
(Konten mengandung unsur 21++ tidak suka boleh skip)
.
Kasih bangun pagi-pagi sekali. Dia cepat mempersiapkan sarapan untuknya juga Arga. Sementara Arga kini sedang mandi.
Setelah selesai Kasih segera mandi dan bersiap-siap. Dia memakai setelan kemeja putih serta rok span selutut.
Arga yang sudah rapi pun tampak heran melihat Kasih yang tampil rapi dan berbeda.
"Baby, kamu mau kemana?" tanya Arga heran.
"Oh, iya mas. Aku sampai lupa tidak memberitahumu. Hari ini aku dapat panggilan interview kerja di perusahaan X." ujar Kasih yang masih sibuk bersolek.
Arga mengernyitkan keningnya. "Memangnya uang dariku kurang?"
"Tidak mas, tapi aku butuh pekerjaan ini. Aku bosan di rumah terus dan juga..." Kasih menghela nafas panjang.
"Sebentar lagi kontrak kita berakhir. Aku harus mempersiapkan semuanya, seperti tempat tinggal serta untuk mencukupi segala kebutuhan hidupku nanti." imbuhnya.
Arga mendekati Kasih di depan meja riasnya. Dia meraih lipstick yang sedang dia pakai.
"Tidak, jangan pergi interview. Kamu nggak boleh kerja di tempat lain apalagi perusahaan itu" ujar Arga sedikit menekan.
"Kenapa mas? Aku janji kok akan tetap melayani Mas seperti biasa. Aku hanya minta waktu ya sedikit untuk kerja." jawab Kasih.
"Tidak Kasih, saya bilang jangan. Kamu tidak boleh pergi" Arga meraih lengan Kasih.
"Mas.. Aku nggak pergi kemana-kemana. Hanya kerja dan tidak meninggalkan mu. Udah deh mas jangan kayak anak kecil gini. Aku hampir telat nih" Kini Kasih sedikit kesal dengan sikap Arga.
"Anak kecil kamu bilang? Hah?" rupanya kali ini Arga mulai emosi. Inilah sifat negatif Arga yang gampang sekali tersulut emosi.
"Mas, maksudku.." belum sempat Kasih meneruskan ucapannya tiba-tiba Arga sudah mengangkat tubuhnya dan menghempaskannya ke ranjang.
Tatapan marah Arga sudah tak bisa dihindarkan lagi.
Arga langsung mengunci tubuh Kasih dalam kungkungannya. Kilatan cahaya di mata Arga menandakan bahwa pria itu sudah dalam mode iblis.
Sayangnya iblis itu luar biasa tampan.
"Mas.." gumam Kasih pelan. Dia mencoba sedikit memohon.
__ADS_1
Arga mencengkeram dagu Kasih hingga gadis itu sedikit meringis kesakitan.
"Kau membuatku marah Kasih. Kau harus menerima akibatnya" suara itu sontak membuat Kasih sangat ketakutan.
Jika sudah seperti ini Kasih tak bisa lagi berkutik. Dia pasrah dengan apa yang akan Arga lakukan.
Aega langsung menyambar bibir Kasih dengan brutal. Ciuman itu begitu kasar hingga Kasih sempat meringis kesakitan ketika Arga sengaja menggigit bibir bawahnya.
Setelah Kasih meronta dan memukul dada Arga barulah pria itu melepaskan ciumannya. Bibir Kasih bahkan terasa bengkak dan kebas karenanya.
Tak sampai di situ. Arga pun mulai menyeringai. Seolah sudah menggambarkan apa saja yang akan dia lakukan selanjutnya.
SSREEKKK...!!!
Kedua tangan Arga memegang kerah baju Kasih dan sedetik kemudian Arga merobek baju itu hingga seluruh mata kancing ya berhamburan lepas.
Kasih yang terkejut dan takut hanya bisa diam menatap Arga meski dalam hatinya dia begitu sedih.
Mata Arga tertuju pada dua buah gundukan kenyal kesukaannya yang masih terbungkus bra hitam berbahan lace.
Arga menatap kembali wajah Kasih dan kembali mencium bibirnya. Kali ini tak se brutal sebelumnya.
Tangan Arga mulai menyusuri benda kenyal Kasih dan perlahan mengeluarkannya dari sarangnya. Hingga kini keduanya yang telah membusung terpampang jelas didepan mata.
Bak singa kelaparan Arga langsung melahap sisi kiri dan tangannya meremas yang kanan.
Tubuh Kasih mulai bereaksi saat mendapat rangs angan dari Arga. Tapi dia mencoba untuk menahannya.
"Mas.. Ahh.. Ja-jangan mas.. hentikan.." tangan Kasih mencoba untuk mendorong Arga meski tenaganya tak mungkin bisa mengalahkan Arga.
Mendapat penolakan dari Kasih kini Arga langsung menghentikan aktivitasnya. Dia menatap Kasih dengan tajam.
"Kau menolakku Kasih?" suara Arga terdengar berat.
"Mas.. Aku harus pergi.. Ijinkan aku untuk bekerja" tampak air mata meleleh di sisi kanan dan kiri netra Kasih.
Arga menghela nafasnya tampak frustasi. Kemudian pria itu melepas dasinya sendiri.
"Baiklah jika kau ingin pergi" ucap Arga lirih.
Sejenak Kasih merasa lega mendengar ucapan Arga. Namun sedetik kemudian Arga kembali duduk di atas Kasih dan meraih kedua tangan Kasih diletakkan di atas kepalanya.
__ADS_1
Arga meraih dasinya dan mengikat tangan Kasih cukup kuat hingga Kasih merintih kesakitan.
"M-mas.. Apa yang kau lakukan? Ja-jangan mas.. Jangan lakukan itu. Ampun" sambil terisak Kasih mencoba untuk meronta.
Tubuhnya gemetar dan ingatan di masa lalu tentang pele cehan yang pernah dia alami langsung hadir di benaknya. Trauma itu masih membekas di pikiran Kasih.
"Aku tidak akan menyakitimu Kasih, menangislah jika ingin menangis. Toh tangisanmu nanti juga akan berubah dengan des agan kenikmatan" seringaian Arga seolah lupa akan trauma yang pernah dialami Kasih.
Arga mulai melucuti pakaiannya sendiri kemudian membuka seluruh pakaian Kasih. Menyisakan kemeja putih yang masih menggantung di lengannya.
Bra hitam yang masih melingkar tadi dirobeknya hingga terkoyak.
Kasih hanya bisa terisak dan menutup kedua matanya menahan batinnya yang tersiksa.
Sementara Arga kini membuka lebar paha Kasih. Menciumi kulit mulusnya hingga berakhir di pangkal.
lidahnya mulai menyapu inti Kasih membuat gadis itu mulai merasakan sensasi geli dan anehnya sangat nikmat hingga tak sadar Kasih mulai menggerakkan tubuhnya sendiri seolah menginginkan lebih.
"Aahh... Aah..." suara isakan itu akhirnya berubah menjadi des ahan kenikmatan.
Kasih tak kuasa menahan gejolak saat Arga mulai memasukkan satu jarinya ke lubang miliknya.
Tampak Arga yang tersenyum nakal merasa menang. Membuat dirinya semakin semangat memacu Kasih.
"Aahhh.. Mas... Aku.. Ahh" Kasih pun akhirnya mencapai puncaknya.
Dengan segera Arga memasukkan miliknya yang sudah tegak dan keras. Arga menghujamnya dengan sekali hentakan. Kasih hanya bisa terpekik merasakan sakit.
Tanpa rasa bersalah Arga pun memacu dirinya dengan hentakan-hentakan yang cukup membuat Kasih kewalahan.
Sedang tangan Kasih kini sudah mulai kebas dan pegal. Serta menahan gejolak di tubuhnya seakan ingin meledak. Biasanya dia akan mencakar punggung atau menjambak rambut Arga. Namun kini dia hanya bisa meremas tangannya sendiri.
Kasih menangis tertahan. Batinnya terasa begitu sakit. Perlakuan Arga benar-benar meruntuhkan harga dirinya.
Benih-benih kebencian kini mulai tumbuh di benaknya. Rasa kecewa dan sakit hati karena selama ini telah berharap terlalu lebih kepada Arga.
Nyatanya Arga sama saja dengan pria-pria lain yang hanya menginginkan tubuhnya.
Tapi yang membuatnya lebih jengkel lagi adalah reaksi tubuhnya yang justru menginginkan Arga lebih dalam menghujamnya.
"Dasar kau iblis, Arga" umpat Kasih dalam hati.
__ADS_1