
Konyol sekali Kasih jadi uring-uringan sendiri. Hanya gara-gara Arga yang tidak romantis seperti yang diharapkannya.
Meski begitu Arga nampaknya masih tak peka dengan kemauan Kasih. Dia masih saja cuek dan menganggapnya hal biasa.
Saat makan malam keduanya sama-sama diam. Bahkan tak biasanya Arga seperti ini. Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan pria itu.
Tiba-tiba saja Kasih beranjak dan hendak meninggalkan meja makan.
"Mau kemana?" tanya Arga.
"Melihat laut." jawabnya singkat.
Seolah tak ingin mempedulikan Arga, Kasih langsung saja berjalan keluar menuju dek. Tapi saat melihat sekitar Kasih agak terkejut karena Yacht itu menuju daratan. Itu artinya mereka sebentar lagi menepi.
Kasih berjalan kembali untuk menghampiri Arga.
"Mas.. Kita mau menepi?" tanya Kasih melupakan kekesalannya.
"Hmm.." balas Arga singkat.
Hah? Sebegitu cueknya Arga hingga membalas pertanyaan Kasih hanya dengan gumaman. Membuat wanita itu semakin kesal.
Kasih berjalan dengan sedikit menghentakkan kakinya dan menjauhi Arga. Dia pergi ke kamar dan duduk di tepi ranjang.Menyebalkan.
Tapi Kasih merasa yacht tersebut terasa berhenti. Apakah mereka sudah berada di daratan. Baru saja dia akan memeriksanya tiba-tiba Arga sudah menghampirinya.
"Ayo, kita sudah sampai" ucap Arga.
Kasih hanya bisa menuruti Arga. Dia berjalan mengekori pria itu dan akhirnya keluar meninggalkan yacht tersebut.
Kasih sedikit terkejut dengan pemandangan di depannya. Sebuah pulau yang begitu gelap tampak tak berpenghuni.
Kasih merapatkan tubuhnya kepada Arga karena merasa takut.
"Mas, kenapa kita harus turun? Balik aja yuk. Aku takut." rengek Kasih.
"Tidak apa-apa sayang." Arga mencoba untuk menenangkan Kasih.
Kemudian datang sebuah mobil menghampiri mereka. Sopir tersebut langsung menyambut Arga dan Kasih lalu mempersilahkan mereka untuk masuk.
Kasih masih merasa takut dan terus memeluk Arga. Sementara Arga hanya diam dan mengusap pelan bahu Kasih.
"Mas kita kemana sih, jangan aneh-aneh deh.." gumam Kasih karena merasa perjalanannya tak kunjung selesai.
"nah, kita sudah sampai" ucap Arga sambil menunjuk sebuah bangunan di depannya.
__ADS_1
Kasih menoleh dan melihat sebuah bangunan villa megah dengan nuansa klasik khas eropa. Bahkan bisa dibilang villa itu lebih mirip mansion.
Saat memasuki gerbang, Kasih disuguhkan dengan hamparan taman bunga yang menghiasi halaman villa tersebut. Benar-benar jauh berbeda dengan suasana saat mereka baru turun dari yacht.
Saat turun dari mobil Kasih semakin dibuat takjub. Ada sebuah bangunan semewah ini di pulau antah berantah begini.
Bahkan dimalam hari begini tak mengurangi keindahan tempat itu.
Arga menggenggam tangan Kasih dan berjalan memasuki bangunan tersebut.
Pria itu kembali bersikap hangat dan tampak sangat memperhatikan Kasih.
Arga tak berhenti mengulas senyuman kepada Kasih. Tahu-tahu saja Arga mengecup pipi Kasih dengan singkat.
"Mas ih.. Malu tau" bisik Kasih karena di belakang ada asisten yang membawakan barang-barang mereka.
Tiba-tiba Arga mengeluarkan sebuah kain hitam. Dia meminta ijin kepada Kasih untuk menutup matanya. Meski awalnya Kasih menolak karena takut, namun Arga meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.
Kasih terus dituntun Arga menuju ke tengah villa itu yang ternyata ada taman.
Pria itu membuka penutup mata Kasih. Kemudian membalikkan tubuh Kasih agar menghadap taman.
Kasih terkejut sekaligus terharu dengan apa yang dilihatnya sekarang. Sebuah taman dengan dekorasi penuh bunga dan lilin yang menghiasi setiap sisi taman tersebut.
Lalu ada kain putih yang menutupi dekorasi tengah taman itu. Arga meraih tangan Kasih dan menuntunnya mendekati kain putih tersebut.
"Bukalah" ucap Arga sambil tersenyum.
Awalnya Kasih sedikit ragu, namun dia tetap membukanya.
Kasih terkejut dengan apa yang dia lihat. Hatinya membuncah ketika membaca tulisan yang baru dibukanya.
"will you marry me, Kasih?"
"M-mas.." Kasih tak mampu mengatakan apapun lagi, saat berbalik rupanya Arga sudah berjongkok di depannya sambil memegang sebuah kotak berisi cincin.
"Kasih, mungkin kamu sudah mendengar ini berkali-kali. Tapi aku hanya ingin memastikan lagi. Maukah kamu menikah denganku?" ucap Arga penuh harap.
Kasih yang terlalu bahagia bahkan hanya bisa mengangguk. Air matanya sudah membanjiri pipinya sejak tadi. Benar-benar kejutan yang sangat luar biasa malam ini.
Arga pun menyematkan sebuah cincin berlian di jari manis Kasih. Kemudian mencium tangan Kasih dan berdiri.
Mereka saling menatap. Menyelami segala perasaan yang ada.
"Kok nangis lagi sih?" gumam Arga sambil menyeka air mata di pipi Kasih.
__ADS_1
"Aku nangis bahagia mas.." jawab Kasih sambil tersenyum.
Dan paling membuatnya terkejut adalah dua orang yang sedang berdiri di hadapannya.
"Kak Alvin? Mbak Ratna?" teriak Kasih tak percaya.
Kemudian Kasih menatap Arga. Lalu kembali menatap kakaknya. Bagaimana bisa mereka berada di sini.
Alvin berjalan mendekati Kasih dan memeluknya. Senang sekali rasanya bertemu sang kakak di tempat ini. Padahal belum sehari mereka berpisah.
"kok nggak bilang-bilang sih kak Alvin di sini. Sebel deh.." Kasih merajuk seperti anak kecil.
Alvin hanya tertawa dan mengacak-ngacak rambut Kasih.
"Kalau bilang-bilang namanya bukan kejutan adek..." jawab Alvin.
"Kasih, selamat ya." ucap Ratna mendekati Kasih.
"Makasih mbak Ratna" Kasih langsung memeluk Ratna. Mereka bahkan tampak seperti seorang kakak adik.
Alvin pun tampak begitu senang saat melihat Kasih yang begitu dekat dengan Ratna.
Namun tiba-tiba saja Arga menarik Kasih lalu memeluknya dengan posesif.
"Sudah jangan lama-lama, dia milikku" ucap Arga sambil menatap Ratna dengan tajam.
"Eh, iya Pak. Maaf" ucap Ratna sungkan.
Sementara Kasih dan Alvin hanya terkekeh. Kemudian Arga meraih dagu Kasih dan langsung mencium bibirnya.
Kasih sedikit tersentak namun Arga terus mel umat bibirnya tak peduli dengan keberadaan Alvin dan Ratna.
"Dasar bucin" Hampir saja Alvin hendak memperingati Arga namun secepatnya Ratna mencegahnya. Dia meraih tangan Alvin dan menggenggamnya lembut.
Saat Alvin menoleh dia melihat tatapan Ratna yang penuh arti. Alvin pun akhirnya luluh oleh pesona wanita itu.
"Ayo kita pergi" bisik Ratna. Alvin langsung mengangguk dan mengikuti Ratna. Meninggalkan Arga dan Kasih yang sedang dimabuk cinta.
...****************...
"Pernikahanmu kali ini harus mewah dan meriah Felix, ayah sudah mendapatkan vendor terbaik untuk mengurusnya." ucap Bramantyo dengan penuh rasa bangga.
"Ayah, apa boleh aku mengundang Kasih?"tanya Felix.
"Untuk apa kamu mengundang wanita itu?" geram Bramantyo.
__ADS_1
"Ayah, aku janji tidak akan mengacaukan pernikahan ini. Aku hanya ingin melihatnya saja untuk yang terakhir kali. Setelah itu aku akan melupakannya. Aku janji ayah" Meski berat, Felix terpaksa harus melakukan ini.
"Sungguh? Kau akan benar-benar melupakannya?"