan Alvin.
Alvin menatap Ratna dengan tatapan nanar. Terlihat sekali kesedihan yang tergambar dalam benar pria itu.
"Gue merasa gagal jadi kakak, dan gue gak sanggup menghadapi Kasih Rat" gumam Alvin lirih.
"Vin, semua orang pasti punya masalah. Tapi kejadian ini berlangsung sebelum lo menemukan dia. Jadi sekarang tugas lo adalah melindungi Kasih, jangan sampai kejadian buruk menimpanya lagi." Ratna mencoba untuk memberi pengertian Alvin.
Alvin tampak terdiam sejenak. Kemudian dia menatap Ratna dengan penuh arti.
"Thanks ya Ratna, ucapan lo benar sekali. Sekarang gue akan selalu menjaga Kasih." Alvin mengusap lembut pipi Ratna.
Sementara Ratna hanya bisa mengulas senyum saat melihat Alvin yang lebih tenang.
Entah siapa yang memulai, tahu-tahu wajah keduanya kini sudah sangat dekat. Hampir tak ada jarak, dan sedetik kemudian mereka saling berciuman.
Bibir mereka saling beradu seolah menumpahkan segala isi hati masing-masing. Ciuman itu semakin lama semakin dalam hingga membuat keduanya hampir kehabisan nafas.
Alvin dan Ratna sama-sama tersengal. Kemudian Alvin menatap Ratna dengan lekat.
"Malam ini disini aja ya" bisik Alvin lirih.
Ratna yang awalnya sempat terbuai kini segera sadar. Dia langsung memundurkan tubuhnya dan mengalihkan pandangannya dari Alvin.
"Sorry Vin, gue nggak bisa. Gue harus balik sekarang."
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan Alvin, Ratna pun langsung beranjak dari tempat itu dan pergi begitu saja.
Alvin hanya bisa terdiam dan menatap kepergian Ratna yang terkesan buru-buru.