Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 75 Terus Berusaha


__ADS_3

"Ratna, umurmu itu sudah hampir kepala tiga, sampai kapan kamu terus sendiri. Mama ini sudah ingin sekali melihat kamu menikah dan mama bisa menggendong cucu" suara wanita paruh baya itu menguar dari ponsel Ratna.


"Ma, Ratna mau fokus kerja dulu. Ya nanti kalau sudah waktunya dan dapat pasangan yang cocok pasti nikah kok" ujar Ratna.


"Mama punya kenalan anaknya tante Astri, namanya Jody. Dia anaknya baik kariernya juga bagus. Mama sudah kasih contac sama alamat kamu." ujar Mama Ratna.


"Ma, ayolah.. Kenapa harus di jodoh-jodohin sih. Aku bisa cari sendiri" tolak Ratna.


"nggak bisa Ratna, kali ini mama nggak mau lagi kamu menyia-nyiakan kesempatan ini. Kamu coba dulu. Kalau cocok ya lanjutkan."


Ratna hanya bisa menghela nafas kasar. Keinginan orang tuanya yang besar membuatnya semakin tertekan. Apalagi selama ini dia sudah menolak banyak pria yang ingin dijodohkan oleh orang tuanya.


Kali ini tidak ada alasan lagi dirinya menolak. Bahkan pria yang diam-diam dia harapkan agaknya sangatlah tidak mungkin.


Tak berselang lama Ratna menerima sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal.


"hai, selamat malam. Maaf mengganggu. Apa ini Ratna anaknya Tante Maya?"


Ratna pun membalasnya. Sepertinya orang ini yang dimaksud oleh Mamanya tadi.


"iya benar, aku Ratna. Kamu siapa?" balas Ratna.


"Aku Jody, anaknya tante Astri. Mama kamu pasti sudah cerita siapa aku. Aku berharap bisa mengenalmu Ratna."


Ratna terdiam sejenak. Kemudian melihat foto profil yang ada di kontak ponselnya.


Tampak seorang pria dengan wajah oriental dengan pose duduk sambil tersenyum manis.


Awalnya Ratna enggan merespon. Namun dia sudah lelah berdebat lagi dengan orang tuanya. Sedangkan pikirannya terus terngiang tentang Alvin. Mengharapkan Alvin untuk berhubungan serius tampaknya sangatlah tidak mungkin. Belum lagi Alvin pernah mengatakan bahwa dirinya tak pernah memiliki keinginan untuk menikah karena trauma di masa kecilnya.


Hahh.. Kenapa urusan hati dan perasaan selalu merepotkan begini?


...****************...


Ruangan besar dengan arsitektur mewah bernuansa putih itu terasa hening. Rumah itu selalu seperti itu karena penghuninya yang hanya seorang diri dengan beberapa asisten yang mengurus rumah itu.


Beberapa hidangan sudah tersaji di atas meja. Sementara tempat itu masih kosong tak ada orang.


"Bapak masih di atas, sebentar lagi datang." ucap salah satu asisten.

__ADS_1


Arga pun mengangguk, kemudian menghampiri Kasih yang sejak tadi berdiri sambil meremas tangannya sendiri.


"Papa masih bersiap, mau berkeliling dulu?" tanya Arga.


Kasih hanya mengangguk menurutinya. Pertama kali berada di kediaman Arga membuat Kasih takjub sekaligus grogi.


Bagaimana tidak, keluarga Arga terkenal sebagai konglomerat kaya raya. Bahkan kediaman mereka sangat indah dan megah bak istana.


Baru kali ini Kasih memasuki rumah semewah ini. Rumah mantan mertuanya dulu saja sudah terbilang mewah, namun kediaman Arga bisa dibilang lima kali lipat lebih mewah.


Kasih jadi ciut sendiri. Apalah dirinya hanya anak yatim piatu yang hidupnya dipungut dari panti asuhan.


Arga memang cukup peka terhadap Kasih. Buktinya dia terus berusaha membuat Kasih merasa nyaman di rumah masa kecilnya itu.


Kasih menatap sebuah bingkai foto keluarga berukuran besar di ruang tengah.


Tampak Arga bersama kedua orang tuanya serta sosok pria mirip sekali dengannya. Kasih memperhatikan wajah-wajah itu dengan seksama. Apalagi sosok seorang perempuan yang tentu saja itu ibu Arga. Terlihat sangat cantik meski guratan di wajahnya sudah terlihat. Kemudian memperhatikan dua pria yang berada di belakangnya. Wajah Arga benar-benar sangat mirip bahkan sulit sekali membedakannya.


"itu mendiang saudara kembarku. Arka.." ucap Arga yang ikut memandangi foto itu.


"Kalian benar-benar sangat mirip sampai sulit membedakannya." Kasih masih terlihat fokus membedakan dua pria di foto itu.


"wah, gawat sekali kalau sampai ketukar" Arga terkekeh pelan.


Tentu saja Arga langsung membuncah hatinya mendengar perkataan manis itu. Arga yang tak tahan melihat Kasih langsung mengecup pipinya singkat.


"Mas ih,.." pekik Kasih.


Tak berselang lama ada salah satu asisten yang datang menemui mereka.


"Mas, Bapak sudah menunggu di ruang makan" ucap Asisten itu.


Arga pun langsung meraih tangan Kasih dan mengajaknya untuk menemui papanya.


Sementara Kasih entah kenapa jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya. Rasa grogi luar biasa menjalari tubuhnya hingga tanpa sadar keringat dingin pun mulai membasahi keningnya.


Meski sudah pernah bertemu beberapa kali dengan Wijaya, namun kali ini berbeda. Arga secara khusus mengenalkan dirinya sebagai tunangannya. Jadi bisa dikatakan bahwa Kasih saat ini adalah calon menantunya.


Sampai di ruang makan Kasih melihat sosok pria yang perawakannya memang sangat mirip dengan Arga. Dari sorot mata serta gesturnya benar-benar Arga sekali.

__ADS_1


"S-Selamat malam O-om" sapa Kasih dengan sedikit terbata.


Wijaya menatap Kasih dengan tatapan mengintimidasi melebihi Arga.


"Selamat malam, Kasih" jawab Wijaya datar.


Kasih menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. berharap dapat menghalau perasaannya yang campur aduk.


Sepanjang makan malam itu semuanya tampak diam dan fokus menikmati makanannya. Entah itu memang kebiasaan mereka atau sedang ada sesuatu. Kasih pun enggan melakukan banyak hal. Hingga Akhirnya Arga yang memulai bicara.


"Pa, Kedatanganku dengan Kasih ini untuk meminta restu kepada Papa. Semoga Papa merestui hubungan kami ya pa" ucap Arga.


Sejenak, Wijaya tampak diam. Mengambil segelas air dan meminumnya.


"Hmm.. Tapi Papa ingin satu hal yang harus kamu lakukan. Tolong jangan publish hubungan kalian dulu." jawab Wijaya.


"Hubungan kalian ini terlalu mencolok jika orang lain tahu. Perceraian Mu baru beberapa minggu. Dan kalian akan mengumumkan pertunangan. Apa yang akan orang-orang katakan? Semakin memperjelas berita skandal itu. Papa masih pusing memikirkan masalah yang kemarin, tolong jangan ditambah lagi."


Wijaya orang yang tak mau basa-basi. namun hal itu langsung saja membuat Kasih merasa begitu ciut. Memang ada benarnya, tapi juga hal itu menjadi tamparan untuknya. Hubungan mereka yang di awal memanglah salah. Dan apa yang dikatakan Wijaya seolah mendeskripsikan bahwa dirinya orang ketiga dalam pernikahan Arga.


"Papa tenang saja. Aku tidak akan menambah masalah lagi. Percaya padaku Pa" Arga coba untuk meyakinkan Wijaya.


"Jujur, awalnya Papa terkejut dengan hubungan kalian, tidak ku sangka bahwa makan malam saat itu kalian sudah memiliki hubungan. Tapi Papa bisa apa? Toh Papa tak ada hak lagi untuk mengatur mu. Jalani saja apapun sesukamu." ucap Wijaya pasrah.


Ucapan Wijaya semakin membuat Kasih merasa rendah. Apa lagi saat mengingat makan malam saat itu. Lagi-lagi Kasih seolah mendapat penolakan. Namun bukan Kasih namanya jika mudah menyerah.


"Om, maaf sebelumnya. Mohon ijinkan saya bicara." Kasih beranjak dari duduknya dan meminta ijin bicara kepada Wijaya. Dan Wijaya pun mempersilahkan.


"Om, apa yang dikatakan om benar sekali. Hubungan kami memang sudah berjalan saat itu. Salah, memang kami salah. Kami sama-sama terbuai. Tapi kami saling mencintai om. Saya sangat mencintai Mas Arga. Saya memang tidak memiliki apapun yang bisa diunggulkan. Saya hanya berasal dari keluarga sederhana. Bahkan sejak kecil saya sudah yatim piatu. Tapi saya memiliki cinta yang tulus untuk putra Om. Maka ijinkan saya untuk membuktikan bahwa kami bisa menjalani hubungan ini dengan baik." Kasih mengungkapkan semua perasaannya dan berharap Wijaya mengerti hal itu.


"Baiklah, Saya pegang omongan kamu. Buktikan kamu bisa membuat Arga bahagia. Tapi satu hal, apabila terjadi sesuatu dengan Arga maka saya tidak akan menoleransinya." ujar Wijaya.


Kasih pun tersenyum dan menundukkan tubuhnya sejenak.


"Baik om, saya pastikan hal itu tidak akan terjadi." ucap Kasih.


Arga sempat tertegun dengan apa yang diungkapkan Kasih. Wanita itu benar-benar luar biasa. Dia bahkan mengakui secara langsung perasaannya kepada Wijaya.


Kini yang ingin Arga lakukan adalah berterima kasih dan memeluk wanita kesayangannya itu dengan erat.

__ADS_1


Dia pun tak berhenti mengulas senyum bahagianya. Arga meraih tangan Kasih dan mengecupnya. Tak peduli hal itu dilakukan didepan Papanya.


"Terima kasih Sayang"


__ADS_2