Tempatku Untuk Pulang

Tempatku Untuk Pulang
Bab 116 memberontak


__ADS_3

"ukuran janin sudah mencapai 2-5 milimeter atau kira-kira sebesar kacang. Selain bertambah besar, bentuk wajah bayi pun kini sudah mulai terbentuk." ujar Dokter menjelaskan kondisi janin yang ada didalam perut Kasih.


Arga tak berhenti mengulas senyum juga matanya tampak berkaca-kaca. Dia menatap wajah Kasih yang tak kalah bahagianya.


Untuk pertama kalinya dia memeriksakan kehamilannya ditemani Arga. Ayah sang jabang bayi yang ada dalam perutnya.


"Tapi perlu diwaspadai agar ibu Kasih untuk tidak melakukan banyak aktifitas fisik yang terlalu berat, juga jangan sampai stress. Meski kandungan bagus namun riwayat keguguran yang dulu busa jadi masalah. Anda harus benar-benar menjaga kondisi kesehatan." ujar dokter.


Kasih dan Arga pun mengangguk dan mengerti apa yang disampaikan Dokter.


"Terimakasih dokter, saya akan selalu menjaga kondisi istri saya." ujar Arga dengan memegang tangan Kasih.


Setelah selesai dengan sesi konsultasi mereka pun meninggalkan ruangan dokter tersebut.


"Sayang kamu pengennya anak laki-laki atau perempuan?" tanya Kasih sembari menggelendot manja di lengan Arga.


"Se dikasihnya aja sayang, kamu mau mengandung anakku saja sudah terimakasih banyak. Aku janji akan selalu menjaga kamu." Arga mengusap puncak kepala Kasih lalu menciumnya.


Untuk tiga hari ke depan Arga akan menghabiskan waktu bersama Kasih. Karena setelah itu Kasih harus kembali ke rumah Aryo bersama kakaknya.


Sebenarnya dia sangat berat berpisah kembali dengan Arga. Namun Arga sendiri sudah berjanji untuk segera menyelesaikan masalah ini.


"Sayang, kamu yakin akan bicara kepada Papa lagi soal kita." ujar Kasih sedikit cemas.


"iya sayang, kali ini aku harus memastikan kalau papa kamu akan merestui kita. Apapun caranya." ujar Arga.


"Tapi, bagaimana kalau Papa tidak merestui? Apa kita kawin lari saja? Aku nggak bisa terus-terusan begini. Aku mau hidup sama kamu Mas." Kasih tampak kembali gusar.


Arga kembali menggenggam Kasih. Dia hanya diam sembari melanjutkan berjalan menuju parkiran mobil.


Selama itu Kasih sudah berpikir macam-macam. Pengaruh hormon kehamilannya membuat dirinya mudah merasakan perubahan emosi.


"Mas Arga serius nggak sih. Atau selama ini Mas Arga nggak pernah ada niatan buat seriusin hubungan kita." tiba-tiba saja Kasih merajuk. Padahal niatnya Arga adalah menjelaskan di dalam mobil.


"Sayang kok marah." ucap Arga sembari membukakan pintu mobil untuk Kasih.


"mas Arga nyebelin." Kasih membuang muka.


Arga pun hanya bisa menahan tawa ketika melihat ekspresi Kasih yang sedang ngambek. Begitu menggemaskan.


Arga meraih dagu Kasih kemudian mencubit kedua pipinya. Membuat Kasih memekik kesakitan. Sebenarnya tidak sakit hanya saja dia masih sebal.

__ADS_1


"Awww.. Mas Arga kenapa sih. Udah jangan pegang-pegang." Kasih menepis tangan Arga. Namun pria itu justru semakin gemas menjahili Kasih.


Tak ingin membuat Kasih semakin marah akhirnya Arga memeluk Kasih. Dia mencium kening wanita kesayangannya itu.


"Kasih, pernikahan itu adalah menyatukan dua keluarga. Bukan hanya tentang kita. Jadi kita harus bisa bersatu begitupun keluarga kita. Aku akan menghadapinya sayang. Kamu percaya padaku kan?" Arga menatap mata Kasih dengan begitu dalam. Tatapan dengan penuh arti akan harapan yang besar.


Kasih pun mengangguk. Air mata sudah mulai menggenang di sudut matanya. Entah air mata bahagia atau sedih yang pasti saat ini harapan Kasih sama besarnya seperti Arga.


...****************...


Tiga hari berlalu, masa-masa indah kebersamaan Kasih dan Arga yang tanpa gangguan pun kini harus menuju babak yang cukup membuatnya gusar.


Hari ini kedatangan Kasih dan Alvin beserta Ratna ke rumah besar Aryo. Kasih tak sendirian melainkan kini dia bersama Arga.


Pria itu sengaja ikut Kasih agar bisa berbicara langsung dengan Aryo. Apapun konsekuensinya akan dia hadapi.


Mobil itu akhirnya sampai juga di pelataran rumah mewah yang begitu luas. Taman yang tampak rapi dengan berbagai macam tanaman serta suasana rindang.


Aryo yang mengetahui kedatangan anak-anaknya pun langsung bergegas ke depan untuk menyambutnya.


Tampak Ratna dan Alvin keluar terlebih dahulu. Dia langsung disambut pelukan hangat oleh Aryo. Serta ucapan selamat datang untuk Ratna.


"Anak-anak Papa akhirnya datang juga. Ratna, semoga kamu betah tinggal di sini ya nak" ucap Aryo yang tampak senyum bahagianya.


"Adikmu kemana Vin?" tanya Aryo.


Alvin belum sampai mengatakannya rupanya Kasih sudah turun dari mobil.


Aryo tampak bahagia melihat kedatangan Kasih, namun seketika ekspresinya langsung berubah saat melihat pria yang berada di samping Kasih.


"Kamu.. Ngapain di sini." ucap Aryo dengan berang.


Bukannya menjawab Kasih langsung memegang erat tangan Arga. Gadis itu sudah terlihat gemetaran dan pucat. Untuk pertama kalinya dia merasa setakut ini.


Sementara Arga berusaha setenang mungkin meski dalam hati dia sudah campur aduk.


"Pak, ijinkan saya untuk bersama Kasih. Saya ingin menikahi Kasih, saya sangat mencintainya." ucap Arga tanpa ragu.


"Beraninya Kamu.." Aryo sempat memicingkan matanya namun Kasih langsung memotong ucapan Aryo.


"Papa, kami saling mencintai, kami saling membutuhkan. Apa papa mau cucu papa lahir tanpa seorang ayah? Kalaupun Papa tidak setuju aku akan tetap menikah dengan Mas Arga apapun caranya. Aku bahkan tidak butuh restu Papa jika terus dipersulit." kali ini ucapan Kasih sedikit mengancam.

__ADS_1


Mata Aryo langsung membola. Namun saat melihat tatapan Kasih yang penuh permohonan membuatnya teringat akan Hana.


Tanpa mengatakan apapun Aryo langsung berbalik masuk ke dalam rumah. Semuanya tampak heran namun Alvin paham. Kelemahan Aryo adalah ibunya.


Dan melihat tatapan Kasih tadi sangat mirip tatapan Hana, ibunya. Alvin merasakan seolah sosok Hana merasuk dalam tubuh Kasih.


"Papa kenapa pergi?" Kasih tampak Bingung.


"Sudah jangan banyak dipikirkan ya. Nanti Kakak akan bicara pada Papa. Kamu istirahat saja dulu." ujar Alvin.


Ratna hendak mengajak Kasih dan Arga masuk ke dalam rumah, namun Arga menolak. Dia merasa tidak enak memasuki kediaman Aryo tanpa persetujuannya.


"Aku akan menunggu di sini saja. Kasih kamu istirahat di dalam ya sayang." ujar Arga.


"nggak mau. Aku sama Mas Arga saja. Nanti kalau aku masuk bakal dicegah Papa lagi ketemu Mas." tolak Kasih seketika.


Akhirnya Arga dan Kasih memutuskan untuk berada di gazebo taman. Kasih tidak akan mau masuk ke dalam rumah sebelum Aryo memberi restu.


Tak peduli meski mereka akan berada di sana hingga malam. Arga juga menolak pergi sebelum Aryo memberi penjelasan tentang hubungan mereka.


Terlalu lama duduk membuat Kasih mulai tidak nyaman. Apalagi sore ini angin bertiup cukup kencang membuat hawa cukup dingin.


"Sayang kamu masuk saja ya, istirahat. Aku akan tunggu di sini" ujar Arga sembari mengusap pipi Kasih.


Kasih pun menggeleng. Dia langsung meringkuk di pelukan Arga.


"nggak mau. Aku mau disini sama Mas." ujar Kasih bersikeras untuk tetap menemani Arga.


Akhirnya Arga meminta Kasih untuk berbaring. Kepalanya diletakkan di paha Arga. Dia mengusap lembut rambut Kasih.


Arga sebenarnya tidak tega melihat Kasih seperti ini. Tapi dia juga tak bisa melawan keras kepalanya Kasih. Jika gadis itu sudah bertekad maka tak ada siapapun yang bisa menghalanginya.


Sementara Alvin dan Ratna sejak tadi memperhatikan mereka dari dalam.


"Alvin, kamu harus beritahu Papa. Aku nggak tega lihat mereka seperti itu terus." ujar Ratna.


Sementara Aryo yang kini berada di dalam kamarnya sedang memeluk foto Hana yang terbalut bingkai hitam.


Pria yang dikenal keras dan tegas bahkan tak kenal kata ampun itu nyatanya tak sekuat yang kelihatannya.


Terbukti saat ini dirinya merasa begitu rapuh, air mata tak berhenti mengalir di pipinya.

__ADS_1


"Hana, apa yang harus aku lakukan. Putriku sekarang telah melawanku. Aku hanya ingin melindunginya dari orang-orang yang berusaha melukainya. Aku hanya ingin dia berada pada tangan yang tepat. Apa aku keterlaluan?"


...****************...


__ADS_2