
Arga begitu jengah saat ini. Dulu sebelum mengetahui Felicia berselingkuh di ranjangnya dia sangat mencintai Felicia. Bahkan dibutakan oleh cinta itu sendiri.
Felicia yang doyan main dengan banyak pria tak pernah jadi masalah. Yang diinginkan Arga hanyalah diterima oleh wanita itu.
Tapi sekarang, melihatnya saja terasa muak. Apa karena diam-diam hatinya sudah mulai mengagumi Kasih?
Sementara ini Arga baru pulang kerja. Sampai di rumah dia langsung menuju kamar tamu yang sekarang jadi kamar tidurnya.
Dia mandi dan berganti pakaian santai. Kemudian mengecek beberapa email di ipadnya.
Tiba-tiba Felicia datang langsung menyelonong saja tanpa mengetuk pintu kamar.
"Mas Arga, aku udah pesenin makanan dari resto kesukaanmu. Makan yuk" Ajak Felicia.
Arga pun masih fokus dengan ipadnya tak sedikitpun menoleh ke arah Felicia. Sampai akhirnya wanita itu menarik lengan Arga hingga ipadnya hampir terjatuh.
"Apaan sih Fel?" gerutu Arga dan saat sia menatap Felicia dia langsung terkejut.
Felicia tampak memakai kemeja putih milik Arga. Kaki jenjangnya dibiarkan terbuka.
Arga langsung berdiri dan menatap Felicia dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kenapa pakai bajuku?" suara Arga datar.
"Lagi pengen aja.. Boleh kan mas" suara Felicia manja. Seolah bisa menebak apa yang akan terjadi.
"Lepaskan" suara itu keluar dari mulut Arga.
"Mas.. Iya aku lepas tapi habis makan ya" Felicia mengelus lembut lengan Arga.
"Sekarang Fel" suara Arga semakin terdengar berat.
"ih, iya-iya nggak sabaran banget deh" Felicia mulai melepaskan kancing bajunya satu persatu.
Namun Arga berjalan menuju toilet. Seketika Felicia terkikik sendiri. Ternyata menggoda Arga sangatlah mudah.
Tak berselang lama Arga keluar dari toilet dengan membawa sebuah kain mirip handuk di tangannya.
Rupanya itu bathrobe.
Sementara Felicia selesai melepas semua kancing kemejanya dan terlihat belahan dadanya karena tak memakai bra.
"Mas udah nggak tahan ya" goda Felicia sedikit berbisik genit.
Arga tak menjawab. Dia hanya menatap Felicia dengan tajam.
Felicia pun akhirnya melepas kemeja putih itu hingga sekarang tubuhnya terpampang di depan Arga dan hampir tela njang.
Hanya sebuah ****** ***** berwarna ungu transparan model string melekat di tubuhnya.
__ADS_1
Wajah Felicia sudah terbakar nafsu sehingga siap untuk menerima gempuran Arga.
Namun Arga langsung meraih kemejanya itu dan melemparkan bathrobe kepada Felicia.
Dia menggenggam kemeja itu kemudian berjalan mengambil hoodie serta ponsel dan kunci mobilnya.
"Mas.. Mas mau kemana?" Arga melangkahkan kakinya tanpa menghiraukan keberadaan Felicia.
Arga melempar kemejanya ke tempat pakaian kotor dekat mesin cuci. Kemudian dengan langkah sedikit menghentaknya karena kesal Arga keluar menuju mobilnya.
"Arghh..fvck" umpatan itu keluar dari mulut Arga. Entah kenapa dia jadi semarah ini.
Dia melihat ponselnya dan tiba-tiba saja teringat akan Kasih.
Arga membuka pesan obrolannya dengan Kasih yang sudah semingguan ini tidak dia buka. Rentetan pesan banyak sekali. Terakhir Kasih mengirim pesan tiga hari yang lalu.
...Kasih: Mas Arga, jangan telat makan ya mas....
...Mas Arga kenapa nggak pernah bales pesanku. Mas sibuk banget ya?...
...Mas?...
...Mas Arga marah sama aku? Maaf mas apapun yang aku lakukan udah buat mas Arga marah....
...Mas tapi aku sungguh jadi gelisah. Mas Arga nggak papa kan?...
Arga hanya membaca sebagian saja pesan-pesan Kasih. Dan itu yang terakhir.
Bosan? Mengakhiri kontrak? Yang benar saja. Arga berdecak dan segera tancap gas ke apartemen tempat Kasih tinggal.
Berhari-hari ini memang Arga dibuat pusing dengan banyak hal. Pekerjaan yang menumpuk, ditambah perasaannya yang uring-uringan tanpa sebab nyata ya malah mempersulit dirinya sendiri.
Niat hati membuat Kasih cemburu dengan menunda perceraiannya justru malah berbuntut masalah panjang.
Di sepanjang perjalanan Arga terus menggumam gelisah. Dia takut jika Kasih benar-benar pergi.
Sementara Kasih kini sedang melamun sendirian di balkon. Suasana hatinya sedang tidak baik saat ini.
Seharian tak bernafsu makan bahkan hanya melamun saja kerjaannya. Tak ada kabar dari Arga membuatnya semakin tersiksa. Kasih memang sangat merindukan pria itu.
Tapi Kasih terus menampiknya karena dia takut jika perasaannya semakin dalam. Sedangkan Arga lebih memilih Felicia istrinya.
Sejenak Kasih mulai teringat saat terakhir kali Arga dan Kasih mengobrol di Bali. Sebelum akhirnya Arga berubah cuek dan mendiamkannya.
Obrolan itu menyangkut tentang perasaannya terhadap Felix. Apa benar Arga marah karena Kasih memberitahu tentang hal itu?
"Hmmm.. Andai saja sekarang ada Mas Arga disini, aku pasti tidak kesepian." gumam Kasih sembari melamun menatap pemandangan kota di malam hari.
"Aku di sini. Sekarang kamu tidak akan kesepian" Arga menelusupkan kedua tangannya di antara pinggang Kasih.
__ADS_1
"Sekarang bahkan seperti ada Mas Arga beneran. Apa rindu bisa jadi segila ini ya?" Kasih masih belum sadar.
"Aku juga sangat merindukanmu Baby" Kini Arga mengecup pipi Kasih.
Seketika Kasih terkejut dan menoleh.
"M-mas Arga..?" Kasih gelagapan.
Apalagi saat ini dia sedang memakai kemeja milik Arga.
Namun saat Kasih memakainya entah kenapa tampak begitu cocok. Sama sekali berbeda dengan Felicia.
Arga pun tersenyum melihat Kasih. Dia langsung mendaratkan kecupan di bibirnya.
"se-sejak kapan? Mas Arga disini? Kok aku nggak tahu?" antara bingung dan salah tingkah.
"Sejak kamu melamunkan aku. Apakah serindu itu padaku sampai tidak sadar kehadiranku?" ucap Arga sambil mengelus puncak kepala Kasih.
Kasih pun tak berani memandang Arga. Dia langsung menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah menahan malu.
"Kau tampak cantik sekali Kasih" ujar Arga.
"Maaf Mas, aku lancang memakai bajumu. Akan aku lepas setelah ini" Kasih mencoba untuk membiasakan ekspresinya.
"Tidak apa-apa, kamu terlihat begitu cantik dan seksi. Biar aku saja nanti yang melepasnya untukmu" goda Arga.
Perlahan Arga mengangkat dagu Kasih hingga pandangan mereka beradu.
"I'm sorry Kasih. Maaf sudah meninggalkanmu beberapa hari ini" Arga mengeratkan pelukannya kepada Kasih.
Kasih merasakan debaran jantungnya yang semakin berpacu. Perasaan bahagia yang tak terkira karena Arga telah menemuinya. Biarlah dia egois sedikit saja untuk saat ini.
Arga menciumi Kasih dan menghirup dalam-dalam ceruk leher Kasih yang beraroma vanila seolah jadi candu untuknya.
Arga kembali menegakkan kepalanya dan kini menatap Kasih dengan begitu dalam.
"Aku pikir dengan menghindarimu semua akan baik-baik saja. Ternyata ini sulit, sangat sulit Kasih. Aku juga sangat kesepian" ucap Arga sendu.
"Tapi kan Ada istri Mas Arga," bibir Kasih sedikit gemetar saat mengucapkannya.
"Dia tidak sepertimu Kasih, dia tidak bisa memberi perhatian sepertimu" ujar Arga.
Tanpa aba-aba Kasih langsung mencium bibir Arga. Sesuatu yang bahkan sama sekali tak pernah terpikirkan sebelumnya.
Arga awalnya cukup terkejut namun dia juga senang. Rupanya Kasih yang pendiam dan penurut bisa bertindak agresif.
Arga membalas ciuman itu dengan begitu dalam. Keduanya mencoba untuk menyalurkan kerinduannya dengan ciuman itu.
Bibir mereka saling beradu begitupun lidah yang saling membelit. Berperang didalam rongga mulut itu menandakan betapa panas dan dahsyatnya ciuman itu.
__ADS_1