
Kasih benar-benar terkejut saat seorang wanita menyelonong masuk ke dalam ruangan Arga dan langsung memeluk tunangannya itu.
Beruntung Kasih tidak reflek memukul wanita itu. Hanya tangannya yang mengepal siap melayang jika saja wanita itu berbuat lebih terhadap Arga.
"Arga, how are you, kamu kelihatan makin ganteng aja ya" ucap wanita itu.
Arga tak langsung menjawab hanya berusaha melepaskan diri dari wanita itu. Apalagi saat melihat Kasih yang melototinya.
Tak lama kemudian datanglah seorang wanita tua memasuki ruangan mereka. Saat itu juga Arga berhasil mendorong gadis yang memeluknya.
"Arga, apa kabar sayang?" tanya wanita itu menghampiri Arga.
"Nenek, Laura. Kenapa kalian bisa kesini?" tanya Arga sedikit bingung.
"Tanya apa jawabnya apa" celetuk wanita bernama Laura.
Belum sempat Arga menjawab tiba-tiba saja Wijaya datang ke ruangan itu dengan langkahnya yang tergesa-gesa.
"Mama kenapa kesini sendiri sih, kan sudah bilang nanti ku antar" protes Wijaya.
"Kamunya kelamaan. Mama kan sudah nggak sabar ketemu cucu kesayangan." wanita itu mengusap lembut pipi Arga.
Kasih sejak tadi hanya bisa diam di belakang menyaksikan pertemuan keluarga itu.
Namun entah kenapa dilihat dari ekspresi Arga maupun Wijaya sepertinya ada yang tidak beres. Mereka seolah seperti menahan beban saat ada wanita tua itu.
Tak ingin berpikiran negatif Kasih pun segera membereskan makanannya di meja.
"Lagi makan siang ya nak, maaf ya Papa jadi ganggu kalian" ucap Wijaya sambil menghampiri Kasih.
Kasih langsung menyambut Wijaya dengan mencium tangannya.
"Sudah selesai kok Pa, silahkan. Supaya lebih enak ngobrolnya." ucap Kasih mempersilahkan duduk di sofa.
Laura sejak tadi memperhatikan Kasih yang tampaknya dekat dengan Wijaya.
Kemudian Kasih mengambil beberapa berkas di meja Arga. Dia sempat berbicara dengan Arga namun apa itu Laura tak tahu.
"Maaf, saya harus menyiapkan rapat dulu. Permisi" ucap Kasih.
__ADS_1
"Iya nak, semoga lancar ya" balas Wijaya dengan senyum ramahnya.
"Pa, aku antar Kasih ke depan dulu ya" ujar Aega sambil berjalan beriringan dengan Kasih.
Keduanya kini berada di luar ruangan kerja Arga.
"Sayang maaf ya, kamu harus handle rapat sendiri. Nanti secepatnya aku menyusul." Arga mengusap lembut kepala Kasih.
"Iya Pak, nanti kalau urusannya sudah selesai bisa gabung." Kasih tetap profesional dengan memanggil Arga formal.
Namun tampaknya setelah pengumuman hubungan mereka Arga menjadi lebih terbuka. Bahkan tak sungkan menunjukkan kemesraan didepan karyawan lain.
Cupp...
Tiba-tiba saja Arga mengecup singkat bibir Kasih.
"Mas.." Kasih yang terkejut langsung melotot. Sementara Arga hanya terkekeh sebentar kemudian mereka berpisah ke tempat masing-masing.
"Eehheemm.. Gini deh kalau sekantor sama tunangan sendiri" ledek salah satu karyawan.
"Apa sih.. " Kasih berusaha menormalkan dirinya padahal tampak sekali wajahnya yang sudah bersemu merah.
Arga kembali ke ruangannya. Dia melihat ketiga orang tadi masih berada di tempat yang sama.
"Kabar nenek baik, nenek ini mau mengantarkan Laura untuk belajar bisnis sama kamu. Untuk sementara ini tolong ya Arga biarkan Laura ikut di kantormu. Sekalian juga mau mempersiapkan acara pernikahan sepupu kamu satu bulan lagi." ujar wanita tua itu.
"Ayolah Arga.. Boleh ya. Janji deh aku bakalan serius" timpal Laura.
Arga diam kemudian menatap sang Papa.
"Kenapa tidak di perusahaan papa saja? Kan lebih besar" sanggah Arga.
"aku nyamannya sama kamu Ga, kan kita udah kenal dari kecil. Jadi kalau mau tanya-tanya apapun nggak canggung." ujar Laura.
Sebenarnya Arga begitu enggan jika Laura ikut dirinya. Apalagi Laura sejak dulu menyukai Arga, dia takut hal ini akan menimbulkan masalah bagi hubungannya dengan Kasih.
Tapi baik Laura dan neneknya terus mendesak sehingga mau tidak mau Arga terpaksa menerimanya.
"Jadi mulai kapan nih aku bisa kerja. Hari ini? Aku bisa kok hari ini" ujar Laura dengan manjanya.
__ADS_1
"Besok aja." balas Arga ketus.
Arga harus membicarakan hal ini dengan Kasih terlebih dahulu agar tidak ada kesalahpahaman di antara mereka.
...****************...
"Ma, batalkan saja ya pernikahanku dengan Jody," ucap Ratna penuh permohonan.
"Apa-apaan kamu Ratna. Pernikahan sudah di depan mata kok mau dibatalin. Kamu sudah tidak waras. Mau ditaruh mana muka mama jika Tante Astri tau. Lagian Jody anak yang baik, kurang apa lagi?"
"Tapi ma, aku nggak cinta sama Jody. Aku cintanya sama orang lain?" sanggah Ratna.
"Orang lain siapa? Yang mana? Yang nggak jelas bawa hubunganmu itu? Ratna sudah ya jangan mengada-ngada. Lama-lama kamu mama suruh pulang sekarang dan nggak usah keluar-keluar lagi. Ini nih kalau anak kebanyakan main diluar. Kena pengaruh buruk." wanita itu terus mengomel melalui sambungan teleponnya.
"Tapi ma, dia melamarku.Dia ingin menikahiku. Dan aku mau menikah dengannya ma, bukan dengan Jody. Aku nggak bisa menikah dengan pria yang tidak aku cintai" suara Ratna kini menjadi semakin parau.
Tetes demi tetes air mata mengalir membasahi wajah cantiknya.
"Sekali lagi kamu katakan itu mama akan sangat marah. Mau kamu jadi anak durhaka?"
Panggilan itu langsung saja terhenti. Ucapan mamanya yang terakhir begitu menyayat hati. Ratna sebenarnya tak ingin menyakiti hati orang tuanya tapi dia juga ingin menikahi pria yang dia cintai.
Tangisan itu semakin besar dan terasa menyakitkan. Kenapa takdir harua mempermainkannya begini.
Kini yang ada dalam benaknya hanyalah bagaimana caranya dia bisa menikah dengan Alvin. Ratna akan melakukan segala cara agar dirinya dan Alvin tetap bersama.
Perasaan yang tumbuh sejak pertama kali melihat Alvin saat kuliah dulu tak pernah luntur. Hingga akhirnya bisa mencapai titik ini adalah hal yang paling membahagiakan untuk Ratna.
Dia tak peduli dengan masa lalu Alvin yang bisa dikatakan playboy. Namun dia tahu. Sekali Alvin jatuh cinta pria itu tak akan main-main.
Setelah merenung. Kini Ratna mendapatkan ide, dia harus jujur terhadap Alvin. Bagaimanapun jika Alvin benar-benar mencintainya maka dia harus berjuang mendapatkan restu orang tuanya.
...****************...
"Sayang, kita makan malam di apartemenku ya. Aku ingin makan masakanmu" Arga memacu mobilnya menuju arah apartemennya.
Kasih pun menurutinya, sebelum sampai mereka terlebih dahulu belanja bahan makanan ke supermarket sebab Arga jarang menyimpan bahan makanan di apartemennya.
Setelah membersihkan diri Keduanya Menuju dapur. Arga lebih dulu menuju dapur karena Kasih yang sepertinya masih berganti pakaian.
__ADS_1
Namun saat melihat Kasih yang berjalan mendekatinya Arga dibuat terpana. Kasih hanya memakai kaos oblong kebesaran milik Arga, membiarkan paha putih mulusnya terekspos begitu saja.
Entah kenapa pemandangan ini terlalu menggairahkan untuk Arga. Sehingga diam-diam muncul ide gila yang mungkin akan membuat hubungannya dengan Kasih tak akan berpisah. Yaitu membuatnya hamil.