
Hingar bingar sibuknya kota nampaknya tak berpengaruh pada kekosongan yang dirasakan Felicia.
Wanita itu berjalan menyusuri jalanan dengan langkah gontainya. Hanya beralaskan sendal jepit usang sangat jauh berbeda dengan sepatu-sepatu mewah yang dia pakai dahulu.
kaki cantiknya yang selalu rutin perawatan kini dibiarkan kering dan timbul beberapa gurat-gurat kasar di telapak kakinya.
Tatapan nanar itu menunjukkan betapa putus asa dirinya saat ini. Terbuang dan dicampakkan. Itulah nasib yang dialami Felicia saat ini.
Apalagi setelah melihat Arga yang tampak begitu bahagia bersama Kasih membuat hatinya semakin teremas. Kehidupan yang terjamin dan segala limpahan kasih sayang itu telah sirna. Hanya tersisa hanya sebuah penyesalan. Seandainya saja dia tak berulah maka saat ini dirinya akan merasakan kebahagiaan menjadi ratu bagi seorang Arga Wijaya.
Namun siapa tahu nasib seseorang. Perbuatannya dulu sangat keterlaluan. Mendapatkan maaf dari Arga saja rasanya tak pantas.
Sementara Samuel, pria yang diharapkan mampu memberi kebahagiaan untuknya justru malah kabur dan memilih menikahi wanita lain.
Nelangsa, dan putus asa. Tak ada lagi yang diharapkan di hidupnya. Bahkan janin yang ada dalam perutnya pun rasanya tak sanggup Felicia melahirkannya. Dia terlalu takut untuk menyuguhkan kehidupan kerasnya kepada sang anak.
Dengan mengelus perut buncitnya Felicia terus mengeluarkan air mata yang kian lama kian deras membanjiri kedua pipinya.
"Maafkan mama nak.." ucapnya lirih.
Selanjutnya Felicia menatap sekitar dan mendapati dirinya tengah berjalan di pinggiran jembatan.
Terdapat sungai di bawahnya yang mengalir deras. Musim penghujan begini debit air sungai meningkat dan berwarna cenderung pekat.
Tanpa diduga Felicia justru memanjat jembatan tersebut. Dengan tubuh gemetarnya Felicia menutup mata dan membiarkan tubuhnya terjun begitu saja.
BYUUURRRR...
Orang-orang di sekitar area tersebut sempat melihat aksi Felicia. Namun kejadiannya begitu cepat hingga mereka tak sempat mencegahnya.
Tentu saja semua orang langsung panik dan segera menghubungi pihak berwajib.
Kepanikan tentu saja terjadi saat itu. Semua orang berkerumun dan menimbulkan kemacetan.
Sementara salah satu asisten Arga yang kebetulan melintas pun penasaran. Dia akhirnya bertanya kepada salah satu saksi mata.
"Maaf Pak, ada apa ini? Kenapa ramai sekali?" tanya Amir, asisten Arga.
"Ada wanita hamil bunuh diri terjun ke sungai. Padahal masih muda dan cantik. Malang sekali." ujar pria itu.
Sejenak Amir berpikir. Wanita hamil siapa yang di maksud, sedangkan jalan tersebut adalah arah yang sama dengan hotel milik Alvin.
"Maaf, apa wanita yang dimaksud adalah ini." Amir menunjukkan foto Felicia.
__ADS_1
"Iya, benar. Wanita ini. Tapi penampilannya tidak secantik ini." ujar pria itu.
DEGG..
Amir yang terkejut sempat terdiam. Namun dia segera menghubungi Arga untuk memberitahunya.
...****************...
Kasih masih terisak histeris setelah mendengar informasi tersebut. Sejak kehamilannya Kasih menjadi lebih sensitif dan moodnya sering berubah-ubah.
Arga sebenarnya tak ingin melihat istrinya bersedih namun dia terlanjur mendengar berita tersebut. Mau tidak mau dia harus bisa menghadapi kesedihan Kasih.
"Sudah sayang, jangan terlalu dipikirkan terus. Aku takut nanti bisa berefek kepada kehamilanmu." Arga mencoba untuk membujuk Kasih agar tenang.
"Tapi aku merasa kasihan kepada Felicia. Pasti dia sangat terpuruk sendirian. Apalagi setelah bertemu kita pasti di sangat sedih." rengek Kasih.
Tak ada pilihan lain. Sebenarnya Arga begitu enggan berurusan dengan mantan istrinya tersebut. Namun bagaimanapun dia juga merasa iba dengan apa yang dialami Felicia.
Terutama Kasih yang memiliki hati selembut kapas. Selalu tak tega dengan orang lain meski orang itu pernah berbuat tidak baik kepadanya.
Setelah beberapa lama menangis Kasih pun mulai kelelahan. Dia pun akhirnya tertidur di pelukan Arga. Dengan sesekali masih sesenggukan.
Arga membiarkan sang istri beristirahat kemudian di keluar dari kamarnya. Menemui Alvin juga ayah mertuanya. Tentu saja merek membahas kejadian ini.
"Kasih terlihat sangat terpukul. Dia tidak berhenti menangis dan menyalahkan dirinya sendiri." Arga mengungkapkan hal ini kepada Alvin san Aryo.
"seorang wanita hamil memang sangat sensitif Arga. Jadi kamu harus bersabar dan sebisa mungkin jaga moodnya jangan sampai dia kesal." ujar Aryo.
"Iya Pa, Arga sebisa mungkin akan menjaga Kasih. Maaf sudah menimbulkan masalah begini." ujar Arga.
"Hmm.. Kasih hamil saja sensitif begitu. Lah Ratna belum hamil saja sensitifnya ngalah-ngalahin orang hamil. Gimana kalau dia sudah hamil?" gumam Alvin dengan mengusap wajahnya kasar.
Baik Arga dan Aryo pun terkekeh. Obrolan tiga pria dewasa itu nyatanya tak jauh-jauh membahas tentang masalah perempuan. Makhluk ciptaan Tuhan yang paling sulit ditaklukkan.
...****************...
Tiga hari berlalu namun sampai saat ini belum ada kabar mengenai Felicia. Pencarian sudah diperluas. Sementara kedua orang tua Felicia pun kini sudah diberitahu.
Penyesalan dan Kesedihan jelas tergambar di wajah dua pasangan lanjut usi itu. Karena keegoisannya meninggalkan anak yang terpuruk sendirian kini harus bisa menelan pil.pahit tentang kabar buruk ini.
Kasih masih sedih namun tak separah beberapa hari yang lalu. Berkat dukungan semua keluarga dan wejangan sang ayah akhirnya dia mulai dapat mengelola emosi.
"Sayang, setelah ini kita akan tinggal dimana? Bersama Papa Wijaya? Papa Aryo atau di apartemen?" tanya Kasih.
__ADS_1
"Kamu inginnya kemana?" tanya Arga balik.
"Aku sih sebenarnya ingin di rumah biasa. Maksudnya bukan di unit apartemen. Karena aku suka dengan suasana rumah dengan halaman yang luas dan banyak tanaman. Seperti rumah Papa Aryo dan Papa Wijaya. Tapi aku juga ingin privasi." ujar Kasih selanjutnya.
Arga pun tampak tersenyum kemudian memeluk Kasih. Sebuah kebiasaan yang selalu menjadi favorit Arga.
"Mas punya sesuatu yang ingin ku tunjukkan. Tapi kamu bersiap-siap dulu." ujar Arga.
"Memangnya apa Mas?" tanya Kasih penasaran.
"Hmm. Kamu siap-siap saja dulu." ujar Arga sekenanya.
Kasih pun langsung bergegas mengganti gaun tipisnya yang sexy itu. Sebuah permintaan Arga ketika hanya berdua dengannya Kasih harus memakai gaun dinas istri yang sexy.
Untuk itu pula mereka membutuhkan tempat tinggal berdua untuk menjaga privasi.
Setelah beberapa saat Kasih pun sudah siap. Kini mereka mulai berjalan keluar hotel dan menaiki mobil untuk pergi ke suatu tempat.
Setelah perjalanan memakan waktu yang cukup lama sekitar hampir satu jam akhirnya mereka sampai di sebuah komplek perumahan mewah.
Sederet hunian berjajar dengan mewahnya serta lingkungan yang tampak asri sebab sebagian besar kediaman tersebut memiliki halaman yang cukup luas serta banyak pepohonan dan tanaman yang membuat suasana kian sejuk.
Kasih sedikit tertegun dengan lingkungan tersebut sebab di kota besar yang super sibuk dan padat begini masih ada tempat yang nampak asri dan begitu damai.
Mobil pun berbelok ke sebuah rumah berlantai dua berdesain elegan dengan halaman luas dan berbagai macam tanaman serta pepohonan yang rindang.
Meski tak seluas dan sebesar kediaman kedua orang tua mereka namun justru rumah itu sangat sesuai dengan keinginan Kasih. Tepat dengan gambaran yang diungkapkannya kepada Arga beberapa waktu lalu.
"Sayang, ini adalah rumah kita. Rumah yang kamu inginkan. Tak terlalu besar tapi cukup nyaman. Bagaimana apa kamu suka? Jika kurang nanti bisa kita renovasi lagi." ujar Arga.
"Mas, sungguh aku sangat suka. Ini benar-benar sesuai dengan keinginanku. Aku sangat senang sayang, terima kasih banyak" Kasih saking senangnya sampai menitikkan air mata.
Kasih tak berhenti takjub melihat rumah itu. Sungguh ini adalah rumah impiannya sejak dulu.
Membayangkan dirinya menjalani perannya sebagai istri dan seorang ibu. Melakukan tugas-tugas rumah tangga dengan penuh kebahagiaan.
"Baiklah, kita akan tinggal disini. Menghabiskan waktu seumur hidup denganmu. Dengan keluarga kecil kita yang penuh kebahagiaan. Mau kan?" tanya Arga.
Kasih langsung mengangguk antusias. Dia menoleh dan menatap Arga dengan penuh cinta.
"Iya sayang, aku mau seumur hidup kita bersama. Aku mencintaimu." ucap Kasih dengan penuh bahagia.
__ADS_1
"Aku lebih bahkan paling mencintaimu Kasih. Terimakasih sudah hadir dalam hidupku." kecup lembut mendarat di kening sang istri.
...****************...