Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 29 Cuek


__ADS_3

"HHOOAAMM..."


Felix menguap sembari melemaskan otot-otot tubuhnya. Kegiatan panas semalam benar-benar menguras tenaganya sehingga tidurnya terasa begitu nyenyak.


Dengan setengah sadar dia membuka matanya. Suasana kamar yang temaram karena tidak ada pencahayaan selain lampu tidur membuat Felix terbatasi penglihatannya.


Samar-samar dia melihat seorang wanita tidur membelakanginya. Hanya tampak punggung serta rambutnya saja yang tergerai.


Felix mendekati tubuh wanita itu dan berharap dia adalah Kasih. Namun ini sungguh berbeda. Tubuh Kasih biasanya lebih mungil dan wanginya berbeda.


Felix membalikkan tubuh itu dan dia sangat terkejut.


"Olivia?"


...****************...


Kasih, Arga dan Alvin kini telah kembali ke tempat asalnya. Liburan singkat di Bali itu sudah berakhir dan kini mereka kembali ke rutinitas seperti semula.


Baru sampai di apartemen Arga langsung bersiap pergi ke kantor.


Sementara Kasih, seperti biasa. Hanya memasak, dan rebahan tidak jelas. Sebenarnya dia sangat bosan dengan rutinitasnya yang hanya itu-itu saja.


Sehingga Kasih berinisiatif mencari pekerjaan. Dia juga tidak mungkin terus-terusan mengandalkan Arga.


Semakin hari kontrak mereka akan segera habis dan itu artinya hubungan antara mereka akan berakhir.


Meski begitu Kasih tetap berterimakasih kepada Arga yang telah membantunya selama ini.


Setidaknya dia telah memberikan tempat tinggal bahkan fasilitas yang jauh lebih baik dari kehidupannya dulu.


Namun Kasih tak boleh terbuai dengan semua itu. Sebentar lagi dia harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup.


Kasih mengambil laptop di ruang kerja Arga. Sebelumnya Arga memang memperbolehkan Kasih untuk menggunakannya.


Dia mulai menulis lamaran kerja serta mencari-cari beberapa iklan lowongan pekerjaan.


Beruntung ijazahnya sudah selesai diurus oleh Alvin sehingga dia tidak perlu repot-repot mengambil ke rumah Felix.


Dia mengirim email lamaran pekerjaan tersebut ke beberapa perusahaan. Sebenarnya dia ingin bicara kepada Arga namun tampaknya pria itu sangat sibuk sehingga dia berniat memberi tahu nanti malam.


Memikirkan Arga membuatnya ingin mengirim pesan kepada pria itu. Tadi pagi Arga cukup sibuk sehingga fia langsung berangkat ke kantor setelah ganti baju. Bahkan dia tak sempat berpamitan kepada Kasih.


Kasih : Mas, nanti malam mau dimasakin apa?


Kasih mengirim pesan tersebut. Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi. Dia langsung membuka pesan itu.

__ADS_1


Mas Arga : malam ini saya nggak pulang ke apart. Besok siang saja kita ketemu di luar.


Kasih membaca pesan tersebut. Namun entah kenapa hatinya terasa sedih. Tak dipungkiri memang sejak mereka liburan ke Bali Kasih merasa semakin nyaman di dekat Arga.


Kasih : Yaudah, mas Arga selamat bekerja. Jangan capek-capek ya. Nanti makannya juga jangan telat.


Membaca pesan dari Kasih membuat hati Arga semakin memanas. Sejak Kasih mengungkapkan bahwa dia masih mencintai mantan suaminya, Arga Merasa kecewa.


Bahkan dia menganggap semua perhatian yang diberikan Kasih hanyalah sebuah kepalsuan.


Arga mengurut keningnya sendiri memikirkan hal itu. Tanpa sadar Alvin telah berdiri di sebelahnya sejak hampir dua puluh menit.


"Mikirin apa sih pak?" Arga baru sadar suara Alvin yang di dekatnya.


Dia langsung terperanjat mengetahui Alvin yang tiba-tiba muncul.


"Ke-kenapa kamu tiba-tiba muncul disitu?"


"Pak, saya berdiri disini sudah hampir dua puluh menit. Ngelamunin apa sih pak? Kasih?" ujar Alvin tanpa sungkan.


"Apaan sih" jawaban Arga sekali. Pria itu selalu menjunjung tinggi gengsinya apapun yang terjadi.


Alvin hanya terkekeh melihat kelakuan bosnya yang semakin hari semakin terlihat aneh.


"Ada apa kamu kesini Vin?" tanya Arga mengalihkan pembicaraan.


"Hmm.. Baiklah.."


Seharian ini jadwal Arga cukup padat sehingga dia pulang hampir larut. Jam delapan malam dia langsung pulang ke rumahnya.


Sebenarnya Arga sangat enggan kembali ke rumah itu. Mengingat kelakuan Felicia waktu itu.


Bahkan Arga memilih tidur di kamar tamu. Dia sangat benci melihat kamar tidurnya sendiri. Bahkan dia hendak membakar ranjangnya waktu itu.


Arga sebenarnya ingin pulang ke apartemen. Karena disana Kasih selalu melayaninya dengan baik. Bahkan hanya melihat senyum wanita itu sudah membuatnya semangat.


Tapi sejak mendengar ucapan Kasih kemarin dia berusaha mengeraskan hatinya. Selama ini dia sudah banyak dikecewakan oleh Felicia namun kali ini dia tak ingin mendapatkan hal yang sama dari Kasih.


Arga harus tahu diri jika Kasih menganggap hubungannya berdasarkan kontrak saja.


Tak ingin terus tenggelam dalam pikirannya Arga mencoba untuk menenangkan diri dengan mandi.


Setelah selesai Arga mendengar bunyi di ponselnya.


TING..!

__ADS_1


Arga yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kini langsung menyambar ponselnya. Dia tahu pasti itu Kasih yang mengirim pesan.


...Kasih: Mas Arga sudah pulang? Sudah makan juga?...


...Kalau belum makan barangkali mau dikirimin makan?...


Arga membaca pesan-pesan itu. Hatinya terasa membuncah saat Kasih memperhatikannya. Tapi lagi-lagi dia langsung tersadar. Semua itu hanyalah formalitas.


Arga menghela nafas kasar dan membiarkan ruang obrolan itu terbuka tanpa membalas pesan-pesan Kasih.


Sementara Kasih begitu senang melihat pesannya dibaca oleh Arga. Namun setelah beberapa saat dia menunggu tak ada balasan sama sekali.


Kasih pun dibuat resah karena Arga sama sekali tak menjawab pesannya hari ini.


Akhirnya dia merebahkan tubuhnya dengan perasaan gelisah. Namun tak berlangsung lama dia dibuat terkejut dengan suara dering panggilan di ponselnya.


Kasih langsung meloncat berharap itu panggilan dari Arga.


"Nomor baru?" Kasih merasa heran dengan nomor tak dikenal yang meneleponnya.


Daripada penasaran dia menjawab panggilan itu. Siapa tahu panggilan interview kerja. Meski agaknya sedikit tidak mungkin karena sudah malam begini.


"Halo, selamat malam ada yang bisa saya bantu?" ucap Kasih ketika menjawab telepon tersebut.


"Kasih.."


DEGG!


Suara itu, Kasih tahu betul siapa itu.


"M_mas Felix.." ucap Kasih terbata.


"Kasih, ku mohon jangan matikan teleponnya dulu. Aku ingin bicara padamu" ujar Felix.


"Da-dari mana kamu tahu nomorku?" Kasih mencoba untuk tidak terpengaruh. Meski saat ini jantungnya serasa hampir copot.


"Itu tidak penting Kasih. Ada sesuatu hal penting yang ingin aku sampaikan kepadamu. Terutama soal pria itu"


"Aku nggak ada lagi urusan denganmu. Cukup mas jangan pernah menghubungiku lagi" ujar Kasih sarkas. Kemudian dia langsung mematikan ponselnya.


Hatinya terasa seperti diiris-iris pisau. Kenapa laki-laki itu kembali menghubunginya? Meskipun dalam hati Kasih dia memang masih memiliki perasaan terhadap Felix namun luka yang dia torehkan cukup dalam.


Jika saja pria itu tak mengusirnya dia bahkan tak akan kehilangan calon buah hatinya. Tak terasa tiba-tiba air mata mengalir membasahi pipinya.


Lagi-lagi Kasih harus terisak karena Felix.

__ADS_1


Sementara Felix kini dibuat kesal juga setelah Kasih memutus teleponnya sepihak.


Padahal dia ingin memberitahu tentang Arga. Dia mencoba untuk meneleponnya lagi. Namun dengan segera Kasih langsung mematikan daya ponselnya.


__ADS_2