Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 58 Saling merindukan sentuhan


__ADS_3

Kemarahan Kasih terhadap Arga agaknya masih membara di hatinya. Terbukti dengan kejadian pagi ini.


Kasih yang baru saja masuk ke dalam ruangannya kembali mendapat buket bunga dengan kartu permintaan maaf.


Sudah jelas ini masih dari Arga, siapa lagi yang akan meminta maaf padanya selain Arga.


"Maaf? Memangnya semudah setelah merendahkan aku begitu." gumam Kasih dengan sebal.


Dia memang menyukai bunga, namun egonya seolah mengalahkan perasaannya. Apalagi saat memandang bunga itu dia langsung teringat wajah Arga ketika mencelanya. Semakin bergemuruh saja hatinya.


Kasih langsung mengambil bunga itu dan berjalan keluar ruangannya. Dia meremas buket itu dan menghentakkan langkah kakinya dengan emosi.


Sampai akhirnya dia berada di depan tempat sampah dan langsung melemparkan bunga itu ke dalamnya. Semua orang yang melihatnya pun merasa heran. Apalagi saat itu Arga baru saja sampai di kantor dan menyaksikan Kasih membuang bunga pemberiannya.


Dia hanya bisa terdiam melihatnya. Sementara Kasih terkejut ketika baru menyadari kedatangan Arga.


Sejenak pandangan mereka saling beradu namun buru-buru Kasih berjalan pergi meninggalkan Arga.


Kasih langsung memasuki ruangannya dengan perasaan campur aduk. Melihat Arga yang memandangnya seperti itu membuat Kasih merasa bersalah, namun di sisi lain dirinya juga masih kesal dengan Arga.


"Apa wanita cantik memang begitu ya? Sudah biasa dapat buket bunga bukannya senang malah dibuang, sementara kita? Dapat saja tidak pernah" gumam beberapa karyawan yang melihat tingkah Kasih.


Arga berjalan memasuki ruangannya dengan perasaan yang redup terang. Harapannya mendapat permintaan maaf dari Kasih kini pupus sudah.


Sepertinya Kasih memang benar-benar sudah marah padanya. Satu minggu dicampakkan gadis itu sukses membuat Arga kalang kabut.


Begitu besar pengaruh Kasih terhadap kehidupan Arga.


Terbiasa bersama dan mendapat perhatiannya kini harus menerima kenyataan bahwa gadis itu telah mencampakkannya.


Begitu sakit tapi Arga harus bersabar. Dia yakin pasti bisa memenangkan kembali cintanya.


Sebenarnya ada satu cara yang dapat membuat Kasih kembali ke pelukan Arga. Yaitu dengan mengungkit perjanjian kontrak mereka yang ternyata belum mencapai batas waktu.


Namun jika Arga melakukan hal itu dia takut Kasih semakin membenci Arga. Dia tidak mau Kasih mendekatinya karen terpaksa. Yang dia inginkan adalah cinta murni yang dihadirkan gadis itu.


.


Kasih dan Arga sedang bersiap untuk mengecek lokasi yang akan dibangun hotel proyek kerja sama dengan perusahaan Leo.


Hari ini Arga harus menyetir sendiri mobilnya karena sopir yang bekerja untuk Arga sedang sakit.

__ADS_1


Kasih duduk di samping kemudi dan fokus mempelajari beberapa berkas yang diperlukan.


Arga sesekali mencuri pandang kearah gadis itu. Suasana hening dan sepi karena keduanya tak saling bicara.


Hanya bicara seperlunya menyangkut pekerjaan. Selebihnya mereka memilih untuk diam.


Arga tahu Kasih sama sekali tak ingin membicarakan masalah pribadi. Jadi dia simpan rapat-rapat masalah bunga yang dibuang Kasih pagi tadi.


Meski sebenarnya didalam hati Arga merasa sangat sedih dan kecewa. Tapi rasa bersalahnya akan perbuatan yang telah dilakukan kepada Kasih lebih membuatnya sedih.


Pun begitu dengan Kasih. Berdekatan dengan Arga dalam keadaan seperti ini menimbulkan siksaan sendiri baginya.


Dia rindu sentuhan manja pria itu serta aroma tubuhnya saat berpelukan dengannya. Betapa hangat perlakuannya saat Kasih berada dalam dekapannya. Tanpa sadar dia menelan salivanya sendiri membayangkan hal itu.


"Kasih kamu sudah makan? Apa kita cari makan dulu karena lokasinya sedikit jauh dari tempat makan." ucap Arga sembari menatap Kasih sekilas.


Kasih yang masih terbuai dengan lamunannya memandang Arga tepat pada bibir pria itu.


Dia sedikit terkesima dan teringat akan ciuman maut yang diberikan Arga. Betapa lembut dan manisnya bibir itu mel umat dan menghisap miliknya. Hingga pikiran kotornya yang mengingat Arga sedang memainkan miliknya dengan bibirnya hingga membuatnya panas dingin.


"Kasih..?" Arga memanggil Kasih sekali lagi.


"Emh.. I-iya pak.." Kasih tersentak dengan suara Arga.


"Emm.. Iya Pak. Saya baik." jawab Kasih sedikit salah tingkah.


"Masih ada waktu, kita cari makan dulu ya" ucap Arga.


"T-tidak usah pak, saya tidak lapar." ucap Kasih. Namun tak berselang lama dia mengatakan hal itu tiba-tiba perutnya berbunyi.


KKRRUUUUGG...


Kasih mendelik mendengar perutnya yang tak bisa diajak berkompromi. Dia begitu malu. Sementara Arga hanya tersenyum tipis dan langsung mencari restoran terdekat.


Arga dan Kasih memasuki salah satu restoran yang dia tuju. Mereka mengambil tempat duduk di dekat jendela yang menampilkan pemandangan taman yang cukup indah.


Mereka memesan beberapa menu makanan. Setelah itu mereka kembali saling diam. Memandang Arga tepat didepannya membuat Kasih mulai salah tingkah dan memanas sendiri apalagi setelah membayangkan hal-hal intim bersama pria itu.


"Maaf pak saya permisi ke toilet dulu" Kasih langsung berdiri dan berjalan menuju toilet.


Arga yang tidak sempat menjawabnya hanya bisa diam memandang gadis itu berjalan membelakanginya.

__ADS_1


Kasih selalu membuat Arga terpesona apalagi dengan gayanya yang begitu modis.


Meski hanya menggunakan setelan blazer dan celana panjang senada berwarna baby pink serta kemeja putih sebagai ********** sukses membuat Kasih terlihat mempesona.


Tubuhnya yang langsing dan payudara serta bokongnya yang berisi bisa dikatakan body goals.


Hal itu membuat Arga mulai membayangkan kulit putih dan tubuh indah Kasih yang hanya memakai bikini. Serta tingkah nakalnya diatas ranjang yang begitu Arga rindukan.


Arga tak berhenti memuji tubuh Kasih yang begitu terawat dengan baik dan miliknya yang masih sangat sempit. Tak ada yang mengira bahwa dirinya seorang janda.


Tiba-tiba lamunan itu buyar ketika seorang pelayan menyajikan makanan yang dipesan ke mejanya.


Arga mendengus pelan saat pikirannya berhenti menghayal tentang Kasih. Terlebih saat ini Kasih sudah kembali dari toilet.


Mereka langsung menikmati makanan dengan hening dan tanpa bicara. Meski dari dalam hati keduanya sebenarnya saling merindukan.


Selesai dengan acara makan mereka melanjutkan perjalanan menuju lokasi tujuan.


Arga dan Kasih langsung disambut Leo yang baru saja sampai. Mereka langsung meninjau lahan yang akan dibangun.


"Hai Kasih, you look so beautiful" puji Leo saat berjabatan tangan dengan Kasih.


Kasih hanya membalasnya dengan senyuman.


Sebenarnya Arga begitu muak melihat Leo yang sedang merayu Kasih begini. Namun dia tak ingin menimbulkan masalah lagi. Dia harus menahan emosinya.


Suasana siang ini memang cukup terik. Apalagi ditempat lapang ini tidak ada tempat untuk berteduh.


Arga dan Leo masih sibuk membahas proyeknya serta berjalan kesana kemari mengecek lahan tersebut.


Kasih yang sejak tadi mengikuti Arga dibelakangnya mulai merasakan pening. Apalagi beberapa hari ini dia kurang istirahat serta makan yang tidak teratur akibat galau memikirkan perasaannya.


Dengan sekuat tenaga Kasih berusaha menguatkan dirinya. Arga menyadari bahwa Kasih terlihat sedikit pucat.


"Kasih kamu baik-baik saja? Istirahat saja jika lelah." ucap Arga.


"Tidak apa-apa saya baik-baik saja pak" tolak Kasih.


Namun tak berselang lama Kasih merasakan penglihatannya mulai berkunang-kunang. Keringat dingin mulai menjalari tubuhnya. Kemudian saat berusaha mengerjapkan matanya tiba-tiba pandangannya menjadi gelap.


BBRUUKKK...

__ADS_1


"Kasih..." Arga dan Leo langsung beranjak untuk menolong Kasih yang tergeletak di tanah.


__ADS_2