
Di sepanjang perjalanan Nova tak berhenti meremas jemarinya sendiri. Sambil menatap jalanan sebenarnya pikiran Nova sedang kemana-mana.
Hari ini untuk pertama kalinya Nova akan bertemu kedua orang tua Jody. Sekaligus menghadiri resepsi pernikahan Kasih dan Arga.
Tentu saja Nova harus mempersiapkan diri dari segala kemungkinan.
Meski berkali-kali Jody meyakinkan bahwa orang tuanya adalah sosok yang baik. Tetap saja Nova merasa begitu grogi.
"Nova, kok diam terus dari tadi? Kamu mau sesuatu?" Jody berusaha mencairkan suasana.
"Cuma grogi aja kak, takut kalau-kalau nanti orang tua Kak Jody nggak suka sama aku." ucap Nova lirih sembari menundukkan wajahnya.
Karena Jody harus fokus menyetir dia pun meraih tangan Nova, digenggamnya agar gadis itu sedikit berkurang gugupnya.
"Tenang, aku bersamamu sayang. Mungkin Mamaku orangnya agak observatif. Tapi tenang saja, kalau sudah suka sama seseorang dia baik banget. Yang penting jawab jujur aja semua pertanyaannya." ujar Jody.
Nova hanya mengangguk pelan. Kemudian mobil itu melaju ke sebuah perumahan elite dimana setiap hunian mewah itu berjajar. Nova hanya bisa tertegun melihat rumah-rumah itu yang biasanya hanya dia lihat melalui film-film.
Tak berselang lama mobil Jody pun berbelok memasuki salah satu rumah mewah tersebut. Halamannya begitu luas juga tanaman yang tertata rapi sangat indah.
Rumah dua lantai dengan gaya kontemporer begitu indah dipandang. Apalagi beberapa sudut terdapat tanaman menjuntai panjang menambah kesan sejuk hunian tersebut.
Jody turun dari mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk Nova.
"Welcome home, Nova.." ujar Jody dengan senyum manisnya.
Nova semakin dibuat gugup. Tak menyangka bahwa keluarga Jody sekaya ini.
"Sayang kenapa lagi sih, kok kelihatan takut banget gitu. Nggak ada hantu di dalam." Jody berusaha membuat Nova agar tidak canggung.
"Kak, gimana penampilanku udah bagus belum? Bajunya cocok nggak?" tak biasanya Nova menjadi ribet soal penampilan begini.
Jody hanya tersenyum sambil geleng kepala melihat tingkah lucu calon istrinya.
"Kamu itu selalu cantik, mau pakai apapun tetap cantik, sayang." Jody mencubit pelan dagu Nova hingga membuatnya merona.
Akhirnya mereka memasuki rumah tersebut. Di dalam tampak seorang wanita paruh baya berwajah oriental mirip Jody menyambutnya. Sudah dipastikan itu adalah Astri, mama Jody.
"Selamat siang Ma," Jody langsung memeluk sang mama.
Sementara Nova yang berjalan di belakang Jody tampak sedikit kikuk.
"S-selamat siang, tante." sapa Nova.
"Selamat siang, ini ya Nova?" tanya Astri.
__ADS_1
"i-iya Tante." Nova tampak senyum malu-malu.
"Yaudah ayo masuk. Kalian pasti capek kan habis perjalanan jauh." Astri langsung mempersilahkan Nova untuk masuk ke ruang keluarga agar lebih santai.
Sepanjang mata melihat Nova selalu tertegun dengan pemandangan interior rumah Jody. Dia bahkan mengira bahwa rumah ini lebih mirip seperti sebuah hotel bintang lima.
"Papa mana ma?" tanya Jody.
"Papa masih di kantor lah, nanti sorean pasti pulang." ujar Astri.
"Mama temani Nova dulu ya ma, aku mau ke toilet bentar. Nggak tahan." Jody langsung ngibrit begitu saja.
Di saat itu Nova benar-benar bingung campur takut. Meski orang tua Jody tampaknya orang yang santai tapi tetap saja Nova masih canggung.
Nova hanya berkali-kali melempar senyum sungkan kepada astri, calon mertuanya.
"Nova apa kabar keluarga di rumah?" Astri mulai membuka obrolan.
"Kabarnya ibu dan bapak baik, tante." jawab Nova canggung.
"Nova di rumah lagi sibuk apa?" tanya Astri lagi.
Nah, momen ini yang membuat Nova semakin canggung. Tapi benar apa kata Jody, dia harus menjawab semua pertanyaan dengan jujur.
"Nova di rumah sibuk bantuin bapak jualan bakmi tante, tapi sehari-hari saya kerja jadi waiters di restoran." Nova tak mampu mengangkat wajahnya. Pekerjaan itu mungkin sangat kontras dengan keluarga Jody, tapi apapun itu dia berusaha apa adanya.
"Iya, rencana tahun ini saya ingin kuliah tante, karena sewaktu lulus SMA saya belum ada biaya untuk langsung kuliah." ujar Nova.
"Memangnya rencananya kamu mau kuliah di mana?"
"Sebenarnya saya ingin kuliah di daerah saya tapi Kak Jody bersikeras minta saya kuliah di Jakarta tante." ucap Nova. Kedu telapak tangannya sekarang bahkan sudah mulai mengeluarkan keringat.
"Tapi di Jakarta apa-apa mahal loh Nova, memangnya tabungan kamu cukup buat biaya hidup di sini?" pertanyaan Astri kali ini agaknya mulai menciutkan nyali Nova.
"i-iya, saya tahu tante. Maka dari itu rencananya sambil kuliah saya juga mau kerja. Supaya bisa mencukupi semua kebutuhan di sini". jawab Nova.
"Mau kerja apa kamu?" Astri terus memberondong Nova dengan pertanyaan.
"Apa aja tante yang penting halal. Dulu saya kerja jadi waiters dan mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai dishwasher. Pekerjaan apapun akan saya jalani yang penting tidak merugikan orang lain." ucap Nova jujur.
Astri kali ini tampak diam tak melanjutkan pertanyaannya lagi. Hal itu membuat Nova semakin gugup. Apakah mungkin jawabannya tidak cocok dengan harapan Astri.
Tiba-tiba Astri duduk lebih dekat dengan Nova dan mulai mengusap lembut kepala Nova.
"Nova, kenapa kamu harus susah payah bekerja. Kalau kamu ingin kuliah ya jalani saja kuliahmu. Jangan memikirkan biaya hidup dan lainnya. Jody yang akan mengurus semua itu. Bukankah kalian akan menikah dalam waktu dekat ini?" ucapan Astri tiba-tiba membuat Nova sedikit terkejut.
__ADS_1
" Saya hanya tidak ingin menyusahkan banyak orang tante. Sejak kecil saya terbiasa mandiri, hidup di lingkungan keluarga yang sederhana membuat saya harus kerja keras jika menginginkan sesuatu." Nova mulai terbuka tentang dirinya.
"Ya tante tahu Nova, tapi mulai sekarang kamu tidak perlu terlalu keras pada dirimu. Jody sudah menceritakan semuanya tentang kamu. Maaf pertanyaan tante tadi hanya ingin tahu secara langsung dari kamu nak." Astri tampak tersenyum hangat kepada Nova.
Perlahan rasa gugup Nova berangsur menghilang. Ternyata benar kata Jody, mamanya sebenarnya adalah orang yang baik.
"Terimakasih tante, saya hanya ingin jujur saja. Keluarga saya dan tante sangatlah berbeda. Saya hanya ingin orang mengenal saya apa adanya. Dan menerima segala kekurangan saya." ujar Nova yang kini berusaha menatap wajah Astri.
"Nova, kamu ini benar masih umur dua puluh tahun? Kok pemikiran kamu bisa sedewasa ini sih. Tante benar-benar salut sama kamu." ucap Astri melebarkan senyumnya.
"Ya mungkin keadaan yang membuat saya seperti ini tante." Nova membalas senyuman Astri.
Akhirnya suasana canggung keduanya pun kini mulai terkikis. Nova sudah mulai terbuka dan lebih santai menghadapi calon ibu mertuanya tersebut.
Jody yang diam-diam menguping pembicaraan mereka sejak tadi pun tampak tersenyum bahagia.
"Ngobrolin apa sih kayaknya seru banget." ujar Jody sembari menghampiri keduanya.
"Ada deh, urusan wanita tahu. Kamu kok kepo." ujar Astri meledek Jody.
"Ah gitu deh, mama nggak seru." protes Jody.
"Yaudah kalian ngobrol berdua dulu, ajakin Nova bersantai di taman apa ke kamar gitu sambil istirahat. Mama mau cek bibi di dapur dulu." Astri pun meninggalkan Jody dan Nova.
"Eh ngapain tuh kok senyum-senyum sendiri?" goda Jody.
"nggak apa-apa. Ternyata tante Astri itu baik banget ya." ujar nova sembari terus mengumbar senyumnya.
"Yaudah ikut aku yuk." Tanpa menunggu lama Jody pun menarik tangan Nova menaiki tangga. Dia menuju ke kamarnya.
"Ini, kamar kak Jody?" tanya Nova takjub.
Dia benar-benar kagum melihat interior kamar yang begitu mewah dan elegan di sebuah ruangan yang begitu besar ini.
Terdapat balkon yang mengarah langsung ke taman. Sungguh kontras sekali dengan kamar Nova yang kecil di kampung.
"Suka nggak?" tanya Jody.
Nova langsung mengangguk. "Suka banget"
Jody mendekatkan dirinya kepada Nova. Mengusap wajah cantiknya serta menarik pinggangnya agar lebih menempel di tubuhnya.
"Kamar ini akan jadi milik kita berdua,sayang." ucap Jody lirih. Netranya tak sekalipun berpaling dari wajah cantik Nova.
Semakin lama keduanya semakin mendekatkan wajahnya dan kedua bibir itu kembali bertaut. Mereka berciuman dengan begitu lembut.
__ADS_1
"Kak, aku mencintaimu." tanpa sadar ucapan itu keluar dari bibir Nova.
...****************...