
Felicia begitu marah karena sikap Arga yang sangat dingin dan mencampakkannya.
Rupanya menaklukkan hati Arga tak semudah yang dia bayangkan. Bahkan kini agaknya lebih sulit lagi karena Arga sepertinya benar-benar marah padanya.
"Sam, lo dimana?" ucap Felicia sedang menelepon seseorang.
"Kenapa lagi sih Fel? Gue ogah berurusan sama lo lagi Bisa- bisa dihabisi Arga gue" ucap pria itu melalui sambungan teleponnya.
"Ayolah Samuel, gue butuh banget sama lo, gue nggak enak main sendiri. Cuma lo yang bisa bikin gue puas. Ayolah Sam, please?" Mohon Felicia.
Sejenak pria itu terdiam. Dia masih berpikir antara menerima tawaran Felicia atau tidak. Karena Felicia adalah istri temannya sendiri. Apalagi setelah mereka kepergok Arga.
"Tapi Fel, aku nggak mau lagi hidupku penuh resiko gara-gara lo. Nggak ingat apa gue bonyok dihajar Arga?"protes Samuel.
"Kali ini gue jamin aman deh. Nggak dirumah lagi kok" Felicia terus merayu Samuel.
Dengan segala cara akhirnya Felicia berhasil meyakinkan Samuel. Dan lagi-lagi pria itu tak bisa menolak Felicia.
Felicia segera bergegas meninggalkan kediaman Arga dan pergi ke sebuah hotel dekat bandara yang agak jauh dari tempat mereka.
Tak lama kemudian Samuel pun datang menghampiri Felicia di kamar yang sudah dipesannya.
"Kenapa mencariku lagi? Memangnya suamimu tidak bisa memuaskanmu?" tanya Samuel saat bertemu dengan Felicia.
"Jangankan memuaskanku. Menyentuhku saja tidak" tak mau berlama-lama Felicia langsung menyambar bibir Samuel.
...****************...
Arga kini sedang memeluk Kasih dari belakang. Sementara Kasih sibuk membuat nasi goreng.
"Mas, jangan gitu ah, geli. Gak jadi-jadi nih ntar" protes Kasih ketika Arga menciumi lehernya.
Arga hanya terkekeh mendengar keluhan Kasih. Seminggu tak bertemu Dengan Kasih benar-benar membuatnya sangat rindu.
Hanya dengan melihat wajahnya, juga sentuhan-sentuhan kecil sudah membuat Arga merasa begitu damai.
"Hmm.. Baunya wangi sekali. Sudah lama saya tidak makan masakan kamu" ujar Arga ketika Kasih menyajikan nasi goreng di atas piringnya.
"Mas Arga sih, nggak pernah kesini" gerutu Kasih.
Kata-kata itu tampak sederhana namun sebenarnya hati Kasih sedang berperang saat mengatakannya.
__ADS_1
Terlihat dari raut mukanya yang sedari tadi seperti menahan sebuah perasaan. Perasaan rindu tapi juga perasaan bersalah.
Kemudian Arga meraih tangan Kasih dan menciumnya. Dia tahu saat ini Kasih sedang menahan kesal.
"Maafkan aku Baby," ucap Arga pelan.
Kasih hanya menatapnya sejenak kemudian menyantap makanannya sendiri.
Selama makan keduanya memilih fokus dan tidak mengatakan banyak hal. Sebenarnya baik Arga maupun Kasih merasa sama-sama canggung.
Didalam hati, Kasih masih bertanya-tanya alasan Arga menghindarinya. Sementara Arga pun bingung ingin menanyakan perihal hubungan Kasih dan Felix.
Ditambah keputusan Arga yang sepihak ingin menunda perceraiannya dengan dalih kata hati.
Kata hati? Ya jelas bohong sekali. Sebenarnya dalam hati Arga sama sekali tak menginginkan itu tapi akibat terbakar cemburu Arga jadi segegabah itu.
Akhirnya mereka selesai makan malam. Keduanya duduk di sofa sembari menatap televisi yang sedang menampilkan film barat.
Seolah fokus dengan film tersebut padahal pikiran mereka sedang menerawang jauh.
Hening, Kasih menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
"Mas Arga" suara Kasih memecah keheningan tersebut.
"Aku sangat khawatir, awalnya ku pikir Mas Arga kenapa-kenapa. Tapi setelah tanya Kak Alvin dan Mas Arga baik-baik saja aku merasa lega" ujar Kasih sedikit melirik pria itu.
"Tapi Mas Arga sama sekali tak pernah membalas pesanku, dan akhirnya aku berpikir bahwa Mas Arga bosan padaku. Jika saja hari ini Mas nggak datang kesini, aku hampir saja mau pergi.." imbuhnya.
Arga langsung menatap Kasih dengan tajam setelah mendengar kalimat terakhirnya.
"Apa? Kau ingin pergi? Kemana?" suara dan tatapan itu semakin tajam.
"A-aku tidak tau.. Habisnya M_Mas Arga seperti tidak menginginkan kehadiranku lagi" bibir Kasih terasa gemetar saat mengucapkannya karena tatapan Arga yang begitu mengintimidasi.
"Apa kau mau kembali kepada Felix?" tiba-tiba Arga langsung mengatakannya.
"Ti_tidak.. Mana mungkin.." Kasih gelagapan. Bagaiman bisa Arga mengira seperti itu.
"Siapa tahu saja. Kan kamu kelihatan dekat lagi dengan Felix" gerutu Arga.
Kasih langsung terhenyak mendengar ucapan Arga.
__ADS_1
"Darimana Mas Arga tahu?"
Arga terdiam sekejap. Dia benar-benar keceplosan mengatakannya sehingga mau rak mau harus mengatakan sejujurnya.
"Sebenarnya aku melihatmu saat di taman. Kamu tampak sedang asyik mengobrol dengan Felix." Arga sedikit menundukkan kepalanya.
"Jadi itu alasan Mas Arga menghindariku seminggu ini?" Ucap Kasih.
"hmm.. Ku kira kamu akan kembali kepadanya. Karena kamu juga mengatakan kalau sulit melupakan Felix sebagai cinta pertamamu"
Kasih terdiam. Akhirnya dia tahu alasan Arga menghindarinya. Tapi ada sedikit getaran aneh di hatinya. Apakah Arga mulai menyukai dirinya?
"Tapi, Mas Arga kan juga nggak mau pisah sama istri mas, bahkan Mas Arga sudah menentukannya dari hati" ujar Kasih sedikit menahan sesak.
Tak dipungkiri, nama Arga yang cukup berpengaruh dalam dunia bisnis pasti sangatlah disorot terutama sampai ada perceraian. Dampaknya pasti sangatlah besar.
"Aku bukannya tak mau pisah, aku ingin pisah. Tapi aku cemburu melihatmu bersama Felix." Arga tersenyum getir.
"Kenapa Mas Arga bicara seperti itu? Diantara kita bukankah hanya sekedar hubungan kontrak? Jangan seperti ini mas, ini nggak benar. Lebih baik kita.." belum sempat Kasih meneruskan ucapannya tiba-tiba Arga langsung menyambar bibirnya.
Dia mencium Kasih dengan begitu dalam hingga Kasih meronta karena kehabisan nafas.
Arga melepas ciumannya dan Kasih langsung terengah-engah.
"Jangan pernah katakan perpisahan atau apapun. Kontrak yang kita jalani ini harus tetap berjalan sampai selesai. Sisanya kita pikirkan nanti." ujar Arga sembari menatap Kasih dengan tajam.
Kasih hanya bisa terdiam. Entah kenapa hatinya terasa begitu sakit. Hatinya tak bisa berbohong jika saat ini mulai mencintai Arga. Tapi dia tak pantas mengakui hal itu, menahan perasaan memang sangat menyiksa.
Arga langsung merengkuh tubuh Kasih. Dia ingin membuat gadis itu merasa nyaman karena sejak tadi hatinya seolah berperang dengan perasaan yang terus berkecamuk.
Kasih memeluk erat tubuh Arga. Tangannya meremas pinggiran kaos yang dikenakan Arga dengan kuat. Kasih mencoba untuk menahan air matanya agar tidak keluar.
Arga membelai lembut rambut Kasih. Sesekali mengecupnya dengan lembut.
"Hanya bersamamu aku merasa damai. Kau membuat hidupku berwarna Kasih. Andai saja kita dipertemukan sejak dulu bukan dengan cara seperti ini. jangan pernah coba-coba untuk pergi dariku. Jadi bersabarlah sejenak Kasih." gumam Arga yang terasa begitu menyayat hati.
Pertahanan Kasih runtuh seketika. Air mata itu langsung membanjiri pipinya. Merasakan getir yang bergejolak dalam hatinya.
Baik Arga dan Kasih, sama-sama memiliki perasaan namun keduanya masih takut untuk mengakui dan memulai.
.
__ADS_1
Teman-teman jangan sungkan-sungkan untuk memberi kritik dan sarannya. Supaya author lebih semangat dan bisa berkembang lebih baik.