
Kasih berjalan keluar dari ruangan Arga dengan langkahnya yang gontai. Seluruh tulang-tulang di tubuhnya seolah tak mendukung dirinya untuk terus berdiri kokoh.
Alhasil Kasih langsung berjalan cepat menuju ruangannya. Bahkan beberapa sapaan dari salah satu karyawan tak dia hiraukan.
Wajah paniknya yang pucat pasi seolah menyiratkan ada masalah yang terjadi di dalam ruangan Arga.
"Kayaknya Kasih kena omel Pak Arga deh," ucap salah satu karyawan.
"Hmmm... Dia pikir enak jadi sekretaris bos, tapi kasian juga ya kalau sampai Kasih kena semprot" akhirnya para karyawan menyimpulkan beberapa spekulasi sendiri.
Sementara Kasih yang kini berada di ruangannya berusaha mengatur nafas serileks mungkin meski rasanya sangat sulit.
Tak berselang lama telepon di mejanya berbunyi. Dengan berusaha mengumpulkan tenaga Kasih mengangkat telepon itu.
"Halo, Kasih gimana laporannya udah?" suara cempreng itu sudah jelas dari mbak Ratna.
"Iya mbak. Ini baru saja selesai. Mau saya antar ke sana" ujar Kasih.
"Yaudah ditunggu ya" Mbak Ratna menutup teleponnya.
Kasih menghela nafas panjang sebelum melanjutkan berjalan ke bagian keuangan.
Tiba-tiba dia mendengar bunyi pesan masuk di ponselnya. Kasih melihat pesan itu dari Arga.
"Baby maaf ya hari ini nggak bisa temani kamu makan siang, Felicia ngotot nggak mau pergi. I'm sorry"
Kasih tersenyum getir membaca pesan itu. Tak semestinya dia bersedih, dia terus menguatkan hatinya kalau Arga dan felicia bisa bersama lagi itu akan menjadi hal bagus.
Kasih bergegas melanjutkan pekerjaannya. Sampai di bagian keuangan Kasih langsung menghampiri Ratna.
"Ini mbak laporannya. Maaf ya agak telat dikit" ujar Kasih sembari menyerahkan berkas.
"Iya Kasih, eh kamu kok kelihatan lesu gitu. Habis kena marah Pak Arga ya?" Ratna langsung bisa menebak perubahan ekspresi Kasih.
"Eh, enggak kok mbak. Pak Arga nggak marah" Kasih seketika menyangkal.
"yaudah, habis ini makan siang sama siapa? Temenin aku yuk" Ratna menawarkan diri.
"Yaudah boleh mbak" Karena waktu istirahat siang tinggal lima menit lagi sehingga Kasih memilih untuk menunggu Ratna di ruangannya. Toh Arga juga sudah ada Felicia jadi Kasih tidak perlu repot-repot menemaninya.
Akhirnya Kasih dan Ratna pergi ke cafetaria dekat Kantor. Mereka segera memesan makanan dan duduk sambil menunggu pesanan datang. Tak berselang lama tampak Arga sedang berjalan beriringan dengan Felicia, wanita itu terus merangkul lengan Arga seolah ingin menunjukkan kemesraannya kepada semua orang.
__ADS_1
Kasih yang melihatnya merasa detak jantungnya berpacu lebih keras. Tak dipungkiri bahwa Kasih saat ini merasa sesak dalam hatinya. Apa-apaan Kasih, Pak Arga sudah benar seperti itu. Kamu hanya selingkuhannya. Sadar diri. Dalam hati Kasih terus mengutuki dirinya sendiri.
"Eh itu istrinya Pak Arga ya? Tumbenan akhir-akhir ini mau datang kesini" ujar Ratna membuyarkan lamunan Kasih.
"Emm.. Iya Mbak, nggak papa juga kan namanya istri pengen menemani suami" ujar Kasih.
"Nggak bener itu cewek" celetuk Ratna.
"Maksud mbak Ratna gimana ya?" Kasih merasa bingung.
Kali ini Ratna sedikit mendekatkan wajahnya kepada Kasih untuk berbisik.
"Kemarin lusa aku lihat istrinya Pak Arga itu keluar dari Hotel sama cowok. Mesra-mesraan lagi"
Kasih terkejut dengan tuturan Ratna.
"Saudara barangkali mbak" Kasih mencoba untuk mengelak.
"Nggak mungkin orang wajahnya aja gak mirip sama sekali kok. Emang iya saudara sampe ciuman segala, ih" Ratna terus mengoceh dengan nada julid nya.
"Kalaupun Pak Arga single, kayaknya lebih cocokan sama perempuan kayak kamu deh Kas, aku lihat kalian kalau lagi jalan bareng itu serasi banget" Ratna menyolek lengan Kasih sambil senyum-senyum sendiri.
Kasih yang sedang menyeruput minuman langsung kaget dan tersedak.
Arga takut Kasih menjadi marah kepadanya dan semakin menjauhinya. Tak penting meski ada Felicia di dekatnya saat ini. Pikirannya hanya terfokus kepada Kasih.
****************
Kasih berjalan menyusuri trotoar dengan langkah gontainya. Langit senja hampir berubah menjadi gelap.
Lelah bekerja seharian serta perasaannya yang terasa campur aduk seharian ini membuat Kasih berkali lipat rasa capeknya.
Dia duduk di kursi halte yang saat ini sedang sepi. Tak berselang lama mobil Mercy hitam yang sangat familiar untuknya berhenti di depannya.
Tentu saja Arga, seperti biasa mereka akan bertemu di halte ini karena tidak mungkin untuk Kasih terlihat berangkat bersama sampai kantor.
Arga turun dari mobilnya dan langsung menghampiri Kasih. Dia menggenggam tangan Kasih kemudian menggandengnya menuju mobil.
Biasanya Arga hanya memanggilnya dari dalam namun kali ini beda. Meski begitu Kasih sedikit kaget dengan perlakuan Arga.
Sampai di dalam mobil keduanya hanya diam. Kasih hendak memasak seatbelt namun sialnya justru macet. Entah karena masalah pada mobilnya atau memang pikiran Kasih yang kacau. Dia terus menarik-narik namun tak bisa.
__ADS_1
Akhirnya Arga langsung membantunya. Dan saat itu pula tatapan keduanya pun beradu. Kasih yang begitu dekat dengan Arga saat ini hanya bisa menelan salivanya dengan gemetar.
Dia langsung mengalihkan pandangannya karena takut semakin terpesona dengan Arga.
"Mas Arga nggak pulang ke rumah?" suara Kasih memecah keheningan.
"Nggak" jawab Arga singkat sembari terus fokus menyetir.
"Tapi mas, istri kamu butuh Mas. Aku nggak papa kok" Kasih berusaha mengulas senyuman seolah dirinya baik-baik saja.
Arga yang sejak tadi menahan amarahnya kini langsung mengubah jalur kendaraannya. Dia menyusuri jalanan sepi kemudian menghentikan mobil itu.
"Mas? kenapa berhenti?" Kasih mulai gelisah.
Kemudian Arga mematikan AC dan mengunci jendela mobilnya.
"Mas, kok AC nya dimatiin. Kan gerah" protes Kasih. Namun arga tetap diam memandang lurus.
Lima menit dalam mobil itu keringat Kasih mulai bercucuran. Dirinya sudah tidak mampu lagi menahan gerah.
"Mas kita bisa kehabisan nafas. Ini panas banget." protes Kasih.
Arga menoleh menatap Kasih yang sedang mengibas-ngibaskan tangannya.
"Lepaskan blazermu, Baby" ucap Arga dengan tatapan mesumnya.
Kasih segera sadar maksud Arga. Tentu saj dia langsung menolak. Apalagi tanktopnya saat ini sudah basah kuyup oleh peluhnya sendiri.
Tiba-tiba Arga memundurkan kursi Kasih dan mengubah posisinya sedikit merebah. Kasih dibuat panik dengan hal ini.
"mas ngapain sih ini" protes Kasih mulai panik.
Sedetik kemudian Arga sudah melepas jasnya serta dua kancing kemejanya sudah dia buka.
Tampak dadanya sudah mengkilat karena keringat membasahi kulitnya.
Arga bangkit dari duduknya dan langsung naik diatas Kasih.
Seringaian dari bibir Arga membuat Kasih panik setengah mati.
"Mas, ja-jangan lakukan disini, ini jalanan" bibir kasih gemetar.
__ADS_1
Sementara Arga meraih tissue di dasbor mobilnya kemudian menyeka wajah dan leher Kasih.
"Aku hanya ingin mengelap keringatmu Baby, kau sangat basah. Tapi kenapa justru terlihat semakin seksi?"