
"Maaf Kak, maksudnya apa ya?" Kasih merasa bingung dengan pertanyaan salah satu karyawan tadi.
"Ck, jangan berlagak polos, kita semua tahu kok kalau Alvin tuh playboy kelas kakap. Dan herannya nih lo sampe dicariin kerjaan gini. Pasti spesial deh buat Alvin" cerocos salah satu wanita tersebut.
"M_maaf Kak.. Tapi aku tidak.." belum sempat Kasih meneruskan ucapannya tiba-tiba muncul seorang wanita dari salah satu bilik toilet.
"Eh kalian, jangan gangguin anak baru ya. Dia ini udah pilihannya Pak Arga, kalau nggak tahu apa-apa nggak usah sok jagoan." gertak wanita itu.
"Ma-maaf mbak.." ucap dua karyawan tadi langsung pergi kelimpungan.
Kasih memandang wanita yang membelanya itu. Usianya sepertinya hampir seumuran Alvin.
"Makasih Kak," ucap Kasih.
"Eh kamu nggak papa kan? Maklumin aja ya mereka kurang kerjaan" ujar wanita itu.
Kasih pun balas dengan tersenyum. Ternyata masih ada karyawan baik yang membelanya.
"Kenalin, aku Ratna. Dari divisi keuangan. biasanya sih dipanggil mbak Ratna, tapi panggil nama aja juga boleh" Ratna ini sepertinya tipikal orang yang ramah tapi juga tegas.
"Saya Kasih mbak, sekretaris Pak Arga. Tapi masih training" ujar Kasih.
"Wah, pantesan kamu jadi incaran anak-anak tadi. Mereka ngebet banget loh pengen jadi sekretarisnya Pak Arga. Tapi mereka nggak tahu aja gimana Pak Arga." ujar Ratna.
"Emang kenapa mbak?" Kasih mulai penasaran.
"Pak Arga itu orangnya super disiplin dan perfeksionis. Salah dikit bisa kena semprot. Tapi kamu nggak usah terlalu takut. Lama-lama juga terbiasa" ujar Ratna.
"Hmm.. Iya Mbak Ratna, makasih ya"
Sementara di luar Arga tampak cemas menunggu Kasih.
"Vin, Kasih kok lama banget sih jangan-jangan terjadi sesuatu lagi" ujar Arga mulai khawatir.
"Mungkin masih antri Pak, tunggu aja dulu" jawab Alvin.
Tak berselang lama Kasih keluar toilet sambil mengobrol dengan Ratna. Mereka berpisah setelah keduanya pergi ke meja masing-masing.
"Lama banget sih," protes Arga.
"maaf tadi masih diajak ngobrol sama mbak Ratna" ujar Kasih.
" Loh kamu kenal Ratna?" Alvin nampak heran.
Kasih hanya mengangguk heran.
__ADS_1
"Emang kenapa Ratna?" tanya Arga.
"Ratna itu temen kuliah saya. Terkenal killer. Tapi bagus loh bisa akrab sama Kasih. Nggak sembarangan dia mau kenal orang" ujar Alvin.
"Karena Kasih kan wanita yang spesial." Arga melirik Kasih dengan tatapan mautnya. Seketika Kasih dibuat salah tingkah sendiri.
****************
Seorang pria tampak termenung menatap nanar foto pernikahannya. Foto pernikahan yang seharusnya menjadi kenangan indah kini telah kandas.
Felix duduk termenung di atas ranjangnya sembari mengenang masa-masa indah bersama Kasih dulu. Ketidakmampuannya melawan sang ayah kini justru menjerumuskannya pada kehilangan belahan jiwanya.
Suara dering telepon terus mengganggu lamunannya. Namun Felix sangat enggan untuk mengangkatnya.
Hingga beberapa lama akhirnya Felix baru mengangkatnya. Total ada sepuluh panggilan tak terjawab. Ini panggilan ke sebelas barulah Felix menjawabnya.
"Halo, ada apa sih oliv?" ucap Felix dengan enggan.
"Felix, kita harus bertemu, ada hal penting yang harus kita bicarakan" ujar Olivia dari teleponnya.
"Ada apa lagi? bicara saja langsung Oliv" ujar Felix.
"Nggak bisa, ini penting Felix" Olivia masih bersikeras ingin bertemu.
Selang beberapa saat Felix telah sampai di apartemen Olivia. Dia memencet bel berkali-kali namun tak ada jawaban. Kemudian dia ingat sandi keamanannya yang merupakan tanggal lahir Olivia jadi Felix segera membukanya.
Ruangan itu tampak sepi. Berkali-kali Felix memanggil nama Olivia namun tak ada jawaban.
Samar-samar Felix mendengar suara menangis dari dalam kamar. Felix memberanikan diri untuk memasuki kamar tersebut.
Tampak Olivia sedang meringkuk di atas ranjang sambil menangis.
"Olivia, apa yang terjadi?" Felix mendekati Olivia.
"Felix.." Olivia langsung memeluk tubuh Felix.
Felix sedikit tersentak dengan perlakuan Olivia yang memeluknya tiba-tiba. Namun mendengar isakan tangis wanita itu membuat hati Felix merasa iba. Dia mengusap lembut kepala Olivia.
"Apa yang terjadi?" tanya Felix.
"Felix, aku... Aku hamil.." ujar Olivia terbata.
Degg..
Jantung Felix terasa berhenti sejenak mendengar apa yang diucapkan Olivia. Seolah tak percaya dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Felix segera melepaskan pelukan itu dan menatap wajah Olivia.
"Kau tidak bercanda kan?" tatapan Felix menajam.
"Aku tidak bercanda Felix, lihatlah ini. Aku benar-benar hamil" Olivia menunjukkan tiga buah alat tes kehamilan kepada Felix, semua hasilnya menunjukkan dua garis merah yang artinya positif.
Felix tertunduk lemas. Tatapannya menjadi nanar. Dia mengusap kasar wajahnya.
"A_apa benar itu anakku? Kamu tidak salah? Bisa saja alat itu tidak benar." Felix masih berusaha menyangkal.
"Kau pikir aku wanita apaan Felix, aku hanya melakukan denganmu. Apa kau lupa yang kita lakukan di Bali?" Olivia merasa tidak terima.
"Ini anakmu Felix, benihmu.. Apa kau tega tidak mengakuinya?" Kini Olivia mulai sedikit emosi.
Sementara Felix hanya bisa diam terpaku. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa hal ini bisa terjadi. Padahal Felix sudah menyusun rencana untuk menjadikan Kasih kembali menjadi istrinya.
"Kalau kamu tidak percaya kita bisa ke rumah sakit sekarang. Kita buktikan Felix" Kini Olivia bersikeras ingin membuktikan kepada Felix.
Akhirnya Felix pun menyetujui niatan Olivia. Dia masih tidak bisa menerima hal yang belum terbukti secara langsung.
Mereka berdua segera pergi ke dokter kandungan. Felix harap-harap cemas. Dia masih berharap Olivia tidak seperti yang dibayangkannya.
Setelah beberapa saat pemeriksaan dokter pun memberi keterangan kepada keduanya.
"Selamat, nona sedang mengandung. Usia kandungannya saat ini memasuki usia empat minggu" ujar dokter kandungan tersebut.
Nafas Felix terhenti beberapa detik. Jantungnya berpacu lebih keras. Memang Felix sempat menginginkan kehadiran seorang anak, namun dari Kasih bukan wanita lain.
Hal ini membuat hatinya terasa semakin diremas. Antara percaya atau tidak. Bahkan pikirannya sempat blank untuk beberapa saat.
"Felix, kau percaya kan?" gumam Olivia lirih.
"I_iya.. Aku percaya" ucap Felix terbata.
Sepanjang perjalanan pulang menuju ke apartemen Olivia mereka tampak diam. Felix tak mengucapkan sepatah kata pun. Hal itu membuat Olivia menjadi semakin cemas. Apakah Felix benar-benar tidak menginginkannya?.
Sampai akhirnya di basemen Felix hendak membuka pintu mobil namun segera dicegah oleh Olivia.
"Felix, apa kau sama sekali tak menginginkanku dan bayiku?" suara itu terdengar sedikit parau.
Felix menatap jemari Olivia yang sedang meremas lengannya. Kemudian dengan perlahan dia melepaskan tangan Olivia.
"Maaf aku butuh waktu untuk berpikir Oliv" kata-kata dari mulut Felix tersebut begitu datar namun terasa sangat menyakitkan untuk Olivia.
"Apa kamu bilang? Berpikir? Enak saja kau masih bisa memikirkannya. Sedangkan aku? Tak bisa seperti itu Felix, kau harus tanggung jawab. Kau harus segera menikahiku" sambil terisak Olivia terus mencoba meyakinkan Felix.
__ADS_1